Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Alasan Kenapa Harus Menyelami Dunia Tulis Menulis

Muhammad Aufal Fresky by Muhammad Aufal Fresky
17/11/2025
in Cecurhatan
Alasan Kenapa Harus Menyelami Dunia Tulis Menulis

unsplash

Sepertinya saya sukar untuk mengelak lagi bahwa dunia tulis menulis memang betul-betul menyita perhatian saya. Kendatipun saya sendiri tidak begitu mengetahui, apakah dengan menekuni bidang jurnalistik otomatis menjanjikan kebebasan finansial ataupun kemasyhuran.

Apalagi, dunia sekarang berubah dengan begitu cepatnya. Teknologi informasi dan komunikasi semaknin canggih dan memungkinkan setiap orang untuk mencomot ide dari ruang maya kapan pun, di mana pun, dan dalam jumlah berapa pun.

Hanya dengan bermodalkan paket data atau Wifi, sebenarnya, setiap dari kita memiliki kesempatan sama untuk menjadi penulis. Hanya saya, pertanyaannya adalah, apakah kita bersedia melakoni prosesnya. Lebih-lebih, kita tahu sendiri, bahwa profesi penulis, terutama di negeri ini, belum begitu menjanjikan alias tidak begitu prospek.

Ketika di kampung, saya sendiri cukup kebingungan, ketika ada yang menanyakan apa profesi saya saat ini. Sebab tidak mungkin saya katakan sebagai esais ataupun kolumnis. Mungkin, sebagian akan geleng-geleng kepala, bertanya-tanya penasaran, istilah macam apa lagi itu. Apa ada kaitannya dengan komunis.

Entahlah, lebih amannya lagi saya hanya mengatakan saya seabagai “kuli tinta”. Ya, itu bahasa yang mungkin bisa cukup dicerna. Kuli tinta ini semacam kuli bangunan yang setiap harinya berhadapan dengan aktivitas pertukangan, seperti ngaduk semen, ngecat tembok, masang plafon, dan semacamnya. Mungkin, bedanya, saya hanya lebih memeras otak. Persamaannya, sama-sama dikejar deadline. Sama-sama dapat bayaran. Tapi, tidak jarang juga, penulis yang tidak dibayar. Alias hanya mendapatkan ucapan: terima kasih atas kontribusinya.

Lalu, yang membuat saya masih bertahan hingga saat ini bergelut dalam dunia pahat memahat kata ini adalah tiada lain tiada bukan karena ada dorongan dalam batin saya. Dorongan untuk menyampaikan kegusaran dan segala uneg-uneg dalam kepala lewat rangkaian aksara. Saya tidak bisa menahan diri untuk merangkai kata demi kata ketika ada sejumah isu atau persoalan publik yang menarik perhatian saya.

Tidak dalam rangka agar dikatakan sebagai intelektual publik. Juga tidak ada maksud agar disebut sebagai “problem solver”. Sama sekali bukan itu tujuan saya. Alasannya kalau diringkas yaitu karena cinta. Ya, saya menulis karena dilandasi kecintaan saya terhadap dunia tulis menulis.

Sebab, tidak jarang, saya sendiri menuliskan apapun yang terlintas dalam alam pikiran. Bagi saya, menulis telah menjadi “ritual” yang sifatnya sangat personal. Semacam sarana untuk bukan hanya lebih mengenal dan memahami diri, tapi juga bagaimana membangun kepribadian.

Sebab, dalam tulisan-tulisan itu, termaktub secara jelas, pandangan dan pendapat saya terkait sejumlah persoalan, baik yang sederhana hingga yang agak rumit dan berat. Saya memang tidak pernah membatasi diri untuk menuliskan tema-tema tertentu, seperti halnya ekonomi, politik, sosial, budaya, dan sejenisnya. Ya, saya membebaskan diri saya untuk menuliskan apa saja.

Meskipun, barangkali, tulisan itu sangat sederhana dan tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan publik, saya tetap menuliskannya. Setidaknya menjadi arsip pribadi. Siapa tahu, nanti bisa dibukukan dan menjadi rekam jejak pemikiran saya.

Jadi, jawaban atas pertanyaan kenapa saya setia menggeluti dunia tulis menulis yaitu sebab cinta. Tanpa cinta, mungkin saya sudah berhenti sejak lama. Jika memang saya mendambakan kemasyhuran atau pundi-pundi kekayaan lewat karya-karya yang saya hasilkan, mungkin saya sudah kecewa berat sejak beberapa tahun lalu.

Karena, faktanya adalah banyak media masa, entah itu cetak ataupun online, yang memang tidak memberikan honorarium terhadap para penulis. Mungkin selama ini hanya nama dan foto saya yang terpajang di berbagai media massa.

Sekilas nampak keren, tapi ya begitulah. Tulisan saya dibagikan secara cuma-cuma. Terkait media massa tersebut mengkomersilkan tulisan saya, itu lain persoalan. Saya tidak terlalu mempermasalahkan. Biarlah itu jadi urusan dapur mereka.

Sebab, sudah sejak awal, banyak media massa yang mencatumkan dalam box redaksi-nya tidak memberikan honor kepada penulisnya. Jadi semua yang mengirimkan tulisan dianggap secara sukarela. Sehingga, mau tidak mau, para penulis harus belajar menerima kenyataan yang bisa dikatakan cukup pahit. Para penulis menyumbang ide, tapi media massa hanya menampilkan foto dan nama mereka.

Biarlah, itu sudah hal yang lumrah. Banyak penulis lepas yang memahami akan hal itu. Pun demikian dengan saya yang tidak begitu mempermasalahkannya. Apalagi, bukan suatu hal yang baru, bahwa media massa sekarang, sudah hampir berada di senja kalanya.

Sebagian bahkan beralih ke online, sebagian menurunkan jumlah cetaknya, sebagian gulung tikar. Industri media di negeri boleh jadi sedang di ujung tanduk. Terkecuali, media-media besar yang modalnya besar. Sebab, mereka juga memiliki gurita bisnis lain selain media dan penerbitan.

Sebab itulah, pesan saya kepada para penulis yang hendak merintis karir di bidang kepenulisan, entah itu sebagia esais, kolumnis, penulis buku, cerpenis, dan sejenisnya, jangan dulu terburu-buru untuk mendapatkan hasil yang berlipat-lipat dari aktivitas menulisnya.

Sebab, jika harapan itu teramat besar dan menggebu-gebu, maka bersiap-siaplah menanggung kekecewaan. Tanyakan terlebih dahulu kepada diri kita masing-masing, sebenarnya untuk apa kita menulis? Kenapa harus menulis? Tanpa menemukan tujuan itu, bisa dipastikan kita gampang terombang-ambing oleh keadaan.

Apalagi jika yang didambakan hanya sebatas status sosial, uang, dan kekayaan. Itu motivasi yang menurut saya sifatnya temporal. Kita mesti menemukan motivasi yang lebih sejati lagi. Dan, saran saya, menulislah dengan hati, menulislah dengan penuh gairah, menuliskah dengan penuh rasa cinta. Jangan hiraukan dulu masalah honorarium, royalti, ataupun keterkenalan.

Sebab, jika tidak demikian, lambat laun, bukan tidak mungkin, motivasi kita akan semakin surut dan hilang sama sekali. Apalagi berhadapan dengan kenyataan bahwa industri media dan penerbitan di tanah air belum benar-benar menggeliat. Tengok saja, dari sejumlah penulis yang ada, berapa yang tenar, berapa yang kaya, dan berapa yang sejahtera dari hasil menulisnya?

*) Esais asal Madura

Tags: Dunia Tulis MenulisLiterasi Jurnaba
Previous Post

Kuburan Terapung: Pemutakhiran Ingatan Publik atas Kekerasan 1965 di Bojonegoro 

Next Post

BI: Dana Abadi Solusi Jangka Panjang Kemandirian dan Keberlangsungan Fiskal Daerah

BERITA MENARIK LAINNYA

Batu Bara dan Piring Kosong
Cecurhatan

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 
Cecurhatan

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026

Anyar Nabs

Batu Bara dan Piring Kosong

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: