Puluhan anak muda Bojonegoro hadir pada 15 November 2025 dalam peluncuran Zine keempat Perpustakaan Jenggala berjudul “Kuburan Terapung: Kekerasan Massal Anti-Komunisme 1965 di Bojonegoro.” Acara ini berlangsung di area terbuka di samping Café Hela yang berada tepat di tepi Bengawan.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Perpustakaan Jenggala Bojonegoro sebagai bagian dari upaya komunitas untuk menyediakan ruang diskusi publik berbasis riset, khususnya mengenai kekerasan politik 1965 dan dampaknya di wilayah Bojonegoro.
Acara dimulai dengan penampilan musik dari Srawung dan Mubin yang berfungsi sebagai pembuka sebelum masuk ke sesi utama. Setelah itu, aktris Jenggala, Lilin Tiani, membawakan monolog berjudul “Sekap.” Monolog ini diproduseri Adam Firmansyah, yang juga bertindak sebagai ketua panitia peluncuran.
Dalam keterangan pembukanya, Adam menegaskan bahwa bagi kawan-kawan yang tidak sempat bergabung dalam diskusi edukatif berbasis riset yang sebelumnya telah dilaksanakan, harapannya Zine keempat ini dapat menjadi penebus pengetahuan yang belum sempat dipetik dalam forum diskusi.
Ia menambahkan bahwa Jenggala selalu berupaya membungkus ingatan publik dalam bentuk seni, riset, dan ruang belajar yang membumi, agar generasi muda Bojonegoro tidak tercerabut dari konteks sejarahnya sendiri.
Monolog “Sekap” disutradarai oleh Zulfa Pamungkas, sementara naskahnya ditulis oleh Rudi—yang juga menjadi asisten sutradara. Monolog tersebut mengangkat kasus kekerasan terhadap seorang remaja bernama Lestari dari keluarga Nahdliyin.
Dalam penyampaiannya, Lestari dikisahkan menjadi korban stigma politik karena kegemarannya pada kesenian sandur yang pada periode tersebut sering dilekatkan dengan Lekra.
Narasi monolog menggambarkan proses penangkapan tanpa dasar hukum, kekerasan seksual, dan pembunuhan yang kemudian diakhiri dengan pembuangan jasad ke Bengawan Solo. Monolog ini disajikan sebagai contoh konkret bagaimana warga sipil menjadi sasaran represi negara pada 1965.
Pada area acara, disediakan pula beberapa lapak buku. IW Tualang membuka lapak buku yang berisi bacaan-bacaan sejarah, sosial, dan politik yang relevan dengan tema kekerasan 1965. Selain itu, Naora Djufri menampilkan lapak buku serta poster-poster penolakan terhadap rezim, sebagai bentuk ekspresi publik dan penguatan literasi politik di kalangan peserta.
Setelah pertunjukan, diskusi dimulai dengan moderator Jatmiko Budi, mahasiswa Unigoro. Pembicara pertama, Noviana Putri Anggraeni dari Unugiri, memaparkan mengenai gerakan perempuan Indonesia dengan penekanan pada posisi Gerwani sebelum 1965.
Ia memaparkan bahwa Gerwani menjalankan program pendidikan perempuan, kesehatan, ekonomi keluarga, hingga kerja sama dengan organisasi internasional.
Noviana menegaskan bahwa citra negatif Gerwani merupakan bagian dari rekayasa wacana negara untuk membenarkan tindakan represif. Ia juga menambahkan bahwa penelitian akademik terbaru menunjukkan banyak tuduhan terhadap Gerwani tidak memiliki dukungan data primer.
Pembicara kedua, Yusaf Alfa Zikin dari Aji Bojonegoro, memberikan kerangka analitis berupa lima kategori kekerasan untuk membaca struktur represi 1965 secara lebih sistematis. Pertama, kekerasan manusia yang terdiri dari penangkapan, penyiksaan, penghilangan paksa, dan pembunuhan. Kedua, kekerasan budaya yang dijalankan melalui media budaya dan simbol negara. Ketiga, kekerasan intelektual melalui pembatasan arsip, kurikulum, dan sejarah resmi. Keempat, kekerasan terhadap media melalui sensor, pembredelan, dan kontrol informasi. Kelima, kekerasan terhadap buruh melalui pembatasan hak berserikat dan pencegahan organisasi buruh.
Yusaf menegaskan bahwa memahami lima kategori tersebut penting agar studi mengenai kekerasan 1965 tidak berhenti pada aspek peristiwa, tetapi mengidentifikasi struktur yang menopang praktik represif dalam jangka panjang. Ia juga menambahkan bahwa pendekatan ini memungkinkan peneliti membaca hubungan antara kekuasaan, produksi pengetahuan, dan kebijakan negara.
Dalam sesi tanya jawab, sejumlah peserta mengemukakan kritik terhadap rencana negara yang mendorong Soeharto masuk dalam daftar pahlawan nasional. Mereka menyatakan bahwa kebijakan tersebut bertentangan dengan prinsip akuntabilitas negara terhadap pelanggaran HAM berat pada masa 1965 hingga era Orde Baru. Beberapa peserta menilai bahwa langkah negara tersebut berpotensi menghapus jejak sejarah kekerasan sekaligus mengabaikan korban. Dalam konteks Bojonegoro yang terdampak langsung oleh represi 1965, sikap kritis ini dianggap penting sebagai bagian dari kontrol sosial terhadap narasi negara.
Menjelang penutupan, Rudi selaku pendiri Perpustakaan Jenggala menjelaskan bahwa penyusunan Zine “Kuburan Terapung” dilakukan melalui proses pemilahan naskah yang ketat untuk menjaga akurasi data dan memastikan sensitivitas terhadap korban. Ia menyampaikan bahwa terdapat 13 tulisan tambahan yang belum diterbitkan dan dipertimbangkan untuk edisi selanjutnya. Selain itu, Rudi mengumumkan rencana safari diskusi ke sejumlah kampus dan komunitas sebagai langkah memperluas pembacaan kritis mengenai sejarah lokal dan kekerasan politik.
Acara ini menunjukkan adanya minat dan kapasitas generasi muda Bojonegoro dalam mengembangkan kajian sejarah berbasis data, arsip alternatif, dan testimoni warga. Peluncuran zine ini tidak hanya menjadi kegiatan seni dan literasi, tetapi juga forum edukasi yang mendorong pembacaan ulang terhadap peristiwa 1965 secara lebih objektif dan komprehensif.








