Dulu, warung kopi masih tampak didominasi kaum Adam. Namun, saat ini sudah berbeda. Tak terbatas gender atau ‘kotak’ sosial lainnya. Hingga muncul istilah “ngopi cantik dulu kuy!”.
Ngopi bukan lagi budaya ter-segmen pada satu gender. Di balik meja barista, seorang srikandi berdiri. Tangannya, dengan lincah mampu meracik sajian kopi. Srikandi tersebut bernama Indah Purbawati.
Indah, sapaan akrabnya, adalah seorang penyeduh kopi. Bukan kopi sachetan yang tinggal seduh-sudah. Melainkan kopi biji yang diseduh manual. Tepatnya di dapur Ranah Coffee Shop, Bojonegoro.
Semasa sekolah, Indah bergabung dalam grup Modern Dance. Ngopi jadi salah satu media perempuan alumni SMKN 1 Bojonegoro tersebut dalam berkumpul. Sayangnya, Indah termasuk pemilik lambung yang sensitif terhadap kopi.
Indah tahu, kopi ada banyak jenisnya. Selain kopi sachet, banyak juga jenis kopi di pasaran. Khususnya di menu-menu bebagai coffee shop Bojonegoro. Karena itu, dia memutuskan untuk belajar. Gimana sih agar kopi tetap nikmat bagi yang lambungnya sensitif?
“Penasaran ingin belajar tentang kopi, kelihatannya seru. Kalau minum kopi suka kembung, jadinya penasaran. Seneng juga ketemu orang baru dan ngobrol gitu,” kata gadis asal Desa Luwihaji, Ngraho, Bojonegoro tersebut.
Setelah lulus sekolah, Indah memutuskan untuk belajar perkopian. Karena itu, dia memilih untuk bekerja di sebuah cafe. Cara untuk belajar tapi juga mendapat penghasilan. Pandangan yang cukup brilian, bukan?
Sudah hampir setahun Indah bergelut dengan mesin kopi. Dia belajar beberapa teknik manual brew. Mulai dari mesin espresso manual, V60, Vietnam Drip, Plunger, Syphon dan lainnya. Meski begitu, dia masih belum puas.
“Belajar cara pembuatan dan pengolahan kopi. Misalnya manual brew, V60, Vietnam Drip. Baru itu aja sih. Tapi kan masih banyak yang lain lagi kan ya,” ungkap Indah.
Indah mengaku masih ingin belajar tentang biji kopi. Kopi Nusantara memiliki banyak jenis. Dari setiap jenisnya pasti ada yang khas. Tentu akan menarik jika dia bisa mempelajarinya.
Kopi pun memiliki sub-trend sendiri. Misalnya es kopi susu seperti saat ini. Perkembangan itu juga Indah ikuti. Namun, Indah berharap bisa belajar latte art, seni melukis pada permukaan sajian kopi.
“Sekarang ingin belajat latte art. Sepertinya keren gitu kalau bisa menggambar di media yang berbeda. Apalagi di cangkir kopi,” ucap anak ke tiga dari empat bersaudara.
Bagi Indah, kopi bukan hanya sajian minuman. Kopi memiliki keunikan. Di balik minuman itu, terdapat dialektika sosial dan budaya. Banyak hal yang bisa dipelajari dari kopi.
Bahkan, kopi sebagai titik temu berbagai kalangan. Dari situ, dia bisa belajar dengan orang lain. Ruang tak terbatas untuk belajar bersama.
“Mendapat banyak teman, tahu cara bagaimana diri sendiri bisa menikmati kopi, yang awalnya aku tidak biasa,” pungkas perempuan kelahiran Maret 2001 tersebut.
Indah membuktikan bahwa kopi tak hanya milik laki-laki saja. Perempuan atau kaum hawa juga bisa dominan dalam hal per-kopian.








