Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Erich Fromm dan Memahami Seni Mencintai

M. Baharuddin Romadhoni by M. Baharuddin Romadhoni
09/04/2025
in Cecurhatan
Erich Fromm dan Memahami Seni Mencintai

Ilustrasi: seni mencintai

“Cinta adalah seni.” Demikianlah premis eksistensial yang dirumuskan Erich Fromm, seorang psikoanalis yang lahir dari rahim pergolakan intelektual Jerman dan menjadi peziarah pemikiran Mazhab Frankfurt.

Pernyataan ini bukan sekadar aforisme manis untuk mendandani sentimentalitas, tetapi suatu gugatan tajam terhadap asumsi populer bahwa cinta adalah peristiwa kebetulan, jatuh dari langit, dan hanya dianugerahkan kepada individu yang beruntung.

Fromm menolak logika fatalistik semacam itu. Ia memandang cinta sebagai suatu kapasitas yang dikultivasi, suatu disposisi batiniah yang dapat dan harus dipelajari—sebagaimana seni melukis, menari, maupun menggubah simfoni.

Namun, agar seseorang benar-benar sanggup menangkap resonansi pemikiran Fromm, ia mesti terlebih dahulu mengakrabi latar ideologis sang pemikir.

Sebagai begawan Mazhab Frankfurt, Fromm senantiasa mendekonstruksi struktur kapitalistik yang ia anggap tidak hanya eksploitatif secara ekonomi, tetapi juga mereduksi eksistensi manusia menjadi entitas komodifikatif.

Dalam narasi Fromm, cinta adalah benteng terakhir melawan objektifikasi. Ia merupakan praksis yang membebaskan manusia dari keterasingan ontologis dan kerangkeng pasar.

Oleh karenanya, membaca Fromm menuntut kecakapan reflektif serta kepekaan terhadap topografi batin yang tak kasatmata.

Sebab, psikoanalisis bukan ilmu eksak yang mengandalkan kausalitas linier, melainkan disiplin yang menggali substrat bawah sadar—wilayah yang oleh Cartesianisme dianggap irasional, namun oleh Fromm justru menjadi locus otentisitas manusia.

Fromm kemudian merinci suatu trajektori tentang ilusi cinta yang jamak terjadi. Pertama, dua individu mengalami sudden intimacy, sebuah ledakan kedekatan emosional yang mendadak dan semu.

Kedua, mereka terjebak dalam keintiman yang melarutkan, yang pada dasarnya bukan cinta melainkan pelarian dari keterasingan.

Ketiga, ketika rasa ingin tahu telah padam, ketika misteri telah diurai habis, dan ketika tantangan tiada lagi tersisa, maka yang disebut cinta pun sirna.

Simulakra cinta itu berulang sebab manusia modern senantiasa merindukan kesatuan, namun enggan berlatih untuk menjadi satu.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa manusia kontemporer cenderung mengonstruksi cinta sebagai objek konsumsi, bukan sebagai relasi transendental.

Maka pertanyaan mendasarnya: mengapa dalam mencinta, manusia nyaris selalu menggunakan kriteria eksoterik? Mengapa ada kecenderungan untuk mencari pasangan berdasarkan tubuh sintal, warna kulit terang, rambut tergerai, atau status sosial-ekonomi yang mengilap? Mengapa perempuan menginternalisasi peran-peran performatif agar layak dikehendaki?

Dan laki-laki menstandarkan keberhargaan diri lewat kapital intelektual dan finansial? Mengapa pula manusia bersikeras menemukan “The Right One” alih-alih menjadi pribadi yang mampu mencinta secara benar?

Fromm menduga bahwa semua keganjilan itu bukan semata anomali psikologis, melainkan hasil sedimentasi budaya, termasuk warisan dari era Victoria.

Cinta tidak muncul spontan, tetapi dinegosiasikan melalui protokol sosial dan moralitas yang dilembagakan. Meski zaman telah berubah, sisa-sisa mentalitas itu tetap menjangkiti relasi modern dalam bentuk yang lebih subtil.

Status sosial kini disubstitusi dengan atribut-atribut simbolik dan kapital estetik. Cinta telah direifikasi, dijadikan objek, dan dikomodifikasi.

Pasar pun menciptakan katalog kepribadian, etalase watak, dan narasi “layak dicintai” berdasarkan algoritma keterpakaian. Fromm menyebutnya sebagai pasar kepribadian—di mana manusia menjajakan dirinya sebagaimana barang dagangan, berharap dipilih berdasarkan kelangkaan, estetika, atau utilitas.

Maka alih-alih belajar mencinta, manusia sibuk menjelma “layak dicintai”, sebuah pengalihan ontologis yang berbahaya.

Padahal, cinta sejati menurut Fromm bukanlah transaksi afektif. Ia bukan upaya memiliki, melainkan kemampuan memberi—dan memberi dalam makna eksistensial, bukan dalam arti pengorbanan total yang menghapus diri.

Memberi adalah ekspresi kekayaan batin: kemampuan menyumbangkan perhatian, rasa tanggung jawab, pengetahuan intim, dan penghormatan terhadap keberbedaan eksistensial orang lain.

Sayangnya, dalam zaman yang dikuasai oleh semangat kapitalisme laten, mencinta sering kali dipahami sebagai tindakan menguasai.

Kita menyangka bahwa kecemburuan, larangan bergaul, atau dominasi adalah wujud cinta. Kita mengira bahwa ketika seseorang telah “menyatu” dengan kita, maka ia otomatis tunduk pada jurisdiksi emosional kita.

Tidak boleh berteman dengan si A, tidak boleh tersenyum kepada si B. Seolah cinta identik dengan kepemilikan. Padahal cinta tidak mengenal terminologi “memiliki”.

Cinta justru menolak dominasi, menampik subordinasi, dan meniscayakan kedaulatan masing-masing pribadi.

Erich Fromm menulis bahwa menghormati adalah inti dari mencinta. Dan menghormati bukanlah ketakutan atau kekaguman yang membuta, melainkan kemampuan menilik seseorang sebagai entitas yang utuh dan unik.

Penghormatan dalam cinta berarti mengakui dan merawat pertumbuhan eksistensial orang lain, membiarkannya berkembang dengan caranya sendiri, bukan untuk memenuhi ambisi kita.

Konsep ini juga bersambung dengan paradoks cinta yang Fromm uraikan: dua insan menjadi satu, namun tetap menjadi dua.

Artinya, dalam cinta, kesatuan bukanlah peleburan, melainkan sinergi. Tiada pemaksaan, sebab masing-masing individu mempertahankan integritasnya.

Relasi demikian adalah relasi yang sehat, sebab ia memungkinkan aktualisasi diri kedua belah pihak tanpa mengorbankan identitas personal.

Objek cinta, menurut Fromm, bukan hanya pasangan. Ia meliputi: Tuhan, diri sendiri, pasangan, dan sosok keibuan. Dalam setiap relasi itu, mencinta harus dibekali empat kompetensi utama: perhatian (attention), tanggung jawab (responsibility), rasa hormat (respect), dan pengetahuan (knowledge).

Pengetahuan di sini bukan sekadar informasi, tetapi pemahaman mendalam akan lanskap batin orang yang dicintai: karakter, kondisi, trauma, aspirasi, bahkan perubahan-perubahan mikroskopis dalam ekspresi atau bahasa tubuhnya. Tanpa pengetahuan itu, cinta akan menjadi dangkal, klise, dan mudah musnah.

Karenanya, seorang pencinta adalah anomali dalam lanskap kapitalistik—ia seperti oase dalam gurun konsumerisme. Dunia yang dibangun atas logika akumulasi, kompetisi, dan kalkulasi rasional, tak ramah terhadap kelopak cinta yang memerlukan kelembutan, keheningan, dan kontemplasi.

Akhirul resensi, cinta yang autentik adalah cinta yang bebas dari ego. Ia tidak memakai standar pribadi sebagai alat ukur untuk menilai tindakan orang lain.
Sebaliknya, ia menelusuri sebab, menyelami latar, dan mengenali nilai-nilai dasar di balik tindakan tersebut.

Cinta yang demikian tak hanya mengetahui, tetapi mengalami—mengalami keberadaan orang lain secara utuh, tanpa prasangka dan kepentingan.

Cinta juga mensyaratkan keyakinan pada kapabilitas orang lain, sebagaimana keyakinan seorang ibu bahwa anaknya akan belajar berjalan, meski berkali-kali jatuh. Semua itu bermula dari kesediaan untuk mengenal.

Dan di titik itu, cinta menjelma bukan hanya sebagai afeksi, tetapi sebagai epistemologi, bahkan spiritualitas.

Demikianlah cinta menurut Fromm: rumit, subtil, penuh disiplin, dan mustahil bila diburu dalam ketergesaan. Ia menuntut keterlibatan total jiwa—bukan sekadar getaran sesaat, tetapi praksis seumur hidup.

Tags: Erich FrommMakin Tahu IndonesiaSeni Mencintai
Previous Post

Tlatah Bhinnasrantaloka: Tanah yang Dihormati Para Raja

Next Post

Politik Fatwa dalam Labeling Produk Halal di Indonesia

BERITA MENARIK LAINNYA

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan
Cecurhatan

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

02/06/2026
Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya
Cecurhatan

Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya

29/05/2026
Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari
Cecurhatan

Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari

28/05/2026

Anyar Nabs

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

02/06/2026
Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

02/06/2026
Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

01/06/2026
Ekspedisi Naga Api Menelisik Situs Janjang dan Sejarah Perminyakan Pra-Kolonial

Ekspedisi Naga Api Menelisik Situs Janjang dan Sejarah Perminyakan Pra-Kolonial

31/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: