Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kesederhanaan yang Melampaui Kekuasaan

Toto Rahardjo by Toto Rahardjo
03/10/2025
in Figur
Kesederhanaan yang Melampaui Kekuasaan

M. Natsir (1908 - 1993)

Seorang pemimpin sejati tidak hidup dari apa yang ia terima, melainkan dari apa yang berani ia tolak. 

Di arsip yang berdebu, nama Mohammad Natsir sering disebut dengan dingin: Perdana Menteri 1950–1951, Menteri Penerangan di masa Sutan Syahrir dan Mohammad Hatta. Angka, tahun, jabatan—seolah cukup untuk mengukur seorang manusia. Tetapi sejarah yang kaku kerap gagal menangkap napas paling sederhana: cara Natsir berjalan pulang dengan jas yang mulai lusuh di ujung lengan, atau kebiasaannya menolak makan berlebihan di meja perjamuan karena tahu di luar gedung masih ada antrean panjang rakyat yang lapar.

Kesederhanaan itu bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan perlawanan yang halus. Di sebuah zaman ketika jabatan sering diperlakukan seperti panggung untuk menegakkan wibawa, Natsir tetap berdiri sebagai manusia yang enggan membiarkan dirinya terkubur dalam protokol. Ia membuktikan, martabat seorang pemimpin tidak terletak pada jumlah ajudan, melainkan pada sejauh mana ia sanggup tetap manusiawi di tengah hiruk pikuk kekuasaan.

Tetapi, tidakkah kita merasa getir hari ini? Bahwa kesederhanaan seperti itu terdengar mustahil di telinga generasi yang tumbuh dalam kebisingan iklan, potret pemimpin berjas rapih di billboard, dan janji-janji yang dilipatgandakan lewat algoritma. Natsir barangkali akan tersenyum pahit, melihat politik berubah jadi panggung hiburan, di mana kebenaran sering dipinggirkan karena tak cukup menjual.
Sejarah selalu punya cara berbisik kepada masa kini.

Dari Natsir, kita belajar bahwa integritas tidak pernah lahir dari slogan, melainkan dari kebiasaan kecil: menahan diri, menolak berlebih, berjalan bersama rakyat tanpa jarak yang dibuat-buat. Namun kita juga harus jujur, bahwa bangsa ini sering kali melupakan suara-suara lirih itu. Kita lebih tergoda pada gemerlap, pada janji yang dipoles, pada simbol-simbol yang mudah difoto tapi sulit dipertanggungjawabkan.

Ada sesuatu yang rapuh sekaligus indah pada sosok Natsir. Ia tak pernah mengukir dirinya sebagai pahlawan besar, tetapi jejak langkahnya justru memantulkan cermin: apa arti kekuasaan bila tak diikat oleh kesederhanaan? Apa guna demokrasi bila ia hanya melahirkan jarak antara yang memimpin dan yang dipimpin?

Sejarah mungkin menulis Natsir dengan angka-angka, tapi rakyat yang pernah bersentuhan dengannya tahu bahwa ia adalah cerita tentang kesahajaan—tentang secangkir kopi yang tak pernah dipesan lebih dari satu, tentang rumah yang tetap sederhana meski pintunya terbuka untuk banyak tamu. Dan dari detail kecil itulah, kita belajar: bahwa keberanian terbesar seorang pemimpin sering kali lahir dari kesediaannya untuk tetap menjadi manusia biasa.

Jas itu masih melekat di ingatan banyak orang. Bukan jas baru dari butik elite, bukan pula seragam menteri yang dilapisi aroma kekuasaan. Selembar kain yang pernah ditambal di bagian siku—menjadi penanda bahwa bahkan seorang perdana menteri pun bisa tetap berjalan sebagai manusia biasa. George McTurnan Kahin, seorang guru besar dari Cornell, pernah menuliskan kesaksiannya: pakaian Natsir sama sekali tidak menunjukkan dirinya seorang menteri.

Betapa kontrasnya detail sederhana ini bila kita bandingkan dengan wajah kekuasaan hari ini. Di ruang rapat, jas para pejabat lebih berkilau daripada isi wacana yang keluar dari mulutnya. Mobil-mobil berderet panjang, lampu strobo menyala, seakan rakyat yang melintas harus tunduk pada iring-iringan kuasa.

Padahal, pernah ada seorang pemimpin yang tak pernah membiarkan dirinya ditelan protokol, yang berangkat kerja dengan kendaraan biasa, yang pulang ke rumah yang tetap sederhana meski ia duduk di kursi perdana menteri.

Kesaksian Kahin bukan sekadar catatan tentang pakaian; ia adalah metafora tentang politik yang kehilangan akarnya. Bahwa di tengah zaman ketika kekuasaan menjadi panggung, ada satu sosok yang berani tampil tanpa kostum megah. Keberanian itu bukan lahir dari pidato keras, melainkan dari pilihan sunyi untuk tidak berubah.

Dan di situlah ironi kita hari ini: kesederhanaan telah menjadi barang langka, sementara kemewahan dipamerkan tanpa rasa malu. Para pemimpin berkompetisi bukan lagi dalam gagasan, tapi dalam simbol-simbol visual—jas yang mahal, kendaraan yang mewah, rumah yang megah. Seolah-olah demokrasi diukur dari kilau kain dan kaca, bukan dari ketulusan hati.
Jas bertambal Natsir akhirnya menjadi semacam kritik yang melampaui zamannya.

Ia mengingatkan kita, bahwa ukuran kepemimpinan bukanlah kemewahan yang dikenakan, melainkan kesetiaan untuk tetap sederhana, bahkan ketika kekuasaan membuka peluang untuk hidup serba berlebih. Dan barangkali, justru di sanalah martabat seorang manusia diuji: apakah ia mampu menolak godaan untuk berubah hanya demi gemerlap panggung politik.

Dengan dua jabatan mentereng, orang bisa saja membayangkan rumah besar, mobil mewah, pesta jamuan yang tak pernah sepi. Tapi Mohammad Natsir memilih jalan lain: jalan yang lebih sunyi, jalan yang jarang ditempuh oleh mereka yang pernah mencicipi kekuasaan. Ia hanya memiliki sebuah mobil De Soto tua, dibeli bukan dari hadiah atau fasilitas negara, melainkan dari hasil menabung bertahun-tahun. Mobil itu bukan sekadar kendaraan, tapi cermin tentang bagaimana seorang pemimpin menata jarak antara dirinya dan kemewahan.

Lalu datanglah sebuah hari di tahun 1956. Seorang tamu membawa niat baik—atau mungkin jebakan halus: sebuah Chevrolet Impala. Pada masa itu, Chevrolet Impala adalah lambang kemewahan, setara dengan Toyota Royal Saloon yang kini menjadi tunggangan para pejabat negeri. Satu mobil saja sudah bisa memisahkan seorang menteri dari rakyat jelata, menciptakan jarak yang tak kasat mata, tapi terasa begitu tebal.

Natsir menolak. Bagi sebagian orang, mungkin itu terdengar bodoh. Bagaimana mungkin seorang tokoh setingkat dirinya menutup pintu pada kenyamanan yang sah-sah saja dimiliki? Tapi Natsir tahu, dalam setiap hadiah selalu terselip beban. Dalam setiap kemewahan selalu ada risiko kehilangan kebebasan untuk berkata tidak.

Mobil De Soto yang sederhana itu akhirnya lebih lantang berbicara dibanding seribu pidato politik. Ia menjadi simbol, bahwa seorang pemimpin sejati tidak diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari apa yang ia tolak untuk dimiliki.

Hari ini, sulit membayangkan kejadian serupa. Mobil mewah bukan lagi hadiah, melainkan hak yang dianggap wajar. Jalanan penuh dengan iring-iringan kendaraan berkilau, strobo biru menyala, rakyat yang menepi, menunggu, diam-diam menyimpan getir.

Barangkali kita butuh kembali menoleh pada mobil tua Natsir. Bukan karena romantisme sejarah, melainkan karena dari sanalah kita belajar tentang martabat: bahwa menolak kemewahan bisa jadi pilihan politik paling berani. Sebuah keputusan kecil, tapi mampu melampaui zaman, mengingatkan kita bahwa kekuasaan sejati lahir bukan dari apa yang dipamerkan, melainkan dari apa yang dengan tenang ditinggalkan.

Di ruang tamu yang sederhana, percakapan itu berlangsung singkat. Seorang tamu menawarkan sebuah Chevrolet Impala—mobil besar, berkilau, lambang status sosial pada masanya. Anak-anak Natsir yang mendengar obrolan itu tak kuasa menyembunyikan rasa gembira. Mereka membayangkan betapa menyenangkan duduk di kursi belakang mobil megah itu, meluncur di jalanan Jakarta yang baru belajar menata dirinya sebagai ibu kota.

Namun kegembiraan itu sekejap berubah menjadi hening. Dengan suara lembut, ayah mereka menolak. “Mobil itu bukan hak kita. Lagipula yang ada masih cukup,” ucap Natsir. Kalimat yang sederhana, tapi berat bagi telinga anak-anak yang tengah bermimpi. Mobil tua De Soto yang sering batuk-batuk di jalan akan tetap menjadi teman perjalanan mereka, sementara Impala yang berkilau hanya tinggal bayangan sebentar di ruang tamu.

Di situ terlihat sisi paling manusiawi dari seorang pemimpin: bukan hanya menolak godaan kemewahan, tetapi juga sanggup menghibur keluarganya yang ikut menanggung konsekuensi dari pilihan itu. Ia tidak sekadar menjaga integritas di depan publik, tetapi juga menanamkan pelajaran kepada anak-anaknya: bahwa martabat tidak dibeli dengan hadiah, dan kemewahan yang bukan hak hanyalah ilusi yang menjerat.

Kita mungkin bisa membayangkan betapa beratnya menjadi anak seorang pejabat yang hidup sederhana, ketika teman-temannya melihat pejabat lain melintas dengan mobil mewah, rumah besar, pesta penuh cahaya. Tapi justru di sanalah keindahan pilihan itu: Natsir mewariskan sesuatu yang lebih berharga daripada Impala—sebuah teladan tentang kejujuran, tentang cukup, tentang keberanian untuk berkata tidak pada yang bukan hak.
Kini, puluhan tahun kemudian, kisah itu masih terasa relevan.

Di saat pejabat hari ini berlomba-lomba memamerkan kemewahan yang nyaris tak terjangkau rakyat, kita teringat pada seorang perdana menteri yang menolak hadiah demi menjaga batas. Sebuah penolakan yang mungkin mengecewakan anak-anaknya pada hari itu, tetapi meninggalkan warisan moral yang jauh lebih mewah dari mobil mana pun.

Di sebuah paviliun kecil di Kampung Bali, Tanah Abang, keluarga seorang menteri pernah hidup menumpang. Bukan karena tak mampu bekerja, melainkan karena memilih tetap jujur dalam jabatan yang kerap membuka jalan pintas menuju kemewahan. Nama menteri itu: Mohammad Natsir. Selama bertahun-tahun menjabat, ia dan keluarganya tak memiliki rumah sendiri.

Ketika pemerintah RI pindah ke Yogyakarta, lagi-lagi mereka harus menumpang—kali ini di paviliun keluarga Agus Salim. Ironi itu begitu telak: seorang pejabat yang duduk di kabinet, perumus kebijakan bangsa, tak punya tempat tinggal tetap. Namun justru di balik ironi itulah martabatnya bersinar.

Di negeri yang baru merdeka, banyak pejabat menganggap jabatan sebagai tiket menuju kenyamanan pribadi. Tapi Natsir menolak logika itu. Ia memilih menanggung kesulitan, bersama istri dan anak-anaknya, agar tidak satu pun fasilitas negara berubah menjadi milik pribadi. Rumah tetap sekadar tempat singgah, bukan simbol status.

Kita bisa membayangkan bagaimana rasanya bagi anak-anaknya: berpindah dari satu paviliun ke paviliun lain, menyaksikan ayah mereka duduk sejajar dengan para pemimpin dunia, tapi pulang bukan ke istana, melainkan ke rumah pinjaman. Namun dari situlah lahir sebuah pelajaran sunyi: bahwa kekuasaan bukan jalan untuk memperkaya diri, melainkan amanah yang harus dijalani dengan hati yang ringan.

Hari ini, kisah itu terdengar hampir mustahil. Sulit membayangkan seorang pejabat tinggi negara hidup menumpang, ketika sekarang rumah dinas megah dan tunjangan berlapis sudah dianggap hak yang tak bisa diganggu gugat. Sulit membayangkan seorang menteri yang menolak fasilitas, ketika yang terjadi justru perlombaan menambah daftar privilese.

Paviliun kecil yang pernah dihuni Natsir adalah pengingat lirih, bahwa sejarah bangsa ini pernah memiliki pemimpin yang menanggalkan kemewahan, bahkan membiarkan keluarganya ikut merasakan pahit getir sebuah idealisme. Dari sana, kita belajar: sederhana bukan sekadar pilihan gaya hidup, tetapi sikap politik. Dan mungkin, di tengah gemerlap kekuasaan hari ini, kesederhanaan itulah yang paling kita rindukan.

Baru pada akhir 1946, untuk pertama kalinya keluarga Natsir menempati rumah yang bisa disebut “milik mereka”—meski statusnya hanya rumah dinas. Letaknya di Jalan Jawa, Jakarta Pusat. Sebelum itu, hidup mereka seperti tamu di negeri sendiri, berpindah dari satu paviliun sahabat ke paviliun lain, seakan tiada tempat yang benar-benar bisa disebut pulang.

Rumah di Jalan Jawa itu sederhana. Tidak ada pilar megah, tidak pula halaman luas yang bisa memamerkan status seorang menteri. Namun bagi keluarga Natsir, rumah itu adalah anugerah: atap yang tetap, tembok yang tak perlu ditinggalkan tergesa-gesa, ruang kecil di mana anak-anak bisa berlari tanpa khawatir esok hari harus berkemas lagi.

Di balik kesederhanaan itu, ada pesan yang lirih namun tajam: bahwa jabatan tinggi tidak otomatis membawa kenyamanan pribadi.
Bahwa seorang menteri bisa saja hidup menumpang, bisa saja baru memiliki rumah setelah bertahun-tahun, dan ketika akhirnya mendapatkannya pun, rumah itu bukan milik pribadi, melainkan sekadar fasilitas negara.

Bandingkan dengan hari ini: betapa cepatnya pejabat baru menguasai fasilitas, betapa wajar kemewahan dianggap hak, betapa jarang kita temui kisah seorang pemimpin yang bersedia menanggung keterbatasan bersama keluarganya.

Rumah di Jalan Jawa itu bukan sekadar alamat baru bagi keluarga Natsir. Ia adalah simbol tentang bagaimana kesederhanaan, kesabaran, dan kejujuran bisa tetap bertahan bahkan di tengah pusaran kekuasaan. Dari tembok sederhana itulah lahir sebuah teladan: bahwa seorang pemimpin tidak diukur dari istana tempat ia tinggal, tetapi dari bagaimana ia menjaga martabat, bahkan ketika keluarganya harus ikut menanggung resikonya.

Kesederhanaan Natsir tak hanya tercermin dari rumah atau mobilnya, tapi juga dari hal paling sepele: pakaiannya. Ia hanya memiliki dua helai kemeja, dipakai bergantian hingga warnanya mulai pudar, kancingnya longgar, benangnya terurai. Jas yang dikenakannya pun pernah bertambal, menjadikannya lebih mirip pegawai biasa ketimbang seorang menteri yang duduk di kabinet.

Ada sebuah kisah yang nyaris absurd bila kita membandingkannya dengan wajah kekuasaan hari ini. Para pegawai di Kementerian Penerangan, tempat Natsir menjabat sebagai menteri, pernah merasa iba melihat penampilan pimpinannya. Dengan urunan, mereka membelikan Natsir sebuah kemeja baru agar ia tampak lebih pantas di depan publik. Bayangkan: seorang menteri, kepala sebuah kementerian, harus menerima kemeja dari iuran anak buahnya.

Namun Natsir tidak tersinggung. Ia menerimanya dengan senyum dan santun. Karena memang begitulah hidup yang ia pilih: tidak melebih-lebihkan apa yang dipakai, tidak menukar integritas dengan tampilan, tidak menganggap busana sebagai jubah sakral seorang pejabat. Justru dari kemeja lusuh itulah terpancar martabat yang lebih meyakinkan daripada seribu seragam resmi.

