Gunung Jali bukan sekadar bentang alam. Tapi ruang zaman. Bukit kapur yang menyimpan jejak air purba, riwayat manusia, rekam peradaban yang silih berganti, hingga ageman ekologi.
Gunung Jali, bentang kawasan “Lemah Citra” di perbatasan Bojonegoro dan Blora, adalah tanah kapur yang menyerap peradaban. Tempat ini jadi saksi atas megahnya Medang Kamulan, gagahnya Kahuripan, mulianya Jenggala, bijaksananya Singhasari, hingga kokohnya Majapahit. Seperti sifat batuan tanah berkapur, tempat ini menyerap peradaban itu dengan kerendahan hati.
Hingga abad 14 M, kawasan ini menyerap peradaban Jawa dengan cukup matang. Medang Kamulan dan Kahuripan yang berwatak kosmologis, Jenggala dan Singhasari yang merawat tatanan ruang ekologis, hingga Majapahit yang menyatukan politik, budaya, dan spiritualitas. Jejak peradaban itu “dikandung” dalam satu hela nafas panjang: cara pandang yang hormat pada alam.
Pepohonan besar, sumber mata air tawar, bukit kapur, hingga belantara hutan bukan sekadar objek fisik belaka, melainkan simpul kosmik — gerbang dimensi antara yang hadir dan yang sedang tidak menampakan diri. Pepohonan berukuran raksasa, masih banyak berdiri gagah sebagai “kamal pandak” yang jadi penghubung dan penyatu entitas yang tidak tampak.
Pada abad 14 M, ketika Sidi Jamaluddin berada di Gunung Jali, ia datang bukan ke ruang kosong. Ia datang ke dunia yang sudah penuh makna, simbol, dan laku spiritual. Pohon-pohon tua berdiri sebagai penanda waktu, sebagai saksi leluhur, sebagai poros kosmos yang menghubungkan langit, bumi, dan kehidupan manusia. Masyarakat setempat masih memuliakan alam sebagai simpul kosmik.
Pohon Asmak
Hikayat Padangan, kumpulan folktale masyarakat pinggiran, menceritakan kisah mengenai laku dakwah Sidi Jamaluddin di kawasan Gunung Jali, pada abad 14 M silam. Diceritakan, Sidi Jamaluddin melihat langsung ketika masyarakat datang ke pohon besar dengan khidmat dalam memanjatkan harap. Kala itu, pohon tidak dipuja sebagai kayu dan daun semata, melainkan wadah kekuatan yang hidup.
Baca Juga: Sidi Jamaluddin dan Ajaran Moderasi Zawiyah Gunung Jali
Melihat realitas itu, Sidi Jamaluddin tidak serta-merta mematahkan tradisi tersebut. Ia tidak datang dengan palu larangan. Ia tidak menebang simbol, tidak merobohkan pohon, dan tidak mencela laku tradisi masyarakat. Sidi Jamaluddin memilih sinkretisme kultural: kesabaran merawat simbol dan penyesuaian arah makna. Kepada para muridnya, Sidi Jamaluddin hanya berpesan: Jika engkau melihat pohon besar yang dipuja orang, jangan engkau rusak penghormatannya. Tapi arahkan hatimu sendiri dengan membaca “Walillahi Asma’ul Husna Fad’uhu Biha” sebagai pegangan diri.
Walillahi Asma’ul Husna Fad’uhu Biha — Dan milik Allah-lah nama-nama yang indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu (Al Araf 180).
Sejak saat itu, setiap kali para murid melewati orang-orang yang sedang memuja pohon besar di Gunung Jali, mereka tidak mengutuk, tidak menolak, dan tidak memutus hubungan kosmik yang telah lama terjalin. Mereka hanya membaca kalimat: Walillahi Asmaul Husna Fad’uhu Biha di dalam hati. Sebuah upaya mengalihkan pusat makna: dari pohon sebagai tujuan utama, menuju Allah sebagai sumber dari semua pepohonan itu.
Bahkan pada kesempatan lainnya, saat para murid itu sedang melintasi pepohonan besar, mereka justru mampir ke pohon itu untuk diam sesaat, seperti yang umumnya dilakukan masyarakat. Bukan untuk memuja, namun mengucap kalimat Walillahi Asmaul Husna Fad’uhu Biha di dalam hati. Ucapan dalam hati itu mereka maknai sebagai Nyimpen Wirid — sebuah laku moderasi yang tak menyakiti pihak manapun.
Metode ini justru membuahkan simpati. Ibarat mendapat ikan tanpa mengeruhkan air. Masyarakat banyak bersimpati mengikuti kebiasaan tersebut. Mereka yang semula benar-benar memuja, perlahan mulai ikut mengucap kalimat Walillahi Asma’ul Husna Fad’uhu Biha sebagai uborampe pelengkapnya. Semacam menggeser esensi tanpa menghilangkan simbol eksistensinya.
Kebiasaan itu jadi tradisi. Tiap kali melihat Asam Jawa raksasa, mereka mengingat Asmaul Husna. Pohon Asmak dikenal sebagai pohon yang berdoa. Bukan lagi pohon yang dipuja, tapi pohon yang mengingatkan siapapun untuk berdoa Walillahi Asma’ul Husna Fad’uhu Biha. Di tempat ini, Pohon Asam Jawa tak hilang keramatnya. Ia menjadi Pohon Asmak yang tetap membawa keramat, sekaligus laku keselamatan.
Pohon tak lagi dimaknai sebagai tempat bersemayamnya kekuatan yang berdiri sendiri, melainkan representasi dari kehadiran Asmaul Husna. Akar yang menghujam bumi dipahami sebagai Al-Qayyum. Batang yang kokoh mencerminkan Al-Matin. Rindangnya daun dan buah menjadi cermin Ar-Rahman Ar-Rahim. Pohon Asam Jawa tetap dihormati. Alam tetap dijaga. Dan tauhid perlahan bersemi, tanpa paksaan, tanpa benturan.
Pemuliaan pohon Asam Jawa (Kamal Pandak) dan sumber mata air tawar sebagai ajaran leluhur tetap terjaga. Masyarakat tetap mengadakan pamujan di sumberan air tawar dan pohon Asam Jawa itu. Namun, ada tambahan berupa unsur doa dan konsep Walillahi Asmaul Husna di dalamnya. Kelak pada masa lebih belakangan, Majelis Walisanga, terutama Sunan Kalijaga, mengakomodir Asam Jawa sebagai bahan tasbih.
Pohon Asmak adalah metode dakwah Sidi Jamaluddin: dakwah yang tidak memutus relasi manusia dengan alam, tetapi menggeser dan memurnikan orientasinya. Ia memahami bahwa merusak simbol secara kasar justru akan melukai batin kolektif masyarakat setempat. Maka Sidi Jamaluddin memilih tetap merawat simbol, sambil menanamkan makna dan nilai-nilai baru di dalamnya.
Pohon Asmak tidak hanya berhenti sebagai kisah. Namun menjadi ageman—pegangan hidup—yang mengajarkan bahwa toleransi bukan berarti membenarkan semua praktik, tapi memberi waktu bagi kesadaran untuk tumbuh. Ia mengajarkan bahwa Islam tidak hadir sebagai kekuatan yang menebangi hutan budaya, melainkan mata air yang menyusup ke akar-akar kehidupan masyarakat lokal.
Dalam kisah Pohon Asmak, Gunung Jali menjadi laboratorium etika dan ekologi spiritual. Di sana, agama, alam, dan budaya tidak dipertentangkan. Semuanya dijahit menjadi harmoni sosial-kosmik. Kisah Pohon Asmak tetap hidup sebagai pengingat: toleransi adalah seni merawat kehidupan, dan alam— jika diperlakukan dengan baik — akan selalu menjadi jembatan menuju Yang Maha Esa.
Ajaran dan metode Sidi Jamaluddin ini, bukan sekadar tawassuth (moderasi) pada manusia. Namun juga tasamuh (toleransi) pada alam dan sumber daya. Kelak, ajaran-ajaran ini terus dihidupkan melalui bermacam cerita. Gunung Jali bukan sekadar bentang alam. Tapi ruang ingatan. Serupa bukit kapur yang menyimpan jejak air purba, riwayat manusia, rekam peradaban yang silih berganti, hingga ageman ekologi.








