Debu di padang Karbala mungkin telah bertebaran. Namun di sini, di Kairo, debu itu menemukan sebuah rumah abadi. Dan di masjid ini pula, setiap Hari Ied, presiden-presiden Mesir melaksanakan salat.
10 Muharram 61 H, demikian sejarah menuturkan, di gurun pasir Karbala’, Irak yang tandus, darah seorang cucu Nabi Muhammad Saw. bercampur dengan debu. Ya, pada hari itu Sayyidina Al-Husain bin Ali, putra Ali bin Abu Thalib dan Fatimah Az-Zahra’, gugur dalam sebuah tragedi yang akan mengguncang Dunia Islam. Untuk selama-lamanya.
Ternyata, kisah cucu tercinta Rasulullah Saw. itu tidak berakhir di Karbala’. Memang, tubuhnya terkubur di sana. Namun, kepalanya—menurut keyakinan yang dipegang oleh banyak kalangan—memulai sebuah perjalanan panjang dan penuh misteri serta membawanya melintasi gurun pasir, melintasi zaman, hingga akhirnya bersemayam di jantung Kairo, ibu kota Mesir.
Dalam perjalanan waktu selanjutnya, ternyata kepala tersebut kemudian menjelma menjadi simbol, sebuah makam yang menjadi pusat spiritual, dan sebuah masjid yang menjadi saksi bisu pasang-surut kekuasaan selama hampir sembilan abad.

Tragedi Karbala’, dalam perjalanan waktu, kemudian menjadi lebih dari sekadar pembunuhan politik. Tragedi itu sendiri adalah momen ketika politik dan spiritualitas Islam bertemu dalam sebuah konflik berdarah, meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh hingga seribu tahun kemudian.
Al-Husain bin Ali, seperti diketahui, bukan sekadar pemberontak yang gugur. Ia adalah cucu tercinta Rasulullah Saw., dan darahnya menjadi mata air yang tak pernah kering bagi kesedihan umat. Terutama bagi mereka yang mengaku sebagai pencinta Ahlul Bait.
Baca juga: Kumpulan Catatan Ahmad Rofi’ Usmani
Sejarah mencatat bahwa setelah peristiwa itu, kepala Al-Husain bin Ali dipisahkan dari jasadnya dan dibawa ke hadapan Ubaidillah bin Ziyad, Gubernur Kufah yang kejam. Kemudian, kepala itu dibawa kepada Yazid bin Muawiyah di Damaskus, Suriah. Di sinilah misteri dimulai. Riwayat-riwayat saling bertentangan: ada yang mengatakan kepala itu kemudian dikembalikan ke Karbala’ dan disatukan dengan jasadnya; ada yang mengatakan dikubur di Damaskus; ada pula yang mengatakan dibawa ke Ashkelon, Palestina .
Namun, narasi yang paling kuat dan paling menggugah adalah yang membawa kita ke abad ke-12 M, ke era Dinasti Fatimiyah di Mesir.
Perjalanan Suci dari Ashkelon ke Kairo
Dinasti Fatimiyah adalah Dinasti Syiah Ismailiyah yang berkuasa di Mesir sejak tahun 969 M. Mereka adalah keturunan yang mengaku berasal dari garis keturunan Fatimah Az-Zahra’, putri Nabi Muhammad Saw., dan karenanya, mereka memiliki keterikatan emosional yang mendalam dengan perjuangan Ahlul Bait.
Bagi mereka, relik Al-Husain bin Ali bukan sekadar artefak sejarah. Relik itu adalah legitimasi kekuasaan, sebuah simbol suci yang dapat menyatukan rakyat dan mengukuhkan klaim politik mereka sebagai pewaris sah Nabi Saw.
Pada tahun 985 M, penguasa Dinasti Fatimiyah ke-15, Al-Aziz Billah, dilaporkan telah melacak keberadaan kepala Al-Husain bin Ali melalui jaringan mata-matanya di Baghdad. Kepala itu, menurut keyakinan mereka, telah dimakamkan di Ashkelon, Palestina sejak zaman Dinasti Abbasiyah: sebuah kota pelabuhan di Palestina yang saat itu berada di bawah kendali mereka.
