Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Ketika Kekuasaan Kehilangan Akal Sehat, Membaca Novel Garcia Marquez

Maulida Chartagupta by Maulida Chartagupta
25/08/2026
in JURNAKULTURA
Ketika Kekuasaan Kehilangan Akal Sehat, Membaca Novel Garcia Marquez

Novel Garcia Marquez

Pernahkah kita heran melihat tingkah para penguasa? Aturan berubah seperti cuaca, keputusan negara terasa seperti pertunjukan sulap, sementara pejabat berbicara tentang rakyat dari ruangan berpendingin udara. Jika absurditas politik semacam itu terasa akrab, Musim Gugur Sang Patriark karya Gabriel García Márquez layak dibaca ulang. Novel ini pertama kali terbit dalam bahasa Spanyol pada 1975 dan menjadi salah satu eksperimen penting Márquez tentang kekuasaan, bahasa, dan politik.

Márquez tidak menulis biografi seorang diktator. Ia menciptakan sebuah labirin tentang Sang Patriark, penguasa tanpa nama yang telah memerintah sebuah negeri Karibia begitu lama hingga batas antara sejarah, legenda, dan mitos menjadi kabur. Novel dibuka dengan penemuan jasadnya yang membusuk di istana. Namun kematian bukan akhir cerita. Narasi justru bergerak maju-mundur, mengulang peristiwa, mencampurkan berbagai versi kehidupan sang penguasa.

Bentuk novel itu sendiri menyerupai kekuasaan yang sedang dibicarakannya. Waktu tidak berjalan lurus, suara rakyat dan penguasa sering bercampur, sementara fakta dan propaganda sulit dibedakan. Novel hanya terbagi dalam enam bagian besar, tetapi kalimat-kalimatnya panjang dan narasinya berlapis. Márquez seolah membawa pembaca masuk ke dalam kepala sebuah negara yang terlalu lama hidup di bawah satu orang.

Di istana Sang Patriark, logika kehidupan normal perlahan runtuh. Kekuasaan begitu besar sehingga kehendak penguasa berubah menjadi hukum, sementara orang-orang di sekitarnya belajar mengatakan apa yang ingin didengarnya. Informasi disaring, kenyataan dipoles, dan kebohongan dipelihara sampai terdengar seperti kebenaran. Sang diktator akhirnya tidak perlu mengendalikan semuanya sendiri karena lingkungan kekuasaannya telah ikut menciptakan dunia palsu tersebut.

Di sinilah paradoks kekuasaan absolut muncul. Semakin besar kekuasaan seorang penguasa, semakin jauh ia dari kenyataan. Ia memiliki istana, tetapi tidak memiliki rumah; dikelilingi manusia, tetapi tidak memiliki teman. Ia dapat memerintah sebuah negeri, tetapi tidak mampu mengendalikan rasa takut dalam dirinya. Sang Patriark menjadi tawanan dari kekuasaan yang ia pertahankan sendiri.

Novel ini juga merupakan cermin pengalaman politik Amerika Latin yang akrab dengan kudeta, pemerintahan otoriter, kekerasan politik, dan kultus pemimpin. Sang Patriark bukan potret satu diktator tertentu, melainkan gabungan berbagai sosok penguasa. Ia adalah kekuasaan yang terlalu lama dibiarkan tanpa koreksi; ketika seorang pemimpin mulai merasa dirinya identik dengan negara, kritik terhadap dirinya pun dianggap sebagai ancaman terhadap negara.

Karena itu, novel yang ditulis lebih dari lima puluh tahun lalu tetap terasa dekat. Bukan karena Sang Patriark harus dicocokkan dengan tokoh politik tertentu, melainkan karena pola kekuasaannya mudah dikenali. Ketika kritik dianggap ancaman, kenyataan mulai disensor. Ketika bawahan hanya berani berkata “ya”, penguasa perlahan kehilangan kemampuan melihat dunia sebagaimana adanya.

Márquez menggunakan realisme magis bukan sekadar untuk menghadirkan keajaiban. Batas antara fakta dan legenda justru menunjukkan bagaimana propaganda membangun kultus terhadap seorang pemimpin. Seorang manusia biasa dapat diubah menjadi mitos, lalu mitos itu digunakan untuk membenarkan kekuasaan.

