Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kharisma Kiai Darmin

Muhammad Aufal Fresky by Muhammad Aufal Fresky
30/11/2025
in Fiksi Akhir Pekan
Kharisma Kiai Darmin

Ilustrasi

Al-Furqon, pesantren yang terletak di pinggiran Sungai Barkah itu dipimpin Kiai Darmin sejak tahun 1980. Dia pendiri sekaligus pengasuh utama pesantren. Warga Kampung Klampis mengagumi sosok kiai tersebut sebagai pribadi yang penuh kasih sayang dan istikamah mengayomi umat. Terutama Abdullah, salah satu santri senior yang kini sudah boyong dari pesantren tersebut.

Di depanku, Abdulloh tak bisa menahan haru ketika meceritakan betapa lembutnya gurunya tersebut. Dari awal mondok, sekitar usia belasan tahun, Abdulloh menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa penuh perhatiannya Sang Kiai kepada santri-santrinya.

Bahkan, kiainya tersebut ringan tangan alias sangat dermawan kepada seluruh santri-santrinya. Terutama kepada mereka yang berasal dari keluarga tak berada. Kiai Darmin tidak segan-segan membawakan beras untuk dimakan oleh santri-santri yang memang secara ekonomi tidak mampu.

Sebab, sebagian besar santri-santri Kiai Darmin sendiri merupakan yatim piatu darn dari kaum dhuafa’. Bahkan ada beberapa santri yang hanya bermodalkan sehelai pakaian untuk menimba ilmu ke Kiai Darmin. Tentu saking tak berpunyanya santri-santri tersebut.

Abdulloh menceritakan selaksa peristiwa dan ragam kenangan yang terjalin dengan Kiai Darmin. Baginya, sosok kiainya tersebut bukan sekadar guru biasa. Bukan hanya mentrafer llmu dan pengetahuan kepada seluruh santri-santrinya.

Lebih dari itu, Kiai Darmin merupakan penyejuk jiwa dan pembimbing ruhani para santri dan seluruh warga di Kampung Klampis. Bahkan tidak sedikit dari luar kota yang sowan ke dhalemnya untuk sekadar ngalap berkah dan minta nasihat terkait beragam permasalahan hidup.

Mulai dari masalah ekonomi hingga politik, satu demi satu, silih berganti, tamu-tamu Kiai Darmin datang dan pergi. Kediamannya seolah tak pernah sepi. Kebaradaannya menjadi magnet kuat yang menarik sebanyak-banyaknya orang dari berbagai macam penjuru Tanah Air. Sosok sederhana tersebut menjadi panutan umat.

Abdulloh memberikan keterangan, suatu waktu pada tahun 1990, ada segerombolan bandit yang menghadang Kiai Darmin dan Sarnuji (sopir Kiai Darmin) yang sedang melakukan rihlah dakwah ke Probolinggo. Ada sekitar lima bandit bercelurit itu menyuruh Kiai Darmin dan Sarnuji keluar dari mobil.

Dengan tenang, Kiai Darmin keluar dan menyapa pentolan tertinggi bandit tersebut: “Assalamulaikum saudaraku. Adakah yang bisa saya bantu untuk Anda semua?” Mendengar suara lembut nan berwibawa dari Kiai Darmin, sang pentolan bandit tersebut bergetar hatinya. Suara dan pandangan lembut Kiai Darmin seolah melunakkan hatinya.

Tersungkurlah kepala perampok tersebut di bawah kaki Kiai Darmin. Tak bersuara. Diam seribu bahasa. Sorot matanya yang tadi penuh amarah, tiba-tiba berubah menjadi linangan air mata. Entah ajian dan kesaktian macam apa yang dimiliki Kiai Darmin sehingga membuat pentolan bandit tersebut seolah tak berdaya.

Ternyata, anak buahnya juga hampir sama semua. Tidak bisa bisa menahan air matanya. Isak tangis tiba-tiba pecah dari segerombolan perampok tersebut. Suasana menjadi haru. Semunya dengan suara terisak-isak memohon maaf kepada Kiai Darmin.

Seketika itu juga, kelima bandit yang terkenal garang dan kejam itu, mendeklarasikan diri untuk menjadi santri tdan pengawal setia Kiai Darmin. Dan selepas dari kejadian itu, Kiai Darmin meminta agar mereka bertaubat dan tinggal di Pondok Al-Furqon. Semuanya menyetujui.

