Ia bekas pejuang dalam perang melawan Sparta. Di waktu masih muda, ia dikenal sebagai sosok yang gemar belajar, utamanya filsafat. Tidak seperti ayahnya, yang seorang pematung. Ia lebih suka menghabiskan waktunya untuk menyusuri jalan dan menanyai–lebih tepatnya mengajak diskusi siapa saja yang ia temui di pinggir jalan.
Pakaiannya kumal, dekil dan selalu menggunakan jubah yang itu-itu saja. Sepintas, ia terlihat seperti seorang gelandangan, namun jelas bukan.
Ia sebenarnya mempunyai sebuah rumah yang cukup mewah yang diwarisinya dari sang ayah. Dan juga mempunyai beberapa uang yang ia titipkan kepada seorang teman untuk diputarkan dalam dunia bisnis. Namun ia seperti tak peduli dengan harta.
“Betapa banyaknya barang di sana yang tak kuperlukan!”, ucapnya suatu ketika di samping sebuah pasar — saat dia berjalan menyusuri jalan untuk mencari orang yang akan diajaknya berdiskusi.
Gayanya memang ceplas-ceplos.
“Aku pusing”, begitulah kata salah seorang yang ditemuinya di pinggir jalan suatu hari. Bukannya segera hengkang atau fa fi fu ba bi bu, ia malah menjawab dengan kalimat bijak namun terdengar agak congkak dan mengesalkan, “itu permulaan filsafat”.
Ada benarnya, filsafat itu pada awalnya seperti masuk angin; dimulai dengan rasa pusing. Anda sudah barang tentu bisa menebak siapa orang ini?
Benar. Dia adalah Socrates. Seorang bijak bestari yang dijuluki sebagai Bapak Filsuf. Seorang filsuf yang tak pernah menelurkan suatu metode berpikir pasti maupun mengguratkannya dalam sebuah paragraf atau penggalan tulisan.
Pria yang hidup di abad ke-4 sebelum masehi ini lebih suka mengkalim dirinya seorang ‘bidan’.Ia hanya membantu ‘persalinan’ akal manusia. Seperti yang sudah banyak diwedar, bahwa akhir kehidupan Socrates memanglah nahas. Ia dihukum mati. Kenapa dihukum mati?
Tuduhan resmi para penguasa baru di Athena kala itu ialah bahwa Socrates, “tak mengakui dewa-dewa yang diakui negara.” Dan ia juga dituduh “merusak jiwa pemuda”.
Socrates sendiri dalam pembelaannya menuturkan jika dirinya memang seorang pengganggu, atau semacam hujan yang disertai angin—badai yang tak jarang membuat banyak orang pusing dan ‘masuk angin.’ Lebih lanjut Socrates menyebut dirinya “… sejenis lalat pengganggu” yang “diberikan kepada negeri ini oleh Tuhan”.
Artinya apa? Tak berarti lalat penggangu itu harus dimusnahkan.
Baginya, negara membutuhkan lalat-lalat seperti itu. Negara ibarat seekor sapi atau kerbau yang tambun, “yang lambat geraknya karena ukurannya itu”, katanya.
Oleh karenanya ia memerlukan pengganggu, “agar digelitik jadi hidup dan bergerak”. Sayangnya, para penguasa dan hakim tak peduli. Lagian toh Socrates juga tak terlalu cemas dengan kematiannya. Ia lebih memilih mati ketimbang berangkat pikun di usianya yang merangkak 70 lewat.
“Mereka yang takut mati”, begitu konon ia berkata, “adalah ia yang membayangkan dirinya mengetahui apa yang tak diketahui oleh siapapun”. Karena seperti kita tahu, bahwa Socrates adalah orang yang tahu bahwa ia tidak tahu.
Barangkali saat ini sudah sukar menemui orang yang hampir tiap pagi bangun, datang ke pasar, mendatangi kerumunan atau ke gimnasium, palaestra kemudian dilanjut memancing dan berdiskusi seperti Socrates.
Bisa kita bayangkan, berapa banyak orang yang jengkel dibuatnya karena diajak diskusi sedangkan mungkin orang itu sudah tertungkus lumus di kesehariannya?
Kali ini Socrates tak membantah.
Ia sengaja menulari orang dengan kebingungan yang ada dalam diri. Dan karena alasan ini ia menyebut dirinya seorang ‘bidan’. Seperti ibunya. Ia sendiri tak mengandung dan melahirkan pikiran besar. Ia hanya membantu orang lain untuk melahirkan pikiran besar. Plato misalnya. Murid yang sangat loyal itu, lebih berhasil menyusun sistem filsafat.









konten memancing untuk membaca buku lagi. memang bapak filsuf ini tak henti hentinya membuat penasaran