Dari dunia fisika dan teknik antariksa, kini kita beralih ke keahlian yang lebih dekat dengan keseharian kita: ilmu jaringan. Kali ini, kita bersilaturahmi dengan Ali Jadbabaie. Lahir di Iran, ia adalah seorang ilmuwan sistem dan teori keputusan yang luar biasa.
Ia saat ini menjabat sebagai JR East Professor of Engineering dan Associate Director of the Institute for Data, Systems and Society di Massachusetts Institute of Technology (MIT), salah satu universitas teknik terbaik di dunia.
Perjalanan intelektual Jadbabaie dimulai dari Iran, di mana ia meraih gelar sarjana di Universitas Teknologi Sharif. Namun, ia tahu bahwa untuk mencapai puncak dalam dunia sistem dan kontrol yang kompleks, ia harus pergi ke pusatnya.
Dia melanjutkan studi ke AS, meraih gelar master dan PhD, dan kemudian menjadi profesor di University of Pennsylvania sebelum akhirnya direkrut oleh MIT.
Penelitian Jadbabaie sangat berpengaruh. Ia dikenal secara internasional sebagai pakar dalam kontrol dan koordinasi formasi multi-robot, optimasi terdistribusi, ekonomi jaringan, dan ilmu jaringan.
Ia mempelajari bagaimana sekelompok entitas (seperti robot, drone, atau bahkan sel dalam tubuh) dapat berkoordinasi tanpa kendali pusat: sebuah konsep fundamental dalam pengembangan kecerdasan buatan dan sistem otonom.
Minat penelitiannya saat ini mencakup “interplay antara sistem dinamis dan jaringan, dengan penekanan khusus pada koordinasi dan kontrol multi-agen, optimasi terdistribusi, ilmu jaringan, dan ekonomi jaringan”.
Di tengah hiruk-pikuk laboratorium MIT, Ali Jadbabaai mungkin mengingat masa kecilnya di Iran, dan bagaimana perjalanan hidupnya membawanya menjadi salah satu otak di balik masa depan teknologi konektivitas.
Ia tidak hanya mengajar. Juga, ia membangun fondasi bagi dunia yang kian terhubung, di mana mesin dan manusia dapat berkomunikasi secara lebih efisien.
Ilmuwan Iran berikut yang berhasil “menundukkan” Lembah Para Jenius adalah Nima Arkani-Hamed: seorang ilmuwan berdarah Iran yang berhasil membongkar rahasia partikel dan ruang-waktu. Lahir di Houston dari orang tua fisikawan Iran, ia memilih jalan yang lebih fundamental: memahami materi paling dasar pembentuk alam semesta.
Arkani-Hamed adalah seorang fisikawan teoretis dengan jangkauan minat yang sangat luas, mulai dari fisika energi tinggi, teori string, hingga kosmologi. Ia menghabiskan sebagian besar kariernya untuk menantang teori-teori mapan.
Ia pernah menjadi profesor di Harvard dan UC Berkeley, dan kini menjadi anggota fakultas di Institute for Advanced Study (IAS) di Princeton: tempat yang sama di mana Albert Einstein pernah menghabiskan tahun-tahun terakhirnya.
Kontribusi paling terkenal Arkani-Hamed adalah dalam teori amplitudo hamburan. Bersama Jaroslav Trnka, ia memperkenalkan konsep “amplituhedron”, sebuah struktur geometris revolusioner yang menyederhanakan perhitungan interaksi partikel dalam teori medan kuantum tertentu. Penemuan ini tidak hanya mempermudah perhitungan.
Namun, juga mengisyaratkan bahwa ruang-waktu itu sendiri mungkin bukanlah fondasi fundamental alam semesta. Ini seperti yang ia ungkapkan, “Ruang-waktu telah mati,” sebuah pernyataan berani yang mengguncang dunia fisika.
Dengan gaya berpikir yang berani dan orisinal, Arkani-Hamed kerap dianggap sebagai salah satu fisikawan teoretis paling cemerlang di generasinya. Ia membuktikan bahwa keberanian intelektual adalah bahan bakar utama kemajuan sains, sebuah warisan yang ia bawa jauh dari akar Iran-nya.








