|Tersebutlah seorang pangeran yang berkuasa di antara para penjaga bumi, dan telah menaklukkan banyak raja, terkenal di tiga-dunia (masa silam, sekarang dan masa depan), dan dalam kepahlawanan yang luar biasa bagai seekor singa, di bawah pemerintahannya yang panjang, bumi yang fana mengeluarkan buah yang jumlahnya tak terhitung, dalam kemakmuran. Dia adalah penguasa Jawa, diberkati dengan kemegahan, ketenaran dan kekuasaan, yang bergelar Sri Isana Tungga |
|Putrinya, cantik jelita, karena kesucian sifatnya (akalushamanasawasaramya) dan berbakti sebagai umat Buddha (sugatapakshasada), bagaikan seekor angsa, yang menawan hati karena berdiam di sucinya telaga Manasa, dan mempunyai sepasang sayap yang indah, sehingga (ia) merupakan kebahagiaan abadi bagi raja-raja phoenix, memerintah sebagai Ratu dengan nama Sri-Isana-Tungga-Wijaya. |
|Kemudian Raja Sri Lokapala, seorang pangeran yang luar biasa, tampan mempesona menjadikannya sebagai kekasih, dan terkenal karena kejernihan budi, bagai (putih) Lautan-Susu dan (sungai murni) Mandakini, setara dalam kebahagiaan. |
Demikian bunyi beberapa bait awal dalam Calcutta Stone sisi Sanskerta. Sri Isana Tungga, bisa disamakan sebagai Mpu Sindok, penguasa Jawa sebelum Er-langga, sekaligus pencetus wangsa Isana.
Sisi Sanskerta dari Prasasti juga menginformasikan bagaimana kepercayaan atau spiritualitas Jawa berkembang di era itu. Yang agaknya menjadi pertemuan atau kristalisasi esensi agama-agama samawi (Hindu-Buddha).
Seperti halnya Isana, Hindu memahaminya sebagai salah satu dari delapan Dewa penjaga penjuru angin (Astadikpala). Bunga Padma (teratai air), atau bunga Sumanasa (teratai surgawi), berkelopak delapan, menjadi simbol penjurunya yang masyur.
Isana ada di penjuru Timur Laut, sebagai simbol penguasa siklus kehidupan, kebangkitan dan waktu. Pada ajaran Buddha Mahayana, Lokapala adalah “raja penjaga dunia” sekaligus sebagai salah satu dari Dharmapala (pelindung ajaran Buddha).
Sehingga Isana dalam kaidah ini, adalah Raja Jawa yang muncul sebagai pencetus tatanan baru seluruh negri, membawa pusat Medang dari pedalaman menuju lebih ke arah Timur Laut pulau Jawa (Galuh).
Sri Isana kemudian memiliki seorang Putri, yang juga bergelar Isana, kata Wijaya setelah gelar itu seakan mempertegas adanya penerus “siklus kelahiran, kesuburan, air”. Ia kemudian dipersunting oleh Sri Lokapala (penjaga empat penjuru), untuk meredam gejolak kosmik Lautan-Susu, dengan Mandakini dari Ratu Isana.
Mandakini, menurut ajaran Hindu bisa disamakan dengan sungai besar yang mengalir pelan dan suci, tempat minum Aryya juga Mlecca, seringkali dikatakan laksana Gangga di India, atau salah satu danau suci di utara Mahameru menurut ajaran Buddha.
Sementara di Jawa, Mandakini yang berhulu di Uttara-Kandha ini – yang kebetulan namanya mirip dengan Kendeng-Utara – seharusnya dapat disebut Arnawa, Nadhitira atau hari ini disebut sebagai Bengawan.
Ya, putri Isana penguasa Galuh, seharusnya berada di muara Arnawa itu, penjaga pintu masuk di timur laut pulau, mempersiapkan kelahiran Wangsa Dharma, awatara Wisnu, untuk menentramkan seluruh Jawa.








