Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Akar Kehidupan Membentuk Pohon Harapan 

Faezya Sharletta by Faezya Sharletta
15/05/2025
in Fiksi Akhir Pekan
Akar Kehidupan Membentuk Pohon Harapan 

Hujan deras mengguyur desa tanpa henti selama tiga hari berturut-turut. Air sungai terus meluap sehingga masuk ke pemukiman warga. Jeritan panik terdengar dari setiap sudut. Warga berlarian membawa barang penting yang dapat diselamatkan ke tempat evakuasi.

Mahasiswa KKN yang sedang mengabdi di desa tersebut ikut turun tangan membantu warga. Derasnya arus air membuat setiap langkah penuh berisiko. Di tengah hiruk-pikuk, seorang anak kecil terpeleset dan terjatuh ke dalam arus yang semakin deras.

Tiba-tiba, teriakan histeris seorang ibu membuat semuanya berhenti. “Anakku! tolong anakku! dia terseret arus!” seorang ibu menunjuk ke arah arus yang mengalir deras, di mana seorang anak kecil berusia sekitar lima tahun terbawa air.

“Alya, kamu tetap di sini! aku akan coba menolong anak itu!” seru Raka melepas jaketnya dan berlari ke arah arus.

“Raka, hati-hati!” teriak Alya, panik melihat Raka menerjang arus yang semakin deras.

Air dingin menusuk kulit Raka saat ia mencoba mendekati anak kecil itu.

“Pegang tanganku!” serunya keras, namun suara derasnya air hampir menenggelamkan suaranya. Anak kecil itu terlihat ketakutan, tangannya menggapai-gapai mencari sesuatu untuk berpegangan.

Dengan cepat.

Bima menyusul Raka membawa seutas tali. “Raka, pegang ini! Aku akan tarik kalian!”

Raka berhasil meraih tubuh kecil anak itu, yang kini menggigil ketakutan.

“Aku dapat dia! Bima, tarik sekarang!” seru Raka sambil memegang erat anak tersebut.

Bima dan beberapa warga yang ikut membantu menarik tali itu perlahan hingga Raka dan anak kecil itu berhasil sampai ke tepian.

“Tolong bawa dia ke posko! cepat periksa keadaannya!” ujar Alya panik menyelimuti anak kecil itu dengan jaketnya.

“Ibu…” Anak itu menangis lemah sambil memeluk Ibunya, mencari kenyamanan.

Situasi semakin mencekam, dengan usaha dan kerjasama mahasiswa KKN dan warga, evakuasi berhasil dilakukan dengan baik. Posko darurat mulai dipenuhi warga yang basah kuyup dan kelelahan. Namun, bagi Alya dan teman-temannya, pengalaman menyelamatkan nyawa seorang anak itu menjadi momen yang menguatkan tekad mereka. Mereka tahu, banjir ini bukan sekadar bencana, tetapi sebuah peringatan bahwa alam sedang meminta perhatian.

***

Setelah empat hari berlalu, hujan akhirnya reda. Perlahan, air banjir mulai surut, menyisakan jejak kehancuran di Desa. Rumah-rumah dipenuhi lumpur, perabotan hanyut, dan sawah-sawah yang menjadi tumpuan hidup warga tertutup pasir dan puing-puing. Bau anyir bercampur lumpur menyelimuti udara desa.

Mahasiswa KKN bersama warga mulai bergotong-royong membersihkan rumah dan jalan. Namun, di tengah upaya mereka, kelelahan dan kesedihan tampak jelas di wajah semua orang. Alya berdiri memandang ke arah hutan gundul dari kejauhan, dahan-dahan pohon yang tersisa tampak mencuat seperti tangan yang merintih. 

Ia tahu, penyebab bencana ini lebih dari sekadar hujan deras. Mata Mereka menerawang ke bukit di kejauhan. “Bencana ini tidak akan seburuk ini jika hutan itu tidak gundul,” ujar Alya dengan mata yang berkaca-kaca.

Bima, yang sedang membantu warga mengangkut perabotan, mendekat. “Aku dengar dari warga, bukit itu ditebang habis beberapa tahun lalu. Katanya untuk proyek, tapi setelah itu tidak ada tindakan untuk reboisasi. Sekarang dampaknya begini.”

Alya menghela napas panjang. “Kita tidak bisa tinggal diam. Kita di sini bukan hanya untuk KKN. Kita harus bantu mereka lebih dari ini.”

“Membantu bagaimana?” tanya Dina mengelap keringat di dahinya. Membersihkan lumpur ini saja sudah membuat mereka nyaris putus asa. 

Alya berpikir sejenak, lalu menatap teman-temannya dengan tekad.

“Kita buat program peduli lingkungan. Kita ajak mereka menanam pohon, bukan hanya untuk mencegah banjir, tapi juga untuk masa depan mereka sendiri. Pohon buah, misalnya. Mereka bisa mendapat manfaat ekonomi dengan tetap menjaga alam.”

“Kalau kita cuma ngomong tanpa bukti, mereka tidak akan  percaya,” sahut Fahri. “Tapi kalau kita langsung turun tangan dan melibatkan mereka, itu bisa  menjadi awal perubahan,” lanjutnya.

Di balai desa yang masih dikelilingi lumpur sisa banjir, Alya dan teman-temannya berkumpul bersama warga untuk membahas rencana peduli lingkungan. Alya berdiri di depan papan tulis, menjelaskan manfaat menanam pohon untuk mencegah banjir, manfaat membuang sampah pada tempatnya, membersihkan gorong-gorong dan cara mendaur ulang sampah.

Namun, suasana ruangan terasa berat. Wajah-wajah lelah warga menatapnya dengan skeptis, beberapa bahkan saling berbisik, menunjukkan keraguan mereka.

“Kami tahu banjir ini tidak hanya karena hujan deras,” ujar Alya, membuka pembicaraan.

“Gundulnya hutan, sampah yang di buang ke sungai dan got itu juga menjadi salah satu penyebabnya. Jika kita tidak mulai menanam pohon sekarang, tidak menjaga lingkungan. Desa ini akan terus menjadi korban banjir di tahun-tahun mendatang.”

Seorang warga, Pak Darto, mengangkat tangan dengan raut wajah kesal. “Anak-anak muda ini bicara seolah program mereka sudah memberi solusi. Apa kalian tidak berpikir butuh berapa lama pohon untuk tumbuh? kami butuh bukti nyata bukan hanya omong kosong belaka.”

Beberapa warga mengangguk setuju. 

“Benar itu,” tambah Bu Sarti. “Kami banyak dirugikan atas musibah banjir ini, kami tidak ada waktu untuk bermain-main bersama kalian!” tegasnya.

Alya menatap Raka, mencoba mencari dukungan. Raka maju dan berkata dengan tenang, “Kami mengerti kekhawatiran Bapak dan Ibu semua. Kami tidak meminta bantuan dana, sudah ada bibit sukun, rambutan dan nangka yang disiapkan, selain dapat membantu mencegah banjir, pohon-pohon seperti itu memberikan hasil yang dapat dijual secara langsung maupun diolah menjadi makanan-makanan yang dapat bertahan lebih lama seperti kripik.”

Namun, seorang warga lain, Pak Ramli, berdiri dari kursinya. Suaranya berat dan penuh wibawa. “Kalian bicara seolah-olah tahu segalanya. Kalian ini hanya pendatang di sini? Masalah ini bukan hanya karena kita tidak menanam pohon. Ada proyek yang menebang habis hutan. Kalau  tidak dihentikan, penghijauan kalian tidak akan ada gunanya.”

Ruangan mendadak hening. Beberapa warga mulai berbisik, sementara yang lain menunduk, seolah takut berbicara lebih jauh. Alya menatap Pak Ramli dengan tajam. “Kalau memang proyek itu yang jadi masalah, kenapa  tidak ada yang melawan?” tanyanya.

Pak Ramli tersenyum tipis. “Melawan siapa? Perusahaan itu punya uang, punya kuasa. Kalau kalian berani, silakan. Tapi kami tidak mau ikut terlibat.”

Setelah mendapat tantangan berat dari sebagian warga, Alya dan teman-temannya tak menyerah. Mereka tahu, untuk mengubah pola pikir warga, mereka perlu pendekatan yang berbeda.

Mereka mulai mengadakan penyuluhan di sekolah-sekolah dan TPQ, mengundang anak-anak dan warga untuk belajar bersama tentang pentingnya pohon, lingkungan, dan bagaimana cara menjaga bumi.

Alya berdiri di depan anak-anak dengan papan tulis di tangannya. “Adik-adik, tahukah kalian bahwa pohon itu penting untuk kehidupan? selain memberi udara segar, pohon juga bisa melindungi tanah dari erosi dan mencegah banjir. Tidak hanya itu, pohon-pohon buah juga dapat menjadi mata pencarian baru untuk masyarakat.”

Raka menambahkan, “Selain itu, kita juga akan belajar cara membuang sampah pada tempatnya, memisahkan sampah organik dan anorganik. Membuat TPA untuk sampah, dan mengolah hal yang tidak terpakai menjadi barang yang bermanfaat, kita dapat membantu mengurangi sampah dan menambah pendapatan.”

Dina, membuka tas berisi sampah plastik bekas yang sudah dibersihkan. Ia mengeluarkan contoh barang-barang hasil daur ulang, mulai dari tas yang terbuat dari plastik bungkus kopi, pot tanaman dari galon bekas dan bunga dari gelas plastik minuman.

Sementara itu, di luar balai desa, warga mulai terlihat tertarik. Pak Darto dan Bu Sarti yang sebelumnya ragu, kini ikut turun tangan menanam pohon bersama anak-anak. Mereka mulai mengerti bahwa ini bukan hanya soal menanam pohon untuk masa depan, tapi juga soal memberi contoh kepada generasi muda agar lebih peduli terhadap lingkungan.

“Lihat, Pak Darto,” ujar Raka, sambil menggali lubang untuk pohon rambutan. “Anak-anak ini sudah mulai semangat menanam. Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak?”

Pak Darto mengangguk pelan, tersenyum. “Mungkin aku terlalu terburu-buru menilai. Ini memang bisa jadi langkah awal untuk desa kita.”

“Betul, Pak,” kata Alya, yang sedang membantu menanam pohon nangka. “Dengan menanam pohon ini, kita bukan hanya menyiapkan masa depan untuk anak-anak, tetapi juga untuk kehidupan kita. Ini adalah warisan yang bisa kita berikan.”

***

Suatu sore, ketika Alya dan Raka sedang mengumpulkan laporan tentang perkembangan penghijauan, mereka mendengar percakapan di warung kopi yang menarik perhatian mereka. Pak Darto, yang biasanya skeptis, berbicara dengan beberapa warga lainnya tentang kegiatan yang berlangsung di desa.

“Rencana penghijauan itu bagus, tapi ada yang mencurigakan,” Pak Darto berkata pelan. “Aku dengar, Pak Ramli itu punya hubungan dekat dengan pihak perusahaan yang menebang pohon di hutan”

Raka yang sedang mendengarkan dari kejauhan segera menarik tangan Alya. “Alya, kita harus bicara. Apa yang aku dengar tadi… tentang Pak Ramli…”

Alya menatap Raka dengan cemas. “Apa maksudmu?”

“Pak Ramli, dia yang sempat bilang kalau kita harus berhati-hati melawan perusahaan besar, bukan? Tapi katanya dia malah bekerja sama dengan mereka!”

Alya terdiam, perasaan tidak percaya mulai merasukinya. “Tidak mungkin… Pak Ramli?”

***

Malam itu, Alya memutuskan untuk mengkonfirmasi informasi tersebut. Ia mengumpulkan teman-temannya dan bertemu dengan beberapa warga yang dianggap tahu tentang Pak Ramli. 

Dari obrolan tersebut, terungkaplah sebuah fakta mengejutkan bahwa Pak Ramli ternyata telah menerima sejumlah uang dari perusahaan yang bertanggung jawab atas penebangan hutan. Dalam beberapa pertemuan tertutup, Pak Ramli ternyata sudah menyepakati kerja sama dengan pihak perusahaan demi kepentingan pribadinya.

“Alya, kamu harus tahu ini,” kata Bu Sarti dengan suara berbisik. “Pak Ramli bukan orang yang kalian kira. Dia mendapat bagian dari proyek perusahaan itu. Dia sudah lama bekerja sama dengan mereka.”

Alya terkejut, wajahnya memucat. “Tapi… beliau selalu mendukung program kami, bahkan beliau juga setuju dengan penghijauan.”

Bu Sarti menggelengkan kepala. “Dia hanya berpura-pura mendukung untuk menjaga citra dirinya di depan warga. Tapi kenyataannya, dia lebih memilih uang dan kekuasaan daripada masa depan desa.”

Raka yang mendengarkan percakapan itu mencengkram tangannya dengan geram. “Jika itu benar, maka kita harus memberitahu semua orang.”

Namun, Alya terhenti. “Tapi… bagaimana? Pak Ramli punya banyak pengaruh di desa ini. Banyak warga yang masih percaya padanya. Kalau kita buka-bukaan, bisa-bisa mereka justru tidak percaya pada kita.”

***

Keesokan harinya, suasana di desa menjadi tegang. Beberapa warga mulai mendengar kabar tentang keterlibatan Pak Ramli dengan perusahaan yang menebang hutan. Namun, ketakutan akan pengaruhnya mulai merasuki mereka. Banyak yang enggan berbicara karena takut kehilangan pekerjaan, atau bahkan menghadapi ancaman dari pihak yang lebih kuat.

Pada sebuah pertemuan desa, Alya berusaha berbicara terbuka, namun ragu-ragu. Pak Ramli berdiri di sudut ruangan, senyum dinginnya tampak jelas. “Alya, kamu harus berhati-hati dengan apa yang kamu bicarakan di sini,” kata Pak Ramli dengan nada penuh peringatan.

“Ada apa dengan anda, Pak Ramli? Kenapa anda  tidak mendukung kami sepenuhnya?” tanya Alya dengan berani, meski suaranya sedikit gemetar.

Pak Ramli tertawa kecil. “Alya, kau masih muda dan idealis. Dunia ini tidak seindah yang kau bayangkan. Uang dan kekuasaan berbicara lebih keras daripada pohon-pohon yang kau tanam,” ejek Pak Ramli.

Warga desa yang hadir mulai saling berpandangan, merasa terombang-ambing antara kebenaran yang disampaikan Alya dan kekuatan yang dimiliki Pak Ramli. Alya merasa semakin terpojok, tapi dia tahu bahwa kebenaran harus disuarakan.

Tiba-tiba, suara sirene mobil polisi memecah ketegangan. Beberapa aparat kepolisian bersama petugas kehutanan masuk ke dalam ruangan. Seorang polisi maju ke depan, membawa dokumen di tangannya.

“Pak Ramli, kami memiliki cukup bukti atas keterlibatan anda dalam praktik penebangan liar dan kolusi dengan perusahaan. Anda ditahan untuk penyelidikan lebih lanjut!” jelas polisi dengan tegas.

Wajah Pak Ramli yang sebelumnya penuh percaya diri kini berubah pucat. Ia mencoba menolak, tetapi dua petugas sudah bersiap memborgol tangannya.

“Tidak! kalian tidak tahu siapa yang kalian hadapi! saya punya koneksi! saya bisa bebas dengan mudah!” teriak Pak Ramli dengan percaya diri.

Alya maju selangkah, menatapnya dengan tajam. “Pak Ramli, selama ini anda menggunakan kekuasaan untuk menekan kami, tapi sekarang keadilan akan berbicara.”

Sementara itu, seorang petugas lain berbicara kepada warga, “Kami juga telah menyelidiki perusahaan yang bekerja sama dengan Pak Ramli. Pemilik proyek telah dipanggil untuk diperiksa, dan izin operasionalnya akan dicabut.”

Seorang warga, Pak Darto, maju dengan suara lantang. “Lalu bagaimana dengan hutan kami? Apakah ada tindakan pemulihan?”

Petugas kehutanan mengangguk. “Ya, pemerintah akan segera mengadakan program rehabilitasi. Kami akan bekerja sama dengan masyarakat untuk menanam kembali hutan yang telah dirusak. Selain itu, dana kompensasi akan dialokasikan bagi warga yang terdampak.”

Mendengar hal itu, wajah warga mulai berseri. Mereka saling berbisik, ada yang tersenyum lega. Fahri tersenyum, “Dan pastinya, kita akan lebih berani melawan ketidakadilan.”

Dengan ditangkapnya Pak Ramli dan tindakan tegas terhadap perusahaan, harapan baru muncul di desa. Masyarakat yang sebelumnya takut kini mulai percaya bahwa mereka bisa memperjuangkan hak mereka. Hutan yang sempat terluka kini berangsur mendapatkan harapan baru untuk kembali hijau.

Bukan alam yang membutuhkan manusia, tetapi manusialah yang membutuhkan alam. Jika kita merusaknya, kita sedang menanti kehancuran untuk diri sendiri.

Tags: akarkehidupanPohon
Previous Post

Kiai Nur Ngali Pagerwesi, Jejak Kebesaran Islam Bengawan

Next Post

MI Al Hidayah Pacul Sabet 3 Emas dalam Porseni MI Bojonegoro 2025

BERITA MENARIK LAINNYA

Hikayat Takut Kualat
Fiksi Akhir Pekan

Hikayat Takut Kualat

26/12/2025
Kharisma Kiai Darmin
Fiksi Akhir Pekan

Kharisma Kiai Darmin

30/11/2025
Biarkan Aku Tenggelam Sekali Lagi
Fiksi Akhir Pekan

Biarkan Aku Tenggelam Sekali Lagi

16/02/2025

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: