Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Ibu Sri Swasanti: Saksi Hidup Perjalanan Radio Pemkab Bojonegoro

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
08/08/2025
in Figur
Ibu Sri Swasanti: Saksi Hidup Perjalanan Radio Pemkab Bojonegoro

Ibu Sri Swasanti Handajani (Jurnaba)

Sri Swasanti Handajani merupakan saksi hidup perjalanan Radio Pemkab Bojonegoro — cikal bakal Dinkominfo hari ini. Ia menyaksikan studio kecil di sudut kota itu, kelak membersamai kemajuan daerah, sebagai suluh yang hadir di tiap zaman.

Malam sehabis Isya. Bulan September 1966. Sri Swasanti Handajani bergegas mengayuh sepeda angin dari rumahnya di Gang Lurah Kadipaten (sekarang Jl. KS Tubun), menuju ke Rumah Dinas Komandan Kodim (sekarang Rumah Dinas Sekda Bojonegoro), untuk mengikuti musyawarah didirikannya Radio Pemkab Bojonegoro.

Letkol Sukatman, seorang Komandan Kodim kala itu, menggagas adanya radio pemerintah. Ia mengumpulkan para remaja berbakat untuk membuat studio radio Pemkab. Sebagai siswa teladan yang mengikuti beragam kegiatan di sekolah, Sri Swasanti ikut dipanggil dalam agenda tersebut.

Sri Swasanti Muda, saat melatih kelompok paduan suara (dok. pribadi/Jurnaba)

Waktu itu, Pemkab Bojonegoro sedang membentuk persiapan Radio Republik Indonesia (RRI). Bersama para remaja lainnya, ia dilatih membuat sajian penyiaran. Nama Radio persiapan itu adalah Radio Brawijaya Persiapan RRI Bojonegoro. Tempat latihannya berada di Rumah Dinas Komandan Kodim (sekarang Rumah Dinas Sekda Bojonegoro).

Sebagai seorang remaja putri kelas 2 SMA, ikut terlibat dalam pembentukan studio radio pemerintah adalah perihal istimewa. Lebih istimewa lagi karena dia dipilih sebagai penyiar radio tersebut. Ya, jika ditanya siapa penyiar radio Pemkab Bojonegoro pertamakali, ia adalah Ibu Sri Swasanti Handajani.

Musim kemarau pada September 1966 itu, menjadi bulan cukup berkesan baginya. Sebab untuk pertamakalinya, sebagai seorang siswa SMA, ia didapuk sebagai penyiar radio Pemkab. Kelak ketika ia lulus SMA pada 1967, Sri Swasanti masih melanjutkan kegiatannya sebagai penyiar radio.

Sebagai penyiar muda, ia tentu sangat bangga. Bahkan, dari kegiatan itu, kelak menjadi awal karirnya sebagai pegawai Pemkab Bojonegoro. Sebab, dari kegiatan sebagai penyiar radio Pemkab itulah, kelak ia diangkat sebagai Pegawai Negeri pada 1972 silam.

“Saya ingat, dulu saya punya nama udara (nama panggung) yaitu Ani Swasanti” ucap nenek 77 tahun itu sambil tersenyum.

Ia bercerita, sejak September 1966, hampir setiap pagi, ia melakukan siaran. Ia membawakan bermacam acara. Mulai acara sandiwara radio, musik pilihan pendengar, hingga berita daerah. Sebagai seorang penyiar, ia bahkan masih ingat banyak nama. Mulai para pendengar setia, operator, teknisi, hingga pemeriksa naskahnya.

Waktu itu, sebagai seorang penyiar radio, ia mengasuh sebuah acara bernama Gita dan Nada. Acara musik pilihan pendengar. Pada saat itu, nama-nama seperti Titik Puspa, Teti Kadi, Erni Johan, Lilis Suryani, dan Titik Sandora adalah penyanyi fvorit sekaligus paling terkenal.

Sri Swasanti (tengah) bersama kawan seperjuangannya (dok pribadi/Jurnaba)

Saat melakukan siaran, ia ditemani seorang operator radio bernama Pak Sudibyo. Sedang bagian koreksi naskah yang masuk, namanya Pak Sudarsono. Sementara bagian teknisi yang bertugas memperbaiki peralatan, adalah Om Te, seorang tionghoa yang tinggal di Jalan Diponegoro. Ia juga ingat nama-nama pendengar yang dulu sering mengirim atensi (salam).

“Mereka ada yang masih hidup, tapi banyak juga yang sudah wafat” Ucapnya pelan, disusul raut wajah yang tiba-tiba haru.

Ia menatap tajam ke arah jendela kaca. Sesekali membuka album foto yang ada di hadapannya, untuk mengingat lagi, berbagai momen menarik yang telah terlewati. Bermacam informasi terekam dari masa mudanya, masih dengan jelas dan lancar ia ceritakan, seolah terjadi belum lama. Mungkin benar kata pepatah: kenangan manis akan teringat sepanjang usia.

Ibu Sri Swasanti melihat gurat album masa silam (Jurnaba)

Dengan penuh ketelitian, ia mengingat-ingat momen 59 tahun silam, sebuah momen tak terlupakan, yang kelak menjadi bagian penting dalam fragmen kehidupannya. Perempuan 77 tahun itu, adalah figur penting dalam pendirian Radio Pemkab Bojonegoro, yang kini dikenal dengan nama Radio Malawapati FM tersebut.

Usianya kini memang sudah 77 tahun. Namun, ingatannya tajam. Ucapannya jelas. Ceritanya mengalir. Bahkan, bermacam detail dari masa silam, masih mampu ia sampaikan dengan begitu epik dan penuh kesan. Sri Swasanti adalah satu di antara — untuk tak mengatakan satu-satunya — figur yang menyaksikan bagaimana Radio Pemkab lahir ke dunia.

Ia menjadi saksi hidup atas perjalanan Radio Pemkab Bojonegoro — cikal bakal Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Bojonegoro hari ini. Ia menyaksikan betapa sebuah studio informasi kecil di sudut kota itu, kelak mampu membersamai kemajuan kota, sebagai suluh yang selalu hadir di tiap zaman.

Dia bercerita, tahun 1966 adalah tonggak pertama keberadaan radio pemkab di Bojonegoro. Waktu itu bernama Radio Brawijaya Persiapan RRI Bojonegoro. Pada awal 1970-an, radio itu dilimpahkan ke Pemda, dengan nama Radio Chusus Pemerintah Daerah (RCPD), yang kemudian berganti menjadi RKPD. Kata Chusus berganti Khusus.

Saat radio ini dilimpahkan ke Pemda, semua karyawan jadi pegawai harian Pemda. Ia menjadi penyiar selama 6 tahun. Dari 1966 hingga 1972. Sebab pada 1972, ia diangkat menjadi CPNS. Lalu pada 1973 diangkat menjadi PNS. Sehingga pernah menempati beberapa pos seperti Bagian Hukum, Bagian Sekretariat, dan Staff Bupati.

“Saya pensiun tahun 2004, di era Pak Santoso. Sekdanya waktu itu Bambang Santoso” kenangnya.

Fragmen Penting Radio Pemkab Bojonegoro

Radio Republik Indonesia (RRI) Bojonegoro mulai membentuk Radio Chusus Pemerintah Kabupaten (RCPD) Bojonegoro pada 1971. Data ini terdeteksi melalui penyerahan tugas pertanggungjawaban SK Bupati KDH Kabupaten Bojonegoro No. HUU/24/1971, tertanggal 30 Maret 1971, dengan frekuensi AM 1224 KHz.

