Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Masjid Ibrahimi Palestina, Tragedi Situs Suci Tertua (2)

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
01/04/2026
in Cecurhatan
Masjid Ibrahimi Palestina, Tragedi Situs Suci Tertua (2)

Masjid Ibrahimi Hebron (2)

Ia telah melihat kekaisaran bangkit dan runtuh, para penguasa datang dan pergi, darah mengalir dan mengering. Mereka tahu, pada akhirnya, yang abadi bukanlah kekuasaan. Yang abadi hanyalah Yang Maha Abadi!

Kemudian datanglah tahun 637 M. Pada tahun itu, pasukan kaum Muslim di bawah Umar bin Al-Khaththab memasuki Palestina. Tidak seperti penakluk sebelumnya yang menghancurkan, Umar justru memerintahkan pembangunan kembali.

Di atas fondasi Herodian yang kokoh, dibangunlah masjid beratap. Yang menarik, para penguasa Muslim awal tidak bersikap eksklusif. Mereka mengizinkan pembangunan dua sinagog kecil di dalam komplek yang sama.

Pada masa ini, orang-orang Yahudi dan Kristen masih leluasa berziarah ke makam leluhur mereka tanpa gangguan. Sebuah laporan dari tahun 570 M-sebelum penaklukan Islam-malah mencatat bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen berbagi kepemilikan atas situs ini. Toleransi ini bertahan selama berabad-abad, hingga gelombang perang berikutnya menghantam.

Pada tahun 1099, Pasukan Salib Eropa merebut Jerusalem dan seluruh Palestina. Mereka tiba di Hebron dan menemukan masjid yang indah. Tanpa berpikir panjang, mereka mengusir para imam dan mengubah bangunan itu menjadi gereja dan menamakannya Castle of Saint Abraham.

Selama 88 tahun, tiada azan berkumandang di Hebron. Yang terdengar hanyalah nyanyian Gregorian dan derap sepatu ksatria Eropa. Mereka malah membangun sebuah gereja bergaya Roma di bagian tenggara komplek: bangunan yang hingga kini masih menjadi bagian dari Masjid Ibrahimi.

Namun, kala itu, jauh di Mesir, seorang panglima sedang menyusun kekuatan. Namanya Shalahuddin Al-Ayyubi. Atau yang dikenal Barat sebagai Saladin. Pada tahun 1187, ia berhasil merebut kembali Jerusalem dan seluruh Palestina ke tangan kaum Muslim.

Ketika pasukannya memasuki Hebron, ia melakukan sesuatu yang cerdas: ia tidak menghancurkan Gereja Salib. Namun, ia mengubahnya kembali menjadi masjid dengan menambahkan mihrab di dinding kiblat.

Namun, satu tindakan Shalahuddin Al-Ayyubi yang paling berharga adalah menyelamatkan sebuah mimbar. Mimbar kayu itu awalnya dibuat atas perintah Badr Al-Din Al-Jamali, seorang pangeran Fatimiyah, pada tahun 1092 M: tujuh tahun sebelum Pasukan Salib datang.

Mimbar itu sempat diselamatkan dan disimpan di Asqalan atau Ashkelon. Shalahuddin memindahkannya ke Hebron. Sejak saat itu, mimbar tersebut digunakan untuk khutbah Jumat. Para ahli menganggapnya sebagai mimbar kayu Islam tertua yang masih digunakan di dunia. Ia adalah benang yang menghubungkan masa Fatimiyah, Ayyubiyah, hingga abad ke-21.

Masjid Ibrahimi Hebron (2)

Setelah dinasti yang didirikan Shalahuddin Al-Ayyubi berlalu, giliran Kesultanan Mamluk yang berkuasa di Palestina (1250-1517 M). Mereka adalah penggemar berat arsitektur. Di Hebron, mereka tidak hanya merawat bangunan yang ada. Namun, mereka juga memperluas fasilitas masjid tanpa mengubah fitur aslinya.

Pada masa inilah dua menara Mamluk yang masih berdiri hingga kini dibangun. Masing-masing setinggi sekitar 15 meter dari permukaan bangunan. Seorang pangeran bernama Tankaz Al-Nashiri pada tahun 1332 M melapisi dinding-dinding ruang shalat dengan marmer polikrom: marmer berbagai warna yang dipotong dan disusun membentuk pola-pola indah. Sebelumnya, dibangun pula dikkat al-muballigh-mihrab tempat imam membacakan doa-dari pilar-pilar marmer yang anggun.

Salah satu mahakarya arsitektur dari periode ini adalah Masjid Al-Jawali, dibangun tahun 1320 M atas perintah Pangeran Alam al-Din Sanjar Al-Jawali. Uniknya, masjid ini tidak terlihat dari luar karena bersandar pada dinding timur komplek, dengan tiga sisi lainnya dipahat dari batu cadas. Kubah batunya yang dihiasi ornamen muqarnas masih dapat dikagumi hingga kini.

Selepas era Mamluk, datanglah era Turki Usmani (1517-1917 M). Berbeda dengan para penguasa Mamluk yang suka menambah, para penguasa Turki Usmani justru bersikap sangat hati-hati. Mereka fokus pada perlindungan bangunan dan menjaga kualitasnya tanpa menambahkan hal-hal baru yang signifikan. Selama 400 tahun, Masjid Ibrahimi hidup dalam ketenangan relatif, menjadi tujuan ziarah utama bagi kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia.

Perang Dunia Pertama mengubah segalanya. Turki Usmani kalah dan Inggris datang sebagai pemenang. Palestina menjadi wilayah mandat Inggris. Untuk pertama kalinya sejak Perang Salib, penguasa non-Muslim kembali menguasai Hebron.

Dampaknya terasa pada kemampuan umat Islam dalam mengelola tempat suci mereka. Dana perawatan menyusut. Wewenang berkurang. Namun, “Dewan Islam Tertinggi” yang dibentuk Inggris tetap berusaha melakukan perbaikan-perbaikan arsitektural.

Tahun 1948, Inggris pergi. Perang Arab-Israel meletus. Ketika debu perang reda, Tepi Barat-termasuk Hebron-berada di bawah kendali Jordania. Selama 19 tahun (1948-1967), Jordania menunjukkan perhatian besar pada Masjid Ibrahimi.

Mereka memperluas ruang di sekitarnya, menciptakan area terbuka yang memperindah pemandangan arsitektur, dan melakukan berbagai renovasi. Bagi penduduk Hebron, masa Jordania adalah masa terakhir di mana mereka dapat beribadah dengan tenang, tanpa rasa takut, tanpa bayang-bayang senjata.

Semua itu berakhir dalam sekejap pada Juni 1967. Perang Enam Hari Juni 1967 pecah. Dalam hitungan jam, tentara Israel berhasil merebut Jerusalem Timur, Tepi Barat, Gaza, Sinai, dan Dataran Tinggi Golan. Hebron jatuh ke tangan pasukan pendudukan Israel.

Untuk pertama kalinya dalam 1.300 tahun-sejak masa pemerintahan Umar-kota para Nabi ini kembali berada di bawah kekuasaan non-Muslim. Namun kali ini berbeda. Ini bukan kekuasaan yang toleran seperti masa Bizantium awal. Namun, merupakan pendudukan militer yang disertai gelombang pendirian dan pembangunan pemukiman Yahudi.

Segera setelah perang usai, sebuah sinagog didirikan di dalam Komplek Masjid Ibrahimi untuk pertama kalinya. Pemukiman Kiryat Arba dibangun di atas bukit yang menghadap Hebron. Jalan-jalan mulai dipisahkan. Pemeriksaan militer mulai diberlakukan.

Bagi jamaah Muslim yang biasa datang dengan tenang, kini setiap kunjungan ke masjid harus melewati pos pemeriksaan. Tentara Israel memeriksa identitas, memeriksa tas, kadang memerintahkan membuka sepatu. Suasana ibadah mulai berbaur dengan suasana penjara.

Fajar Berdarah 1994

Namun, puncak dari semua kekejaman itu belum datang. Kekejaman itu datang 27 tahun kemudian, pada bulan Ramadhan yang seharusnya penuh berkah.

Waktu saat itu menunjuk tanggal 25 Februari 1994 yang bertepatan dengan 15 Ramadhan 1414 Hijriah. Waktu menunjuk pukul 05.00 pagi. Langit Hebron masih gelap. Bintang-bintang masih bertaburan. Di dalam Masjid Ibrahimi, sekitar 800 jamaah sedang khusyuk melaksanakan shalat Subuh. Tak lama kemudian, seorang pria berjanggut memasuki masjid. Namanya Baruch Goldstein, seorang dokter asal Amerika Serikat yang tinggal di Pemukiman Kiryat Arba. Ia mengenakan seragam tentara cadangan Israel. Di balik jubahnya, ia menyembunyikan senapan serbu Galil.

Tanpa peringatan, Goldstein berdiri di barisan paling belakang, mengangkat senjatanya, dan melepaskan tembakan ke arah jamaah yang sedang bersujud. Satu magasin, ganti magasin, tembak lagi, ganti magasin, tembak lagi. Peluru bersarang di punggung, di kepala, di leher orang-orang yang tidak sempat mengangkat wajah dari sajadah. Pembantaian baru berhenti setelah Goldstein kehabisan amunisi. Beberapa jamaah yang selamat kemudian menyerangnya dan menghajarnya hingga tewas. Namun, kekacauan belum berakhir. Di luar masjid, kerusuhan pecah. Ketika semua selesai, 29 jamaah Palestina tewas, 125 lainnya terluka.

Pembantaian itu mengguncang dunia. Israel membentuk komisi penyelidikan. Hasilnya? Bukan hukuman bagi para pemukim Yahudi yang terus melakukan provokasi. Namun, rekomendasi yang justru melanggengkan segregasi: Masjid Ibrahimi harus dibagi. Enam puluh persen area masjid-bagian terbesar, termasuk ruang shalat utama dengan mihrab dan mimbar bersejarah-dialokasikan untuk orang-orang Yahudi. Hanya 40 persen sisanya untuk kaum Muslim.

Pembagian ini tidak berdasarkan sejarah. Juga, tidak berdasarkan hukum internasional. Namun, berdasarkan politik kekerasan: seorang teroris Yahudi membantai jamaah Muslim yang sedang melaksanakan shalat. Sebagai akibatnya, jamaah Muslim kehilangan separuh masjid mereka.

Dinding-dinding pemisah pun didirikan. Pintu-pintu ditutup. Akses diatur dengan jadwal ketat. Pada hari-hari tertentu, kaum Muslim malah dilarang sama sekali memasuki bagian mereka sendiri. Jalan Syuhada-yang dulu menjadi jantung komersial Hebron yang ramai-ditutup untuk warga Palestina, berubah menjadi lorong hantu yang hanya dilalui patroli militer.

Tiga puluh dua tahun telah berlalu sejak fajar berdarah itu. Namun, bagi penduduk Hebron, hari ini tidak lebih baik dari kemarin. Laporan-laporan dari Januari hingga Februari 2026 menggambarkan situasi yang kian mencekik. Pada Januari 2026, dalam sebuah pertemuan darurat di Hebron, Menteri Pariwisata dan Purbakala Palestina Hani al-Hayek, Menteri Wakaf Muhammad Najm, dan Gubernur Hebron Khaled Dudin mengumumkan kabar buruk: otoritas pendudukan Israel secara sepihak mencabut kewenangan Palestina atas Masjid Ibrahimi.

Apa artinya?

Secara praktis, ini berarti: gerbang timur masjid ditutup setelah pemasangan lift untuk pemukim; unit pengontrol air dan listrik diambil alih tentara Israel; azan dilarang pada jam-jam tertentu; para penjaga masjid dibatasi geraknya, didampingi tentara ketika bekerja; dan fitur internal dan eksternal masjid diubah tanpa koordinasi dengan Badan Wakaf Masjid.

Kemudian, pada Februari 2026 ini, otoritas pendudukan mengumumkan langkah lebih jauh: mereka mengambil alih wewenang penerbitan izin bangunan di Hebron dari Otoritas Palestina ke administrasi militer Israel. Ini berarti mereka bisa secara sepihak melakukan perubahan struktural di Masjid Ibrahimi tanpa perlu persetujuan siapa pun: mengubah ruang dan menambah tembok. Malah, mungkin secara bertahap mengubah seluruh bangunan menjadi sinagog.

Yang Abadi hanyalah Yang Maha Abadi

Pada bulan Ramadhan 2026 ini, seharusnya Masjid Ibrahimi bersiap menyambut ribuan jamaah yang ingin beriktikaf, berbuka puasa, dan memburu Lailatul Qadar. Seharusnya, mimbar kayu Fatimiyah yang berusia 934 tahun itu kembali bergema dengan ayat-ayat suci. Namun kenyataannya berbeda: laporan dari dalam masjid menyebutkan bahwa otoritas pendudukan mencegah masuknya pasokan penting ke masjid selama bulan Ramadhan. Termasuk air minum, kurma, dan peralatan kebersihan. Para imam dan muazin menghadapi pelecehan terus-menerus. Setiap kali muazin ingin mengumandangkan azan, ia harus didampingi tentara, dan azan bisa dilarang secara sewenang-wenang.

Jumlah jamaah yang bisa mencapai masjid turun 50 persen, akibat dari pemeriksaan keamanan yang ketat. Warga Palestina terpaksa mengambil jalan-jalan pegunungan yang berliku untuk menghindari pos-pos pemeriksaan permanen yang memisahkan satu lingkungan dari lingkungan lain. Jalan-jalan utama di Kota Tua Hebron bagaikan kota mati yang hanya dihuni beberapa ratus pemukim Yahudi yang dilindungi ribuan tentara.

Masjid Ibrahimi adalah cermin bagi kita semua. Ia menunjukkan bahwa tempat suci dapat menjadi tempat paling profan ketika politik masuk dengan seragam tentara. Ia menunjukkan bahwa iman dapat dipersatukan oleh leluhur yang sama. Namun, juga bisa dipecah belah oleh kepentingan yang berbeda!

Namun, di tengah semua kegelapan itu, masih ada secercah cahaya. Setiap hari, meski hanya 40 persen masjid yang tersisa, para jamaah Palestina tetap datang. Mereka tetap bersujud di lantai yang sama tempat kakek buyut mereka bersujud. Mereka tetap membaca doa yang sama yang dibaca para Nabi ribuan tahun lalu. Mereka tetap berpuasa di bulan yang sama, menanti malam yang sama: malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Otoritas pendudukan Israel bisa mengubah nama. Bisa membagi ruang. Juga, bisa melarang azan dan bisa menggembok pintu. Namun, mereka tidak bisa mengubah apa yang ada di dalam hati. Mereka tidak bisa menghentikan doa yang dipanjatkan dalam hening, di sela-sela jemari yang menggenggam sajadah. Mereka telah melihat kekaisaran bangkit dan runtuh, para penguasa datang dan pergi, darah mengalir dan mengering. Mereka tahu, pada akhirnya, yang abadi bukanlah kekuasaan. Bukan politik. Bukan tembok pemisah. Yang abadi hanyalah Yang Maha Abadi!

 

Tags: Catatan Rofi' UsmaniMakin Tahu IndonesiaMasjid Ibrahimi Palestina
Previous Post

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

Next Post

‎DPRD Bojonegoro Matangkan Raperda Pariwisata, Petakan 74 Destinasi Unggulan

BERITA MENARIK LAINNYA

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
Di Antara Embargo dan Martabat
Cecurhatan

Di Antara Embargo dan Martabat

07/04/2026
Negara Arab: Perjanjian Dinasti Saudi dan Keluarga Wahabi
Cecurhatan

Negara Arab: Perjanjian Dinasti Saudi dan Keluarga Wahabi

05/04/2026

Anyar Nabs

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara

Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara

12/04/2026
Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan

Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan

12/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: