Kisah tiga lelaki gondrong dan bagaimana mereka menghadapi kentut yang penuh filosofi.
Semua berawal dari pengumuman lowongan kerja yang dibaca Wido Spiker pada halaman sebuah media online. Pada lowongan tersebut, tertera sebuah Non Govermental Organisation (NGO) atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) progresif sedang butuh kader profesional.
NGO bergerak di bidang penelitian dan analisis data Makhluk Ghaib tersebut, memang selalu jadi primadona bagi para lulusan S1 dan mahasiswa yang sudah lama kuliah, tapi nggak lulus-lulus. Terutama mahasiswa nanggung macam Wido Spiker dkk.
Tapi sial, kali ini, NGO tersebut mensyaratkan para pelamar kerja harus berambut gondrong. Ini syarat yang mutlak tak bisa dilewati Wido Spiker. Maklum, Wido Spiker lelaki yang berambut cepak rapi dengan prejengan mirip masa muda Pak Harto.
Wido Spiker sempat membayangkan andai saja dia berambut gondrong, pasti keren. Tapi karena yang terbayang justru wajah Ridho Roma Irama, dia pun kembali mengurungkan niat untuk menggondrongkan rambutnya.
Wido pun berbesar hati dengan tidak mengambil kesempatan kerja itu. Sebagai gantinya, dia memberitahu tiga kawannya yang memang sedang berambut gondrong. Mereka adalah Yogi Insomnia, Rian Pistol dan Bahrul Coplo. Tiga kawan baik Wido.
Singkat cerita, tiga kawan Wido Spiker sangat senang dengan kabar adanya lowongan kerja di NGO tersebut. Bahkan, mereka bertiga kompak memakai shampo kembang tujuh rupa demi agar diberi kelancaran saat melamar pekerjaan tersebut.
Yogi Insomnia, Rian Pistol dan Bahrul Coplo sempat kaget dan minder ketika tahu jumlah pendaftar membeludak. Jumlahnya seribu peserta yang, semuanya, berambut gondrong. Maklum, itu NGO paling tenar di dunia ghaib. Tapi, dengan keberanian lelaki yang sudah disunat, mereka bertiga tetap kompak mengikuti tahapan ujian.
Entah karena berkah doa, atau karena wajah yang memelas, tiga lelaki gondrong itu bisa melewati tes dengan hasil memuaskan. Hampir semua tes telah dilalui. Mulai administrasi, akademik, psikotes hingga kesehatan. Berbagai tes itu telah usai dengan memuaskan.
Ratusan peserta sudah berguguran. Dari pantauan penguji, hanya menyisakan 3 peserta dengan kriteria terbaik. Tentunya, terbaik dalam hal apapun yang telah diujikan. Ketiga peserta yang lolos itu adalah; Yogi Insomnia, Rian Pistol dan, tentu saja, Bahrul Coplo.
Ketiga lelaki gondrong itu terbukti mampu mengalahkan 997 peserta gondrong lainnya. Kini, pihak NGO yang justru kebingungan menyiapkan tes wawancara demi menyeleksi tiga lelaki gondrong tersebut.
Maklum, hampir semua mata ujian, ketiga peserta itu bisa menyelesaikan dengan baik. Tidak hanya baik, ketiganya selalu mendapat nilai sempurna tanpa cacat. Dengan kualitas jawaban yang sama. Padahal tidak saling contek satu sama lain.
Tim penguji pun mulai kehilangan kesabaran dengan kecerdasan tiga lelaki gondrong itu. Berbagai ujian, selalu bisa diselesaikan, dengan baik, dengan sempurna. Oleh ketiganya. Kini tinggal tes terakhir, yakni tes wawancara.
Untuk tes wawancara, pimpinan NGO sendiri yang turun tangan. Pak Pim, begitu pimpinan NGO itu biasa dipanggil, menyuruh jajaran staf agar memanggil ketiga lelaki gondrong itu masuk ke dalam kantor, untuk dites blio sendiri.
Pria paruh baya dengan postur besar itu, konon memiliki kemampuan melihat karakter orang. Pak Pim sosok yang bisa membaca sesuatu yang ghaib. Kini, Yogi Insomnia, Rian Pistol dan Bahrul Coplo pun dipanggil masuk ke dalam kantor Pak Pim.
Kantor yang menawan, batin mereka bertiga. Selain bersih, wangi dan lengang, ruangan kantor itu sangat megah. Bahkan, bisa digunakan untuk main lari-larian kayak di pantai.
Menghadap Pak Pim, mereka bertiga gugup tidak karuan. Maklum, kesunyian suara kantor seolah mendukung ketakutan meraka. Bagaimana tidak, dengan kesunyian yang sempurna, suara jarum jatuh pun bisa terdengar sangat kencang.
