Di tengah meningkatnya krisis air dan kerusakan lingkungan, sebuah pesantren di Bojonegoro, kembangkan praktik ekologi sederhana berdampak panjang: mengelola sumber mata air dengan Mandala Pohon.
Irsyaduth Thalabah, sebuah pesantren Tahfidzul Quran berada di Desa Kuncen Padangan, Bojonegoro, berupaya kembangkan metode konservasi alam melalui laku ekosufisme sederhana — sebuah strategi “memanggil sumber air” dengan cara menanam pohon berbasis penataan bermotif mandala.
Berangkat dari kesadaran bahwa air tak bisa dilepaskan dari ekosistem daratan, pesantren ekologis ini memandang pohon bukan sekadar elemen penghijauan, tapi infrastruktur ekologis. Sebab, akar pohon memperkuat struktur tanah, meningkatkan daya serap air hujan, dan menjaga cadangan air tanah tetap tersedia saat kemarau.
Menanam pohon, bagi Pesantren Irsyaduth Thalabah, bukan sekadar kegiatan konservasi alam. Namun sebuah upaya untuk “memanggil” sumber mata air, serta laku spiritual dengan “menanam” ayat-ayat Qur’an. Ini menarik karena mampu menjadikan alam sebagai subjek penting dalam implementasi pelajaran Al Qur’an.
Baca Juga: Sidi Jamaluddin, Ajaran Moderasi Zawiyah Gunung Jali
Berdiri di sebuah pematang sawah yang jauh dari pemukiman, lokasi Pesantren Irsyaduth Thalabah dikenal cukup sulit air. Bahkan tak banyak ditemukan sumber mata air di lokasi itu. Kondisi tersebut, membuat pengelola pesantren melakukan kegiatan konservasi alam dengan melakukan penanaman pohon dengan model mandala.

Mandala pohon, merupakan penanaman pohon secara simetris dan berpola. Dalam hal ini, pohon ditanam pada empat titik simetris, dengan pola kotak persegi. Sehingga tepat berada di tengahnya, membentuk sebuah ruang mandala yang tak hanya subur kondisi tanahnya. Tapi juga jadi titik sumber mata air alami.
Pengasuh Pesantren Irsyaduth Thalabah, Arya Sabiila H. A bercerita, pada awal pendirian pesantren, air memang cukup sulit. Bahkan tak ditemukan sumber air di kawasan tersebut. Karena itu, ia memutuskan menanam pohon di belakang lokasi pesantren. Awalnya, tujuan menanam pohon karena ingin menggemburkan tanah.
”Dengan menanam pohon-pohon ini, awalnya ingin menyuburkan tanah saja” ucap pria akrab disapa Gus Arya itu.
Sekitar 8 tahun silam, saat pertamakali mendirikan bangunan di tempat tersebut, ia bersama para santri menanam 4 pohon beringin berpola mandala. Tujuannya waktu itu untuk menyuburkan tanah yang ada di sekitar lokasi. Telebih, para santri juga sekalian nglalar hapalan sembari menanam pohon. Ini ditujukan mendekatkan Quran pada alam sekitar.
”Jadi ketika menanam, sembari membacakan ayat-ayat pilihan. Ini sekaligus edukasi kedekatan Quran pada lingkungan” imbuh Gus Arya.
Baca Juga: Ekosufisme dan Ajaran Islam Rahmatan Lil Alamin
Terkait metode penanaman yang berbentuk pola mandala persegi, menurut dia, karena disesuaikan bidang tanahnya saja. Sebab, tanahnya juga berbentuk persegi. Namun, belakangan ia menyadari bahwa pola mandala dalam metode penanaman pohon, adalah tradisi ekologi sejak zaman Medang Kamulan, yang terus dilanjut kala Islam datang. Dan metode ini manjur. Terbukti, tepat di tengah ruang mandala pohon, saat ini sumber air sudah keluar.
”Sebelumnya sumber airnya cukup dalam dan sulit. Setelah 4 pohon ini menjadi semakin besar, ruang di tengahnya kini sudah bisa mengeluarkan sumber air” imbuhnya.
Gus Arya bercerita, dia bersama para santri menanam pohon beringin itu 8 tahun silam. Kini, usia pohon-pohon itu sekitar 9 tahun. Jarak tanam masing-masing pohon sekitar 5 meter. Sampai saat ini, ia masih terus mengembangkan sejumlah metode penanaman pohon di pesantren yang dia asuh.
Karena sumber air bisa muncul dari tempat yang awalnya sulit air inilah, ia memaknai proses menanam pohon ini sebagai upaya “memanggil” sumber mata air. Gus Arya bercerita, penanaman pohon sebagai konservasi air, kini jadi bagian dalam proses belajar Quran di pondok yang dia asuh. Khususnya dalam membangun kedekatan antara membaca Quran dan implementasi kondisi lingkungan.
Konservasi air berbasis penanaman pohon ini, tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari pendidikan ekosufisme. Dengan demikian, praktik ekologis ini tak hanya menghasilkan manfaat lingkungan, tetapi juga membentuk kesadaran ekologis dan etika lingkungan.
Sanad Ekosufisme Padangan
Padangan sejak lama dikenal sebagai Bumi Tarekat yang identik laku ekosufisme. Di wilayah ini, ratusan tahun silam, terdapat tradisi Nyimpen Wirid Ing Njero Wit (Wirid Wit), sebuah jejak ekosufisme kuno yang meyakini bahwa menanam pohon adalah ibadah ekologis — sebuah amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir, tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi makhluk hidup lain dan generasi mendatang.
Baca Juga: Wirid Wit, Tradisi Ekosufisme Padangan
Tradisi Wirid Wit yang pernah populer pada abad 18 hingga 19 M di kawasan Padangan, tentu punya rantai sanad yang cukup kuat. Sebab, pemuliaan alam, dalam hal ini adalah pohon, merupakan salah satu ajaran penting Zawiyah Gunung Jali Padangan — pusat dakwah Islam pada abad 14 M, yang didirikan Sidi Jamaluddin Husain.

Sidi Jamaluddin, pendiri Zawiyah Gunung Jali Padangan, tak hanya mengajarkan sikap tasamuh (toleransi) terhadap manusia. Namun juga pada alam —baik itu bengawan, bukit kapur, hingga pepohonan hutan. Ajaran Sang Sidi pada abad 14 M itu, terus dilanjutkan para penerusnya hingga berabad-abad berikutnya. Termasuk tradisi Wirid Wit yang pernah masyhur di Padangan pada abad 18 hingga 19 M tersebut.
Praktik pengelolaan sumber mata air berbasis penanaman pohon yang dilakukan Pesantren Irsyaduth Thalabah juga bagian dari upaya pelestarian tradisi Ekosufisme di Padangan. Bahwa pesantren tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga laboratorium sosial dan pusat implementasi program ekoteologi yang sedang digaungkan secara masif Kementerian Agama RI.








