Pendidikan memiliki kekuatan politis dan ideologis dalam mengusung agenda perubahan sosial (Paulo Freire).
Pendidikan adalah proses pembebasan dan pendidikan adalah proses membangkitkan kesadaran kritis. Begitu kata Bung Kristeva. Pendidikan memang sering dimaknai sebagai upaya atau sebuah proses yang ditempuh oleh manusia untuk mencapai titik kesadaran dan pembebasan.
Kesadaran kritis yang dimaksud ialah mampu berfikir secara menyeluruh dan mendalam. Sedangkan pembebasan memiliki makna terlepasnya sikap kebergantungan seseorang terhadap makhluk.
Pendidikan harus menawarkan pencerahan kepada setiap manusia, sehingga melahirkan motivasi pada manusia dalam keberlangsungan hidup. Lalu bagaimanakah proses pembebasan dan pembangkitan kesadaran kritis itu dilakukan?
Menurut Paulo Freire “Pendidikan memiliki kekuatan politis dan ideologis dalam mengusung agenda perubahan sosial. Maka tak bisa dipungkiri bahwa institusi pendidikan selalu dijadikan medan dalam melanggengkan kekuasaan”.
Dari ungkapan Paulo Freire di atas dapat kita rasakan bahwa pendidikan secara tidak langsung telah mengandung muatan politis dan ideologis.
Dua muatan tersebut sebagai agenda mengusung perubahan social dalam dinamika kehidupan. Tetapi dalam realitasnya pendidikan justru cenderung dijadikan sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan.
Sehingga sering terjadi praktik penindasan yang sangat kasap mata dan tidak disadari.
Seperti kritik yang dilayangkan Paulo Freire, ia menyebut pendidikan pada saat itu seperti gaya bank. Sebab guru bertindak layaknya penabung dan murid sebagai tempat penabung.
Guru menabung informasi kepada muridnya, sehingga informasi yang diberikan guru harus diterima oleh murid. Biasanya sih kalau muridnya membantah atau menyanggah akan dianggap nakal, pembangkang dll dan dipastikan dapat nilai yang jelek, hehehe.
Freire menyusun antagonism pendidikan gaya bank, sebagai berikut: 1) Guru mengajar murid belajar. Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa. 2) Guru berpikir, murid dipikirkan. 3) Guru bicara, murid mendengarkan. 4) Guru mengatur, murid diatur. 5) Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menuruti.
6) Guru bertindak, murid membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan gurunya. 7) Guru memilih apa yang akan diajarkan, murid menyesuaikan diri. 8) Guru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalismenya, dan mempertentangkannya dengan kebebasan murid. 9) Guru adalah subjek proses belajar, murid objeknya.
Sebagai antitesanya Freire kemudian memunculkan system gaya baru, yaitu system pendidikan hadap masalah. Proses yang demikian dianggap oleh Freire mampu membuka ruang dan jembatan dialog antara guru dengan murid.
Serta proses pendidikan yang mendorong murid untuk mengajukan pertanyaan kepada gurunya. Sehingga terkesan saling tukar gagasan dan pikiran antara murid dengan guru.
Freirean, atau aliran pendidikan Paulo Freire pada dasarnya adalah suatu pendekatan dan pemikiran yang berangkat dari asumsi bahwa pendidikan adalah proses pembebasan dari sistem yang menindas.
Penganut pendidikan Freirean berangkat dari suatu kepercayaan bahwa pendidikan tidak pernah terbebas dari kepentingan politik ataupun terbebas demi melanggengkan sistem sosial ekonomi maupun kekuasaan yang ada (Kristeva, 2013). Pandangan ini terkenal dengan “teori reproduksi” terhadap system yang tidak adil melalui pendidikan.
Pendidikan kritis yang dimaksud oleh Paulo Freire ialah pendidikan yang mempunyai kesadaran terhadap suatu system yang didominasi oleh pihak tertentu untuk melanggengkan kekuasaan.
Sehingga kaum yang terdidik mampu melihat realitas dan membongkar dominasi,dan menunjukkan keberpihakkannya terhadap kaum tertindas. Keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari, semakin tinggi pendidikan seseorang berarti semakin peka terhadap social.
Bukan malah sebaliknya semakin ia tertutup dan justru malah menjadi pengabdi untuk diri sendiri.