“Bagaimana kondisi kalian, sehat??” Tanya Pak Pim dengan suara berat penuh wibawa, tanpa sedikitpun menekuk bibir untuk tersenyum.
“Iya, sehat, Pak Pim”. serempak mereka bertiga menjawab dengan suara cempreng penuh ketakutan.
Dalam kondisi khusyuk penuh ketakutan, tiba-tiba, fenomena alam yang tidak diduga-duga terjadi. Pak Pim terlihat cemas. Posisi duduknya berubah-ubah. Wajahnya seperti menahan sesuatu. Dan…
Duuuuuttth Duuuuth Duuuuuttth…
Rentetan suara kentut membombardir ruangan kantor. Suasana ruang yang sebelumnya sunyi penuh ketakdziman, tiba-tiba riuh memantulkan suara kentut. Besarnya ruang membuat suara itu bergema menggelegar –seolah– tak berkesudahan. Molekul kentut berbaur bersama kesejukan AC.
Yogi Insomnia, Rian Pistol dan Bahrul Coplo diserang dilema. Mau tertawa sambil menutup hidung tidak berani. Diam, sama halnya membiarkan racun masuk ke paru-paru. Akhirnya, mereka bertiga melempar rambut gondrongnya ke arah muka, untuk menyembunyikan tawa.
Pak Pim yang sebelumnya garang penuh kharisma, tiba-tiba mati gaya dan memerah wajahnya. Namun, tenang saja, bukan Pak Pim jika tidak bisa menguasai suasana. Pak Pim pun kembali tampak berwibawa seperti sediakala.
“Oke, tes kita mulai. Saya panggil satu per satu ya,” ujar Pak Pim dengan suara berat penuh wibawa, sambil merasa seolah tidak terjadi apa-apa.
Yogi Insomnia dengan keringat bercucuran akibat gugup, menjadi peserta pertama yang dipanggil. Kedua peserta lainnya duduk di belakang dengan jarak tak terlalu jauh.
“Yogi, kamu tadi dengar saya kentut?,”
“Iya, Pak Pim.”
“Bagaimana baunya?,”
“Wangi Pak Pim. Wangi seperti parfum,”
” Pulang! Kamu tidak lolos. Dasar pembohong!,” Bentak Pak Pim.
Melihat Yogi Insomnia gagal, Rian Pistol dan Bahrul Coplo bingung dan gugup. Mereka takut bencana yang ditimpa Yogi juga berdampak pada mereka. Sambil menata rambut agar tetap terlihat cool, mereka sibuk menyiapkan jawaban paling tepat.
Dengan keyakinan penuh serta gugup yang tetap dia bawa, Rian Pistol menjadi peserta kedua yang menghadap Pak Pim. Dia maju ke meja penghakiman. Dengan penuh ketakutan, dia berusaha mendongakkan wajah, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Rian, tadi kamu dengar saya kentut?”
” Iya, Pak Pim,”
“Bagaimana baunya?”
”Busuk sekali, Pak Pim. Saking busuknya saya tak bisa mencari padanan baunya”
”Pulang! Kamu tidak lolos! Dasar vulgar!!” Bentak Pak Pim sambil mara-mara menggebrak meja.
Menyaksikan dua peserta berguguran, Bahrul Coplo hampir kehilangan kesadaran akibat saking gugupnya. Keringatnya bercucuran. Detak jantungnya meracau tak karuan. Lututnya bergetar tak bisa dihentikan.
Dia ingin mengakhiri ketegangan dengan langsung pulang dan membatalkan keinginan untuk tes wawancara. Hanya saja, itu tidak bisa dia lakukan. Mau tidak mau, dengan langkah penuh ketakutan, Bahrul Coplo pun menghadap Pak Pim.
“Bahrul, tadi kamu dengar saya kentut?”
“Iya, Pak Pim”.
“Bagaimana baunya?”
” Maaf, Pak Pim. Saya pilek” ungkapnya dengan suara cempreng sambil memejamkan mata, seolah siap menerima pengusiran.
“Yes! Kamu lolos! Besok mulai kerja, ya!” Ucap Pak Pim sambil memberi Bahrul Coplo sesobek kertas.
Bahrul Coplo masih tak percaya dia diterima bekerja. Itu artinya dia mengalahkan 999 peserta gondrong lainnya. Dengan langkah gontai akibat lutut yang masih kemelotak, dia meninggalkan kantor Pak Pim.
Sesampainya di warkop tempat biasa dia nyangkruk, Bahrul Coplo membuka sesobek kertas dari Pak Pim. Dengan berhati-hati, dia membaca kalimat: “Jujur saja tidak cukup, kau harus bisa menjaga kehormatan orang lain”.