Pada titik tertentu, mengkritik penguasa terasa seperti menghina sesuatu yang dianggap sakral. Itulah sebabnya Musim Gugur Sang Patriark bukan novel Márquez yang mudah. Kalimatnya panjang, sudut pandangnya berubah, waktu berputar, dan suara narator sering bercampur.

Namun kekacauan itu justru merupakan kekuatannya. Márquez tidak sekadar menceritakan kekacauan kekuasaan; ia membuat pembaca merasakan kekacauan tersebut melalui bentuk novelnya.

Judulnya sendiri menyimpan metafora yang kuat. Musim gugur adalah masa ketika sesuatu mulai kehilangan daunnya; belum sepenuhnya mati, tetapi tanda-tanda keruntuhan mulai terlihat. Begitu pula kekuasaan. Istana mungkin masih berdiri, pejabat masih memberi hormat, dan aparat masih menjalankan perintah. Namun pembusukan bisa saja telah dimulai dari dalam.

Kehancuran sebuah rezim tidak selalu dimulai ketika rakyat menyerbu istana. Kadang ia dimulai ketika penguasa berhenti mendengar, bawahan berhenti berkata jujur, hukum berubah menjadi alat, dan propaganda menggantikan kenyataan. Pada saat itu, kekuasaan mungkin masih berdiri, tetapi musim gugurnya telah dimulai.

Pada akhirnya, Musim Gugur Sang Patriark bukan hanya novel tentang seorang diktator. Ia adalah novel tentang manusia ketika kekuasaan menjadi terlalu besar dan berlangsung terlalu lama. Kekuasaan menciptakan kesunyian, kesunyian melahirkan paranoia, paranoia melahirkan kekerasan, dan kekerasan membutuhkan kebohongan untuk mempertahankan dirinya.

Márquez memberikan sebuah cermin yang mengganggu: seorang manusia dapat memiliki negeri, istana, tentara, dan para penjilat, tetapi tetap berakhir sendirian. Sebab kekuasaan bisa memaksa orang untuk patuh, tetapi tidak pernah benar-benar bisa memaksa seseorang untuk mencintai. Dan ketika seluruh negeri hanya berani berkata “iya”, mungkin saat itulah seorang penguasa justru berada paling jauh dari kenyataan.

Tags: Gabriel Garcia MarquezPenguasa JahatResensi Buku
Previous Post

Suarakan Hak Ekologi, KOPRI PMII Bojonegoro Dorong Pembahasan Raperda Dana Abadi Lingkungan

Next Post

Muktamar NU 2026: Saatnya Menghidupkan Khitah Ekologis

BERITA MENARIK LAINNYA

Quo Vadis NU Pasca Muktamar ke-35, Membaca Nahdlatul Ulama Hari Ini
JURNAKULTURA

Quo Vadis NU Pasca Muktamar ke-35, Membaca Nahdlatul Ulama Hari Ini

23/08/2026
Ruang Ambang: Alasan Mengapa Batas Desa, Jembatan, dan Persimpangan Jalan Diangkerkan
JURNAKULTURA

Ruang Ambang: Alasan Mengapa Batas Desa, Jembatan, dan Persimpangan Jalan Diangkerkan

13/08/2026
Rasa Pahit yang Diam-Diam Menyelamatkan Kita
JURNAKULTURA

Rasa Pahit yang Diam-Diam Menyelamatkan Kita

06/08/2026

Anyar Nabs

Muktamar NU 2026: Saatnya Menghidupkan Khitah Ekologis

Muktamar NU 2026: Saatnya Menghidupkan Khitah Ekologis

26/08/2026
Ketika Kekuasaan Kehilangan Akal Sehat, Membaca Novel Garcia Marquez

Ketika Kekuasaan Kehilangan Akal Sehat, Membaca Novel Garcia Marquez

25/08/2026
Suarakan Hak Ekologi, KOPRI PMII Bojonegoro Dorong Pembahasan Raperda Dana Abadi Lingkungan

Suarakan Hak Ekologi, KOPRI PMII Bojonegoro Dorong Pembahasan Raperda Dana Abadi Lingkungan

24/08/2026
Quo Vadis NU Pasca Muktamar ke-35, Membaca Nahdlatul Ulama Hari Ini

Quo Vadis NU Pasca Muktamar ke-35, Membaca Nahdlatul Ulama Hari Ini

23/08/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: