Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Obat Urus-urus dan Perut Mulas: Hikmah Humor dan Pencurian (5)

Alfi Saifullah by Alfi Saifullah
09/08/2025
in Cecurhatan
Obat Urus-urus dan Perut Mulas: Hikmah Humor dan Pencurian (5)

Ilustrasi: Hikmah Humor dan Pencurian (5)

Seorang polisi―sebut saja namanya Mukidin, pulang dari rumah Kiai Cholil bin Abdul Latief atau Syaichona Cholil Bangkalan. Langkahnya lunglai, berat, dan setengah putus asa ia menaiki kendaraan umum.

Di tengah jalan, perutnya mulai memberontak. Mulas. Perutnya benar-benar melilit, tak bisa diajak kompromi. Keringatnya bercucuran memenuhi pelipis. Ia minta berhenti, turun, dan segera mencari tempat di tepi Sungai yang agak curam. Pada saat kisah ini berlangsung, di Pulau Madura masih langka akan WC. Urusan yang menimpa Mukidin seringkali diselesaikan di pinggir sungai.

Sungai itu sunyi. Airnya nyaris tak bergerak. Tak jauh dari sungai―pelepah-pelepah pisang bergoyang pelan tertiup angin. Diantara pelepah itu seperti menyembunyikan sesuatu―saat Mukidin hendak jongkok, tiba-tiba pandangannya tertuju dengan sepasang mata. Mata itu tampak liar, panik, seperti hewan buruan yang kehabisan ruang: Pencuri.

Mukidin menemukan pencuri yang selama ini ia cari. Pencuri itu diam di balik semak belukar, diantara pohon pisang. Ia menyangka, dengan cara itu akan menyelamatkan. Tapi, bak malam yang tak selalu berpihak pada kegelapan, begitulah hal ihwal pencuri itu. Tak ada teriakan. Tak ada tembakan. Hanya diam berpadu dengan takut sebelum ia diborgol.

Tanpa sempat menyelesaikan urusannya, Mukidin meloncat. Ia tangkap lengan si pencuri yang seperti kambing yang dicocol hidungnya. Dalam hitungan menit, lelaki itu berhasil dilumpuhkan dan diborgol kedua tangannya. Pencuri akhirnya tertangkap. Di tempat yang tak terduga, bahkan diluar prosedur penangkapan.

Sebelumnya, beberapa hari belakangan, Pak Polisi Mukidin, seorang polisi senior, sibuk mencari pencuri. Ia mendapat laporan dari Masyarakat tentang pencuri yang sempat meresahkan daerah Bangkalan dan sekitarnya. Namun, pencuri itu licin, tak ubahnya belut yang tak meninggalkan jejak.

Dikejar ke pasar lenyap, dikepung di terminal hilang, disergap di kebun malah tinggal sandalnya saja. Mukidin pun kehabisan akal. Alhasil ia memutuskan sowan kepada Syaichona Cholil―seorang ulama yang cukup di segani di Bangkalan, bahkan seantero Jawa-Madura. Ia datang sebagai sosok yang kalah oleh waktu.

Ketika sampai di kediaman Syaichona Cholil, ulama kharismatik itu bertanya,

Apa se ekaparlo ba’na? (Kamu ada keperluan apa?)

Sengko’ nyare maleng, Kiai. Saantero kottha ban disa la esare, tape tadha’ hasella. Ngereng parenge bimbingan, Kiai. (Saya memburu pencuri, Kiai. Seluruh kota dan desa sudah dilacak, tapi tak ada hasil. Mohon petunjuk kiai), Jawab Polisi Mukidin.

Syaichona Cholil menghela napas, sejurus kemudian memanggil salah satu santrinya. Menyuruhnya membeli obat urus-urus―obat untuk sakit perut dan sembelit.

Di Madura, obat jenis ini biasanya dikenal dengan nama Broklat. Setelah siap, lantas Syaichona Cholil menyuruh Mukidin untuk meminum obat tersebut. Mukidin mengeryitkan dahi. Tertegun. Rasa heran menyergap kesadarannya―ia datang untuk urusan pencuri, malah disuruh minum obat urus-urus.

kaulâh ngenom rèya, Kiai? (Saya minum ini kiai?), tanya Mukidin. Barangkali ia salah dengar.

Iya, ceppet ngenom! (Iya minum cepat!), Jawab Syaichona Cholil tegas.

Tapi, ada sesuatu dalam perintah Syaichona Cholil―yang tak bisa dikatakan aura magis, namun sejenis wibawa yang terdengar seperti saran dari langit. Mukidin pun meminum cairan pahit itu.

Sateya mole! (Sekarang pulanglah!), perintah Syaichona usai Mukidin menenggak habis obat urus-urus. Ketika pulang, kejadian perut mulas menimpa Mukidin.

** **

Begitulah dunia ulama dan para bijak. Tindakan mereka acapkali tampak remeh, tak logis, namun menyimpan makna yang tak langsung. Mungkin, Syaichona Cholil tahu jika pencuri itu bersembunyi di sekitar Sungai. Tapi ia tidak menunjukkannya. Ia hanya memberi arah, bahkan dengan cara yang sangat unik sekalipun. Obat urus-urus menjadi wasilah akan terkuaknya rencana Tuhan selanjutnya.

Sekilas, jika dibaca, kisah Syaichona Cholil dengan Polisi ini tampak lucu―atau bahkan absurd―terutama jika dibaca di permukaannya saja. Tapi bagi yang mau menyelami, ia adalah bentuk kritik yang halus.

Sindiran bahwa sering kali manusia terlalu yakin pada usaha, rencana, strategi dan lupa pada beberapa kemungkinan―terutama kuasa Tuhan. Terlalu mencintai sistem sampai melupakan bahwa Dia mempunyai beberapa kejutan-kejutan tak terduga. Karena, Tuhan terkadang menyelipkan jawaban dan solusi di tempat yang tak terduga, semisal sakit perut yang menimpa Mukidin. Dia membalut kebenaran dengan ritme keunikan.

Bisa jadi, meminum urus-urus dalam konteks cerita ini bukanlah tentang tindakan medis semata. Lebih dari itu, metafora proses pengosongan diri. Obat itu, secara simbolik, membuat Mukidin membuang semua “kotoran”―fisik maupun mental. Baru setelah ia melewati titik nol, tak berdaya, ia dipertemukan dengan jawaban.

Pada titik ini ada nilai yang bisa dipetik. Ketika akal buntu, serahkan langkah kepada Semesta. Biarkan Dia bekerja dengan mekanisme-Nya sendiri. Dus, Semesta mempunyai cara yang kadang tak masuk akal untuk menunjukkan kebenaran―tidak masuk dalam kalkulasi manusia.

Acapkali datang dari arah yang tak disangka-sangka. Karena pada dasarnya, hidup tak selalu harus dipahami logika. Kadang ia hanya perlu dijalani, kemudian direnungkan. Wallahu a’lam.

Tags: Hikmah HumorSantri Humor
Previous Post

Indeks Optimisme 2025: Pemuda Kalah Optimis dari Orang Tua

Next Post

Santri Bojonegoro Pecahkan Soal Pakai Google Forms, Kemenag: Luar Biasa!

BERITA MENARIK LAINNYA

Pelajaran dari Luka yang Sama
Cecurhatan

Pelajaran dari Luka yang Sama

15/01/2026
Bismillah yang Hilang dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)
Cecurhatan

Bismillah yang Hilang dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur
Cecurhatan

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026

Anyar Nabs

Pelajaran dari Luka yang Sama

Pelajaran dari Luka yang Sama

15/01/2026
Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

15/01/2026
Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

14/01/2026
Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

14/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: