Keberadaan sego buwohan tidak bisa lepas dari yang namanya politik. Politik bukan hanya sekadar eksistensi partai politik yang berwarna-warni melainkan juga ada kebijakan yang mempengaruhi.
Nabs, ketika ngopi di luar kota, seorang kawan yang baru saya kenal bertanya, “Bung, dari mana Anda berasal?”. Saya jawab, “Dari Bojonegoro.” Kawan saya tidak langsung ngeh atau tahu hal ihwal Bojonegoro. Ada yang menduga Bojonegoro itu di daerah Jawa Tengah, atau di lain provinsi, selain Jawa Timur.
Hal tersebut tidak mengherankan. Karena identitas kebudayaan Bojonegoro, belum mengakar, tumbuh, berkembang, dan berbuah. Masih mencari-cari, hal tersebut terjadi karena beberapa alasan.
Salah satunya, saking rajinnya sebuah dewan yang diamanahi untuk melakukan penelitian namun saking rajinnya melakukan penelitian, hingga orang-orang Bojonegoro wa bil khusus orang-orang di luar Kecamatan Bojonegoro atau bahkan orang Kecamatan Bojonegoro sendiri, kurang tahu hal ihwal Bojonegoro.
Sebuah dewan yang diamanati untuk melakukan riset atau penelitian, saking rajinya melakukan riset hingga ingin mencapai taraf sempurna atau perfect dalam berkarya, tidak ada satupun yang dipublikasikan dan dibumikan ke warga negara yang ada di Bojonegoro. Baik yang berada di kota maupun di desa-desa.
Atau mungkin saya saja, yang tidak memiliki daya tahan lama dalam membaca dan mendapat label “anak rumahan” yang subjektif? Wqwqwq.
Hingga saya kurang tahu “dunia luar yang konon bisa membuat mabuk angin dan asmara, membuat beberapa aktivis garang di hadapan juniornya, namun mlempem di hadapan senior yang jadi pejabat pemerintahan alias penguasa” dan tentunya yang ditunggu-tunggu dan yang dinanti-nanti yaitu publikasi dewan yang ditugaskan untuk melakukan riset di daerah.
Nabs, saking banyaknya hasil risetnya, hingga terkadang bingung, tentang riset mana yang menarik dan pantas untuk dibaca dan kemudian disebarluaskan ke masyarakat.
Sego Buwohan, Di Bungkus Pakai Batik Jonegoroan atau Pakai Piring Cor?
Mengingat, sekarang berada di bulan besar. Musimnya buwoh. Sudah berapa banyak sego buwohan yang menghiasi meja makan Anda? Kalau tidak ada jangan khawatir, masih bisa menikmati sego buwohan melalui penjual sego buwohan di area Bojonegoro kota dan sekitarnya.
Terkadang, orang-orang sibuk tentang pengemasan. Hingga lupa kalau ada suatu hal yang penting “isi”. Apakah sego buwohan itu berisi nasi, mie, olahan kentang, olahan tempe, dan berbagai jenis isi lain? Atau “nasi” yang isinya apa saja namun diperoleh dari hasil buwoh itu yang disebut sego buwohan?
Ada esensi yang lebih penting dari eksistensi. Apakah orang-orang pohon beringin dengan lanyah menyebut identitas Bojonegoro dengan sego buwohan? Atau orang-orang merah, malu-malu banteng ketika disebut bahwa identitas Bojonegoro merupakan sego buwohan? Bukan ledre?
Terlepas dari sego buwohan, Bojonegoro juga memiliki ledre, batik Jonegoroan, dan tim sepak bola penjegal tim raksasa dan pernah mengangkat trofi Piala Indonesia “PERSIBO”. Bukan hanya itu, kerap dijumpai ketika pemimpin pemeritah daerah berganti, warna-warna di beberapa objek tertentu juga berganti, dari jalanan paving menjadi cor, tamanisasi Bojonegoro terjadi, dan hingga Jogjakartanisasi Bojonegoro juga terjadi.
Bundaran yang berada di Jetak, dari bola dunia yang hampir jadi ikonik, juga mengalami perubahan. Ibarat Cristiano Ronaldo (CR7) yang mau dijadikan legenda di Manchester United (MU), lha kok idep-idep bin ujug-ujug tidak diperpanjang kontraknya dan bahkan dibuang begitu saja, misalnya.
