BUKAN RAHASIA lagi, Iran telah melahirkan deretan ilmuwan tingkat internasional yang tak terhitung jumlahnya. Namun, ada satu ironi pahit yang mengiringi perjalanan mereka: banyak dari ilmuwan jenius tersebut justru mencapai puncak karier di negeri orang, jauh dari tanah air mereka sendiri.
Setelah terjadinya Revolusi Islam Iran 1979, ribuan akademisi dan ilmuwan Iran memilih atau terpaksa meninggalkan Iran. Mereka membawa serta otak-otak jenius dan hati yang terluka, dan menyeberangi lautan untuk memulai hidup baru di Amerika Serikat (AS). Di sana, mereka tidak hanya bertahan. Mereka berpendar cemerlang.
Kini, diaspora Iran merupakan salah satu komunitas imigran paling berpendidikan dan sukses di AS, dengan tingkat pendidikan tinggi yang mencapai hampir 40%: tiga kali lipat dari rata-rata nasional. Dua pertiga di antara mereka bekerja di sektor paling keren, seperti sains, teknik, dan kedokteran.
Para ilmuwan “berdarah Iran” tersebut adalah “penerang” dalam arti yang sesungguhnya. Mereka memegang kursi bergengsi sebagai profesor di universitas-universitas Ivy League, universitas-universitas paling keren di negara adikuasa tersebut, memimpin misi NASA ke Mars, merevolusi pemahaman kita tentang materi, menemukan obat baru, dan merumuskan teori-teori yang mengubah wajah fisika modern. Mereka adalah bukti hidup bahwa sains tidak mengenal batas negara atau agama.
Penakluk Medali Fields dari Teheran
Kini, pertama-tama kita ayunkan “langkah-langkah” kita ke Teheran pada tahun 1977. Di tengah-tengah suasana menjelang meletusnya revolusi Islam tersebut, seorang anak perempuan bernama Maryam Mirzakhani kecil dilahirkan. Di kota yang penuh dengan suhu politik yang memanas dan pertumpahan darah di perbatasan, masa kecil Maryam dipenuhi dengan cerita perang dari televisi dan radio. Namun, ia tidak membiarkan dirinya ditelan kegelapan.
Sebagai seorang siswi di Sekolah Menengah Farzanegan di Teheran, Maryam tidak seperti kebanyakan anak Perempuan seusianya. Saat teman-temannya gemar membaca novel, ia justru menggilai matematika. Namun, kenyataannya, cita-cita awalnya bukanlah menjadi seorang matematikawan. Ia ingin menjadi penulis.
Hingga suatu hari, kakaknya memperkenalkannya pada soal-soal kompetisi matematika. “Saat pertama kali aku memecahkan soal itu,” kenangnya dalam sebuah wawancara langka, “rasanya seperti menemukan dunia baru. Dunia di mana keindahan dan logika berpelukan.”
Ternyata, dunia itu begitu mengesankan baginya. Prestasi cemerlangnya di Olimpiade Matematika Internasional mulai berpendar gemilang pada 1994 dan 1995. Kala itu, ia berhasil meraih medali emas dua kali berturut-turut. Pada 1995, ia mencetak sejarah dengan memperoleh nilai sempurna: sebuah pencapaian yang hanya dapat diimpikan oleh para genius matematika dunia. Saat itu, Iran masih dilanda isolasi pasca-revolusi. Namun, namanya telah mulai dikenal di kalangan akademisi internasional.
Perjalanan intelektual Mirzakhani kemudian membawanya ke Universitas Sharif Technology di Teheran: untuk meraih gelar sarjana. Selepas itu, ia lalu terbang ke Universitas Harvard untuk meraih gelar doktor di bawah bimbingan Curtis McMullen, seorang peraih Medali Fields lainnya.
Di universitas bergengsi tersebut, ia mulai menjelajahi dunia geometri hiperbolik, teori Teichmüller, dan ruang modulus: bidang yang begitu rumit sehingga bahkan koleganya mengaku butuh waktu bertahun-tahun untuk memahami kedalaman penemuannya.
Saat menyelesaikan disertasinya, seorang profesor terkemuka di Universitas Harvard menyebut karyanya sebagai “generasi baru dalam matematika”. Ia tidak hanya menyelesaikan soal-soal yang rumit. Ia juga membuka jalan baru untuk melihat dunia. Ia kemudian bergabung dengan Universitas Stanford sebagai profesor penuh pada tahun 2008.
Enam tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2014,, dunia dikejutkan oleh sebuah pengumuman dari International Mathematical Union. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Medali Fields-penghargaan tertinggi dalam matematika yang kerap disebut “Nobel-nya Matematika”-diberikan kepada seorang perempuan.
Komite penganugerahan memujinya “atas kontribusinya yang luar biasa terhadap dinamika dan geometri permukaan Riemann serta ruang modulus mereka”. Ia adalah perempuan pertama, orang Iran pertama, dan salah satu dari sedikit ilmuwan dari Timur Tengah yang meraih penghargaan bergengsi itu.
Maryam Mirzakhani adalah seorang perenung. Ia dikenal kerap mengerjakan soal-soal rumit sambil menggambar coretan-coretan di kertas besar di lantai rumahnya. Ia menganggap matematika bukan sekadar rumus, namun “seperti memecahkan teka-teki atau mendaki gunung”: sebuah perjalanan yang panjang, melelahkan, namun memabukkan.
Namun, perjalanan itu terlalu singkat. Pada tahun 2017, selepas bertahun-tahun berjuang melawan kanker payudara, Maryam Mirzakhani berpulang pada usia 40 tahun. Kematiannya mengguncang dunia sains. Universitas Stanford menurunkan bendera setengah tiang. Di Iran, meski rezim yang berkuasa kerap membatasi kebebasan akademik, para pejabat dan publik memberikan penghormatan yang langka untuk seorang figur perempuan yang membawa nama harum Iran di kancah internasional.
Dalam sebuah wawancara, Maryam Mirzakhani pernah berkata, “Saya tidak tahu apa yang akan orang katakan tentang saya. Saya hanya ingin dikenal sebagai seorang matematikawan.” Namun, dunia mengenangnya lebih dari itu. Ia adalah simbol perlawanan: seorang perempuan dari Timur Tengah yang berhasil memecahkan langit-langit kaca dalam dunia sains yang didominasi kaum pria. Warisannya sebagai “penerang” yang menembus batas gender dan geografi akan terus menginspirasi generasi muda di seluruh dunia. Terutama kaum perempuan yang bermimpi menjadi ilmuwan.








