Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Luncurkan Zine Langgar Penceng, Pustaka Jenggala Bahas Feodalisme dan Sikap Egaliter khas Bojonegoro

M. Baharuddin Romadhoni by M. Baharuddin Romadhoni
04/10/2026
in Cecurhatan
Luncurkan Zine Langgar Penceng, Pustaka Jenggala Bahas Feodalisme dan Sikap Egaliter khas Bojonegoro

Peluncuran zine Langgar Penceng dan Diskusi Publik (JnB)

Perbincangan tentang feodalisme, takzimisme, hingga DNA egalitarian khas masyarakat Bojonegoro.

Sejarah Islam Bojonegoro tak hanya tersimpan dalam cerita. Namun juga hidup dalam manuskrip, tradisi, hingga ingatan masyarakat. Pembahasan itu mengemuka dalam peluncuran zine Langgar Penceng sekaligus diskusi publik digelar di Perpustakaan Jenggala, Desa Wedi, Bojonegoro pada malam (3/10/2026).

Sebelum diskusi utama dimulai, acara diisi dengan pertunjukan musik oleh Elang Raafid Widiatmiko. Elang membawakan tiga lagu dengan selingan komentar mengenai situasi sosial-politik hari ini. Penampilannya cukup menarik perhatian peserta. Elang tampil mengenakan kacamata sambil membawa ukulele. Gayanya yang santai dan jenaka membuat suasana acara terasa lebih cair dan menarik perhatian publik yang hadir.

Biyan sedang Melukis Keberanian

Setelah penampilan musik, acara dilanjutkan dengan performance art oleh Biyan yang menggunakan triplek sebagai media gambar. Ia tampil mengenakan sarung dan songkok. Tangannya kemudian dimasukkan ke dalam cat dan digunakan untuk membuat gambar secara langsung di atas triplek.

Acara dilanjut dengan penampilan Galih, salah seorang peserta yang secara sukarela membacakan puisi karya Gus Mus berjudul “Aku Harus Bagaimana”, yang merupakan bagian dari koleksi puisi Gus Mus. Galih membacakan puisi tersebut di hadapan peserta sebelum acara memasuki sesi diskusi utama.

Pengetahuan Endemik Bojonegoro

Sesi diskusi menghadirkan periset budaya sekaligus editor Jurnaba, Ahmad Wahyu Rizkiawan yang dipandu Dyah Putri Amalia sebagai moderator. Dalam kegiatan itu, Rizki membahas sejumlah manuskrip dari Bojonegoro. Menurutnya, manuskrip tersebut penting untuk melihat pengetahuan dan tradisi Islam dari sudut pandang masyarakat.

“Kita harus mensubjekkan yang selama ini menjadi objek,” katanya.

Menurutnya, peradaban di Bojonegoro perlu ditelusuri melalui sumber-sumber lokal, termasuk manuskrip yang berkembang di lingkungan masyarakat. Dalam diskusi tersebut, Galih, seorang pemuda progresif  turut menyampaikan pertanyaan kepada Rizki mengenai karakter sikap khas masyarakat Bojonegoro.

Penyampaian materi dalam diskusi publik di Pustaka Jenggala (3/10/2026)

Menanggapi hal tersebut, Rizki menjelaskan bahwa Bojonegoro terbagi menjadi tiga klaster peradaban, yaitu masyarakat sungai, masyarakat pegunungan, dan masyarakat hutan. Di tiga klaster tersebut, kata Rizki, masing-masing menyimpan pengetahuan endemik yang harus terus dibahas dan diperbincangkan. Sebab, ketiganya memiliki filosofi hidup masing-masing.

“Di Bojonegoro, tiap klaster punya ageman masing-masing. Misalnya, masyarakat sungai memiliki Kaidah Perahu, masyarakat hutan memiliki Asem Jawi Pangimbang Jati, dan masyarakat pegunungan memiliki Lengo Urup Banyu Urip” ucap Rizki.

Dalam diskusi, Rizki juga menjelaskan Kaidah Perahu, ageman masyarakat sungai Bojonegoro yang tercatat dalam manuskrip. Menurutnya, motif perahu dalam manuskrip tersebut, menyimpan gagasan tentang perjalanan hidup. Gagasan ini bahkan ditulis secara eksplisit. Perahu digunakan sebagai gambaran manusia yang sedang melakukan perjalanan.

“Perahu itu menggambarkan perjalanan manusia. Ketika melakukan perjalanan, kita harus ingat untuk memulai dengan Bismillah dan tetap berhati-hati,” jelasnya.

Peluncuran Zine

Di tengah-tengah diskusi, Adam dan Rizal mewakili tim penerbitan Langgar Penceng untuk menjelaskan proses pembuatan zine. Langgar Penceng merupakan zine edisi kelima yang diproduksi Perpustakaan Jenggala. Zine tersebut dikerjakan oleh sekitar 20 orang. Adam menjelaskan bahwa dirinya juga mendapat kesempatan mewawancarai Rizkiawan untuk menjadi salah satu materi dalam zine.

Rizal menjelaskan proses pembuatan sampul Langgar Penceng. Konsep awal sampul berupa gambar sebuah langgar yang dibuat miring atau penceng. Setelah melihat kembali isi zine, konsep tersebut kemudian diubah karena dianggap belum cukup menggambarkan pembahasan yang ada di dalamnya.

Konsep sampul kemudian menggunakan figur yang terinspirasi dari Lady Justice atau Dewi Keadilan. Figur tersebut dimodifikasi menjadi seorang kiai dengan mata tertutup. Pada gambar tersebut terdapat uang dan tasbih. Menurut Rizal, konsep tersebut digunakan untuk mengkritik hubungan antara otoritas keagamaan, uang, simbol agama, dan kehidupan sosial.

“Visual tersebut berkaitan dengan pembahasan mengenai seseorang yang memiliki otoritas agama menggunakan posisinya untuk mendapat penghormatan atau keuntungan tertentu” ucap Rizal.

Takzimisme dan Feodalisme

Sesi tanya jawab berlangsung sangat aktif. Seorang peserta bernama Putra, mempertanyakan konsep takzim yang berkembang dalam tradisi pesantren. Ia bertanya, bagaimana membedakan penghormatan yang lahir dari kesadaran dengan penghormatan yang muncul karena dogma dan tekanan.

“Nah, bagaimana kita harus menyikapi takzim yang berbasis dogma?” tanya dia.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Rizki memberi penjelasan penting mengenai perbedaan antara feodalisme dan takzimisme. Kata Rizki, feodal merupakan sistem hierarki buatan manusia dengan sikap memaksa. Sementara takzim adalah sikap individu dalam menentukan kepada siapa dia harus menaruh hormat.

Rizki menjelaskan, feodalisme berasal dari bahasa Latin feodum, yang berarti tanah atau hak atas tanah sebagai imbalan pelayanan. orientasinya sistem hierarki, kepemilikan, privilese, dan relasi kuasa. Sementara takzim berasal dari bahasa Arab azim, yang berarti memuliakan atau menghormati. Orientasinya sikap etis.

“Jadi jelas ya, feodalitas ditentukan oleh sistem yang memaksa. Sementara takzimitas adalah hak prerogatif individu” tegas Rizki

Rizki kemudian menunjukan catatan manuskrip abad 19 M mengenai kondisi pesantren. Dalam catatan itu, tampak empiris bahwa pesantren merupakan lembaga yang menolak feodalisme. Artinya, jika hari ini ada pesantren yang mengkapitalisasi dan meng-industrialisasi penghormatan, itu bukan ajaran pesantren.

DNA Egaliter masyarakat Bojonegoro

Secara detail, Rizki menjelaskan tentang sikap dan kecenderungan karakter masyarakat Bojonegoro. Menurut Rizki, secara psikologi sosial, masyarakat Bojonegoro membawa DNA egaliter. Sikap ini bukan hal baru. Namun sudah sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun silam.

Dia mencontohkan dalam prasasti Telang (903), prasasti Sangsang (907), hingga prasasti Adan-adan (1301), digambarkan masyarakat Bojonegoro dipenuhi para brahmana pemikir yang tidak takut dengan kuasa raja. Bahkan, raja harus menaruh hormat pada para brahmana di Bojonegoro.

Kemudian saat Islam datang, Islam di Bojonegoro berkembang bukan dari penaklukan. Namun dari mekanisme dialektika dan kesetaraan. Terbukti dari pepatah: kudu isa ngluhurake sing asor lan iso ngasorake sing luhur. Kata dia, pepatah Bojonegoro ini bukti tradisi egaliter terbangun dari sikap yang berdaulat.

Sikap-sikap itu, kata Rizki, bahkan terus berlangsung hingga masa yang lebih belakangan. Dia mencontohkan posisi Bojonegoro yang selalu menjadi penentu dalam sejumlah peristiwa sejarah seperti Perang Alas Jati (1810) dan Perang Jawa (1825). Tokoh seperti Diponegoro saja, kata dia, hormat pada Bojonegoro. Bahkan sampai memperistri dua perempuan dari Bojonegoro untuk membangun hubungan sosial dengan wilayah ini.

” Data empiris semacam ini penting untuk diketahui, karena tak diakomodir narasi penguasa” ucap dia.

Suara dari para peserta

Galih Santoso, salah satu peserta menilai keberhasilan sebuah acara dari pengetahuan baru yang dibawa pulang. Menurutnya, kegiatan yang digelar Perpustakaan Jenggala tersebut memberinya perspektif baru mengenai sejarah dan kondisi Bojonegoro. Secara personal, Galih menyebut kesuksesan acara bisa dilihat dari adanya pengetahuan baru yang didapat.

“Acara ini membuka mataku soal pengkondisian sistemik, di mana berbagai konsesi seperti rel kereta api, hutan jati, dan minyak bumi membuat heroisme, bahkan sekadar rasa bangga dan ngerti tentang tanah kelahiran saja, nggak bisa muncul di sini,” ucap Galih.

Galih mengaku sempat skeptis sebelum mengikuti acara karena tema yang dibahas berkaitan dengan agama. Ia khawatir diskusi akan bersifat apologetis atau cenderung membela suatu pandangan keagamaan. Namun acara ini justru membawa sudut pandang yang sangat berbeda.

“Dan justru ada stance yang tegas kalau respect itu hak prerogatif tiap orang. Ini sejalan sama prinsip yang aku pegang,” katanya.

Menurut Galih, rangkaian acara juga terasa menarik karena diskusi diselingi dengan berbagai pertunjukan seni, mulai dari musik, puisi, hingga performance. Meski demikian, Galih menilai masih ada hal yang dapat diperbaiki dalam penyelenggaraan berikutnya. Salah satunya berkaitan dengan waktu acara yang molor sehingga kesempatan peserta untuk berdiskusi menjadi lebih terbatas.

Menurut Galih, andai waktunya tudak molor, pasti bisa memberi kesempatan lebih banyak peserta untuk berdiskusi lebih lama. Namun begitu, Galih sangat mengapresiasi pemateri yang bersedia menanggapi pertanyaan peserta, bahkan ketika acara selesai.

“Untungnya Mas Rizky masih bersedia nanggepin pertanyaan audiens bahkan setelah selesai acara” ucap dia.

Sementara Nurul Firdaus menilai kegiatan peluncuran zine tersebut cukup menarik. Ia mengaku tidak dapat mengikuti acara sampai selesai, tetapi menikmati sejumlah pertunjukan dan diskusi. Nurul menilai pembahasan mengenai sejarah Islam Bojonegoro memberi pengetahuan baru baginya.

“Materi yang disampaikan membuatku semakin mengenal keunikan Bojonegoro,” katanya.

Melalui peluncuran Langgar Penceng, Perpustakaan Jenggala membawa pembahasan sejarah Islam Bojonegoro ke ruang diskusi yang melibatkan masyarakat umum. Pembahasan tidak berhenti pada sejarah ulama dan pesantren, namun juga masuk pada khasanah manuskrip, serta pertanyaan mengenai feodalisme dalam keagamaan.

Previous Post

Bahaya Laten Hobi Mancing Mengintai Isi Kulkas Rumah Tangga

BERITA MENARIK LAINNYA

Petakan Air Sungai, Tim Ekspedisi Patriot Unair Hadirkan Sumur Bor untuk Warga Manukwari
Cecurhatan

Petakan Air Sungai, Tim Ekspedisi Patriot Unair Hadirkan Sumur Bor untuk Warga Manukwari

02/10/2026
Ketika Pacul Dikalahkan Oleh Harapan Palsu
Cecurhatan

Ketika Pacul Dikalahkan Oleh Harapan Palsu

27/09/2026
Hari Mimpi Sedunia: Ketika Mimpi Menjadi Target
Cecurhatan

Hari Mimpi Sedunia: Ketika Mimpi Menjadi Target

25/09/2026

Anyar Nabs

Luncurkan Zine Langgar Penceng, Pustaka Jenggala Bahas Feodalisme dan Sikap Egaliter khas Bojonegoro

Luncurkan Zine Langgar Penceng, Pustaka Jenggala Bahas Feodalisme dan Sikap Egaliter khas Bojonegoro

04/10/2026
Bahaya Laten Hobi Mancing Mengintai Isi Kulkas Rumah Tangga

Bahaya Laten Hobi Mancing Mengintai Isi Kulkas Rumah Tangga

03/10/2026
5 Perempuan Muslim Pengubah Wajah Dunia

5 Perempuan Muslim Pengubah Wajah Dunia

03/10/2026
Petakan Air Sungai, Tim Ekspedisi Patriot Unair Hadirkan Sumur Bor untuk Warga Manukwari

Petakan Air Sungai, Tim Ekspedisi Patriot Unair Hadirkan Sumur Bor untuk Warga Manukwari

02/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: