Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kota Iram: Misteri dalam Al Quran dan Badai Gurun Pasir

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
28/08/2026
in Cecurhatan
Kota Iram: Misteri dalam Al Quran dan Badai Gurun Pasir

Ilustrasi: Kota Iram

Pada tahun 1930, seorang penjelajah Inggris, Bertram Thomas, sedang berjalan di tepi selatan Rub‘ al-Khali: gurun pasir terluas di dunia. Para pemandu Baduinya kemudian bercerita kepadanya tentang sebuah kota hilang yang dihancurkan karena kemurkaan Tuhan.

Di tengah perjalanan, mereka menunjukkan kepadanya sebuah jalan kuno selebar seratus meter yang membentang di antara bukit-bukit pasir. “Ini adalah jalan menuju Ubar,” kata mereka. Thomas memetakan posisinya. Namun, ia tidak pernah menemukan kota itu. Ia meninggal dunia sebelum sempat kembali.

Kisah itu, oleh Bertram Thomas, ia ceritakan kepada temannya, seorang petualang legendaris bernama T.E. Lawrence (Lawrence of Arabia). Lawrence menganggap Ubar sebagai “Atlantis of the Sands”. Suatu hari, teringat kisah itu, Lawrence kemudian berencana mencari kota hilang itu dengan pesawat udara. Namun, ia juga meninggal dunia sebelum mimpinya terwujud.

Baca Seutuhnya: Catatan Ahmad Rofi’ Usmani, Pinisepuh Jurnaba 

Selama puluhan tahun, kota Iram tetap menjadi legenda: sebuah dongeng yang diceritakan oleh para Badui di sekitar api unggun. Namun di balik legenda itu, ada sebuah catatan yang telah terukir selama lebih dari 1.400 tahun dalam sebuah kitab yang dibaca oleh miliaran manusia: Al-Qur’an.

“Apakah kalian tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan tinggi. Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lainnya.” (QS Al-Fajr: 6-8).

Kota Tiang-Tiang dalam Al-Qur’an
Pertanyaannya: bagaimana mungkin sebuah Kitab Suci yang diturunkan di kawasan gurun pasir Arab pada abad ke-7 M mengetahui tentang sebuah kota hilang yang selama berabad-abad hanya dianggap dongeng? Apa yang terjadi pada kota itu hingga lenyap ditelan badai gurun pasir?

Dalam Surah Al-Fajr, Allah berfirman tentang kaum ‘Ad dan kota mereka, Iram: sebuah kota dengan bangunan-bangunan tinggi atau tiang-tiang yang megah. Para ahli tafsir Al-Qur’an menyebutkan bahwa Iram adalah nama lain dari kota kaum ‘Ad yang dibangun Raja Syaddad bin ‘Ad. Dalam legenda Arab, Syaddad membangun kota itu sebagai replika surga di bumi: dengan istana-istana megah, taman-taman, dan bangunan dari emas, perak, dan batu mulia, untuk “menyaingi surga”.

Namun, keangkuhan kaum ‘Ad berakhir tragis. Mereka mendustakan Nabi Hud a.s. yang diutus kepada mereka. Maka, Allah pun menurunkan azab berupa badai gurun pasir yang dahsyat. Ini seperti digambarkan dalam Surah Al-Qamar, “Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus-menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang.” (Al-Qamar: 19-20).

Selama berabad-abad, para sejarawan dan orientalis memandang kisah kota Iram sebagai sekadar dongeng. Sejarawan besar abad ke-14, Ibn Khaldun, malah meragukan keberadaan fisik kota Iram dan menganggapnya hanya bagian dari mitos Arab. Di Barat, nama Iram tidak dikenal. Kota itu lebih populer dengan sebutan “Ubar” dalam literatur Arabian Nights.

Namun, sebuah prasasti kuno yang ditemukan pada 1986 mengguncang dunia arkeologi.

Di perpustakaan kuno Ebla (Suriah utara), yang berusia sekitar 4.500 tahun, ditemukan ribuan lempeng tanah liat yang menyebutkan hubungan dagang Kerajaan Ebla dengan bangsa ‘Ad dan kota Iram. Ini adalah bukti tertulis pertama di luar Al-Qur’an yang mengonfirmasi eksistensi kota tersebut. Dr. Father Dahood dari Vatican bahkan menyatakan, “Antara Prasasti Ebla (2500 SM) dan Al-Qur’an (625 M) tidak ada rujukan lain yang menunjukkan eksistensi tiga serangkai kota ini: Tsamud, ‘Ad, dan Iram.”

Sains Modern Menemukan Kota yang Hilang
Pada tahun 1982, seorang pembuat film dokumenter Amerika bernama Nicholas Clapp mulai terobsesi dengan kota Iram yang hilang itu. Ia lantas membaca Al-Qur’an, mempelajari legenda Arab, dan meneliti catatan para penjelajah seperti Bertram Thomas dan Lawrence of Arabia.

Suatu hari, Nicholas Clapp membaca sebuah artikel tentang bagaimana radar satelit NASA berhasil menemukan reruntuhan Maya yang terkubur di bawah hutan lebat Amerika Tengah. Sebuah ide melintas di benaknya, “Jika teknologi ini mampu menembus hutan, bisakah ia menembus gurun pasir?”

Nicholas Clapp lantas menghubungi Jet Propulsion Laboratory NASA. Dengan bantuan Dr. Ronald Blom, ia meyakinkan NASA untuk memotret wilayah Arabia Selatan dengan menggunakan pesawat ulang-alik Challenger dengan teknologi Satellite Imaging Radar (SIR) yang mampu menembus permukaan hingga kedalaman 200-400 meter. Hasilnya: pada Oktober 1986, Challenger-dalam penerbangan terakhirnya sebelum mengalami tragedi mengirimkan gambar-gambar yang mengubah segalanya. Citra radar menunjukkan jejak-jejak jalur kafilah kuno yang membentang di bawah gurun pasir dan-yang lebih menakjubkansemua jalur itu bertemu di satu titik: sebuah lokasi di dekat Shisr, Oman, di wilayah Dhofar.

Nicholas Clapp pun segera mengorganisir sebuah ekspedisi. Pada 1990 dan 1991, tim yang ia pimpinnya-termasuk arkeolog Prof. Juris Zarins dari Southwest Missouri State University dan penjelajah kutub Sir Ranulph Fiennes-mulai menggali.

Apa yang ditemukan di bawah gurun pasir?

Di bawah pasir sedalam 12 meter, mereka menemukan sebuah benteng besar. Benteng ini berbentuk segi delapan dengan tembok setinggi 9 meter dan delapan menara di setiap sudutnya: persis seperti deskripsi Al-Qur’an tentang Iram yang memiliki “bangunan-bangunan tinggi” atau “tiang-tiang”. Di sekitar benteng, ditemukan: jejak permukiman dengan lubang-lubang api dan area aktivitas manusia; artefak perdagangan yang menunjukkan koneksi dagang lintas wilayah; dan lorong dan ruang bawah tanah yang runtuh akibat kondisi geologi.

Para arkeolog meyakini, kota ini perlahan tenggelam ke dalam gua kapur yang telah mengering karena penggunaan air oleh penduduknya. Dalam empat abad setelah kehancurannya, pasir gurun menutupi semuanya. Majalah Time menyebut penemuan ini sebagai salah satu dari tiga peristiwa ilmiah terbesar pada 1990-an.

Al-Qur’an sendiri tidak hanya berbicara tentang kota Iram. Namun, juga memaparkan tentang bagaimana kota itu hancur. Dalam Surah Al-Haqqah, Allah berfirman, “Adapun kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi kencang. Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari secara terus-menerus. Karenanya, kalian lihat kaum ‘Ad ketika itu mati bergelimpangan bagaikan tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (Al-Haqqah: 6-8)

Sebuah badai raksasa itu berlangsung selama tujuh malam delapan hari. Bukan sekadar angin kencang. Namun, topan gurun pasir yang menghancurkan seluruh peradaban. Penelitian arkeologis modern menemukan bukti-bukti tentang peristiwa semacam itu di wilayah Arabia Selatan, termasuk lapisan pasir yang mengubur kota secara mendadak dan masif.

Selain itu, Al-Qu’an juga menggambarkan kaum ‘Ad sebagai bangsa yang sombong dan mendustakan kebenaran. Mereka berkata kepada Nabi Hud, “Siapakah yang lebih perkasa kekuatannya dari kami?” (Fushshilat: 15). Keangkuhan inilah yang menjadi biang kerok kehancuran mereka .

Para peneliti modern mencatat bahwa peradaban Iram/Ubar sangat maju dan kaya raya—pusat perdagangan kemenyan yang makmur. Namun, kesombongan atas kekayaan dan kekuatan menyebabkan mereka mengabaikan peringatan. Akhirnya, badai itu pun datang.

Ketika Al-Qur’an dan Sains Bertemu
Penemuan kota Iram/Ubar pada 1992 adalah salah satu momen paling dramatis dalam arkeologi modern. Sebuah kota yang selama berabad-abad hanya dianggap legenda-yang bahkan para penjelajah terhebat di dunia gagal menemukan-terkuak berkat teknologi satelit NASA. Dan di tengah semua itu, Al-Qur’an telah menyebutkannya sejak 1.400 tahun lalu.

Prof. Juris Zarins, yang memimpin penggalian, menyatakan bahwa selama menara-menara itu dianggap sebagai unsur yang menunjukkan kekhasan kota Ubar, dan selama Iram disebutkan mempunyai menara-menara atau tiang-tiang, maka ini adalah bukti terkuat bahwa peninggalan yang mereka gali adalah Iram, kota kaum ‘Ad yang disebut dalam Al-Qur’an .

Namun, di tengah semua bukti, ada pertanyaan yang tetap menggantung: bagaimana mungkin Al-Qur’an-yang diturunkan di padang pasir Arab pada abad ke-7-mengetahui tentang sebuah kota yang hilang yang baru ditemukan pada akhir abad ke-20? Prasasti Ebla menunjukkan bahwa nama Iram telah hilang dari ingatan manusia selama ribuan tahun. Tidak ada catatan sejarah, tidak ada peta, tidak ada legenda populer yang menyebutkannya selain Al-Qur’an dan beberapa tradisi lisan Badui.

Apakah ini sebuah kebetulan? Atau-sebagaimana diyakini oleh umat Islam-ini adalah bagian dari mukjizat Al-Qur’an, di mana Allah memberikan informasi tentang masa lalu yang tidak mungkin diketahui oleh manusia pada saat itu?

Ketika Lawrence of Arabia menyebut Ubar sebagai “Atlantis of the Sands”, sejatinya ia tidak pernah membayangkan bahwa kota itu benar-benar ada di bawah pasir dan menunggu untuk ditemukan. Ia meninggal dunia tanpa melihat mimpinya terwujud. Namun, satu setengah abad setelahnya, sains modern-dengan radar satelit dan teknologi pencitraan-berhasil membuktikan apa yang telah Al-Qur’an katakan sejak awal.

Badai gurun pasir yang menghancurkan Iram adalah peringatan bagi setiap peradaban yang sombong. Dan misteri yang tersembunyi di bawah pasir adalah pengingat bahwa terkadang, kebenaran-sebesar apa pun-tetap tersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk terungkap. Ini seperti yang dikatakan oleh para peneliti, “Penemuan ini menempatkan remote sensing dalam sorotan baru, dengan fokus baru pada geografi kitab suci.” Atau, dalam bahasa yang lebih sederhana: terkadang, untuk menemukan kebenaran yang sudah tertulis, kita harus melihat dari langit.

Tags: Catatan Rofi' UsmaniKota IramMakin Tahu IndonesiaMisteri Al Quran
Previous Post

Muktamar NU 2026: Saatnya Menghidupkan Khitah Ekologis

Next Post

BALKONDES Bonorejo Resmi Dibangun, Jadi Harapan Baru Untuk Mendorong Kemandirian Ekonomi Desa

BERITA MENARIK LAINNYA

Muktamar NU 2026: Saatnya Menghidupkan Khitah Ekologis
Cecurhatan

Muktamar NU 2026: Saatnya Menghidupkan Khitah Ekologis

26/08/2026
Reformasi, Konstitusi, dan Kampus yang Terlalu Percaya Diri
Cecurhatan

Reformasi, Konstitusi, dan Kampus yang Terlalu Percaya Diri

22/08/2026
Ketika MBG Berhitung Cuan, Hak Perempuan Menanti Perhatian
Cecurhatan

Ketika MBG Berhitung Cuan, Hak Perempuan Menanti Perhatian

20/08/2026

Anyar Nabs

BALKONDES Bonorejo Resmi Dibangun, Jadi Harapan Baru Untuk Mendorong Kemandirian Ekonomi Desa

BALKONDES Bonorejo Resmi Dibangun, Jadi Harapan Baru Untuk Mendorong Kemandirian Ekonomi Desa

29/08/2026
Kota Iram: Misteri dalam Al Quran dan Badai Gurun Pasir

Kota Iram: Misteri dalam Al Quran dan Badai Gurun Pasir

28/08/2026
Muktamar NU 2026: Saatnya Menghidupkan Khitah Ekologis

Muktamar NU 2026: Saatnya Menghidupkan Khitah Ekologis

26/08/2026
Ketika Kekuasaan Kehilangan Akal Sehat, Membaca Novel Garcia Marquez

Ketika Kekuasaan Kehilangan Akal Sehat, Membaca Novel Garcia Marquez

25/08/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: