Sidi Jamaluddin Husain masyhur mengajarkan sikap moderasi dan toleransi tak hanya pada manusia, tapi juga alam. Di Padangan, ajaran-ajaran itu terus dilestarikan dari zaman ke zaman.
Jipang (Bojonegoro) merupakan lumbung peradaban yang menampung bermacam zaman. Tempat ini menjadi saksi atas megahnya Medang Kamulan, besarnya Kahuripan, digdayanya Jenggala, bijaksananya Singhasari, hingga selarasnya Majapahit. Di tempat ini, tradisi Medang Kamulan mendarah daging selama berabad-abad, dalam denyut nadi budaya masyarakat.
Tatkala Sidi Jamaluddin datang ke Gunung Jali Padangan pada paruh pertama abad 14 M, ia tak berdakwah di tengah ladang perdu yang kosong. Jipang Padangan, kala itu dipenuhi para Brahmana Kasogatan dan Kasaiwan yang merupakan para penjaga tatanan kosmik. Sebagai seorang pendatang, Sidi Jamaluddin tahu diri, statusnya hanyalah Mleca — status nomor 6 (paling bawah) dari 7 status manusia Jawa.
Dalam tradisi kuno Medang Kamulan, terdapat 7 strata manusia meliputi; Brahmana (intelektual), Ksatria (pekarya), Waisya (petani), Sudra (pengusaha), Candala (algojo), Mleca (orang asing), dan Tuja (penipu). Seorang pendatang (Mleca), secara otomatis berstatus budak rendahan, dan diharamkan berbicara mengenai agama. Tradisi ini dijaga secara kuat.
Baca Juga: Jejak Literatur Dakwah Sidi Jamaluddin di Gunung Jali Padangan
Jawa Utara, khususnya Jipang, pada masa ini, merupakan kawasan peradaban maju. Wilayah yang punya wibawa kebudayaan. Ia dibentuk sejak Medang Kamulan, Kahuripan, Jenggala, Singhasari, hingga Majapahit. Artinya, tidak mudah memasukan ajaran baru. Apalagi dibawa seorang Mleca. Tentu tak bisa diterima. Sebab, hanya Brahmana yang boleh berbicara agama.

Sidi Jamaluddin tentu tahu statusnya sebagai seorang Mleca yang tak boleh berbicara agama. Masyhur diceritakan bahwa Sidi Jamaluddin berkebun dan bertani selama bertahun-tahun. Dia bertani untuk meningkatkan strata dari sekadar Mleca (pendatang) menjadi Waisya (petani). Kelak di kemudian hari, ia juga membantu mengobati orang sakit, sehingga dikenal sebagai seorang Janggan (tabib).
Dalam kosmik Medang, status Janggan setara Brahmana. Hal ini membuat Sidi Jamaluddin mulai bisa diterima, bahkan berdialektika dengan para Brahmana Kasogatan dan Kasaiwan yang ada di sana. Inilah momen ketika Sidi Jamaluddin membangun sinkretisme — menjahit harmoni sosial-kosmik yang kelak dikenal sebagai Sufisme Jawi.
Ajaran Gunung Jali
Klopo Jowo Kurmo Arab, Jowo Temoto Arab Ngetrap (yang lama sudah tertata, yang baru menyesuaikannya), merupakan kredo dan simbol Sufisme Jawi yang diusung Sidi Jamaluddin. Kredo ini masyhur diceritakan dari zaman ke zaman, melalui hikayat folklore di lingkup pertarekatan. Klopo Jowo Kurmo Arab adalah manifestasi makna penyelaras peradaban.
Jawa sudah tertata dengan wibawa ajaran lama. Karena itu, Islam datang dengan kerendahan hati sebagai rahmat saking pengeran; air yang menyegarkan, angin yang menyejukkan, dan api yang menghangatkan. Kedatangannya tak memicu banjir, tak menuai badai, dan tak membuat kebakaran.
Dalam konteks Gunung Jali Padangan, Klopo Jowo Kurmo Arab menjadi simbol moderasi, toleransi, serta implikasi epistemik atas ayat: wakadzalika ja’alnakum umatan wasathan (Al Baqarah 143). Konsep Umatan Wasathan tak hanya diperuntukkan manusia saja. Namun juga keseimbangan kosmik— tidak merusak alam, tidak mengeksploitasi ciptaan, dan hidup selaras dengan tatanan Ilahi.
Di Gunung Jali Padangan, Sidi Jamaluddin memperkenalkan Islam sebagai mekanisme keselamatan yang berporos pada sikap kasih sayang; memperhalus konsep karma, memperkenalkan pertaubatan, dan menawarkan kesetaraan derajat manusia. Hal ini menjadikan Islam diterima di tengah keyakinan lama yang amat kuat.
Pergerakan dakwah Sidi Jamaluddin selalu berorientasi pada kaidah Darul Salam: wilayah keselamatan, bukan Darul Islam: wilayah Islam. Sebab, dengan terselamatkannya sebuah wilayah, maka Islam lebih mudah diterima. Sebab, Islam adalah ajaran keselamatan. Darussalam menjadi identitas ajaran Sidi Jamaluddin.
Sidi Jamaluddin identik mengajarkan sikap wasathiyah pada alam. Di Padangan, ajaran-ajaran ini, kelak diteruskan para penerusnya, hampir di setiap zaman. Ajaran-ajaran untuk menjaga keselarasan alam, tak hanya diugemi sebagai teori. Namun dalam praktik kehidupan sehari-hari. Bukan tanpa alasan, mayoritas para Wali Padangan masyhur memiliki kedekatan pada alam.

Dalam manuskrip ditulis pada awal abad 19 M ini, tampak ajaran Sidi Jamaluddin terus diugemi para masyayikh Padangan dari zaman ke zaman. Manuskrip di atas dibuka dengan sebuah kalimat keramat: punika sesapane wong angambah alas utawi segara utawa gunung, utawa bengawan.
Dalam konteks ajaran para Wali Padangan, yang disapa bukan hanya manusia. Namun alam secara umum; hutan, laut, gunung, ataupun sungai. Sebab, entitas alam menjadi bagian tak terpisah dengan manusia. Sehingga mereka berhak menerima keselamatan, serupa manusia.
Hikayat Padangan menyimpan beragam cerita folktale tentang ajaran-ajaran wasathiyah Sidi Jamaluddin. Baik berhubungan dengan etika sosial berupa sikap toleransi, prinsip moderasi beragama, maupun ageman ekologi — mekanisme menjaga sumber daya alam (SDA) sebagai amanah tugas hidup manusia.