Sebagai pegiat warung kopi waktu malaikat turun ke bumi “tengah malam” yang ada di pinggir jalan yang nyel, bukan kaleng-kaleng, saya tidak lupa mengucapkan “terima kasih” kepada rezim pemerintahan daerah yang berhasil membuat warganya bingung dan kurang tahu ihwal identitas kabupaten yang konon sebagai lumbung pangan dan energi ini. Dimana lagi kalau bukan di Bojonegoro, Jawa Timur.
Dan ucapan “terima kasih” itu, juga mengalir deras bak arus Bengawan Solo ketika bulan Desember atau ketika banjir, untuk dewan di pemerintahan yang saking rajinya melakukan riset dan diseminasi ilmu dan pengetahuan ihwal Bojonegoro yang mengejar perfect atau kesempuraan, hingga lupa untuk melakukan publikasi dan diseminasi secara membumi.
Terlepas sego buwohan dibungkus pakai batik jonegoroan atau langsung ditaruh di atas piring cor, lebih enak jika sego buwohan ditaruh di godong jati. Daun jati memberi efek harum alami pada “isi” sego buwohan. Sembari menikmati sego buwohan, juga sembari memikirkan, apa itu sego buwohan? Mengapa sego buwohan menjadi karakteristik Bojonegoro?
Dan bagaimana membumikan sego buwohan Bojonegoro ke berbagai penjuru bumi? Jangan tanya kepada dedaunan yang bergoyang dibelai angin, bertanyalah kepada pemilik bisnis kripik singkong Bojonegoro yang tersebar di Bandung, daerah-daerah di Kalimantan, dan lain sebagainya.
Pesan Ekologi dari Godong Jati Bungkus Sego Buwohan
Sego buwohan yang dibungkus pakai batik jonegoran, menimbulkan rasa kurang enak bagi orang-orang yang suka dan bergiat dengan “warna hijau”. Namun rasanya akan enak, bagi orang-orang yang suka dan bergiat dengan “warna biru”.
Jika sego buwohan, dihidangkan di atas piring cor, “orang-orang hijau” meskipun dengan malu-malu banteng, akan mengajak “orang-orang merah” untuk makan bersama atau bahasa kekiniannya mabar, Nabs.
Orang-orang yang suka warna lain, seperti warna biru, putih, dan bahkan pelangi, akan gigit jari ketika menyaksikan “orang-orang merah dan hijau” mabar sego buwohan yang dihidangkan di atas piring cor.
Bojonegoro dengan kandungan minyak bumi sudah panas, ditambah lagi perputaran uang, orang-orang yang bermain di sekitaran proyek minyak bumi khususon ila Si Kucing Loreng dan Cokelat yang so pasti juga merasakan panasnya. Ditambah lagi dan lagi, sego buwohan yang mongah-mongah (panas sekali) dihidangkan di atas piring cor, tak jarang membuat cidera.
Bukan cidera ala Lucas Paqueta (pemain sepak bola Lyon dari Brazil), yang mengalami cidera di tangan karena bermain layangan, melainkan cidera pada “mulut”. Jika cidera pada mulut, maka proses pembentukan kontestasi dan koalisi politik akan terhambat. Apalagi menjelang 2024. Sudah panas tertimpa panas lagi. Dadine ora malah mateng tapi gosong, Nabs.
Namun tetap tenang, Nabs. Untungnya masih ada “daun jati” yang memang cocok dan enak ketika digunakan sebagai bungkus sego buwohan. Selain mampu menambah rasa lapar untuk segera menikmati sego buwohan, daun jati juga bisa menambah aroma wangi yang khas. Dimana hal itu akan menambah rasa kenikmatan pada sego buwohan.
Tanpa harus uji verifikasi kepada “orang-orang hijau, orang-orang biru, orang-orang kuning, orang-orang merah yang terkadang malu-malu banteng, orang-orang putih, maupun orang-orang lain yang masih gandrung akan eksistensi warna dari pada esensinya. Eksistensi yes! Esensi yes! Yes!”.
Daun jati atau dong jati selain menambah cita rasa makanan wa bil khusus pada sego buwohan. Juga ramah lingkungan. Tentu berbeda dengan bungkus dari plastik, batik jonegoran, maupun piring cor.
Setelah makan sego buwohan yang terbungkus godong jati, godong jati yang dibuang pada tempatnya, kemudian akan kembali ke tanah melalui proses penguraian. Dari alam, kembali lagi ke alam. Dan tentunya lebih ramah lingkungan. Anda penasaran, bagaimana rasa sego buwohan yang dibungkus daun jati? Monggo, dolan ndek Bojonegoro.








