Selama kita masih merasa bersih di tengah sungai yang kotor, demokrasi tak lebih dari busa: tampak banyak, mengilap sesaat, lalu hilang tanpa membersihkan apa pun.
Kulit nanas, selama ini, adalah bagian yang paling cepat dilupakan. Ia tergeletak di pinggir kebun, menghitam perlahan, menyerap hujan dan debu, lalu lenyap tanpa nama. Padahal dari sanalah aroma manis buah itu berasal; dari serat kasar yang pernah melindungi dagingnya. Kita terbiasa mengambil yang lezat, lalu membuang sisanya—sebuah kebiasaan lama dalam sejarah manusia, juga dalam sejarah kekuasaan.
Di Vietnam, cerita tentang kulit nanas tidak berhenti di tanah. Limbah itu dikumpulkan, difermentasi, diperlakukan dengan kesabaran. Dari proses yang sunyi itu lahir bromelain—enzim alami yang mampu memecah protein, lemak, dan noda. Sesuatu yang selama ini kita kejar lewat botol-botol plastik berlabel asing dan janji kebersihan instan. Enzim itu lalu diformulasikan menjadi sabun cair dan deterjen alami, tanpa fosfat, tanpa pemutih sintetis, tanpa bahasa iklan yang berlebihan.
Air sungai menerima sabun itu dengan cara yang berbeda. Ia tidak berbusa berlebihan, tidak mematikan mikroorganisme, tidak menyisakan luka panjang pada alirannya. Sungai, seperti manusia, sesungguhnya hanya meminta diperlakukan dengan adil.
Yang menarik, ini bukan kisah eksotis tentang eksperimen ramah lingkungan yang hidup sebentar lalu mati di laporan seminar. Ia adalah proyek yang tumbuh dari kesadaran kolektif: bahwa limbah pertanian bukan kutukan, melainkan tanda dari sistem yang malas berpikir lebih jauh. Dari sentra nanas, sisa panen diubah menjadi nilai ekonomi baru. Petani tidak lagi hanya menjual buah, tapi juga masa depan yang lebih bersih. Pekerja tidak sekadar mengolah, tapi ikut menentukan arah.
Di titik ini, cerita tentang sabun berubah menjadi cerita tentang demokrasi. Tentang bagaimana pengetahuan tidak dimonopoli pabrik besar, tentang bagaimana teknologi tidak selalu harus datang dari laboratorium steril dengan paten mahal. Demokrasi, barangkali, justru dimulai dari kebun—dari pengakuan bahwa setiap bagian punya hak untuk dimanfaatkan, bukan disingkirkan.
Kita hidup di dunia yang gemar menyembunyikan ketidakadilan di balik wangi. Sabun konvensional membersihkan tangan kita, tapi mencemari air yang diminum orang lain. Kita menjadi bersih dengan cara yang kotor. Dalam ironi semacam itu, kulit nanas yang difermentasi terasa seperti bentuk perlawanan kecil: sunyi, tapi konsisten.
Karena sesungguhnya ini bukan cuma soal sabun. Ini soal cara kita memandang hasil kebun, hasil kerja, dan hasil hidup. Apakah semuanya berhenti pada yang tampak menguntungkan di etalase? Ataukah kita bersedia berjalan sampai tahap paling akhir—di mana sisa, limbah, dan yang terlupakan justru menyimpan kemungkinan paling manusiawi?
Kulit nanas mengajarkan satu hal sederhana: keadilan tidak selalu lahir dari yang besar dan megah. Kadang ia berfermentasi pelan, di sudut kebun, menunggu kita cukup jujur untuk mencium baunya—dan cukup berani untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna bagi semua.
Mungkin yang perlu kita cuci hari ini bukan lagi pakaian, bukan pula piring atau lantai. Yang perlu dibersihkan adalah cara berpikir kita sendiri. Cara berpikir yang sejak lama merasa sah membuang sisa, meminggirkan yang tak segera menguntungkan, lalu menyebutnya “kemajuan”.
Kulit nanas telah membuktikan satu hal yang mengganggu: yang kita anggap limbah sering kali hanya korban dari kemalasan moral dan politik. Ia dibuang bukan karena tak berguna, melainkan karena sistem lebih nyaman meraup laba cepat ketimbang merawat proses yang adil.
Jika sabun dari limbah pertanian bisa membersihkan sungai tanpa meracuni, lalu apa alasan kita terus mempertahankan ekonomi yang mencemari manusia dan alam sekaligus?
Pada titik ini, pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu mengubah limbah menjadi nilai. Pertanyaannya: siapa yang selama ini diuntungkan dari kebiasaan membuang—dan siapa yang terus menanggung baunya? Sebab selama kita masih merasa bersih di tengah sungai yang kotor, demokrasi tak lebih dari busa: tampak banyak, mengilap sesaat, lalu hilang tanpa benar-benar membersihkan apa pun.[]