Dalam rangka memperlancar pembangunan dan komunikasi antar daerah, terutama Pemda dengan masyarakat Bojonegoro, yang mana komunikasi antar kota dan kecamatan masih sulit, sehingga perlu diadakan pemancar Radio Chusus Pemerintah Daerah (RCPD) Bojonegoro. Kelak menjadi RKPD.

Semakin pentingnya fungsi media elektronik di Kabupaten Bojonegoro, maka pada 30 Maret 1971, berdasar SK Bupati Kepala Daerah Tk. II Bojonegoro Nomor HUU/24/1971 digunakan sebagai pedoman siaran sementara RKPD Tk II Bojonegoro.

Guna menguatkan status RKPD Tk. II Bojonegoro, Bupati mengirim surat permohonan ijin siaran RKPD Tk. II Bojonegoro kepada Menteri Penerangan RI dan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi RI dengan Nomor: 482.2/237/409.19/1989 pada tanggal 21 Maret 1989.

Radio Khusus Pemerintah Daerah (RKPD) yang notabennya radio publik, berada dalam naungan BPRSP (Badan Pembina Radio Siaran Pemerintah). Sejak bergulirnya reformasi dan diberlakukannya Undang-Undang Otonomi Daerah (Otoda), fungsi BPRSP jadi tidak jelas seiring dilikudasinya Departemen Penerangan, sehingga RKPD, khususnya Jawa Timur, berjalan sendiri dan menyesuaikan kondisi daerah masing-masing tanpa lembaga yang mewadahi.

Dengan semakin banyaknya berdiri pemancar-pemancar Radio Swasta di Bojonegoro dengan sistem Frequensy Modulation (FM), pada 2001, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mendirikan pemancar baru dengan sistem Frekuensi Modulation (FM) dengan daya pemancar 2000 Watt. Pemancar baru itu, menggunakan Frekuensi 99,9 FM yang diberi nama Malawapati FM.

Untuk menguatkan status Radio Malwopati FM, Kepala Dinas KOMINFO Bojonegoro kala itu, mengirim surat permohonan ijin penyelenggaraan penyiaran Radio kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Jawa Timur dengan nomor 485/129/412.36/2001 pada tanggal 18 Juni 2001.

Saat ini, gelombang radio Malowopati FM sudah bergeser: dari 99,9 FM menjadi 95,8 FM. Pergeseran ini, sesuai kanal gelombang Radio yang ada di Bojonegoro. Gelombang radio yang dimaksud ini, diberikan secara langsung Balai Monitoring (Balmon) Provinsi Jawa Timur.

 

Tags: Makin Tahu IndonesiaSejarah Kominfo BojonegoroSejarah Radio Pemkab Bojonegoro
Previous Post

Dongkrak Kemajuan Ekonomi Lokal, KKN Unigoro Desa Prangi Sukses Bangun Kedai Kreatif

Next Post

Indeks Optimisme 2025: Pemuda Kalah Optimis dari Orang Tua

BERITA MENARIK LAINNYA

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia
Figur

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia

26/03/2026
Fazlur Rahman Khan, Sosok di Balik Lahirnya Terminal Haji Jeddah
Figur

Fazlur Rahman Khan, Sosok di Balik Lahirnya Terminal Haji Jeddah

20/03/2026
Bruno Guiderdoni: Keseimbangan Sains, Quran, dan Iman
Figur

Bruno Guiderdoni: Keseimbangan Sains, Quran, dan Iman

18/03/2026

Anyar Nabs

Merawat Ingatan, Menyemai Masa Depan: GP Ansor Kota Batu Luncurkan Buku Sejarah

Merawat Ingatan, Menyemai Masa Depan: GP Ansor Kota Batu Luncurkan Buku Sejarah

21/04/2026
Pembawa Pendaratan di Planet Merah: Diaspora Iran Sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (2)

Pembawa Pendaratan di Planet Merah: Diaspora Iran Sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (2)

21/04/2026
‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah

‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah

20/04/2026
Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

19/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: