Wajah Archon (semacam pejabat Administratif) Nikandros tampak tegang—wajahnya tampak memerah, semerah buah saga. Nikandros mengernyitkan dahinya. Siang itu, ditengah panasnya terik Mentari musim kemarau, Nikandros membacakan putusan Majelis Ekklesia—majelis legislatif Athena kuno yang digelar di sebuah gedung di bukit Pnyx—dekat pusat Athena.
“Setelah mendengar keterangan dan melihat barang bukti—saudara Hylas terbukti telah melakukan klopē (pencurian) roti,” Nikandros berhenti sejenak.
“Berdasarkan hasil musyawarah dan votting Majelis Ekklesia, majelis memutuskan bahwa saudara Hylas dikenakan denda yang setara dengan harga roti tersebut, ditambah dengan 5 drachma. Jika Hylas tidak mampu, ia harus bekerja untuk Kyros tanpa dibayar, sampai hasil kerja itu setara dengan ukuran denda.”
“Ini tidak adil! Tidak tuanku!”, teriak Hylas lantang sembari berdiri.
Sambil menatap Nikandros, Hylas melanjutkan perkataannya, “Tuanku, aku tidak menyangkal perbuatanku. Tapi perutku kosong, istriku sakit. Aku hanya ingin hidup.”
“Tapi ini sudah kesepakatan majlis. Hukum harus berlaku!,” sergah Nikandros tegas sambil bersungut-sungut. Sidang itu pun di tutup.
—0—
Sejauh sidang berlangsung, dua orang pria—tua dan muda—mengamati dengan sangat antusias di balairung Gedung. Pria paruh baya berdahi lebar, berjanggut dan berambut panjang, Sebagian rambutnya sudah tampak putih. Ia mengenakan chiton (jubah khas Yunani kuno) berwarna coklat tua. Meski usianya tak lagi muda, pria itu tampak sangat berwibawa. Disampingnya, duduk anak muda tampan dengan wajah berseri-seri. Dagunya bercambang dan rambut ikalnya yang sangat lebat. Terlihat tanda-tanda kecerdasan dirupanya. Sebagaimana orang tua disampingnya, pemuda itu juga mengenakan chiton berwarna biru tua.
Orang tua itu adalah Socrates (470-399 SM) filsuf agung Yunani yang berasal dari desa Alopece. Sementara anak muda tersebut adalah Plato (427-347 SM), murid utama Socrates yang kelak menjadi filsuf agung Yunani. Mendengar keputusan Archon Nikandros, Plato merasa penasaran.
“Guru, apakah adil hukuman tersebut bagi Hylas sedangkan ia mencuri karena terpaksa—mempertahan hidup?” tanya Plato.
Sambil mengusap-usap janggut dan memperbaiki posisi duduknya, Socrates menjawab, “Nak, keadilan bukanlah semata-mata perkara hitam-putih. Pandanglah kasus ini dari paradigma yang berbeda.”
Socrates merangkul Pundak Plato, mengajaknya menemui Hylas di pintu keluar samping kiri Gedung. Socrates bertanya kepada Hylas terkait kehidupan sehari-harinya dan kenapa ia didakwa sebagai pencuri. Dengan lugu, Hylas menjawab apa adanya. “Kemarin—merupakan hari nahas bagi saya Tuan Guru. Saya, hanyalah warga Athena. Warga biasa yang sehari-hari berprofesi sebagai petani Anggur. Saya ketahuan mencuri sepotong Roti milik Kyros, salah satu tetangga. Saya terpaksa melakukan hal itu—keluarga saya kelaparan. Persedian gandum dan Roti Jelai milik saya telah habis. Pun istri saya juga sakit. Sekarang—pertengahan Juli—musim kemarau berada di titik puncaknya. Kebun Anggur milik saya gagal panen. Beberapa domba saya juga tak menghasilkan air susu walau sedikitpun. Saya sudah berusaha mencari pekerjaan kesana-kemari, namun nihil. Dan semua berakhir dengan penderitaan bagi keluarga saya.”
Setelah mengambil nafas sebentar, Hylas meneruskan penjelasannya, “Kyros, merupakan saudagar ternama di Athena—produsen sekaligus eksportir minyak Zaitun terbesar. Sehari-hari ia ke Piraeus, menjalin hubungan dengan sejumlah pedagang, baik dari Italia, Mesir, Fenisia, Sisilia, maupun dari tepi Laut Hitam. Dengan posisinya yang demikian, Kyros masih bisa bertahan ketika kelaparan melanda Athena. Setidaknya ia masih bisa impor gandum dari Laut Hitam (khususnya dari Scythia, Thrace, dan koloni Yunani yang ada di sana).”
“Meski yang saya curi tak seberapa dibanding seluruh kekayaan yang dimilikinya, Kyros bersikukuh membawa kasus ini ke Majlis Ekklesia. Dan, saya pun digelandang menuju tempat persidangan ini,” tutup Hylas sembari menatap Socrates dan Plato dengan wajah memelas.
—0—
Demi mendengar penjelasan Hylas, hati Plato serasa diselimuti gumpalan awan tebal, ia semakin iba. Socretes segera menangkap apa yang dirasakan oleh Plato dari perubahan rona muka murid tercintanya tersebut.
“Lihatlah nak. Keadilan bukanlah sekadar menerapkan hukum secara ketat dan apa adanya. Tetapi keadilan dalam menerapkan hukum juga harus memahami konteks dan situasi individu. Keadilan harus melihat factor-faktor yang melatarbelakangi tindakan seseorang,” ucap Socrates sambil menatap Plato dalam-dalam.
Socrates melanjutkan uraiannya, “Bayangkan nak, bagaimana jika sebuah institusi terhormat semacam majlis Ekklesia ini hanya menghukum Hylas semata-mata melihat pelanggran yang dilakukannya, tanpa melihat alasan dibalik tindakannya. Apakah hukuman itu akan semakin memperbaiki kondisi keluarganya? Ataukah justru semakin membuat mereka menderita?”
Plato tertegun mendengar uraian dari gurunya. “Jadi, keadilan harus melibatkan empati dan pemahaman terhadap kondisi serta situasi seseorang. Hukum harus ditegakkan, tetapi dengan mempertimbangkan aspek kemanusiaan, benar demikian guru? ” tanya Plato.
Wajah Socrates berbinar-binar. Seutas senyuman kebahagiaan keluar dari wajah tuanya yang penuh dengan kerutan kulit. “Benar sekali wahai anakku. Seorang hakim yang bijak harus bisa menyeimbangkan antara penegakan hukum dan rasa empati terhadap manusia. Keadilan yang sejati Adalah ketika kita memperlakukan orang dengan cara mempertimbangkan situasi dan kebutuhan mereka,” ucap Socrates.
“Karena itu, mari kita temui Nikandros, kita jelaskan kondisi yang melingkupi Hylas. Barangkali ia bisa merubah Keputusan Majlis Ekklesia, ” ajak Socrates.
Kedua filsuf agung tersebut berjalan beriringan menuju bagian belakang Gedung, tempat Nikandros berkumpul Bersama anggota majlis yang lain. Socrates dan Plato menjelaskan sedemikian rupa kepada Nikandros perihal kondisi yang dialami oleh Hylas. Mereka berdua meminta kepada Nikandros agar mempertimbangkan lagi hasil keputusan majlis. Mendengar penjelasan dari dua orang yang bijaksana di saentero Athena, Nikandros pun segera meminta kepada Strategos (pejabat militer) agar meminta seluruh anggota majlis berkumpul kembali di Gedung bukit Pnyx. Alhasil, sidang kembali digelar dengan mendengarkan saksi ahli, Socrates dan Plato. Dari sidang itu diputuskan, bahwa Hylas diberi kesempatan untuk bekerja di Pabrik Roti milik Tuan Lysandros yang terletak di sebelah barat Marathon, sebuah desa terkenal di Athena. Hylas tidak jadi dikenai denda maupun kerja paksa di tempat Kyros.
Usai sidang, dengan perasaan Bahagia, Plato berkata kepada kepada Socrates dengan penuh semangat, “Guru, saya sudah mengerti sekarang. Keadilan sejati melibatkan pemberian kesempatan dan jalan keluar, bukan sekadar hukuman.”
“Benar nak, keadilan sejati adalah ketika kita membantu seseorang untuk bangkit memperbaiki diri, bukan semata-mata menghukumnya,” sahut Socrates.
Kejadian ini, sangat membekas di pikiran dan benak Plato. Lantas menimbulkan inspirasi kepada pendiri sekolah Akademia itu dikemudian hari untuk menuliskan pemikirannya tentang hukum yang berbasis etika dan empati dalam sebuah buku berjudul Laws (hukum). Itulah buku pertama yang menganalisis hukum dari perspektif filosofis dan politis secara mendalam. Wallahu a’lam.








