Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Herinneringen ann Bodjonegoro (2)

Yogi Abdul Gofur by Yogi Abdul Gofur
06/09/2020
in Fiksi Akhir Pekan
Herinneringen ann Bodjonegoro (2)

Bodjonegoro, tak seindah negerimu, Cornelia. 

Lepas menerima surat dari Tedjo, Cornelia masuk ke rumah dengan muka merah. Ia amat sangat senang, namun seketika itu, Cornelia terbayang pesan dari papahnya agar jangan sampai menjalin hubungan dekat dengan pribumi.

Datanglah papah dan mamahnya, “goedemorgen”. Cornelia hanya mengangukkan kepala. Mbok Yem datang dengan membawa sarapan untuk mereka. Menu sarapan keluarga Johanes ialah roti, susu, dan sandwich.

Keluarga yang baru seumur jagung menempati Bodjonegoro, menikmati sarapan bersama hangatnya Sang Surya yang masuk dari jendela. Diiringi dengan alunan musik dari gramofon dan burung-burung yang berkicau dengan riang.

Datang pengantar surat kabar. Tuan Johanes sudah bersiap untuk menerima kemudian membacanya. Nyonya Wilhelmina berkebun di depan rumah. Sedangkan Cornelia menuju kamar, mengambil sesobek kertas dan menggoreskan pena di atasnya, dalam rangka menjawab surat dari Tedjo.

Dalam surat yang ditulis dengan bahagia dan pintu kamar terkunci, kemudian Cornelia yang baru saja tinggal di Bodjonegoro, ia berencana menemui Tedjo Djatikoesoemo di tempatnya bekerja. Dalam benaknya, apabila ia keluar rumah pasti tidak memperoleh izin. Kemudian ia memutuskan untuk keluar rumah melalui jendela.

Dengan membawa surat, ia berjalan sedikit demi sedikit. Cornelia keluar melalui gerbang belakang rumah, tanpa seizin dan sepengetahuan papah, mamah, dan Mbok Yem.

Cornelia keluar dari rumah. Ia berjalan, menyaksikan pemandangan alam dan sekitar daerah yang menurut buku yang pernah ia baca merupakan daerah yang konon sebagai lumbung pangan dan energi. Terkenal dengan penghasil tembakau dan minyak bumi.

Cornelia berjalan sembari mengarahkan pandangannya ke berbagai penjuru. Topi bundar dan gaun putih sederhana melindungi tubuhnya dari sengatan panasnya Sang Surya. Ia terus berjalan, tak takut tersesat. Beberapa kali orang-orang melihatnya dengan penuh heran. Pengemudi tjikar, juga menawarkan tumpangan padanya. Namun ia sering kali menggeleng-gelengkan kepala.

Lorong demi lorong ia lewati. Kawasan Sudirmanstraat yang rindang, Diponegorostraat yang juga rindang. Sampailah Cornelia di tempat dimana Tedjo bekerja. Kemudian seorang dokter muda yang memiliki domain serupa namun tak sama dengan Cornelia menyapa, “mooi”. Cornelia hanya melemparkan senyum padanya. Lagi, “mooi”. Kalimat yang berarti cantik itu, keluar beberapa kali dari mulut dokter keturunan Jawa dan Belanda yang masih muda ‘Pieter Pringgodigdo’.

Karena risih dengan kata tersebut. Cornelia berlari untuk menjauh dari Pieter. Dengan semangat yang tinggi, Pieter terus mengejar Cornelia. Lorong demi lorong pusat kesehatan yang ada di Bodjonegoro menjadi saksi bisu peristiwa kejar-kejaran antara Pieter dan Cornelia.

Secara tak sengaja, Cornelia bertemu Tedjo. “Tedjo Djatikoesoemo?”

“Ja”. Jawab Tedjo Djatikoesoemoe dengan bingung. Dalam benaknya, ia bertanya-tanya mengapa Cornelia Wilhelmina berada di pusat kesehatan?” Pengejaran berhenti, Pieter Pringgodigdo kemudian bertanya pada Tedjo.

“Tedjo Djatikoesoemo, berani-beraninya kau mendekati gadis cantik itu.”

“Tunggu Tuan Pieter. Ini hanya salah faham. Saya tak tahu, kalau Cornelia tiba-tiba mendekati saya dalam kondisi terengah-engah dan ketakutan seperti ini.”

“Waw…Cornelia. Sebuah nama yang cantik, sama seperti empunya. Bhahahaha.” Pieter kemudian berbalik arah, dan meninggalkan mereka berdua. Dengan pandangan tajam, sekan-akan Pieter Pringgodigdo menyalakan peringatan dan tanda bahaya kepada Tedjo.

“Mengapa Nona kemari, apakah tidak takut kalau nanti papahmu marah?”

“Niet. Aku kemari untuk mempertemukan sanubari. Seperti yang ada di bagian penutup surat berupa pantun yang kau kirimkan padaku beberapa hari yang lalu, Tuan Tedjo Djatikoesoemo.”

“Waduh…jangan panggil saya Tuan. Panggil saja Tedjo.”

“Baik, Nona. Apakah Nona sudah makan siang?”

“Jangan panggil saya Nona. Sebut saja Cornelia.” Kalimat itu keluar dari mulut Cornelia dengan senyuman manis.

Dari obrolan itu, menambah kedekatan mereka. Tedjo kemudian lebih berani untuk mendekati Cornelia dan mencoba memancing dialektika.

“Cornelia saja namamu?”

“Tidak. Cornelia Wilhelmina.”

“Sebuah nama yang indah, sama dengan pemilikinya. Cornelia, menurut buku yang pernah aku baca, Cornelia itu nama feminin dari Cornelius. Seorang wanita teladan dan memiliki silsilah keluarga yang baik. Ditambah dengan Wilhelmina, nama ratu yang dijunjung tinggi oleh rakyat dari negeri kelahiranmu”.

“Saya tebak, kamu suka dengan bunga Tulip?”

“Niet. Aku suka bunga Dandelion. Karena bunga itu, pemberani, bagian bunganya tidak rusak walau angin menerjang.” Bagi Cornelia, bunga Dandelion bukan hanya sekadar bunga, maka dari itu ia menyukainya.

“Good. Kamu telah membuktikan perempuan yang pemberani. Buktinya, kamu berani keluar rumah tanpa izin. Menaklukan jalanan kecil yang ada di Bodjonegoro ini.”

“Di Bodjonegoro ada apa saja, Tedjo?”

“Bodjonegoro, tak seindah negerimu. Namun disini memiliki keindahan tersendiri. Ada Solo Valley, pada waktu tertentu kamu bisa berkeliling Bodjonegoro menggunakan kapal di Kali Solo dan akan dimanjakan dengan pertanian yang ada di bantaran kali, kemudian setiap desa memiliki nama-nama yang unik, ada Kepatian, Kalangon, Soembang, Ngrowo yang terkenal dengan Kali Rowonya, Bandjaredjo, ada Modjokampoeng dan Soekordjokampoeng yang dipisahkan dengan area pemakaman, pecinan di daerah Karangpatjar, kemudian ada juga desa Bandjarsari, Djambean, Djetak, Kadipaten, Madean, kamu bisa menemui penduduk Arab di Kahoeman, engkau bisa menyaksikan aliran Sungai Bengawan Solo dari rel kereta api ketika melintasi Kali Ketek, dan lain sebagainya.”

“Maukah kau mengajakku berkeliling di Bodjonegoro pada suatu hari nanti, Tedjo?”

“Hmmmmmmm.”

 

Bersambung………

Tags: Fiksi Akhir Pekan
Previous Post

Anjay dan Lelucon soal Insecuritas

Next Post

Paralelitas Sains dan Kehidupan

BERITA MENARIK LAINNYA

Hikayat Takut Kualat
Fiksi Akhir Pekan

Hikayat Takut Kualat

26/12/2025
Kharisma Kiai Darmin
Fiksi Akhir Pekan

Kharisma Kiai Darmin

30/11/2025
Akar Kehidupan Membentuk Pohon Harapan 
Fiksi Akhir Pekan

Akar Kehidupan Membentuk Pohon Harapan 

15/05/2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Gunung dan Pendakian Cinta: Tafsir Humanistik Pernikahan ala Modin Jawa

Gunung dan Pendakian Cinta: Tafsir Humanistik Pernikahan ala Modin Jawa

19/06/2026
Main Bola Suka-Suka: Merawat Persahabatan di Tengah Kejamnya Deadline

Main Bola Suka-Suka: Merawat Persahabatan di Tengah Kejamnya Deadline

18/06/2026
Lokakarya Media 2026: Etika, Akurasi, dan Tantangan Industri Pers di Era AI

Lokakarya Media 2026: Etika, Akurasi, dan Tantangan Industri Pers di Era AI

18/06/2026
Isa: Perihal Hati yang Remuk di Padang Pasir, Hikmah Humor dan Pencurian (20)

Isa: Perihal Hati yang Remuk di Padang Pasir, Hikmah Humor dan Pencurian (20)

17/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: