Tiga (3) rekomendasi penting dihasilkan dalam Diskusi Ilmiah dalam rangka Semarak Hari Jadi Bojonegoro ke 347. Agenda bertema mengambil tema “Peran Sejarah Budaya dalam Kemajuan Pembangunan Bojonegoro” itu, dilaksanakam di Gedung Hasyim Asyari Kampus Unugiri Bojonegoro (10/10/2024).
Dalam acara tersebut, hadir sejumlah ahli, di antaranya; Budiyanto (Kepala Disbudpar Bojonegoro), Ahmad Taufiq (Dosen FISIP Unigoro), Totok Supriyanto (Sejarawan Institut Bumi Budaya), Achmad Satria Utama (Tim Pendata Objek Cagar Budaya Jatim), Nanang Fahrudin (akademisi dan Penerbit Nuntera),serta sejumlah mahasiswa dari berbagai kampus di Bojonegoro, Blora, dan Tuban.
Diskusi ilmiah itu, fokus pada pembahasan Sejarah Bojonegoro dari sudut pandang Cultural History (sejarah kebudayaan), bukan Political History (sejarah politis). Sehingga, lebih condong pada data kebudayaan, bukan dongeng peperangan. Sebab, fakta kebesaran Bojonegoro sangat tampak ketika dipandang dari paradigma Cultural History.
Jipang (sekarang Bojonegoro) dibangun atas dua kebudayaan besar berbasis alam. Yaitu Kebudayaan Bengawan dan Kebudayaan Pegunungan. Dari aspek sosial kultural, histori kultural, dan ekonomi kultural, Bojonegoro pernah dikenal sebagai denyut Nusantara.
Bojonegoro juga dibangun dengan kebudayaan pegunungan. Bojonegoro diapit Pegunungan Kendeng (kapur). Bahkan puncak Pegunungan Kendeng Jawa ada di Bojonegoro. Dari berbagai aspek sosio-kultural, Bojonegoro dikenal sebagai punjer energi Nusantara.
Bojonegoro tak hanya mengalami persilangan budaya, tapi juga sejarah. Terbukti, Bojonegoro mengalami dinamika sejarah yang kuat. Fakta ini diperkuat dengan ditemukannya banyak prasasti abad 10 M. Prasasti yang dibuat pada masa Raja Medang Kuno, Pu Sindok (929 – 947 M), berkuasa.
Di antara prasasti abad 10 M yang ditemukan di Bojonegoro adalah; Prasasti Sumberarum, Prasasti Tapaan, Prasasti Pelem, Prasasti Ngrejeng, Prasasti Kedaton, Prasasti Batu Gilang, Prasasti Cancung, dan dua prasasti lagi berada di luar pulau Jawa.
Dengan banyaknya prasasti abad 10 M itu, ternyata minim kajian sampai hari ini. Dari hasil diskusi ilmiah dan atas dasar pentingnya literatur sejarah kebudayaan (yang menjadi landasan teoritis refleksi Hari Jadi Bojonegoro), Institut Bumi Budaya dan BEM Unugiri Bojonegoro membuat tiga rekomendasi penting untuk Pemkab Bojonegoro.
1. Pembangunan Museum Bojonegoro dan peningkatan kolaborasi antar stakeholder
2. Penguatan literatur sejarah berbasis kajian ilmiah
3. Mentradisikan studi arkeologi dan riset kebudayaan lintas bidang.