Kini, kisah itu terdengar nyaris mustahil. Di era ketika para pejabat tampil dengan jas bermerek, dasi yang diganti setiap pertemuan, sepatu yang tak pernah sama di dua acara, kita seperti jauh dari teladan seorang menteri yang cukup dengan dua helai kemeja. Ironinya, rakyat justru lebih percaya pada kesahajaan yang lahir dari ketulusan, bukan dari pencitraan yang dipoles rapi.

Kemeja lusuh Natsir akhirnya menjadi simbol—bahwa kesederhanaan bukan kelemahan, melainkan kekuatan moral. Bahwa seorang pemimpin bisa tampil dengan pakaian biasa, tetapi tetap meninggalkan jejak luar biasa. Bahwa sejarah bangsa ini pernah memiliki seorang menteri yang dihormati bukan karena apa yang ia kenakan, melainkan karena siapa dirinya yang sebenarnya.

Jas Bertambal dan Martabat yang Tak Tergoyahkan
Sejarah sering menulis tokoh-tokohnya dengan angka dan jabatan. Mohammad Natsir disebut sebagai Perdana Menteri 1950–1951, Menteri Penerangan di era Sutan Syahrir dan Mohammad Hatta.
Tetapi yang paling melekat bukanlah daftar jabatan itu, melainkan detail kecil yang nyaris tak tercatat dalam buku pelajaran: jas bertambalnya, kemeja lusuh yang hanya dua helai, mobil De Soto tua yang dibeli dengan susah payah setelah menabung bertahun-tahun, atau rumah menumpang yang ia huni bersama keluarga.

Di sebuah ruang kerja Kementerian Penerangan, para pegawai pernah urunan membelikan kemeja baru untuk Natsir. Mereka khawatir, penampilan menteri yang begitu sederhana itu tidak pantas di hadapan publik. Bayangkan: seorang pejabat negara yang ditopang oleh sumbangan anak buahnya agar terlihat “layak.” Tetapi Natsir menerimanya dengan santun, tanpa sedikit pun merasa rendah. Karena justru di sanalah martabatnya terjaga: ia tak pernah melebih-lebihkan dirinya dengan pakaian.

Mobil Tua dan Penolakan yang Berharga
Kesahajaan itu tak berhenti pada pakaian. Selama menjabat, Natsir hanya memiliki sebuah mobil De Soto tua. Pada 1956, seorang tamu datang menawarkan sebuah Chevrolet Impala—mobil mewah yang pada masa itu ibarat Toyota Royal Saloon bagi pejabat sekarang. Anak-anak Natsir yang mendengar tawaran itu bersorak girang, membayangkan betapa bangganya duduk di kursi belakang Impala yang besar dan berkilau. Namun kegembiraan itu segera pudar.

Dengan suara lembut, Natsir menolak. “Mobil itu bukan hak kita. Lagipula yang ada masih cukup,” ujarnya, berusaha menghibur anak-anaknya. Penolakan yang tampak sederhana itu sesungguhnya adalah perlawanan halus terhadap logika kekuasaan: bahwa tidak semua yang datang dari luar harus diterima, bahwa tidak semua yang mengilap layak dimiliki.
Impala itu tak pernah singgah di garasi keluarga Natsir. Yang tersisa hanyalah De Soto tua, kadang batuk-batuk di jalan, tetapi jauh lebih mulia karena dibeli dengan jerih payah sendiri.

Rumah Menumpang dan Ironi Kekuasaan
Kesederhanaan itu makin terasa getir ketika kita menoleh pada kisah rumahnya. Bertahun-tahun Natsir menjabat sebagai menteri, keluarganya hidup menumpang. Di Jakarta, mereka tinggal di paviliun sahabatnya, Prawoto Mangkusaswito, di Kampung Bali, Tanah Abang. Ketika pemerintah hijrah ke Yogyakarta, mereka kembali menumpang—kali ini di rumah keluarga Agus Salim.
Ironi itu mencolok: seorang menteri yang menyusun arah bangsa, tetapi tak memiliki rumah sendiri.

Baru pada akhir 1946 pemerintah memberikan rumah dinas di Jalan Jawa, Jakarta Pusat. Bagi keluarga Natsir, rumah itu lebih dari sekadar fasilitas negara. Ia adalah jeda lega—atap tetap, tembok yang tak harus ditinggalkan tergesa, ruang di mana anak-anak bisa tumbuh tanpa harus selalu berkemas. Namun tetap, itu bukan milik pribadi. Hanya rumah pinjaman, tempat singgah sementara.

Kritik Sosial yang Diam-diam Tersimpan
Jas bertambal, kemeja lusuh, kemeja urunan, mobil tua, penolakan Impala, rumah menumpang—semua detail itu tidak sekadar anekdot. Ia adalah kritik sosial yang diam-diam tersimpan dalam sejarah bangsa. Kritik terhadap gaya hidup pejabat hari ini yang seakan tak bisa dipisahkan dari iring-iringan mobil berkilau, rumah dinas megah yang dijadikan istana pribadi, jas mahal yang lebih sering berganti daripada kebijakan yang konsisten.

Kesederhanaan Natsir menampar kesadaran kita bahwa integritas sejati lahir dari pilihan kecil, dari keberanian untuk berkata cukup, dari kejujuran untuk tidak mengambil yang bukan hak. Ia mengingatkan kita bahwa martabat seorang pemimpin tidak ditentukan oleh apa yang ia kenakan, apa yang ia tunggangi, atau rumah sebesar apa yang ia huni. Martabat lahir dari kesediaan untuk tetap menjadi manusia biasa, bahkan ketika kesempatan untuk hidup berlebih terbuka lebar.

Sebuah Penutup
Kini, di tengah hiruk pikuk politik yang penuh pencitraan, kita mendengar kembali kisah jas bertambal itu seperti bisikan lirih dari masa lalu. Bukan untuk menyanjung romantisme, melainkan untuk menegur. Bahwa bangsa ini pernah memiliki seorang perdana menteri yang tidak malu memakai kemeja lusuh, yang menolak Impala berkilau, yang rela hidup menumpang demi menjaga kejujuran.

Dan barangkali, di antara semua warisan yang ditinggalkan Natsir, yang paling berharga bukanlah pidato atau dokumen politiknya, melainkan pelajaran sederhana itu: bahwa seorang pemimpin sejati tidak hidup dari apa yang ia terima, melainkan dari apa yang berani ia tolak.[]

Tags: Catatan Toto Rahardjo
Previous Post

Sunyi Di Balik Notifikasi: Keresahan Gen Z Yang Tak pernah Redup

Next Post

Ketika Sepotong Roti Menjadi Masalah, Antara Hukum dan Empati : Hikmah Humor dan Pencurian (11)

BERITA MENARIK LAINNYA

Yanto Penceng, Seniman Serbabisa dari Gang Sedeng Bojonegoro
Figur

Yanto Penceng, Seniman Serbabisa dari Gang Sedeng Bojonegoro

13/12/2025
Terimakasih, Prof. Dr. Fuad Hasan!
Figur

Terimakasih, Prof. Dr. Fuad Hasan!

12/12/2025
Prof. Dr. Abdus Salam, Ilmuwan Muslim Pertama yang Meraih Hadiah Nobel Fisika
Figur

Prof. Dr. Abdus Salam, Ilmuwan Muslim Pertama yang Meraih Hadiah Nobel Fisika

02/12/2025

Anyar Nabs

Pria Tidak Pernah Dicintai, Dia Hanya Dibutuhkan

Pria Tidak Pernah Dicintai, Dia Hanya Dibutuhkan

15/12/2025
Komunitas Lari Bojonegoro Galang Dana untuk Korban Bencana di Aceh dan Sumatra

Komunitas Lari Bojonegoro Galang Dana untuk Korban Bencana di Aceh dan Sumatra

14/12/2025
Yanto Penceng, Seniman Serbabisa dari Gang Sedeng Bojonegoro

Yanto Penceng, Seniman Serbabisa dari Gang Sedeng Bojonegoro

13/12/2025
Terimakasih, Prof. Dr. Fuad Hasan!

Terimakasih, Prof. Dr. Fuad Hasan!

12/12/2025
  • Home
  • Tentang
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: