Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Ringin Catur, Konsep Ekologis Kuno di Kota Bojonegoro

Branda Lokamaya by Branda Lokamaya
29/12/2025
in Redaksi
Ringin Catur, Konsep Ekologis Kuno di Kota Bojonegoro

Jejak Ringin Catur (Jurnaba)

Perempatan Ringin Catur mungkin sudah banyak dilupakan. Namun, persimpangan di jalan Teuku Umar Bojonegoro ini, menyimpan jejak kosmologi kuno yang bertahan dari zaman ke zaman.

Nama Perempatan Ringin Catur di Kelurahan Kadipaten Kecamatan Kota Bojonegoro, saat ini mungkin sudah banyak dilupa. Ia mungkin hanya dikenal sebagai nama sebuah gang. Namun, keberadaan Ringin Catur cukup populer pada dekade 1980-an hingga awal 2000.

Ringin Catur sebagai sebuah perempatan, mempertemukan Jalan Dr. Suharso dan Jalan WR. Supratman — memotong lintasan besar Jalan Teuku Umar. Sejak lama Perempatan Ringin Catur populer sebagai kawasan urban yang dipenuhi pusat perbelanjaan dan gedung administrasi perkantoran.

Disebut Perempatan Ringin Catur, tentu karena empat pilar pohon beringin raksasa yang berada di kawasan tersebut. Sumber lokal menyebut, sampai pada dekade 1980, empat pohon beringin raksasa yang berada di kawasan ini, masih terlihat lengkap sebagai ornamen jalan.

Empat pohon beringin raksasa itu, berada di sisi kanan-kiri Jalan WR. Supratman. Tepatnya di barat Superindo dan saling berhadapan. Sementata dua lainnya, berada di kanan-kiri Jalan Dr. Suharso. Tepatnya berada di timur kantor pajak dan saling berhadapan.

“Letaknya berjajar saling berhadapan. Jumlahnya ada empat” Ucap Aris, warga yang mengingat keberadaan empat pohon beringin tersebut (29/12/2025).

Aris yang kini berusia 50 tahun, masih ingat jelas ketika dia kecil, tiap kali melintas di Perempatan Ringin Catur, kerap melihat keberadaan pohon-pohon beringin raksasa yang menjadi peneduh jalan tersebut. Satu di antara empat pohon itu, yang berada di Jalan WR. Supratman, dipotong belum lama, dalam rangka pembuatan trotoar.

“Sebenarnya masih tersisa satu, cuma belum lama ini dipotong karena ada pembuatan trotoar” ucapnya.

Keberadaan pohon beringin sebagai penanda jalan, cenderung berkelanjutan. Bukan karena usianya panjang. Tapi jika mati, ada yang kembali menanamnya di tempat semula. Pohon Beringin identik konsep ruang ekologis masyarakat Jawa Kuno. Beringin bukan soal panjangnya usia. Namun pada keberlanjutan keberadaannya. Tiap kali mati, ada yang menanam kembali di tempat semula.

Sisa jejak Ringin Catur, Jurnaba (2023)

Perempatan Ringin Catur di Kelurahan Kadipaten Kecamatan Kota, merupakan sedimentasi kosmologi Jawa yang bertahan cukup lama, meski kini juga tinggal nama. Konsep tata ruang ekologis semacam ini memang rentan punah, karena tak lagi dibahas dalam diskursus keilmuan kontemporer.

Tim Riset Jurnaba menemukan banyak fakta menarik tentang konsep ekologis berbasis nama pohon beringin ini. Ia metode Jawa kuno yang jejaknya sudah ada sejak Zaman Medang. Dalam kosmologi Jawa, pohon beringin punya nilai sebagai Axis Mundi (pusat kosmos), penghubung antara langit, bumi, dan kehidupan manusia.

Bojonegoro sebagai kantung peradaban kuno, secara empiris, menjadi tempat “ngalap barokah” bagi Imperium Medang, Kahuripan, Jenggala, Singashari, hingga Majapahit. Terbukti, semua imperium itu mencatat kemuliaan tempat ini dalam prasasti yang mereka keluarkan. Karena itu, konsep kuno tetap tersimpan dan tak pernah benar-benar hilang.

