Pohon Jogotirto punya peran penting dalam mengamankan kuota air di dalam tanah. Bermacam aktivisme ekologis mulai dilakukan dalam rangka merawat dan menggandakan keberadaannya.
Artikel ini merupakan bagian dari rangkaian berseri Pohon Jurnaba — esai bersambung mengulas bermacam pepohonan dari sudut pandang etnologi-ekologi sains Barat, dan analogi-kosmologi tradisi Timur, sebagai bukti betapa pohon adalah variabel penting peradaban manusia.
Studi Luar Kampus (Suluk) yang diberikan Pak Noer Fauzi Rachman kepada kami, sampai pada mata kuliah wajib (MKW) berupa agenda transect lapangan. Giat pengamatan lapangan dengan berjalan menelusuri sejumlah titik-titik penelitian tersebut, dipimpin langsung Om Oji — begitu kami menyapa Pak Noer Fauzi Rachman, PhD.
Studi Luar Kampus bagi Pandu Perubahan (Suluk Pandan), adalah civitas-akademika-partikelir yang dibina Om Oji. Civitas ini dibuat dalam rangka membangun dan merawat atmosfer riset melalui aras non-perguruan tinggi. Akademisi yang mempopulerkan “Psikologi Komunitas” sebagai bagian penting dari cabang Ilmu Psikologi itu, mendorong agar riset-studi harus tetap ditradisikan, meski kami tak lagi tercatat sebagai orang kuliahan.
Dalam transect lapangan ini, kami mengunjungi, mengamati, dan mempelajari dengan seksama, sejumlah titik di wilayah Ekosistem Gunung Pandan. Baik dari sisi wilayah Madiun, Nganjuk, maupun Bojonegoro, sebagai bagian dari kesatuan utuh ekosistem ekologis Gunung Purba. Seorang etnograf, kata Om Oji, wajib memiliki keseksamaan dan keadilan dalam metode pengamatan lapangan.
Sepasca mengamati sejumlah titik, kami berkunjung di Dusun Kedhaton, Sekar, Bojonegoro — sebuah lokasi yang dikenal sebagai keramat peradaban kuno. Di sana, masih banyak kami temui reruntuhan candi pendhermaan, magma purba, artefak, dan tentu saja, bermacam jenis raksasa pepohonan.
Om Oji mengajarkan bahwa setiap kawasan, terlebih yang dikeramatkan, memiliki nilai dan makna scientific cukup tinggi. Ada banyak nilai keilmuan yang sengaja disajikan para leluhur, namun sering gagal dipahami generasi saat ini. Karena itu, Om Oji mengajak kami mengamati tempat itu dengan bermacam paradigma.
Berjumpa Jogotirto
Dengan kepekaan environmentalis berpengalaman, akademisi yang mengajar “Psikologi Lingkungan” di Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran Bandung itu, langsung mengajak kami menuju titik tertinggi di lokasi tersebut. Tujuannya, untuk melihat sebuah pohon yang cabangnya sudah ia perhatikan, bahkan sejak pertamakali memasuki wilayah tersebut.
Setelah menaiki sebuah bukit cukup tinggi, dengan setapak lumpur tanah bekas hujan yang memenuhi hampir semua sisi-sisinya, kami tepat berada di bawah sebuah pohon raksasa yang selama ini dikeramatkan masyarakat sekitar, sebagai entitas pinisepuh cikal-bakal desa, yang menjadi titik penting lokasi ritus keramat masyarakat setempat.
“Kalian tahu apa kesaktian pohon ini?” Tanya Om Oji sambil menatap tajam pohon raksasa di hadapan kami, “dan atas alasan itulah, pohon ini memang sudah seharusnya dikeramatkan” imbuhnya.
Menurut Om Oji, yang berada tepat di depan kami adalah pohon Ara (ficus), tetumbuhan endemik hutan tropis dengan perawakan dan per-akaran cukup beragam. Bentuknya sangat banyak. Dari tumbuhan semak, pohon memanjat, hingga pohon raksasa. Dan pohon di depan kami itu, kata Om Oji, adalah ficus jenis pohon raksasa.
Tumbuhan ficus berbentuk pohon raksasa, juga memiliki usia beragam. Dari hanya ratusan tahun, hingga ribuan tahun. Om Oji menyebut, pohon ficus raksasa bahkan bisa berusia hingga ribuan tahun. Pohon Ficus Religiosa terdapat di Anuradhapura, Sri Lanka misalnya, adalah contoh pohon ficus raksasa berusia ribuan tahun lebih.
Semua pohon memang punya kemampuan menyerap dan menahan air. Tapi, pohon ficus raksasa berbeda. Om Oji menyebut, pohon ficus raksasa adalah Ibu dari air tanah. Sebab, akar pohon ficus raksasa merupakan kantung yang mampu “mengandung” dan menahan air tanah dalam volume besar.
Pohon ficus raksasa mampu memegang dan menahan air tanah. Inilah kesaktian hidrologis pohon ficus raksasa. Kemampuan menahan air dengan volume besar ini, tak dimiliki semua pohon. Bahkan, jika ficus identik pohon beringin, tak semua pohon beringin mampu melakukannya.
Ini alasan Om Oji memberi kami sejumlah referensi penting tentang Pengantar Hidrologi untuk kami baca dan pelajari. Sebab, pepohonan punya hubungan dengan Kaidah Hidrologi. Pemahaman Ilmu Hidrologi, amat penting bagi siapapun yang melakukan riset tentang pepohonan.
Kepada kami, Om Oji menjelaskan bahwa pohon ficus raksasa memiliki bentuk seperti gunung es. Sebab, panjang akarnya kebawah, 3 x lipat dari ukuran tinggi batangnya keatas. Begitupun radius jelajah akarnya ke samping, 3 x lipat tinggi batangnya, bahkan lebih. Artinya, kata Om Oji, kami sedang berdiri di atas kolam air besar yang berada di dalam tanah.
“Mari kita sebut dia Pohon Jogotirto, karena dia berjasa besar dalam menjaga ketersediaan air bagi kita” ucap Om Oji penuh kemantapan.
Berkomunikasi dengan Pohon
Dengan langkah pasti, Om Oji berjalan mendekati pohon raksasa itu. Sesekali ia mengelilingi diameter di tiap sisinya. Berkali-kali, ia menatap tajam ke arah cabang-cabang berukuran besar melintang di atasnya, dan berkata pada kami yang berada di belakangnya, “Pohon ini makhluk seperti kita, kalian harus bisa berkomunikasi dengannya” tuturnya.

Serupa makhluk lain, pohon kerap kali mengirim sinyal pesan kepada manusia. Hanya, karena tak berbentuk sebuah bahasa, maka sinyal itu sulit dipahami. Komunikasi pohon, kata Om Oji, tentu lewat sinyal-sinyal pertanda. Pohon kerap kali “bercerita” pada manusia, baik dalam bentuk suara maupun aroma yang, sesungguhnya, sedang menunjukan sebuah kondisi pada kita.
“Ada banyak buku-buku bagus yang membahas bagaimana pohon berkomunikasi dengan kita. Nanti saya kasih, tolong itu dibaca” ucap akademisi yang membidangi penelitian di bidang Politik Agraria, Gerakan Sosial, dan Pembangunan Pedesaan itu.
Berada di bawah pohon raksasa itu, Om Oji tampak senang. Bahkan dengan semangat berapi-api, ia menerangkan seluk beluk karakteristik pohon ficus raksasa itu pada kami. Namun, raut wajahnya berubah sedih dan agak marah ketika mendapati bahwa di radius 5 meter dari lokasi tersebut, tak ditemui embrio anakan ficus raksasa. Artinya, pohon raksasa di dekat kami itu sedang dalam ancaman kepunahan.