Singkat cerita, kata Abdulloh, kelima orang tersebut ternyata menjelma menjadi kiai besar yang tersebar di berbagai tempat. Ada yang di Banjarmasin, Sumenep, Aceh, Lampung, dan Jogjakarta. Dari situlah, Abdulloh, semakin kagum dengan cara dan strategi kaderisiasi yang diterapkan Kiai Darmin dalam mendidik santri-santrinya. Tak terkecuali kelima mantan bandit tersebut. Tidak hanya itu, ada kabar dari beberapa santri senior lainnya. Kiai Darmin mampu membaca masa depan seseorang. Hal itu yang oleh sebagian orang-orang pesantren dianggap sebagai karomah atau kemampuan luar biasa yang biasanya diberikan Tuhan kepada para kekasihnya.

Itu hanyalah secuil kisah dari ribuan atau bahkan jutaan kisah mengenai Kiai Darmin yang disampaikan Abdulloh kepadaku. Kini usia Kiai Darmin semakin sepuh. Kekuatan fisiknya mulai rapuh. Beberapa putranya mulai menggantikan perannya di pondok dan di tengah-tengah masyarakat.

Kiai Darmin hanya sesekali keluar dari dhalemnya. Akhir-akhir ini, kata para santrinya, Kiai Darmin menyibukkan diri bertafakkur dan mendekatkan diri kepada Allah di dhalem dan Masjid Al-Furqon.

Suatu waktu, di hari Jumat, selepas mengimami sholat Shubuh, Kiai Darmin segera bergegas menuju kamar pribadinya. Santri-santri pada keheranan. Sebab, tak biasanya sang kiai buru-buru. Seolah dikejar waktu. Sang Kiai meminta abdi dhalemnya untuk mengumpulkan 9 santri senior di depan kamarnya.

Sang Kiai duduk pas di depan pintu sembari meminta 9 santri senior itu mendengarkan petuah-petuahnya. Selang lima menit, dalam keadaan tangan masih memegang tasbih, beliau tiba-tiba tersungkur. Saat itu juga sang malaikat maut telah mencabut nyawa sang kiai. Keluarga besar beliau semua berkumpul. Pun dengan ribuan santrinya.

Seolah tak percaya, tokoh panutan, sang penyejuk kalbu telah tiada. Pergi meniggalkan pondok, santri, keluarga, dan seluruh warga Klampis untuk selama-lamanya. Tangisan duka menyelimuti Pesantren Al-Furqon. Ribuan warga Klampis bahkan dari luar Klampis berduyun-duyun mendatangi kediaman sang kiai.

Mereka semua seolah berebutan ingin mengantarkan jenazah sang kiai ke liang lahat dan sekaligus memberikan penghormatan terakhir.
Kini, Klampis telah kehilangan mutiaranya. Pelita ilmu dan pelipur lara itu telah pergi untuk selama-lamanya. Tapi, kepergian itu bukanlah akhir dari segalanya.

Ajaran-ajaran luhur Kiai Darmin tercermin dalam gerak-gerik santrinya. Warisan keteladanan akhlak Kiai Darmin akan nampak dalam tutur kata dan perangai seluruh santrinya.

Seperti yang telah disampaikan dalam petuah terakhir kepada 9 santri seniornya: “Teruskan perjuanganku, jangan pernah ragu dan takut melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, jadilah pelita di tengah-tengah umat.”

Tags: Fiksi Akhir Pekan
Previous Post

16 Penghargaan Diraih Bojonegoro dalam Bidang Keterbukaan Informasi Publik 

BERITA MENARIK LAINNYA

Akar Kehidupan Membentuk Pohon Harapan 
Fiksi Akhir Pekan

Akar Kehidupan Membentuk Pohon Harapan 

15/05/2025
Biarkan Aku Tenggelam Sekali Lagi
Fiksi Akhir Pekan

Biarkan Aku Tenggelam Sekali Lagi

16/02/2025
Filsuf Gagal yang Menjadi Sales Bank
Fiksi Akhir Pekan

Filsuf Gagal yang Menjadi Sales Bank

12/06/2024

Anyar Nabs

Kharisma Kiai Darmin

Kharisma Kiai Darmin

30/11/2025
16 Penghargaan Diraih Bojonegoro dalam Bidang Keterbukaan Informasi Publik 

16 Penghargaan Diraih Bojonegoro dalam Bidang Keterbukaan Informasi Publik 

30/11/2025
Filosofi Ficus dan Amanat Menjaga Alam

Filosofi Ficus dan Amanat Menjaga Alam

29/11/2025
Fraksi PKB Tolak Penggantian Nama Masjid Margomulyo

Fraksi PKB Tolak Penggantian Nama Masjid Margomulyo

29/11/2025
  • Home
  • Tentang
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: