Di stasiun Purwokerto, lagu berjudul “Di Tepinya Sungai Serayu” seperti doa yang tak selesai dibacakan. Mengalun dari pengeras suara yang kadang serak, kadang jernih, seolah suara itu menyeberang dari masa lampau menuju tubuh-tubuh penumpang yang sedang menunggu kereta. Mereka tak pernah benar-benar tahu siapa yang menciptakannya, atau rumah tua mana yang menyimpan jejak tangan seorang pencipta yang pernah menuliskan nada seperti menuliskan nasib.
Konon, rumah itu masih berdiri di sebuah kampung yang tak jauh dari aliran Serayu. Dindingnya menyimpan aroma hujan yang tak pernah kering, dan jendela kayu yang retak itu pernah mengintip peristiwa-peristiwa yang disembunyikan negara.
Ada cerita bahwa sang pencipta lagu menyaksikan lewat celah jendela bagaimana demokrasi bisa diseret seperti tikus got—diciduk, dibungkam, lalu dilepas hanya setelah kehilangan suara. Namun, di stasiun ini, lagu itu tetap mengalun.
Seakan-akan stasiun adalah satu-satunya ruang publik yang masih berani mengingat bahwa ada manusia-manusia kecil yang hidup di pinggir sungai, yang pernah membuat lagu sederhana tentang cinta, tentang perahu bambu, tentang sawah yang menguning, tapi juga tentang ketidakadilan yang selalu ditutup karung goni oleh para pejabat yang alergi pada kebenaran.
Serayu, sungai yang tak pernah jemu menyaksikan peradaban patah tumbuh lagi, menjadi saksi hidup bagi sebuah republik yang sering lupa cara memperlakukan warganya sebagai manusia. Airnya membawa kabar: tentang petani yang tanahnya dibeli paksa demi proyek mercusuar, tentang anak-anak buruh migran yang tumbuh dengan suara ibu lewat ponsel pinjaman, tentang warga desa yang harus menyerahkan hutan demi angka-angka pertumbuhan yang tak pernah mereka nikmati.
Di dalam imajinasi, rumah tua itu bergoyang sedikit setiap kali lagu itu diputar. Seolah sang pencipta—yang entah sudah kembali menjadi tanah atau masih berjalan tertatih menuju pasar—menghitung satu per satu ketidakadilan yang masih bersarang di republik ini. Dalam kamarnya yang sempit, ia pernah menulis: “Lagu tidak bisa mengubah negara, tetapi bisa menjaga manusia agar tidak kehilangan dirinya.”
Maka setiap kali kereta datang, dan penumpang naik turun dengan harapan yang diselipkan di dalam tas robek atau koper plastik, lagu itu menjadi pengingat: bahwa demokrasi bukan urusan para pejabat yang suka berpidato, melainkan urusan orang-orang yang berjalan kaki menyusuri tepi Serayu, memungut harapan yang jatuh dari langit, dan menanamnya kembali meski tahu tanahnya keras.
Di stasiun Purwokerto, “Di Tepinya Sungai Serayu” bukan sekadar lagu lama. Ia semacam doa sunyi, protes halus, dan kenangan yang tidak ingin ditinggalkan oleh sejarah. Lagu itu merawat sejumput kemanusiaan di tengah negara yang kerap tergesa-gesa mengejar modernitas, tetapi lupa mengikat nasib rakyatnya agar tidak hanyut seperti sampah plastik di sungai.
Dan di rumah tua sang pencipta—yang mungkin suatu hari akan runtuh tanpa pernah masuk daftar cagar budaya—kerinduan itu tetap menggigil: kerinduan pada republik yang pernah diimpikan lahir dari rahim solidaritas. Lagu itu terus mengalun. Kereta terus lewat. Serayu terus mengalir. Yang tidak boleh berhenti adalah kita: menjaga manusia tetap manusia.
Inilah rumah almarhum Raden Suteja Purwodibroto—sebuah rumah tua yang berdiri seperti tubuh renta yang menahan batuk sejarah. Bagi generasi sekarang, nama itu mungkin terdengar asing, seasing catatan kaki pada buku pelajaran yang jarang dibaca. Namun karya yang ditinggalkannya telah melewati batas ruang dan waktu, seperti sungai yang terus mencari lautnya meski berulang kali diperdaya musim.
Lahir di Purwokerto pada 15 Oktober 1909, Suteja tumbuh dalam pelukan alam Banyumasan: suara angin dari utara, gelak-gelak wong Banyumas yang jenaka namun getir, dan ritme Serayu yang tak pernah alpa mengajarkan kesabaran. Dari rahim tempat itu ia menulis lagu yang kelak menjadi simbol kota, “Di Tepinya Sungai Serayu,” sebuah nyanyian yang lahir dari air, tanah, dan hati.
Di Stasiun Purwokerto, lagu itu tak sekadar diputar—ia seperti penjaga gerbang, menyambut setiap kereta yang datang dengan hangat yang tak dimiliki kota-kota besar: hangat yang mengingatkan penumpang bahwa mereka sedang pulang, atau setidaknya sedang disambut oleh sesuatu yang lebih lembut daripada beton dan lampu neon. Lagu itu menjadi selimut bagi para perantau, atau obat bagi mereka yang diam-diam menyimpan rindu panjang.
Namun rumah penciptanya dibiarkan kosong, terbengkalai puluhan tahun, seperti negara yang sering lupa mencintai anak-anak terbaiknya. Dinding yang pernah merekam suara langkah Suteja kini dimakan lumut, jendelanya digerogoti waktu, dan halaman depannya lebih sering disapa angin daripada manusia.
Kini rumah itu telah berpindah tangan kepada seorang taipan “Kota Mendoan”—sebuah ironi kecil dari republik ini: warisan budaya jatuh ke tangan pengusaha sebelum sempat dipeluk kembali oleh negara atau warganya.
Begitulah nasib banyak kisah di negeri ini: rumah para maestro dibiarkan merapuh, sementara lagu mereka terus menghidupi ruang-ruang publik yang tak pernah tahu cara berterima kasih. Namun karya Suteja tidak pernah mati.
Ia mengalir—tenang, sabar, tak pernah selesai—seperti Serayu yang menyusuri pegunungan sampai pesisir, membawa cerita-cerita kecil tentang manusia yang bertahan dari ketidakadilan dan perubahan zaman.
Lagu itu mengajak siapa pun yang mendengarnya untuk merasakan kedamaian yang pernah dirasakan Suteja ketika ia menatap air sungai, mungkin dalam senja yang lembut, mungkin dalam kesunyian yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang hidup dekat dengan alam.
Rumahnya boleh rapuh, tapi suaranya tetap hidup. Seperti Sungai Serayu, karya itu bergerak, menjaga kita dari lupa: bahwa ada seorang maestro dari Banyumas yang pernah mengajarkan bagaimana sebuah lagu dapat menjadi rumah bagi seluruh kota.