Namun, baru pada pertengahan abad ke-12 M, langkah itu benar-benar diambil. Saat itu, ancaman Perang Salib kian mengancam wilayah Levant. Kekhawatiran muncul: jika Ashkelon jatuh ke tangan tentara Salib, relik suci itu bisa dinodai atau dihancurkan. Maka, di bawah kepemimpinan Al-Zafir—atau menurut beberapa sumber, penguasa berikutnya, Al-Faiz—sebuah keputusan monumental diambil.
Kepala Al-Husain bin Ali harus dipindahkan ke Kairo, ibu kota Dinasti Fatimiyah yang aman dan makmur.
Maka, pada hari Ahad, 8 Jumada Al-Tsaniyah tahun 548 H (31 Agustus 1153 M), sebuah prosesi pengangkatan peti mati terjadi di Ashkelon. Sebuah cungkup yang berisi kepala Husain bin Ali, yang telah terkubur selama lebih dari 250 tahun, digali. Dalam manuskrip Al-Risâlah, seorang penulis Yaman bernama Syed Al-Hasan bin Asad menggambarkan sebuah kejadian supranatural pada saat penggalian, “Ketika kepala Imam Husain dikeluarkan dari peti mati di Ashkelon, tetesan darah segar terlihat di kepala suci tersebut, dan aroma kesturi menyebar ke seluruh penjuru.”
Perjalanan itu sungguh dramatis. Peti mati itu dibawa dengan kapal, berlayar menyusuri pantai Laut Mediterania menuju Kairo. Lantas, pada tanggal 10 Jumada Al-Tsani Al-Tsaniyah 548 H (2 September 1153 M), peti itu akhirnya tiba di Kairo. Mendarat di kawasan Kafuri, sebuah taman yang indah di tepi sungai Nil, kepala Al-Husain bin Ali diterima dengan upacara penghormatan tingkat tinggi.
Sebuah makam kemudian dibangun untuknya di tempat yang dikenal sebagai Qubbah Al-Dailam atau Turbah Al-Zafran, sebuah area yang sudah menjadi pemakaman bagi para penguasa Dinasti Fatimiyah. Di sinilah, di antara para keturunanya sendiri, kepala Al-Husain bin Ali akhirnya beristirahat, dan di atasnya, sebuah masjid didirikan pada tahun 1154 M.
Masjid Al-Husain dan Arsitektur Perebutan Kuasa
Masjid Al-Husain bin Ali sendiri bukanlah bangunan tunggal yang lahir dalam satu malam. Ia adalah kanvas sejarah, di mana setiap penguasa yang datang menambahkan lapisan interpretasi arsitektural mereka.
Lapisan Fatimiyah (1154 M): hanya sedikit yang tersisa dari bangunan asli ini, yang konon merupakan sebuah masjid-makam sederhana. Satu-satunya jejak Dinasti Fatimiyah yang masih dapat kita lihat hingga kini—meski diragukan keasliannya—adalah bagian bawah gerbang selatan yang dikenal sebagai Bab Al-Akhdhar (Pintu Gerbang Hijau). Inilah fondasi spiritual dari seluruh komplek, yang berasal dari era pertama kepala Al-Husain bin Ali bersemayam di bumi Mesir.
Lapisan Ayyubiyah (1237 M): era ini adalah babak yang paling kontradiktif. Shalahuddin Al-Ayyubi, sang penakluk Dinasti Fatimiyah yang terkenal dan pahlawan dalam Perang Salib, adalah seorang pejuang Sunni yang gigih. Ia bertekad menghapuskan pengaruh Syiah Fatimiyah di Mesir. Ia pun menduduki istana-istana Fatimiyah, menguasai harta dan perpustakaan mereka yang tak ternilai.
Namun, Shalahuddin Al-Ayyubi tidak menghancurkan makam Al-Husain Ali. Mengapa? Ini karena ia juga seorang politisi. Ia sadar, Al-Husain bin Ali adalah figur yang dihormati lintas sektarian. Menghancurkan makamnya akan memicu kemarahan rakyat.
Sebaliknya, ia dan para penerus Dinasti Ayyubiyah menambahkan menara mereka sendiri. Pada tahun 1237 M, sebuah menara ramping dengan ukiran arabesque yang indah didirikan di atas gerbang Fatimiyah. Ini adalah narasi politik yang halus, “Kami kini yang berkuasa, dan kami menghormati Ahlul Bait dengan cara kami sendiri.”
Lapisan Khedivial (1874 M): babak paling dramatis dalam transformasi fisik masjid terjadi pada era modern. Ismail Pasha, Khedive Mesir yang ambisius dan terobsesi dengan modernisasi, ingin mengubah Kairo menjadi “Paris di Timur”. Pada tahun 1874 M, ia memerintahkan pembongkaran total masjid tua dan membangunnya kembali dengan gaya yang sama sekali baru.
Ia menggabungkan Gothic Revival Italia-dengan lengkung runcing dan ornamen Eropanya-dengan menara-menara ramping bergaya arsitektur Turki Usmani. Inilah yang disebut sebagai Islamic Eclecticism, sebuah perpaduan eklektik yang mencerminkan kekacauan identitas Mesir saat itu: ingin modern, namun tetap terjebak dalam simbol-simbol tradisional.
Sehingga, Masjid Al-Husain bin Ali dapat dikatakan lebih dari sekadar bangunan. Masjid tersebut adalah jantung spiritual Kairo. Di dalamnya, di balik sebuah dharîh (makam dari perak) yang megah-yang konon merupakan hadiah dari komunitas Dawoodi Bohra dari India pada tahun 1965-bersemayam relik yang paling dihormati. Selain kepala Al-Husain bin Ali, masjid ini juga menjadi rumah bagi “Relik Nabi” yang suci: sepotong jubah Nabi Muhammad Saw., dua helai rambut dari jenggotnya, sepotong tongkatnya, dan dua salinan Al-Quran kuno yang konon terkait dengan Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib. Dan, ziarah ke sini adalah perjalanan menembus waktu itu sendiri.
Yang menarik, ziarah ke Masjid Al-Husain bin Ali di Kairo ini tak mengenal sektarianisme. Kaum Sunni datang untuk menghormati cucu Nabi Saw., seorang figur yang disebut dalam pesan yang diukir di lempengan marmer masjid, “Al-Husain adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari Al-Husain. Semoga Allah mencintai siapa yang mencintai Al-Husain.” (HR. Tirmidzi).
Sedangkan kaum Syiah datang untuk meratapi martir agung mereka. Pada hari Jumat, halaman masjid dipenuhi lautan manusia yang shalat, terlindung dari terik matahari oleh tiga payung raksasa mekanis, sebuah inovasi abad ke-21 di atas fondasi abad ke-12 .
Menyimpan Sejarah dalam Debu
Sekali lagi, mengapa makam Sayyidina Al-Husain bin Ali ada di Kairo?
Jawabannya terletak pada perpaduan politik, iman, dan kebetulan sejarah. Ia dipindahkan oleh Dinasti Fatimiyah untuk melindungi relik suci dan memperkuat legitimasi mereka. Ia dipertahankan oleh musuh-musuh mereka karena nilai simbolisnya yang tak terbantahkan. Dan, ia dibangun kembali oleh para penguasa modern sebagai simbol identitas nasional yang melampaui sektarianisme.
Masjid Al-Husain bin Ali dapat dikatakan merupakan monumen bagi sebuah paradoks: bagaimana sebuah tragedi kuno dapat menjadi sumber kekuatan dan kesatuan di zaman modern. Di tengah hiruk-pikuk bazaar Khan El-Khalili, di bawah bayang-bayang menara yang memadukan gaya Turki dan Gotik, sebuah rahasia terkubur. Rahasia tentang seorang martir, tentang perebutan kekuasaan, dan tentang iman yang tak pernah benar-benar mati.
Debu di padang Karbala’ mungkin telah bertebaran. Namun di sini, di Kairo, debu itu menemukan sebuah rumah abadi! Dan di masjid ini pula, setiap Hari Id, presiden-presiden Mesir melaksanakan shalat. Li Sayyidina Al-Husain bin Ali, Al-Fâtihah.







