Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Hati Suhita dan Citra Perempuan, Sebuah Resensi

Tia Mutiani by Tia Mutiani
23/07/2022
in Cecurhatan
Hati Suhita dan Citra Perempuan, Sebuah Resensi

Tentang cinta, perjodohan, dan takdir yang butuh kebiasaan dalam menjalaninya.

Alina suhita adalah seorang perempuan trah darah biru yang sejak duduk di bangku SMP telah dijodohkan oleh Abah dan Uminya dengan seorang putra tunggal Pak Kiai dan Bu Nyai Hannan. Bu Nyai Hannan sangat perhatian kepada Alina sebagaimana kasih sayang dari sang ibu kandung.

Sejak itulah hidup Alina sudah sepenuhnya diserahkan kepada Kiai Hannan dan kemajuan pondok pesantren Al-Anwar. Sebab, dari awal perjodohan, Alina digadang-gadang akan menjadi penerus kepemimpinan di pondok Al-anwar tersebut, sehingga Alina harus kuliah, bahkan jurusan yang mesti diambil oleh Alina juga dipilihkan oleh Pak Kiai dan Bu Nyai Hannan.

Setelah menginjak semester 7, Alina harus mengikhlaskan untuk pindah mondok agar hafalannya lanyah demi kemajuan Al-Anwar, pondok milik calon mertuanya tersebut.

Di samping kekangan serta pengorbanan Alina demi menghormati orang tuanya dan ta’dzim pada Pak Kiai dan Bu Nyai Hannan, terdapat sosok lelaki tampan nan rupawan, seorang putra tunggal penerus pesantren Al-Anwar bernama lengkap Abu Raihan Al-Birruni, atau akrab disapa Gus Biru.

Gus Biru tidak begitu tertarik pada urusan pondok Al-Anwar. Ia lebih suka pada dunia luar. Gus Biru memiliki kehidupannya sendiri dengan beragam karyanya di bidang penerbitan dan jejak aktivisnya di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Gus Biru kerap turun ke jalan untuk memeperjuangkan keadilan rakyat namun dirinya tampak tak mampu menengakkan keadilan bagi dirinya sendiri karena patuh dan taat pada umi’ nya yang sangat dicintainya hingga rela meninggalkan seluruh aktivismenya dan menikah dengan Alina Suhita.

Gus Biru dan Alina Suhita kemudian menikah yang disaksikan ribuan ulama’ besar dengan pelaminan super megah. Keduanya berusaha terlihat mesra di depan keluarga dan tamu undangan yang hadir. Namun, setelah acara selesai suasana berubah dingin dan sepi.

Meskipun satu kamar, Gus Biru tidur di sofa sedangkan Alina bagaikan menjangan ketawan, terbaring sendiri di ranjang besar penuh impian tetapi terabaikan karena penolakan suaminya, Gus Biru.

Meskipun sudah menikah tujuh bulan lamanya, Gus Biru masih mengenang dan menyimpan rasa cintanya pada kekasih lamanya, Ratna Rengganis, seorang gadis cantik, tinggi, putih bersih, bibir bagai buah ceri yang indah merekah, yang merupakan kader Gus Biru sendiri.

Mereka sering menulis majalah dan membaca buku kuno berdua di perpustakaan lantai 4 yang sepi. Gus Biru yang terbiasa bersandar di pojokan rak buku yang usang dan berdebu, hanya bertemankan satu orang penjaga perpustakaan.

Pada suatu malam, Alina melihat ponsel Gus Biru tergeletak di atas meja. Perlahan Alina membuka ponsel itu dengan perasaan sedih ia menemukan sebuah pesan dari Rengganis dan pesan-pesan lain Gus Biru yang ternyata masih kerap mengirimkan puisi cinta dan terang-terangan masih mencintai Rengganis.

Bayangkan, betapa pedih dan hancurnya Alina, dan tanpa tersadar sekonyong-konyong air matanya berderai sangat deras. Kemudian, ia letakkan kembali ponsel itu.

Gus Biru dan Rengganis juga masih menjadi tim penerbitan yang didirikan oleh Gus Biru. Rengganis pulalah yang mengonsep desain interior kafe kepunyaan Gus Biru yang bernuansa klasik, ditambah sebuah ruang diskusi dan musala supaya bisa digunakan kader-kadernya untuk rapat kegiatan, diskusi, dan beribadah.

Ratna Rengganis bukanlah tipe perempuan yang memutus silaturrahmi untuk pergi tanpa kabar, akan tetapi lebih memilih untuk menghadapi masalahnya. Lalu, Rengganis mulai menjalin niat baik untuk mengenal Alina dan pada dasarnya memang Rengganis harus pergi dari kehidupan Gus Biru.

Di sisi lain, ada seorang sahabat Alina yang bernama Aruna, perempuan yang sangat periang dan banyak bicara yang sering menawari Alina luluran setelah nikah dan membawanya ke salon, akan tetapi Aruna tidak tahu bahwa temannya selalu mendapat penolakan dari suaminya, Gus Biru.

Sebab tak mampu menahan diri, Alina akhirnya menceritakan pada teman karibnya tersebut jika Alina dan Gus Biru masih saling dingin ketika di kamar seolah dua insan yang tak saling kenal dan tak saling sapa.

Mendengar hal tersebut, Aruna menyarankan kenapa tidak dengan Kang Dharma saja yang baik hati dan mengerti Alina, seorang yang sering meminjamkan buku-buku Jawa kuno seperti puisi karya Ronggowarsito.