Dalam beragam posisi dan keberadaannya, Pohon Beringin selalu ditempatkan secara spasial dan sistematik, bukan random tanpa disengaja. Karena itu, dalam konsep kosmologi Jawa Kuno, ada sejumlah varian posisi Pohon Beringin. Yakni Ringin Catur, Ringin Tunggal, dan Ringin Kembar.

Ringin Tunggal
Satu pohon beringin yang ditanam di tengah, menyimbolkan pusat dan asal. Dalam konteks penanda jalan, keberadaannya menjadi pancer lintasan. Biasanya menandai sebuah persimpangan utama — jalan poros yang punya makna sakral bagi distribusi kesejahteraan. Ringin Tunggal kerap menjadi penanda kekuasaan lama (kasepuhan), sebelum terpecah. Clifford Geertz (1960) menggambarkan posisi pohon beringin semacam ini sebagai pusat kosmis dan sosial. Sayangnya, banyak desa yang mengganti Ringin Tunggal dengan tugu semen.

Ringin Kembar
Dua pohon beringin menjadi simbol keseimbangan dan transisi. Keberadaannya menjadi simbol kesatuan yang melebar (Kanoman). Dalam konteks arsitektur Jawa, ia menjadi simbol gerbang dan gapura. Ringin Kembar juga kerap ditanam sebagai pintu masuk menuju kawasan tertentu. Dalam kosmologi Jawa, Ringin Kembar identik sebagai simbol kekuasaan. Dennys Lombard (1996) menyatakan Ringin Kembar sebagai legitimasi dan keseimbangan kosmik. Sayangnya, keberadaan Ringin Kembar kerap diganti dengan gapura semen.

Ringin Catur
Empat pohon beringin yang ditanam membentuk mandala empat penjuru, kerap ditemui di sejumlah titik sakral seperti punden atau sumber mata air. Empat pohon yang ditanam di empat arah mata, berkaitan dengan penjagaan unsur tanah, air, angin, dan api sebagai sumber kesejahteraan manusia. Ringin Catur menggambarkan keteraturan dan penjagaan ruang. Robert Wessing (1978) menyebut pola empat penjuru ini sebagai simbol keteraturan dan penjagaan ruang.

Tak ada Ringin Telu
Kosmologi Jawa bukan aritmatika, melainkan simbol tata semesta. Bilangan telu (tiga) bermasalah jika diwujudkan sebagai penanda ruang fisik, karena menyisakan satu sisi terbuka. Dalam kosmologi Jawa, ruang yang terbuka satu sisi dianggap rawan dan tidak terjaga. Clifford Geertz mengatakan, ruang sakral Jawa beroperasi pada Tunggal (pusat), Kembar (keseimbangan), dan catur (empat penjuru). Karena itu, tak ada istilah Ringin Tiga atau Ringin Telu atau Ringin Tri. Bilangan tiga (tri/telu) tidak dipakai sebagai formasi ruang beringin, karena tidak stabil secara kosmologis.

Jadi, Nabs. Ning desanem, masih adakah istilah Ringin Tunggal, Ringin Kembar, atau Ringin Catur?

Tags: Konsep Ringin CaturKosmologi BojonegoroKosmologi Jawa KunoMakin Tahu Indonesia
Previous Post

Bakti Bumi, Diskusi Agro Ekologi di Bukit Pagerwesi

Next Post

Pemburu Ilmu dari Gaza, Catatan Akhir 2025

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Identitas Kultural dalam Pembangunan Taman Perbatasan
Redaksi

‎Identitas Kultural dalam Pembangunan Taman Perbatasan

09/01/2026
Ekuilibrium Jurnaba dan Wekasan 2025
Redaksi

Ekuilibrium Jurnaba dan Wekasan 2025

31/12/2025
‎Kalam Iklim: Memahami Napas Bumi
Redaksi

‎Kalam Iklim: Memahami Napas Bumi

21/12/2025

Anyar Nabs

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: