Konon, hikmah atau kebijaksanaan itu puncak dari ilmu. Barangsiapa diberi kebaikan yang banyak, ia diberi hikmah. Begitu firman Tuhan.
Di usia yang sudah kepala tiga seperti sekarang, aku menyadari ada banyak eureka momen dalam hidup. Begitu banyak ‘oooo momen’ dari kejadian demi kejadian.
Hal yang dulu dipertanyakan, disangkal, ditolak, diragukan, dan diterima begitu apa adanya, kini mendapat konfirmasi dan jawaban.
Kesadaran dan perasaan yang sama aku yakini akan hadir saat usia semakin bertambah dan bertambah. Jawaban demi jawaban, konfirmasi demi konfirmasi hadir sebagai pelita. Pelita yang hadir sejalan dengan bertambah usia dan kesadaran adalah sumber kearifan.
Tuhan tidak menjadikan manusia serba tahu semenjak kecil. Alih-alih demikian, Tuhan membekali manusia dengan piranti canggih yang dengannya manusia mampu untuk berusaha, bertanya, dan mencari tahu.
Dengan kemampuannya itu manusia mencari, menemukan, mengonfirmasi satu kejadian ke kejadian lainnya. Terus-menerus dan senantiasa. Proses demikian ini garansi bagi dinamika, perubahan, dan kemajuan.
Bayangkan kalau semenjak kecil hingga tua manusia sudah tahu segala-galanya, maka apa serunya hidup untuk dijalani? Apa yang dirasakan jika selama hidupnya manusia, tanpa proses bertanya dan mencari tahu, sudah memperoleh jawaban? Tentu, saat A sampai Z tentang hidup dan kehidupan telah diketahui manusia semenjak kecil, tiada menarik dinamika hidup.
Dinamika hidup manusia melalui berjalan sebagaimana pola berikut: ragu-bertanya, tahu-menyadari, arif-menginsafi. Kontinuitas pola akan sangat bergantung kepada dua aspek penting: rasa ingin tahu kemudian bertanya, dan menyadari pasti ada salah, kemudian melakukan perbaikan.
** **
Konon, ciri utama dunia modern adalah superioritas sains. Superioritas sains menghadirkan konsekuensi logis: spesialisasi dan keahlian dalam satu ilmu tertentu. Kepakaran dalam suatu keahlian atau ilmu tertentu adalah sumber untuk bertahan dan sukses dalam dunia modern.
Sains, ilmu, ataupun teori lahir dari sebab tertentu. Kausalitas adalah syarat mutlak sebagai fondasinya. Kausalitas itu yang menyebabkan sains, ilmu, teori menjadi khas dan khusus.
Kausalitas menjelaskan bahwa suatu ilmu dan teori tertentu lahir dari sebab dan syarat tertentu. Jika syarat dan sebabnya berubah, maka ilmu dan teori dapat berubah. Begitu pun jika kausalitas tetap namun teorinya berbeda maka ada proses perubahan teori.
Sampai sini, tampak bahwa ruh dari sains, ilmu, dan teori adalah pertanyaan “mengapa?” Mengapa terjadi suatu kejadian? Apa sebab yang melatari kejadian itu? Mengapa jika sebab itu berubah, kejadiannya juga berubah? Dan seterusnya. Kemajuan dalam sains lahir dari pertanyaan karena keingintahuan.
Ilmu dan teori bisa berubah dan mengalami koreksi. Artinya ilmu dan teori tidak mutlak benar, ada proses falsifikasi di dalam perkembangannya.
Suatu ilmu dan teori akan tetap valid sampai bisa dibuktikan kesalahannya. Penerimaan atas koreksi dan kesalahan harus diterima demi majunya ilmu.
** **
Kita seringkali menempatkan orang tua atau sesepuh sebagi tempat bertanya dan mencari nasihat. Sebabnya adalah, penghormatan kita bahwa mereka telah mengenyam banyak proses kehidupan. Atas banyaknya etape hidup yang telah dijalani, kita berharap kearifan dan kebijaksanaan mereka.
Perilaku kita di atas mengonfirmasi bahwa puncak kehidupan manusia adalah kearifan dan kebijaksanaan. Tempaan hidup seharusnya membawa kepada laku arif dan bijak.
Sebaliknya, laku arif dan bijak itu tidak hadir tiba-tiba saja dan tanpa proses panjang. Laku arif dan bijak adalah sintesis antara ilmu dan pengalaman empirik yang dijalani.
Ilmu dan pengalaman empirik melekat dalam seluruh perjalanan hidup manusia. Alasannya jelas: kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia yang memaksanya untuk terus maju dan mengembangkan ilmu (dan teknologi). Pemenuhan kebutuhan yang menjadi stimulus berkembangnya ilmu dan teori, serta produk lanjutannya berupa teknologi.
Dunia modern yang serba spesialis dengan kemajuan ilmunya tentu menuai kritik dan tentangan. Kritik dialamatkan kepada terkotak-kotaknya bangunan ilmu yang menjadikan manusia tersegregasi.
Usulan berupa pengajaran ilmu yang lebih universal dan multidisiplin kemudian mengemuka. Harapannya ilmu tidak hanya terkotak dalam disiplinnya saja, namun berdialog dengan disiplin ilmu lain untuk memperoleh solusi masalah yang kompleks multidisiplin.
Aku sendiri berpendapat, di samping seseorang belajar dalam suatu disiplin ilmu yang khusus dan spesial, ia perlu belajar atau diajarkan empat hal: matematika, sastra, sejarah, dan ekologi. Empat subyek ini penting bagi siapa saja dengan disiplin ilmu serta profesi tertentu.
Matematika sebagai penuntun analisis berdasarkan pola-pola, sastra untuk memghaluskan budi dan bahasa, sejarah untuk mengetahui jalannya sebab dan akibat dalam kehidupan, dan ekologi untuk menjaga kelestarian kehidupan.
Bidang ilmu yang spesialis plus empat subyek di atas, menurutku, akan membawa kepada hikmah, kearifan, dan kebijaksanaan. Konon, hikmah atau kebijaksanaan itu puncak dari ilmu. Barangsiapa diberi kebaikan yang banyak, ia diberi hikmah. Begitu firman Tuhan.








