Gunung Jali menjadi bukti fisik akan nilai utama dan tarekat (metode) Sidi Jamaluddin Husain, yaitu tawasut (jalan tengah), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleransi), sejak dalam budaya dan lokasi topografinya.
Gunung Jali merupakan sebuah bukit terletak di Dusun Tegiri, Tebon, Padangan, Bojonegoro. Tempat ini dikenal dengan Bukit Giri Tebon. Sebuah lokasi yang terbukti secara literatur sebagai inkubator Sufisme Jawi— maqom dakwah Sidi Jamaluddin Husain pada periode 1300 M silam.
Keberadaan Sidi Jamaluddin Husain (Syekh Jumadil Kubro) di Gunung Jali Jipang, tercatat empiris pada sejumlah literatur seperti History of Java, The Passing Over, Atlas Wali Songo, dan singgungan Manuskrip Padangan. Sejumlah prasasti di wilayah tersebut, memperkuat bukti literatur akan dakwah Sang Sidi di Gunung Jali Jipang.
Sejak abad 14 M, Gunung Jali adalah pusat keagamaan Wilayah Jipang. Sementara Wilayah Jipang, membentang dari Blora, Bojonegoro, hingga Tuban bagian selatan. Data terkait luasan Jipang ini, masih tertera jelas pada Peta Raffles dan buku The Power of Prophecy.
Jipang, dalam hal ini adalah Jipang Kuno, bukan Jipang yang baru dibuat pada abad 18 M. Jipang Kuno sudah ada sejak zaman Medang, Kahuripan, Jenggala, hingga Singhasari. Bahkan, nama Jipang tercatat sahih pada Prasasti Maribong (1246 M), jauh sebelum Kerajaan Majapahit lahir.

Seperti yang ditulis dan kerap diceritakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), saat berada di Gunung Jali, Sidi Jamaluddin berdakwah dengan misi damai penuh toleransi, dengan pendekatan kultural, melalui kegiatan pertanian dan perkebunan. Ia tak langsung menghilangkan tradisi lama. Tapi memasukan esensi Islam secara halus.
Di Zawiyah Gunung Jali, Tarekat (metode) dakwah Sidi Jamaluddin memprioritaskan visi rahmat. Di mana Islam sebagai sebuah keselamatan, berada pada posisi tawasut (jalan tengah), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleransi).
Manuskrip Padangan (1236 H) yang ditulis Syekh Abdurrohman al Fadangi menyebut kawasan Gunung Jali Tebon ini dengan istilah At-Tawabun — yang bermakna orang-orang yang bertaubat. Tempat orang-orang yang mendapat dan menerima hidayah dari Allah.
Dakwah penuh toleransi itu, bisa dibuktikan melalui pusat dakwah yang beliau bangun. Sebuah Mesigit di puncak Gunung Jali, zawiyah (pondok Islam) di bekas pendhermaan (Hindu – Budha Jawa). Sampai saat ini, banyak artefak Hindu Budha berada di lokasi zawiyah itu. Mayoritas artefak, kini telah disimpan dan diamankan di Museum.
Gunung Jali menjadi titik temu budaya Jawa dan Persia (Arab). Ruang inkubasi sufisme Islam. Tempat Sidi Jamaluddin mengakomodir sekaligus memfiltrasi tradisi Hindu-Budha Jawa ke dalam ajaran Islam. Seperti dikatakan Gus Dur, Sang Sidi tak menjauhi tradisi ajaran lama, tapi memodifikasinya agar sesuai esensi syariat.

Secara geografis, Gunung Jali berada tepat di tengah antara Budaya Pesisir dan Pegunungan. Bukan kebetulan jika Hikayat Banjar menyebut bahwa Jipang merupakan kawasan awal yang mengenal Islam di Pedalaman Jawa. Lokasi yang sejak 1344 M, jadi gerbang masuknya Islam di Pedalaman Jawa.
Wajib diketahui, Gunung Jali (Jipang) tercatat pernah menjadi titik penyeimbang sekaligus penyatu antara Kerajaan Jenggala dan Panjalu. Dua kerajaan besar abad 11 M yang kelak menjadi cikal bakal lahirnya Kerajaan Singashari. Ini empiris dan sahih sesuai literatur tergurat dalam Prasasti Maribong (1246 M).
Kelak di kemudian hari, Gunung Jali juga jadi titik tengah antara tradisi Hindu Budha khas Budaya Pegunungan, dengan tradisi Islam khas Budaya Pesisiran. Maka bukan kebetulan jika Gunung Jali Tebon (Jipang) mampu menyatukan dan mengelola Budaya Pegunungan dan Budaya Pesisiran, menjadi satu entitas penyeimbang yang kelak dikenal sebagai Budaya Njipangan.
Konsep toleransi yang dibawa Sidi Jamaluddin Husain ini, kelak dipelihara Para Wali setelahnya. Khususnya Wali besar Mbah Ngudung (Sunan Jipang Panolan) dan Mbah Nursalim Jimat. Fakta ini tentu empiris dan ilmiah. Serta tercatat jelas dalam literatur Tarikhul Aulia dan Hikayat Banjar.
Di Gunung Jali, ajaran-ajaran Sidi Jamaluddin pada abad 14 M ini, kelak secara khusus dilanjutkan para pendakwah setelahnya. Di lokasi yang sama, pada abad 16 M, terdapat figur pendakwah bernama Mbah Nursalim dari Giri Kedaton, yang juga dikenal sebagai Mbah Jimat.
Wayang Gedog dan Jedoran Tebon
Gunung Jali menjadi bukti fisik akan nilai utama Sidi Jamaluddin. Yaitu konsep tawasut (jalan tengah), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleransi). Di Gunung Jali, konsep tasamuh (toleransi) ini, terpelihara dari zaman ke zaman. Terbukti dari keberadaan Wayang dan Seni Jedoran yang masih dimainkan hingga kini.

Wayangan Tegiri berjenis Wayang Gedog (Wayang Menak/Wayang Krucil), yang menceritakan tokoh Amir Hamzah. Pakem ceritanya berasal dari Serat Menak, yang merupakan saduran dari literatur Persia berjudul Qissai Emr Hamza (Hikayat Amir Hamzah), yang dibuat pada zaman Sultan Harun Al-Rasyid. Di Pulau Jawa, Para Wali menyadur Hikayat Amir Hamzah menjadi Serat Menak.
Kisah dalam Serat Menak inilah, yang kemudian dilakonkan melalui Wayang Gedog (Wayang Menak/Wayang Krucil). Dalam kitab Kawruh Asalipun Ringgit dijelaskan, Wayang Gedog (Wayang Menak/Wayang Krucil) dibuat Sunan Giri dan Sunan Bonang dalam membangun kedekatan dan memperkenalkan ajaran Islam pada masyarakat.
Kitab Kawruh Asalipun Ringgit secara tegas menyatakan, Wayang Gedog atau Wayang Menak menjadi representasi Para Wali penyebar Islam. Nama Gedog dan Menak, bahkan sangat identik penyebar Islam dari Kesultanan Pajang. Sebab, pada era pemerintahan Kesultanan Pajang inilah, produksi Naskah Menak dan Wayang Gedog mengalami popularitas paling masif dan besar hingga abad 17 M.
Terbukti. Pada 1627 M, telah ditemukan Naskah Menak (Jawa) dalam lontar sebanyak 119 lembar. Kemudian oleh Andrew James, naskah itu diserahkan ke Bodleian Library. Artinya, dua abad sebelum Para Pujangga Surakarta menulisnya, Serat Menak Amir Hamzah telah masuk dan beredar luas di Jawa (Ricklefs & Voohoeve, 1977:43, dikutip Sedyawati dkk, 2001:319).
Wajib diketahui, Wayang Gedog Amir Hamzah, sampai saat ini masih kerap dimainkan di wilayah Gunung Jali. Keberadaannya juga dilengkapi tradisi sholawat Jedoran. Dalam konsep kebudayaan, Wayang Gedog dan sholawat Jedoran sangat identik Budaya Njipangan: titik tengah antara Budaya Pegunungan dan Pesisiran.
Sekuat apapun dongeng Babad kolonial berupaya menghilangkan dan menutupinya, Gunung Jali akan tetap muncul dengan penuh energi, sebagai manifestasi akan nilai-nilai Sidi Jamaluddin Husain: Nilai luhur toleransi, perdamaian, dan tentu saja wujud dari Rahmat Saking Pengeran.








