Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Rahasia Doa yang Mustajab

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
20/03/2025
in Cecurhatan
Rahasia Doa yang Mustajab

Rahasia Doa

Doa adalah senjata orang beriman. Doa memiliki syarat, sayap, waktu, dan penyebab.

Suatu saat seoran kyai kondang dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Syaichona Cholil Bangkalan, menerima tiga tamu. Ya, tiga tamu yang sowan kepada sang kyai secara bersamaan. Selepas berbagi sapa dengan para tamu, sang kyai lantas bertanya kepada tamu pertama, “Sampeyan (Anda) ada keperluan apa?”

“Kyai. Saya ini seorang pedagang,” jawab tamu pertama. Dengan lesu. “Akhir-akhir ini, saya mengalami kerugian. Terus menerus. Mohon doa Kyai.”
“Jika sampeyan ingin berhasil dalam berdagang, perbanyaklah beristighfar,” jawab sang Kyai.

Selepas berucap demikian, Syaichona Cholil Bangkalan lantas bertanya kepada tamu kedua. Tetap dengan pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan yang diajukan kepada tamu pertama, “Sampeyan ada keperluan apa?”

“Kyai. Saya telah berkeluarga. Selama sekitar 18 tahun. Namun, hingga saat ini saya belum dikaruniai Allah Swt. anak keturunan. Apa yang sebaiknya saya lakukan, Kyai,” jawab tamu kedua.

“Jika sampeyan ingin memiliki anak keturunan, perbanyaklah beristighfar,” jawab sang Kyai. Dengan jawaban serupa dengan jawabannya kepada tamu pertama.

Selepas berucap demikian, kyai kondang itu lantas bertanya kepada tamu ketiga. Tetap dengan pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan yang diajukan kepada tamu pertama dan kedua, “Sampeyan ada keperluan apa?”

“Kyai. Saya ini seorang petani,” jawab tamu ketiga. Dengan raut muka sedih. “Hari demi hari, utang saya kian menumpuk. Malah, kini saya tidak kuat melunasinya. Saya juga mohon arahan Kyai.”

“Jika sampeyan ingin utang itu terlunasi, perbanyaklah beristighfar,” jawab sang Kiai.

Mendengar perbincangan yang demikian, beberapa santri yang hadir dalam pertemuan itu merasa heran dan bingung. Tiga masalah yang berbeda kok diberikan “resep” yang sama: dengan memperbanyak beristighfar.

Mengetahui kebingungan dan keheranan para santri tersebut, selepas para tamu pamit, Syaichona Cholil Bangkalan lantas memanggil mereka dan kemudian membacakan ayat Alquran berikut:

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia adalah Maha Pengampun. (Dengan memohon ampun), niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat kepadamu, membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun serta mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS Nûh [71]: 10-12).

Mendengar jawaban Syaichona Cholil Bangkalan yang demikian, para santri pun mengerti bahwa jawaban itu ternyata merupakan janji Allah Swt. Bagi siapapun yang memperbanyak beristighfar. Dan, ternyata, benar: tak lama selepas kejadian itu, tiga tamu tersebut mengabarkan bahwa mereka berhasil mewujudkan apa yang mereka dambakan.

Setiap orang, tentu, mendambakan kiranya doanya diterima Allah Swt. Namun, di sisi lain, kerap kali ia tidak tahu bagaimana tata krama dan tata cara berdoa yang baik kepada-Nya. Sehingga, doanya dapat diterima oleh-Nya.

Hakekat Berdoa

Berkenaan dengan tata krama dan tata cara berdoa, Ibn Atha’illah al-Sakandari (1250 – 1309 M), seorang Tuan Guru kondang asal Alexandria, Mesir berpesan, “Doa memiliki syarat, sayap, waktu, dan penyebab. Bila doa selaras dengan syaratnya, tentu doa itu akan menjadi kuat. Bila doa itu selaras dengan waktunya, tentu doa itu akan “bernasib baik”.

Sedangkan bila selaras dengan penyebabnya, doa akan berhasil. Syarat doa adalah kehadiran kalbu bersama Allah Swt., khusyuk karena-Nya, malu kepada-Nya, dan mengharap sangat kemurahan-Nya. Sayapnya adalah ketulusan kalbu dan senantiasa berusaha menyantap makanan yang halal. Waktunya adalah saat yang sunyi dan sepi seperti halnya saat dini hari. Sedangkan penyebabnya adalah shalawat kepada Rasulullah Saw.”

Tentu tidak semua doa dikabulkan Allah Swt. Lantas, bagaimana seyogianya sikap seseorang ketika ia merasa seakan doanya tidak dikabulkan oleh-Nya?

“Jangan salahkan Allah Swt. bila doa tidak dikabulkan. Juga, jangan menggerutu atau jemu,” demikian pesan Syeikh Abdul Qadir al-Jailani (1078-1167 M), seorang Tuan Guru kondang, dalam sebuah karyanya berjudul Mafâtih al-Ghaib.

“Jika Anda memohon tibanya cahaya siang pada saat kian mendekatnya kegelapan malam, maka penantian Anda akan lama. Ini karena ketika itu kepekatan akan meningkat, hingga fajar tiba. Namun, yakinlah, fajar pasti menyingsing. Baik Anda kehendaki atau tidak. Jika Anda menghendaki kembali malam pada saat itu, maka doa Anda tidak akan dikabulkan. Ini karena Anda meminta sesuatu yang tidak layak, dan Anda akan dibiarkan meratap, lunglai, jemu, dan enggan. Namun, Anda salah bila jemu berdoa, karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (QS Al-Insyirâh [94]: 5-6).”

“Perlu Anda ketahui, bila apa yang dimohonkan tidak diperoleh dengan segera, Anda tidak akan merugi,” demikian pesan lebih lanjut Syeikh Abdul Qadir al-Jailani. “Nabi Muhammad Saw. berpesan, ‘Pada hari kebangkitan ada yang terheran-heran melihat ganjaran perbuatan yang dia rasakan tidak pernah dilakukannya. Ketika itu disampaikan kepadanya, ‘Inilah doa-doamu di dunia yang dulu tidak dikabulkan.’ Karena itu, janganlah jemu berdoa. Juga, jangan menggerutu. Apalagi mencerca!”

Ya, jangan menggerutu. Apalagi mencerca Allah Swt., karena seakan doanya belum dikabulkan. Rasulullah Saw., dalam sebuah hadis lain tentang penundaan pemenuhan doa seseorang, mengemukakan:

“Pada Hari Kiamat kelak, Allah Swt. akan memanggil seorang hamba-Nya. Ketika sang hamba telah berada di hadapan-Nya, Dia pun bertanya kepada-Nya, ‘Hamba-Ku! Bukankah Aku telah memerintahkan, hendaklah engkau berdoa kepada-Ku. Juga, bukankah Aku telah berjanji akan memenuhi permohonanmu?’

‘Benar, ya Rabb,’ jawab hamba itu.

‘Sejatinya, setiap permohonanmu senantiasa Aku penuhi. Bukankah pada suatu saat dan saat yang lain engkau memohon kiranya engkau dihindarkan dari suatu petaka, lantas Aku penuhi permohonanmu itu?’

‘Benar, ya Rabb.’

‘Permohonanmu itu segera Ku-penuhi, sedangkan engkau masih berada di dunia. Juga, bukankah pada suatu saat dan pada saat yang lain engkau memohon kiranya dihindarkan dari suatu petaka lain. Namun, engkau merasa seakan Aku tidak memenuhi permohonanmu itu?’

‘Benar, ya Rabb.’

‘Aku menjadikan permohonanmu itu sebagai simpanan. Di surga. Bukankah pada suatu saat yang lain engkau memohon sesuatu dan permohonanmu itu segera Aku penuhi?’

‘Benar, ya Rabb.’

‘Aku perintahkan supaya permohonanmu itu segera dipenuhi. Kemudian, ketika engkau memohon sesuatu yang lain, bukankah engkau merasa permohonmu itu tidak Ku-penuhi?’

‘Benar, ya Rabb.’

Allah pun berfirman, ‘Aku jadikan permohonanmu itu sebagai tabungan. Di surga!’”

Usai mengemukakan demikian, Rasulullah Saw. kemudian berpesan, “Terhadap setiap doa, yang dikemukakan seseorang yang beriman, Allah Swt. senantiasa memberikan dua pilihan: segera memenuhi doa itu di dunia. Atau Dia menjadikan doa itu sebagai simpanan di akhirat. Dan, andai orang itu tahu mengenai hal itu, tentu ia akan mengatakan, ‘Andai saja doaku tidak segera dipenuhi Allah. Di Dunia ini.’” (HR al-Hakim dari Jabir bin Abdullah).

Doa adalah senjata orang beriman. Doa memiliki syarat, sayap, waktu, dan penyebab. Jika kita berdoa dengan tulus, yakin, dan sesuai adab, doa itu akan menjadi kuat, bernasib baik, dan berhasil. Karena itu, selayaknya kita tidak pernah jemu berdoa. Sebab, setiap doa yang tidak segera dikabulkan di dunia, akan menjadi simpanan berharga di akhirat.

Rasulullah Saw. berpesan, “Andai orang itu tahu, ia akan berkata, ‘Andai saja doaku tidak segera dikabulkan di dunia.’”
Karena itu pula, mari kita memperbanyak istighfar, memperbaiki adab berdoa, dan yakin bahwa Allah Sw. selalu mendengar doa kita. Sebab, doa adalah cahaya yang memendari jalan kita menuju ridha-Nya!

 

Tags: Catatan Rofi' UsmaniMakin Tahu IndonesiaRahasia Doa
Previous Post

Diskusi Multipihak: BI Dorong Transparansi dan Akuntabilitas Dana Abadi Migas

Next Post

AKD Bojonegoro Dukung Program Pengentasan Kemiskinan

BERITA MENARIK LAINNYA

Pelajaran dari Luka yang Sama
Cecurhatan

Pelajaran dari Luka yang Sama

15/01/2026
Bismillah yang Hilang dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)
Cecurhatan

Bismillah yang Hilang dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur
Cecurhatan

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026

Anyar Nabs

Pelajaran dari Luka yang Sama

Pelajaran dari Luka yang Sama

15/01/2026
Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

15/01/2026
Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

14/01/2026
Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

14/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: