Sudah pukul berapa ini? Aku mengerjapkan mata, menatap sinar matahari yang mengintip dari celah gorden kusam yang sudah berbulan-bulan tak kuganti. Ponselku bergetar untuk kesekian kalinya, entah pesan dari siapa, aku tak peduli. Biar saja.
Aroma baju kotor menguar dari tumpukan pakaian di sudut kamar. Berapa lama sudah mereka di sana Seminggu? Sebulan? Aku tak ingat. Sama seperti aku tak ingat kapan terakhir kali menyentuh handuk yang tergantung kering di balik pintu.
Mandi pagi adalah sebuah kemewahan yang tak sanggup kulakukan. Bahkan untuk sekadar bangkit dari tempat tidur terasa begitu berat, seolah seluruh tulangku telah diganti dengan timah.
“Kamu kok jarang kelihatan?” tanya Ibu kemarin. Aku hanya tersenyum tipis, beralasan sibuk dengan pekerjaan. Padahal laptop di meja kerjaku sudah berdebu, file-file pekerjaane menumpuk tak tersentuh.
Bagaimana bisa aku menjelaskan bahwa berhadapan dengan orang lain terasa seperti mengangkat beban ribuan ton? Bahwa setiap “Hai, apa kabar?” di grup WhatsApp terasa seperti pertanyaan ujian yang tak mampu kujawab?
Dulu, aku suka wangi kopi di pagi hari. Sekarang, cangkir-cangkir kotor berjejer di nakas, isinya mengering dengan bercak-bercak hitam yang menempel. Seperti diriku mengering, tertinggal, dan perlahan membusuk dari dalam.
“Kamu cuma malas,” kata suara dalam kepalaku. Mungkin benar. Tapi mengapa rasa malas ini terasa seperti rantai yang membelenggu? Mengapa setiap tarikan napas terasa begitu melelahkan? Mengapa kegelapan kamar ini terasa lebih aman dibanding cahaya matahari di luar sana?
Ponselku bergetar lagi. Kali ini sebuah panggilan, yang langsung kuabaikan. Akumenarik selimut menutupi kepala, membiarkan kegelapan memelukku sekali lagi. Di luar sana, dunia terus berputar. Orang-orang tertawa, bekerja, hidup. Sementara aku di sini, terjebak dalamp usaran waktu yang seolah tak bergerak.
Mungkin besok akan lebih baik, bisikku pada diri sendiri kalimat yang sama yang kuucapkan kemarin, dan kemarinnya lagi. Tapi besok tetaplah besok, dan hari ini aku masih di sini, tenggelam dalam kekosongan yang tak mampu kujelaskan, dalam kemalasan yang tak mampu kulawan, dalam kesepian yang ironisnya kupilih sendiri.
Jam dinding berdetak pelan, menghitung detik-detik yang terasa seperti keabadian. Di sudut kamar, cermin besar memantulkan bayangan seseorang yang tak lagi kukenali, seorang wanita dengan rambut kusut dan mata kosong, yang entah sejak kapan kehilangan cahayanya.
Aku menutup mata, membiarkan air mata mengalir tanpa suara. Besok, mungkin aku akan bangun lebih pagi. Besok, mungkin aku akan mandi dan membereskan kamar. Besok, mungkin aku akan membalas semua pesan itu. Tapi hari ini, biarkan aku tenggelam sebentar lagi.








