El Nino mengingatkan bahwa hangatnya air di Samudra Pasifik, dapat menentukan turunnya hujan di sawah-sawah Pulau Jawa.
Fenomena El Niño kembali menjadi perhatian dunia. Sejumlah lembaga iklim internasional, seperti World Meteorologi Organization (WMO) memperkirakan bahwa kondisi El Nino telah mulai berkembang pada pertengahan 2026 dan berpotensi menguat hingga akhir tahun, bahkan berlanjut ke awal 2027.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik. Meski terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, pengaruhnya mampu mengubah pola angin dan curah hujan di berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara.
Menurut pembaruan terbaru dari World Meteorological Organization (WMO), peluang terjadinya El Nino mencapai sekitar 80 persen pada periode Juni–Agustus 2026, kemudian meningkat hingga lebih dari 90 persen untuk bertahan sampai November 2026. Sebagian model iklim bahkan memperkirakan El Niño dapat berkembang menjadi kategori kuat.
Meski demikian, para ilmuwan mengingatkan bahwa kekuatan El Nino tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya dampak di setiap negara. Faktor lain seperti suhu Samudra Hindia dan kondisi atmosfer regional juga memengaruhi cuaca di Indonesia.
Dampaknya bagi Pulau Jawa
Bagi masyarakat Pulau Jawa, El Nino identik dengan musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering. Dampak yang paling mungkin dirasakan antara lain: curah hujan berkurang, musim kemarau lebih lama, debit sungai dan waduk menurun, dan sawah tadah hujan berisiko mengalami kekurangan air, sehingga hasil panen menurun.
Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat, terutama di wilayah Jawa bagian timur. Sebab, suhu udara pada siang hari terasa lebih panas dibanding kondisi normal. Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan. Daerah yang mengandalkan air hujan akan lebih terdampak dibanding wilayah yang memiliki sistem irigasi yang baik.
Tidak Perlu Panik, tetapi Perlu Bersiap
El Nino bukanlah bencana yang datang secara tiba-tiba. Justru karena dapat diprediksi beberapa bulan sebelumnya, pemerintah, petani, dan masyarakat memiliki waktu untuk melakukan langkah antisipasi, seperti menghemat penggunaan air, menyesuaikan pola tanam, serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran lahan.
Sejarah menunjukkan bahwa Indonesia telah beberapa kali menghadapi El Nino. Dengan sistem pemantauan iklim yang semakin baik, dampaknya diharapkan dapat dikurangi melalui perencanaan yang matang.
El Nino mengingatkan bahwa kehidupan di Pulau Jawa ternyata dipengaruhi oleh lautan yang letaknya ribuan kilometer jauhnya. Alam bekerja sebagai satu kesatuan. Hangatnya air di Samudra Pasifik dapat menentukan turunnya hujan di sawah-sawah Jawa.
Nabs, dari sini kita belajar bahwa menjaga bumi bukan hanya urusan satu daerah atau satu negara, melainkan tanggung jawab bersama dalam satu sistem yang saling terhubung.