Pada suatu hari, Kang Dharma pernah berkunjung ke rumah Kiai Hannan untuk mengantar anak yatim dari pondoknya. Saat bertemu dengan Alina, Kang Dharma mulai teringat kenangan tatkala mondok dulu, ketika Alina masih menjadi santrinya dan Kang Dharma sebagai lurah pondok.

Lamunannya buyar seketika sebab ia sadar bahwa Alina Suhita telah menjadi milik Gus Biru. Saat beranjak pulang, Kang Dharma menuliskan nomor WhatsApp, Alina menerimanya dan ketika Kang Dharma pergi, ia sobek dan membuang kertas tersebut, sebab Alina mempunyai prinsip; mikul duwur mendem jero.

Tidak semua masalah rumah tangganya harus diceritakan kepada orang, bagi Alina, cukuplah dipendam dan dihadapi sendiri.

Pada suatu malam di kota Bandung, Gus Biru mengajak Rengganis untuk bertemu sembari mengucap kata perpisahan terakhir antara Gus Biru dan Rengganis. Di antara suasana kafe cina yang klasik teriring suara gemericik air di kali brantas menambahkan sunyinya kafe tersebut.

Rengganis menyampaikan supaya Gus Biru mau menerima Mbak Alin, panggilnya pada Alina Suhita, seraya berpamitan jikalau Rengganis hendak melanjutkan kuliah ke Belanda supaya bisa memahami buku-buku kuno milik Indonesia yang disimpan di museum Belanda.

Seiring berjalannya waktu, Alina merasa sudah tidak sanggup menghadapi sikap suaminya, Gus Biru, yang tak pernah hangat padanya. Alhasil, Alina memutuskan untuk pergi jauh dari Gus Biru dan Pondok Pesantren Al-Anwar.

Suatu pagi, Alina izin ke umi’ untuk berkunjung ke rumah ibunya. Umi’ mengizinkan, kemudian Alina diantar oleh Kang pondok untuk menjadi sopirnya.

Ketika sedang perjalanan, Alina tiba-tiba meminta untuk menghentikan laju mobilnya sebab ia ingin pergi ke rumah Mbah Kung dan Eyang Putri yang berada di pelosok desa dekat pegunungan. Alina berpesan supaya Kang pondok yang menjadi sopirnya tersebut tidak memberitahu Gus Biru.

Sesampainya di rumah kakek dan neneknya, Alina nyaris ingin menumpahkan seluruh kesedihannya, akan tetapi ia tahu bahwa tak semua hal harus diceritakan. Alhasil, Alina kembali diam seolah tak ada masalah apa pun. Mbah Kung dan Eyang Putri menyambut Alina dengan baik tanpa bertanya mengenai tujuan berkunjung ke kediamannya.

Setelah satu minggu berlalu, keadaan Al-Anwar cukup kacau. Pasalnya, umi’ sedang jatuh sakit dan Gus Biru sangat sedih sehingga dia mencari Alina dan bertanya pada semua teman Alina, termasuk Aruna. Sejurus kemudian, pada waktu subuh Gus Biru sudah sampai di rumah Mbah Kung.

Alina sempat kaget dan pada akhirnya menyambut suaminya dengan baik. Seusai subuh, Alina dan Gus Biru berbincang di ruang tamu. Gus Biru menjelaskan bahwa hubungan dirinya dan Rengganis sudah usai.

Gus Biru telah menyadari bahwa masa depannya sekarang ialah Alina Suhita yang sangat pantas menjadi tambatan hati sekaligus pengabsah wangsa.

Malam berganti pagi, untuk pertama kalinya Alina dan Gus Biru menyambut pagi pertama pasca menikah. Pada akhirnya, Alina melantunkan ayat-ayat secara lanyah dengan Gus Biru di pangkuannya.

Penulis : Khilma Anis
Penerbit : Telaga Aksara Ft Mazaya Media
Terbit : 2019
Tebal : 419

 

Tags: Resensi BukuResensi Jurnaba
Previous Post

Sutan Syahrir: Cinta, Kemanusiaan hingga Pemberontakan

Next Post

Kontestasi Sego Buwohan dalam Panggung Politik Lokal dan Pesan Ekologi dari Godong Jati

BERITA MENARIK LAINNYA

Ketika AI Pandai Bicara, Remaja Harus Lebih Pandai Berpikir
Cecurhatan

Ketika AI Pandai Bicara, Remaja Harus Lebih Pandai Berpikir

23/05/2026
Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya
Cecurhatan

Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

23/05/2026
Kesehatan: Equilibrium Inovasi dan Kebijaksanaan
Cecurhatan

Kesehatan: Equilibrium Inovasi dan Kebijaksanaan

21/05/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Ketika AI Pandai Bicara, Remaja Harus Lebih Pandai Berpikir

Ketika AI Pandai Bicara, Remaja Harus Lebih Pandai Berpikir

23/05/2026
Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

Saat Bumi Terluka, Tubuh Ikut Merasakannya

23/05/2026
TP PKK Kecamatan Sugihwaras Gelar Pelatihan Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga jadi Berkah, Dukungan Nyata Gerakan Perilaku Hidup Bersih

TP PKK Kecamatan Sugihwaras Gelar Pelatihan Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga jadi Berkah, Dukungan Nyata Gerakan Perilaku Hidup Bersih

22/05/2026
Industri Migas dan Pertanian Jalan Beriringan, Bojonegoro Tempati Posisi Lumbung Pangan Terbesar Kedua di Jawa Timur  

Industri Migas dan Pertanian Jalan Beriringan, Bojonegoro Tempati Posisi Lumbung Pangan Terbesar Kedua di Jawa Timur  

22/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: