Menikah, memiliki anak, dan menjadi orang tua dengan segala panggilannya, adalah tanggung jawab untuk bersama-sama belajar tak tergoda rumput tetangga.
Pandemi di tahun ini mengubah banyak hal dalam laku dan tatanan manusia. Silaturahmi dan halalbihalal yang biasanya ramai sebagai ajang jumpa tatap muka tetap berjalan, meski dengan medium lain. Pakai Google Meet, salah satunya.
Saat silaturahmi dengan teman-teman semasa di Yogya, Syawal lalu, kami menggunakan aplikasi tersebut. Kebetulan nama yang kupakai di akun Google adalah “Bapak Fulan”. Banyak yang bertanya, siapa sih “Bapak Fulan” ini. Setelah aku mengenalkan diri, akhirnya semua tahu.
Menariknya, ada seorang kawan yang berkomentar: “Oalah, “Bapak Fulan” itu Mas Syauqi toh. Kok zaman sekarang masih pakai panggilan “Bapak”, kok gak Ayah, Abi, Abah, Papa atau yang lain yang populer gitu.” Wkwkwkwk. Aku tidak menanggapi, hanya senyum.
Beberapa waktu lalu cerita yang mirip juga terjadi. Kali ini kejadiannya dialami istriku. Anak kami beberapa kali ikut dan diajak ke kantor istri. “Mamak,” teriak anak kami. Mendengar teriakan tersebut, ada teman istri yang berkomentar: “Lho kok manggilnya Mamak, tidak yang lain gitu.” Istriku hanya senyum saat menceritakan kepadaku.
Aku masih ingat pernah ada sebuah meme yang beredar di media sosial tentang singkatan ASI yang diubah mengikuti panggilan untuk seorang ibu. Bagaimana ASI untuk manggilan mama, bunda, ummi, dll.
Sejujurnya, aku tidak tertarik dengan meme itu. Apapun panggilannya, pertama-tama itu kembali ke masing-masing pasangan. Kedua, lebih dari soal panggilan adalah tentang bagaimana menjadi ibu dan bapak yang baik. Dan, menjadi baik itu, mensyaratkan satu hal: belajar.
***
Pagi ini saat mengantar ibuku hendak berobat, aku mendengarkan lagu lewat YouTube. Lagu pertama yang aku cari dan pilih adalah The Reason dari Hoobastank. Secara acak, setelah lagu itu, lagu yang terdengar adalah Stay Together for the Kids yang Blink 182.
Blink 182, band pop punk, sangat populer di SMA-ku dulu. Bahkan, di SMA-ku dulu ada sebuah band yang mengikuti gaya dan memainkan lagu-lagu Blink 182. The Potatoes Family, nama band itu.
50% of all american households are destroyed by divorce, video klip lagu yang dinyanyikan Blink 182 itu dibuka dengan kalimat ini. Di Amerika Seriakat, kehidupan rumah tangga yang harmonis, rusak karena persoalan perceraian.
Set video klip sebuah rumah yang sudah tak terbentuk, pelan-pelan mengalami kehancuran dan rubuh akibat hempasan beban berat, menggambarkan sebuah perceraian sebagai peristiwa tragis.
Lagu Stay Together for the Kids menceritakan pengalaman pribadi personel Blink 182 yang mengalami perasaan hancur karena orang tuanya bercerai.
Hari-hari, seorang anak yang orang tuanya bercerai, digambarkan dengan pedih: It’s hard to wake up, when the shades have been pulled shut, this house is haunted, it’s so pathetic. What stupid poem could fix this home, i’d read it every day.
***
Keyakinanku sampai tahap haqqul yakin, bahwasnya sepasang manusia yang melangkah ke jenjang pernikahan tidak pernah membayangkan apalagi menginginkan terjadinya perceraian.
Tidak ada satu pun pasangan. Semua pasangan menghendaki pernikahan yang dilakukannya adalah untuk selamanya, hingga maut memisahkan.
Saat kami menikah empat tahun lalu, seorang ustaz menghadiahi kami sebuah buku. Buku itu tidak terlalu tebal, buku sekitar 150-an halaman itu berjudul Rumput Tetangga Tidak Lebih Hijau. Benar, salah satu kunci pernikahan, adalah berkonsentrasi atas apa yang ada pada diri sendiri, tidak menjadikan apa-apa yang ada di orang lain sebagai patokan. Termasuk, memiliki anak, dengan segala potensi dan kemampuannya.
Menikah, memiliki anak, dan menjadi orang tua dengan apapun panggilannya memiliki tanggung jawab untuk bersama-sama belajar menjadikan rumah tangga sebagai tempat bertumbuh dan laksana surga. Agar rumah tidak menjadi laksana berhantu, menyeramkan, dan tidak menjadi tempat pulang yang dirindukan.
Setiap habis menerima rapor dan meperoleh peringkat di kelas saat sekolah dulu, aku sering memperoleh nasihat ini: Memperoleh itu lebih mudah daripada mepertahankan.
Mempertahankan pernikahan tentu berlipat-lipat lebih sulit dibanding memperoleh pasangan dan menikah. Jika sampai pada titik terburuk dan tidak bisa dipertahankan — tentu berharap semoga tidak — Blink 182 menitip sebuah pesan: Stay Together for The Kids.








