Di Bojonegoro, ada pepatah kuno yang berbunyi: Asem Jawi Pangimbang Jati. Dosen Psikologi Lingkungan Unpad Bandung, Noer Fauzi Rachman PhD, memberi penjelasan memukau terkait kedalaman makna pepatah itu.
Pada Januari 1808 M, Gabenor Willem Daendels datang ke Pulau Jawa dengan penuh kekaguman. Usia Daendels baru 46 tahun, ketika sorot matanya menatap sejumlah pohon raksasa yang tak pernah sekalipun dia jumpai di daratan Eropa. Ya, pohon yang membuat mata Daendels timbilen selama berhari-hari itu, adalah pohon Asam Jawa.
Pohon raksasa berkulit gelap, beralur kasar, dan bersisik tak beraturan — mirip punggung buaya purba yang berdiam diri di tepi telaga. Galih batang kayunya keras dan padat, seperti besi baja yang tak keropos ditempa cuaca. Sementara akarnya kuat mengikat bumi, dengan kesetiaan yang amat sunyi.
Ratusan tahun sebelum imperialisme lahir ke dunia, pilar alam raksasa bernama Asam Jawa ini, sudah memenuhi daratan kapur pantai utara jawa, sebagai pohon yang jadi legitimasi atas makna kemajuan. Tak heran, saat anak muda bernama Daendels itu melihatnya, tubuhnya langsung sawanen — tak kuat merasakan residu kemakmuran.
Willem Daendels yang kala itu didaulat sebagai Gabenor Jendral Hindia Belanda (1808 – 1811 M), benar-benar kepincut pohon Asam Jawa. Daendels bahkan menjadikan Asam Jawa sebagai pohon wajib tanam, dalam program pembangunan bertajuk Groote Postweg (Jalan Raya Daendels) yang membentang lebih dari 1000 km dari Banten hingga Situbondo.
Melalui pembangunan Jalan Raya Daendels, Gabenor Jendral itu berupaya mempopulerkan kembali pohon Asam Jawa untuk ditanam di pinggir jalan pada 1808 M. Ini bukti empiris bahwa Daendels pun “gandulan berkah” atas kebesaran Asam Jawa yang puluhan abad sebelumnya, telah diistimewakan Para Begawan Jawa.
Pohon Asam Jawa cukup identik dengan ekosistem Para Begawan. Dalam konteks Jawa, mereka merupakan para penjaga keseimbangan kosmis, para penasehat penguasa yang dalam hal ini, bisa berposisi sebagai Wiku (sebelum Hindu-Budha), Rsi Brahmana (era Hindu Budha), maupun Wali (era Islam). Ketokohan mereka selalu muncul di berbagai peradaban Jawa Dwipa.
Di wilayah Bojonegoro, masih ditemui sejumlah pohon Asam Jawi raksasa yang lokasinya tidak berada di pinggir jalan raya. Asem Jawi ini jauh lebih tua dibanding pohon yang ditanam pada masa Daendels. Di Bojonegoro, Asem Jawi justru identik budaya Medang Kamulan. Mengingat, secara geohistoris, Bojonegoro memang bagian penting dari kawasan Medang Kamulan.

Dalam konteks Bojonegoro, Asem Jawi identik bukit kapur, bengawan, dan rembesan minyak bumi yang dikenal dengan nama Lemah Citra: tempat para Citralekha, kaum intelektual kuno Medang Kamulan. Secara ilmiah, pada abad 10 M, wilayah ini sudah ditempati sejumlah status sosial seperti Gusti, Kalang, Kalima, Vinkas, dan Variga, seperti dicatat dalam Prasasti Telang (903 M) dan Sangsang (907 M).
Karena itu, tak heran jika sampai saat ini pun, berbagai bias-bias peradaban kuno masih kental terasa di kawasan perbukitan kapur Bojonegoro ini. Hal ini terbukti dengan masih adanya kredo ekologis kuno yang secara lengkap berbunyi: Asem Jawi Pangimbang Jati, Piweling Gusti.
Asam Jawi Pangimbang Jati
Asam Jawi Pangimbang Jati (Pohon Asam Jawa Penyeimbang Pohon Jati), di mana ada Pohon Jati, di situ ada pohon Asam Jawi. Pepatah ini masih kerap diucap para pinisepuh ketika membahas kondisi hutan di wilayah Bojonegoro. Asem Jawa dikenal sebagai penjaga keseimbangan alam, ketika pohon jati raksasa banyak ditebang.
Bojonegoro tentu masyhur wilayah hutan jati alam raksasa. Pada 1810 M, seorang pelancong Belanda bernama Pieter Gulin menceritakan bahwa wilayah Bojonegoro dipenuhi hutan jati alam raksasa. Keberadaan jati-jati raksasa itu, bukan berada di dalam hutan monokultur. Tapi multikultur, berdampingan dengan beragam pohon lainnya. Termasuk Pohon Asam Jawa raksasa.
Asem Jawi Piweling Gusti
Jamak diketahui bahwa pohon Asem Jawi identik tanaman para Begawan — Wiku Pertapa, Rsi Brahmana, maupun para Wali — yang merupakan tokoh spiritual penjaga keseimbangan kosmik. Mereka ada hampir di setiap zaman dan peradaban. Mereka bertugas sebagai penjaga keselarasan alam, di tengah badai kemajuan.
Dalam konteks Islam, Asem Jawi Piweling Gusti mengingatkan kita pada Pohon Asmak dalam kisah Wirid Wit, sebuah folklore dalam Hikayat Padangan. Dalam hikayat itu diceritakan, Sidi Jamaluddin Husain, pendiri Zawiyah Gunung Jali Padangan, kerap mengajarkan para muridnya untuk membaca ayat: Walillahi Asmaul Husna Fad’uhu Biha (Al- A’raf 180), ketika melihat pepohonan besar.
Sidi Jamaluddin mengajarkan, alam dan pepohonan merupakan tajali (manifestasi) sang pencipta melalui keberadaan ciptaan-Nya. Uniknya, sampai saat ini pun, pohon Asem Jawi menjadi pohon yang identik berada di perbukitan Gunung Jali — tempat yang menjadi pusat dakwah Sidi Jamaluddin Husain pada abad 14 M silam.
Tinjauan Ilmiah
Terkait istilah Asem Jawi Pangimbang Jati, Ahli Kehutanan sekaligus Dosen Psikologi Lingkungan Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Noer Fauzi Rachman PhD, memberi penjelasan terkait makna pepatah tersebut. Menurutnya, istilah “Asem Jawi Pangimbang Jati” merupakan ibarat yang dibuat secara lokal untuk melihat bagaimana pohon asam jawa hidup di tengah kolonialisme hutan kebun jati.
“Istilah ini adalah suatu ungkapan perlawanan yang aman, sebagai bagian dari politik Sakbendino-nya orang desa di sekeliling hutan kebun jati, yang dibangun Dinas Kehutanan Hindia Belanda (Dienst van het Boschwezen)” ucap Noer Fauzi (11/1/2026).
Istilah “Asem Jawi Pangimbang Jati” kata Noer Fauzi, perlu dipahami sebagai pertahanan khusus orang Jawa yang mencakup identitas, kepribadian, nilai-nilai, tujuan hidup, serta keunikan Jawa yang membedakannya dari apa yang diwajibkan oleh pemerintahan kolonial. Pohon Asam Jawa, kata dia, melambangkan pemahaman subjektif tentang diri sendiri yang terbentuk dari sifat bawaan, pengalaman, lingkungan, dan keyakinan dalam menghadapi kolonialisme.
“Ibarat Pohon Asam Jawa yang berdiri tegak menjulang dan berakar kuat, hidup di tengah-tengah kebun jati kolonial” imbuhnya.








