Jam 9 sampai Jam 10 pagi merupakan detik-detik anak Indonesia melaksanakan makan bergizi. Namun, di saat yang sama, waktu itu juga jadi detak jantung deg-degan bagi wali murid.
Saling bercerita tentang sekolah, tentang pelajaran, tentang SPP, merupakan obrolan biasa para wali murid ketika bertemu didarat maupun digrup WhatsApp. Beberapa bulan terakhir ini sejak diluncurkannya program makan bergizi gratis (MBG) yang dikomandoi oleh Badan Gizi Nasional (BGN), obrolan para wali murid semakin bertambah. Para walmur semakin ketat menggelar obrolan kecil maupun obrolan skala besar, semacam Focus Grup Discussion (FGD) yang katanya semakin pelan bisikanya semakin valid.
Program MBG ini sasaranya tak pandang bulu, siswa laki-laki, perempuan, sekolah negeri maupun swasta, siswa bertalar belakang kurang mampu maupun kaya raya, sekolah dikota maupun didesa, sekolah favorit maupun sekolah terpinggirkan, dapat jatah semua. Hebat sekali. Ini mungkin namanya semangat prioritas untuk anak-anak Indonesia.
Program makan dengan tinggi gizi ini memang memiliki banyak harapan positifnya. Tapi, terakhir banyak kabar kurang sedap di media yang memenuhi beranda diberbagai medsos menjadikan banyak walmur kadang juga merasa deg-degan. Banyak walmur yang setiap hari harus update program MBG, update menu, menanyakan rasa makanan, selalu berdoa agar makananya enak, aman, bergizi dan bermanfaat baik lainya untuk anak-anaknya. Bahkan walmur mencari tahu dimana masaknya dan siapa yang masak. Segitunya.
Waktu eksekusi makanan yang tentunya sudah terukhur gizinya itu beragam, siswa dipersilahkan untuk memulai makan mulai jam 09.00 hingga jam 10.00 atau pada jam istirahat yang sudah ditentukan. Para guru memberi aba-aba kepada semua siswa agar berdoa dulu sebelum makan. Dibalik wajah sumringah dan lahap saat makan, ada walmur dirumah yang deg-degan, ada walmur yang sedang bekerja dengan deg-degan. Para walmur tak henti hentinya mengecek kabar dari whattsap grup dan memanjatkan doa-doa terbaik untuk anak-anaknya di sekolahan. Bisa belajar dengan tenang dan tumbuh kembang dengan gizi yang tercukupi. Begitu mungkin kebanyakan doa para orang tua.
Penulis pun saat menulis tulisan ini dibarengi rasa deg-degan, kena distrek berita berita yang ada, Tak henti-hentinya mengecek berbagai portal berita, Dengan berdo’a semoga tidak ada kabar bernada negatif lagi soal MBG. Ini program bagus, momen bagus, harus dibarengi usaha dan doa yang bagus-bagus, sebab dulu saat penulis masih sekolah tidak sempat merasakan program seperti ini. Maka mari sama-sama, minimal berdoa yang bagus-bagus.
Mungkin sama dengan harapan kebanyakan orang Indonesia lainya, MBG berjalan aman, lancar dan memiliki effect positif yang luar biasa. Bahkan siapa tahu nanti bisa menjadi percontohan dunia. Tentu dengan kontrol terukur dan pengawasan silang. Semua masyarakat berperan mengawasi program yang bagus ini. Mungkin semua ahli bisa dikerahkan. Ahli gizi, ahli obat dan makanan, ahli laboratorium, ahli kesehatan, dan ahli-ahli lainya.
Rasa deg-degan tadi menurut penulis merupakan respect biologis, adanya hubungan anak dan orangtua menjadikan hal itu wajar. Jika sebaliknya tak ada rasa deg-degan itu malah menjadi pertanyaan besar. Maka, yang namanya “roso” tadi penting.
Banyak sekolah melakukan musyawarah, guru, wali murid, dan komite untuk menentukan arah atas kebijakan MBG ini, ada sekolah yang dulunya sudah memberlakukan makan dengan sistem catering sekolah, ada sekolah yang sudah langganan dengan kantin sekolah, ada sekolah dengan kebijakan semua siswa wajib membawa bekal dari rumah, ada pula sekolah yang belum mengenal kebijakan makan siang untuk siswa. Beda-beda. Jadi respon dan efek setelah ada MBG ini pun beda-beda.
Jika ada kabar pemilik kantin mengaku sepi setelah ada MBG mungkin itu juga efeknya, jika ada penjual pentol mengaku agak sepi itupun mungkin bisa dikatakan efek, bahkan banyak tenaga kerja produktif yang terserap di tempat masak program MBG itupun mungkin bisa dikatakan efek. Jadi, mungkin sama, rasa deg-degan tadi yang dimaksud diatas itupun mungkin efeknya. Yang pasti menurut penulis program bagus juga harus dimbangi dengan usaha bagus dan doa yang bagus.