“Di tempat ini pernah terjadi perburuan hewan, entah monyet atau burung-burung. Makanya kita tak menemui embrio pohon ficus raksasa di sekitar lokasi ini” Ucap Om Oji penuh keyakinan.
Om Oji mengatakan, pohon ficus raksasa adalah pusat ekosistem bagi sejumlah hewan seperti serangga, monyet, dan burung-burung. Mereka memiliki hubungan simbiosis-mutualisme yang baik. Sebab, hewan-hewan itu memakan buah dari pohon ficus raksasa, sekaligus menyemai biji ficus itu di dalam perut mereka, untuk kemudian mereka sebarkan ke titik-titik baru, melalui metabolisme kotoran.

Faktanya, sekitar 1274 spesies burung dan mamalia dari 523 genera dan 92 famili (termasuk monyet), diketahui memakan buah dari pohon ficus raksasa. Para pemakan buah ficus ini, juga menyebarkan benih mereka. Karena besarnya peran itu, pohon ficus raksasa dianggap sebagai spesies kunci dalam ekosistem hutan tropis.
Om Oji menjelaskan, apa yang terjadi jika monyet dan burung-burung yang biasa berada di tempat ini diburu manusia? Walhasil, persebaran benih ficus raksasa ini terputus dan berhenti. Karena itu, dari tadi, kami tidak menemukan anakan ficus raksasa di sekitar tempat ini. Sebab, rantai reproduksinya terputus.
“Bahkan kalian belum tahu kan, kalau pohon raksasa ini punya buah dan biji? Harusnya kalian tahu itu” imbuhnya.
Memelihara Pohon Jogotirto
Menurut Om Oji, pohon ficus raksasa tersebar dan tumbuh di beberapa tempat, melalui persebaran biji di dalam buah-buahnya. Buah-buah ficus yang dimakan burung itu, sesungguhnya mengalami proses penyemaian di dalam tubuh mereka. Sebelum akhirnya disebarkan melalui kotoran. Nah, ketika hewan-hewan itu diburu, otomatis rantai reproduksi berhenti.
Om Oji meminta kami mempelajari bagaimana cara menjaga dan menggandakan keberadaan pohon Jogotirto. Tentu, lewat metode penyemaian benih yang didapat dari buah dan biji-biji pohon tersebut. Ilmu menyemai benih, telah lama dilupakan dunia pasca-modern. Karena itu, Om Oji berharap kami bisa mempelajari dan kembali mempopulerkannya.
Sebab, tindakan ekologis tak bisa dilakukan sekadar seremonial: hanya foto-foto, bikin laporan, dapat pencairan, dan terlupakan. Itu contoh tindakan kolonial-transaksional. Sebaliknya, tindakan ekologis harus dipahami secara esensial-emosional: memahami konteks keilmuan sebagai landasan penting tindakan yang berkelanjutan.
Om Oji memberi tugas pada kami untuk belajar memahami pembenihan buah pohon ficus raksasa. Bagaimana buah, biji-biji, dan benih Pohon Jogotirto itu mampu berkecambah, untuk kemudian disemai di tempat-tempat baru. Memperbanyak keberadaan Pohon Jogotirto berarti memperbanyak kantung air dalam tanah.
“Jika ada yang sudah menjadi benih, dan bisa ditanam di tempat-tempat berbeda, kasih nama ia Jogotirto I, Jogotirto II, Jogotirto III, dan seterusnya. Mereka telah berjasa besar bagi kita. Sudah sepatutnya kita menjaga keberadaan mereka. Dan dengan memberi nama, kita akan punya ikatan emosi dengan mereka”. Tegasnya.
**
Tulisan ini bagian dari sedimentasi pembelajaran dalam program Study Luar Kampus bagi Pandu Perubahan (Suluk Pandan) yang dibina langsung Dosen Psikologi Lingkungan Universitas Padjajaran Bandung, Noer Fauzi Rachman, PhD.








