Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Pohon Ficus: Poros Spiritualitas dan Pondasi Masa Depan Berkelanjutan

Arif Dwi Setiawan by Arif Dwi Setiawan
30/01/2026
in Cecurhatan
Pohon Ficus: Poros Spiritualitas dan Pondasi Masa Depan Berkelanjutan

Ficus Sotasrungga

Pohon Ficus (beringin) tak pernah berdiri sendiri. Namun menjadi titik pertautan antara data, doa, dan berlanjutnya sebuah kehidupan. 

Dalam kosmologi Jawa, pohon Ficus (beringin, loa, preh, randu alas, elo, dan sejenisnya) bukan sekadar tumbuhan, melainkan titik temu antara dunia manusia, alam, dan yang adikodrati. Akar gantungnya yang menjuntai dari atas dan akarnya yang menembus bumi menjadikan Ficus simbol sumbu kosmis (axis mundi), yaitu penghubung antara jagat atas, jagat tengah, dan jagat bawah. Karena itu, Ficus selalu ditempatkan di ruang-ruang sentral, seperti alun-alun, punden, sendang, batas desa, dan makam leluhur.

Ringin Tunggal hingga Ringin Catur

Dalam filsafat Jawa, keberadan pohon Ficus (Ringin) tidak pernah bersifat kebetulan. Ficus Tunggal, seperti di kawasan Sotasrungga Bojonegoro, melambangkan poros kekuatan spiritual yang menghubungkan manusia dan Tuhan. Ficus Kembar, seperti di Alun-Alun Kidul Yogyakarta, melambangkan dualisme kosmis: lahir dan batin, laki-laki dan perempuan, gelap dan terang, yang harus selalu berada dalam keseimbangan.

Ficus Telu melambangkan simbol Tri Loka (cipta, rasa, dan karsa), sedangkan Ficus Catur seperti yang banyak ditemui di Wilayah Bojonegoro, mencerminkan kiblat papat lima pancer, yaitu struktur ruang spiritual Jawa di mana satu pusat dijaga oleh empat penjuru. Dengan demikian, penanaman Ficus dalam konfigurasi tertentu sesungguhnya merupakan pembangunan arsitektur metafisik wilayah, bukan sekadar penataan ruang hijau.

Baca Juga: Ringin Catur, Jejak Konsep Ekologi Kuno yang Masih Bertahan di Bojonegoro 

Dalam tata ruang tradisional Jawa, alun-alun bukanlah lapangan biasa, melainkan ruang kosmik terbuka yang menghubungkan keraton, rakyat, dan alam semesta. Sepasang Ficus di tengah alun-alun berfungsi sebagai penjaga keseimbangan energi, sekaligus sebagai gerbang gaib. Hal ini diwujudkan dalam tradisi masangin, yaitu berjalan lurus di antara dua beringin.

Secara spiritual, masangin merupakan ujian apakah seseorang selaras dengan dirinya sendiri dan dengan semesta. Orang yang pikirannya jernih dan niatnya lurus diyakini mampu melewati lorong energi tersebut. Secara ekologis, beringin juga berperan menjaga mikroklimat alun-alun, menahan panas, menyimpan air tanah, serta menjadi habitat bagi ribuan burung dan serangga. Inilah kejeniusan ekoteologi Jawa: satu pohon menjalankan fungsi spiritual, sosial, dan ekologis secara bersamaan.

Ficus Sotasrungga: Pohon Beringin berusia seribu tahun yang untuk merengkuhnya, butuh 25 tangan orang dewasa (Jurnaba)

Dalam konteks desa, Ficus yang tumbuh di perempatan, punden, dan mata air berfungsi sebagai titik stabilisasi energi dan ekologi. Pohon-pohon ini menandai tempat-tempat di mana air muncul, tanah stabil, dan kehidupan berdenyut. Karena itu, ketika Ficus ditebang, yang rusak bukan hanya lanskap fisik, melainkan juga sistem keseimbangan kosmis desa.

Dhanyang dan Jumlah Ficus sebagai Sistem Perlindungan Wilayah

Kepercayaan Jawa tentang dhanyang bukanlah tahayul, melainkan model lokal pengelolaan ruang ekologis. Dhanyang dipahami sebagai roh penjaga wilayah yang sering dikaitkan dengan pohon Ficus tua, mata air, atau bukit kecil. Semakin penting suatu wilayah—seperti sumber air, batas desa, atau jalur perdagangan—semakin kuat pula “penjaga” spiritualnya, dan hal ini biasanya tercermin dari jumlah dan ukuran Ficus di sekitarnya.

Baca Juga: Ekspedisi Desa Kuno, Mencari Mata Air Purba dan Pohon Raksasa 

Wilayah yang hanya memiliki satu Ficus besar biasanya dijaga oleh satu dhanyang utama. Wilayah dengan dua atau empat Ficus umumnya merupakan ruang strategis, seperti pertemuan sungai, gerbang desa, atau pusat ritual. Larangan menebang Ficus tidak semata-mata didorong oleh rasa takut pada makhluk gaib, melainkan karena masyarakat memahami secara intuitif bahwa menebang Ficus berarti merusak sistem air, tanah, dan iklim lokal.

Dengan membungkus kesadaran ekologis ini dalam narasi dhanyang, masyarakat Jawa membangun mekanisme perlindungan lingkungan yang efektif jauh sebelum konsep konservasi modern dikenal. Di Bojonegoro, banyak sendang dan punden—baik di kawasan hutan jati dan sepanjang sungai Bengawan —selalu diapit oleh Ficus. Ketika pohon-pohon tersebut hilang, mata air biasanya menyusut dan tanah menjadi lebih rentan terhadap kerusakan. Dalam konteks ini, dhanyang adalah bahasa spiritual bagi realitas ekologis.

Ekoteologi Jawa: Tuhan, Pohon, dan Tanggung Jawab Kosmis

Ekoteologi Jawa tidak memisahkan Tuhan dari alam. Dalam pandangan ini, alam adalah ayat-ayat Gusti, tanda-tanda kehadiran Ilahi dalam wujud nyata. Pohon besar seperti Ficus dipandang sebagai makhluk yang “tua dan bijaksana”, lebih dekat dengan sumber kehidupan. Menyakiti pohon besar berarti melanggar tata krama kosmis. Itulah sebabnya, di banyak desa Jawa, orang tidak berani menebang beringin atau elo secara sembarangan; harus ada izin adat dan ritual tertentu. Ini bukan bentuk irasionalitas, melainkan etika ekologis berbasis spiritual. Orang Jawa melestarikan pohon bukan karena konsep “cadangan karbon”, melainkan karena rasa sungkan dan hormat kepada semesta.

Membangun Paradigma Modern

Dalam konteks modern, ketika industri ekstraktif seperti migas dan pertambangan menebang pohon-pohon tua, yang rusak bukan hanya ekosistem fisik, tetapi juga ikatan sakral antara manusia dan ruang hidupnya. Menghidupkan kembali nilai ekoteologi Ficus berarti mengembalikan martabat alam sebagai subjek, bukan sekadar objek eksploitasi.

Teknologi seperti QGIS, aplikasi GPS berbasis ponsel, dan pemetaan partisipatif dapat dipahami sebagai perpanjangan dari kearifan Jawa. Pemetaan pohon raksasa dan mata air bukan sekadar kerja teknis, melainkan tindakan merawat pancer wilayah. Secara praktis, langkah-langkahnya meliputi: (1) survei lapangan menggunakan aplikasi GPS seperti SW Maps, QField, atau OSM Tracker; (2) pencatatan titik Ficus, diameter batang, tinggi, dan kondisi pohon; (3) pemetaan mata air serta aliran kecil di sekitarnya; dan (4) pengolahan data di QGIS untuk menganalisis hubungan antara pohon, air, dan topografi.

Melalui pendekatan ini, kita dapat membuktikan secara ilmiah apa yang telah lama diketahui leluhur: di mana ada Ficus tua, di situ terdapat cadangan air dan kestabilan tanah. Peta ini kemudian dapat dikaitkan dengan punden, makam leluhur, dan zona keramat untuk membentuk peta ekoteologi wilayah, sehingga narasi spiritual dan data ilmiah saling memperkuat. Jika seluruh temuan ini disatukan, jelas bahwa Ficus merupakan simpul antara spiritualitas, ekologi, dan tata ruang Jawa. Jumlahnya mencerminkan struktur kosmis, keberadaannya menandai sumber daya vital, dan pelestariannya dijaga oleh sistem kepercayaan tentang dhanyang dan kesakralan alam.

Dengan memetakan pohon dan mata air secara digital, kita tidak sedang memodernisasi tradisi secara dangkal, melainkan menerjemahkan kearifan leluhur ke dalam bahasa kebijakan dan perencanaan lingkungan. Di wilayah seperti Bojonegoro, yang menghadapi tekanan industri dan krisis ekologis, menghidupkan kembali filosofi Ficus berarti membangun model perlindungan lingkungan berbasis kearifan lokal. Pohon Ficus tidak lagi berdiri sendirian, tetapi hadir sebagai titik data, titik doa, dan titik kehidupan. Dari sinilah masa depan Jawa dapat tumbuh: modern tanpa kehilangan ruhnya, maju tanpa memutus akar kosmisnya.

Tags: Laboratorium SotasrunggaMakin Tahu IndonesiaPohon BeringinPohon Ficus
Previous Post

Pohon Asmak: Ageman Ekologi Gunung Jali

Next Post

Bertambah Jadi 21 Lokasi, Achmad Gunawan: Titik Geosite Bojonegoro Masih Bisa Bertambah Lagi

BERITA MENARIK LAINNYA

Di Antara Lapar dan Debu
Cecurhatan

Di Antara Lapar dan Debu

18/02/2026
Cahaya di Ufuk Barat: Kisah Perburuan Hilal Awal Ramadhan dari Masa ke Masa
Cecurhatan

Cahaya di Ufuk Barat: Kisah Perburuan Hilal Awal Ramadhan dari Masa ke Masa

18/02/2026
Puasa Ramadhan bersama Rasulullah Saw
Cecurhatan

Puasa Ramadhan bersama Rasulullah Saw

16/02/2026

Anyar Nabs

Di Antara Lapar dan Debu

Di Antara Lapar dan Debu

18/02/2026
Warga Desa Trucuk Antusias Mengikuti Praktik Pengelolaan Sampah Untuk Menambah Penghasilan Rumah Tangga

Warga Desa Trucuk Antusias Mengikuti Praktik Pengelolaan Sampah Untuk Menambah Penghasilan Rumah Tangga

18/02/2026
Cahaya di Ufuk Barat: Kisah Perburuan Hilal Awal Ramadhan dari Masa ke Masa

Cahaya di Ufuk Barat: Kisah Perburuan Hilal Awal Ramadhan dari Masa ke Masa

18/02/2026
‎Sejarah Desa Mori, Jejak Tionghoa di Kelokan Bengawan

‎Sejarah Desa Mori, Jejak Tionghoa di Kelokan Bengawan

17/02/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: