Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Salam Tiga Jari di Demo Hari Sumpah Pemuda 2026, Simbol Perlawanan ala The Hunger Games

Bakti Suryo by Bakti Suryo
29/10/2026
in Altertainment
Salam Tiga Jari di Demo Hari Sumpah Pemuda 2026, Simbol Perlawanan ala The Hunger Games

Katnees Everdeen (JNB).

Suara gemuruh pemuda memenuhi udara Jakarta, Rabu (28/10/2026). Air kolam Bundaran Hotel Indonesia (HI) memantulkan bayangan ribuan pemuda. Riak demonstrasi memadati kawasan tersebut. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama aliansi lintas kampus menggerakkan aksi bertepatan dengan 98 tahun Hari Sumpah Pemuda.

Ada satu pemandangan menonjol dalam aksi tersebut. Peserta aksi mengangkat tangan dan mengacungkan jari ke angkasa. Tiga jari rapat menunjuk langit, sementara ibu jari melipat kelingking. Pemandangan tersebut berhasil menyita perhatian publik melalui kanal media massa dan media sosial.

Salam tiga jari menyeruak di antara kibaran bendera dan bentangan spanduk kritik. Three-finger salute yang begitu tenang menjadi simbol lontaran teriakan yang hening. Gestur tubuh ini menebar aura perlawanan. Sebuah keheningan yang ditransmisikan melalui gerak tubuh minimalis. Gerak yang justru menghantam ruang publik lebih keras dari teriakan “saya akan lawan!”.

Simbol tiga jari tidak serta-merta muncul begitu saja. Gestur ini tidak lahir dari ruang hampa. Penikmat pop kultur tentu langsung teringat pada adegan ikonik dalam sebuah film. Ya, film yang diangkat dari novel berjudul The Hunger Games (2012).

The Hunger Games mengisahkan tokoh fiksi rekaan Suzanne Collins bernama Katniss Everdeen. Di distrik yang tertindas, Katniss mengangkat tiga jari tangannya ke langit usai melepas kepergian Rue. Rue ialah teman dekat sekaligus sekutu Katniss.

Salam tiga jari awalnya merupakan tradisi kuno Distrik 12. Ia bermakna ucapan terima kasih, kagum, serta simbol ucapan selamat tinggal. Terutama pada sosok tercinta. Namun, tatkala Katniss memperagakannya, gestur ini mengalami pergeseran makna yang drastis.

Simbol kasih sayang lokal tersebut bertransformasi menjadi bahasa perlawanan kolektif. Terutama menentang rezim otoriter Panem, negara otoriter yang dikendalikan Capitol di semesta The Hunger Games. Ketika rakyat Distrik 11 membalas salam Katniss secara serentak, gestur tiga jari ini menjadi kode universal. Kode yang bermakna kesatuan, keberanian dan penolakan terhadap penindasan.

Salam tiga jari berhasil membuktikan bagaimana fiksi mampu melompati batas imajinasi menuju realitas sosial. Buktinya, ikon sinematik tersebut hadir di antara kerumunan massa aksi. Gestur ini bermutasi menjadi taktik perlawanan nirkekerasan yang nyata. Ia hadir di aksi demontrasi 28 Oktober 2026 bertajuk “Tepati atau Pergi” dan hashtag #IndonesiaSadar di kanal media sosial.

Secara filosofis, salam tiga jari mengusung tiga pilar utama: kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Sebuah resonansi dari tradisi pencerahan Prancis (Liberté, Égalité, Fraternité). Tetapi, dalam gerakan sipil modern, salam tiga jari berevolusi menjadi simbol penolakan terhadap kediktatoran, tuntutan atas keadilan sosial, serta solidaritas antarwarga.

Merujuk pada semiotika Roland Barthes, tanda (sign) tidak berhenti pada makna denotatif (bentuk fisik gestur). Tanda juga bekerja pada tatanan konotatif dan mitos. Dalam hal ini, bentuk gestur mengangkat tangan dengan mengacungkan tiga jari. Tubuh sebagai medium komunikasi politik. Sedangkan tangan menjadi platform yang memancarkan pesan. Dalam hal ini, pesan penolakan atas dominasi kekuasaan.

Dalam salam tiga jari, ibu jari yang menekuk kelingking melambangkan pengikatan diri pada janji bersama untuk saling melindungi. Sementara tiga jari yang menunjuk ke langit sebagai representasi konsistensi ideologi. Sebuah prinsip yang tidak tergoyahkan oleh intimidasi fisik maupun pembatasan ruang sipil.

Pesan visual ini terwujud begitu masif di Bundaran HI pada peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026. Alasannya terpaut erat dengan dinamika sosial-politik dalam negeri. Menurut laporan yang dirilis Agence France-Presse (AFP) berjudul “‘Eat the rich’: Indonesians protest against graft, wildfires” (29/10.2026), unjuk rasa besar dipicu oleh akumulasi kekecewaan masyarakat. Rasa kecewa terhadap penanganan krisis ekonomi, penegakan hukum, serta isu lingkungan. Khususnya bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung ditetapkan sebagai bencana nasional.

Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI 2026, Namora Siahaan, menegaskan dalam keterangannya. Peserta aksi tersebut tidak mengerti alasan pemerintah tidak segera menetapkan karhutla di Kalimatan sebagai bencana nasional.

“Kami tidak mengerti alasan kenapa pemerintah tidak kunjung mau menetapkan sebagai status bencana nasional. Parameter hukum sudah jelas, benefit-nya sudah jelas, tapi mungkin pemerintah dengan egonya itu masih menolak untuk mengakui,” ucap pria yang akrab disapa Mora tersebut (dikutip dari Kompas).

Melalui gerakan bertajuk “Indonesia Sadar”, massa membawa lima poin tuntutan mendesak. Melansir kanal Tempo, ada lima tuntutan massa aksi demonstrasi kepada pemerintah. Pertama, penetapan status bencana nasional kebakaran hutan dan lahan, mengadili korporasi yang bertanggungjawab, serta menuntaskan integrasi tata kelola lahan.

Kedua, menghentikan pemborosan anggaran pendapatan belanja negara (APBN) untuk kepentingan politik. Khususnya yang berkedok program populis, seperti makan bergizi gratis dan koperasi desa/kelurahan merah putih.

Ketiga, menurunkan biaya pendidikan dan memberikan akses layanan dasar yang merata. Keempat, menghentikan penggunaan hukum untuk penyalahgunaan kekuasaan. Kelima, mengembalikan kebebasan bersuara, mengadili pelanggaran hak asasi manusia, dan menghentikan militerisasi di ruang sipil.

Nah, di sinilah letak pertautan semiotis antara salam tiga jari dengan fenomena di negeri ini. Gejolak ekonomi, tekanan biaya pendidikan, serta penyempitan ruang berekspresi menciptakan kondisi kesenjangan di masyarakat. Kejadian yang mirip dalam film fiksi. Salah satunya The Hunger Games.

Salam tiga jari yang diacungkan ke angkasa oleh para mahasiswa bukan sekadar gaya-gayaan. Terlebih hanya sebuah tren adobsif budaya pop. Ia merupakan sebentuk bahasa visual yang efisien untuk menyatukan beragam keresahan. Tubuh mengambil alih fungsi wacana ketika saluran komunikasi formal dinilai menyumbat aspirasi.

Aksi di landmark ibu kota tersebut menegaskan bahwa simbol akan selalu menemukan jalannya sendiri. Di tangan para pemuda, gerakan tiga jari Katniss Everdeen telah melebur menjadi bahasa perlawanan. Sebuah pernyataan tanpa ucap bahwa masyarakat sedang mengawasi jalannya kekuasaan. Pengawasan dengan penuh akal dan kewarasan.

Tags: Budaya PopBundaran HIDemo Hari Sumpah Pemuda 2026Demonstrasi 2026Hari Sumpah PemudaSalam Tiga JariThe Hunger Games
Previous Post

Gen Z, Kopi, dan Panggung Bernama Menghidupi Instastory

BERITA MENARIK LAINNYA

Kiat Melatih Fokus Lewat Membaca Buku di Tengah Gempuran Distraksi Digital
Altertainment

Kiat Melatih Fokus Lewat Membaca Buku di Tengah Gempuran Distraksi Digital

26/10/2026
5 Alasan Kenapa Hari Ulang Tahun Laki-Laki Tak Ubahnya Hari-Hari Biasa
Altertainment

5 Alasan Kenapa Hari Ulang Tahun Laki-Laki Tak Ubahnya Hari-Hari Biasa

26/09/2026
Briefing Akbar KIBO 12: Sambutan Awal Menjelang Hari Inspirasi 2026 di Bojonegoro
Altertainment

Briefing Akbar KIBO 12: Sambutan Awal Menjelang Hari Inspirasi 2026 di Bojonegoro

19/09/2026

Anyar Nabs

Salam Tiga Jari di Demo Hari Sumpah Pemuda 2026, Simbol Perlawanan ala The Hunger Games

Salam Tiga Jari di Demo Hari Sumpah Pemuda 2026, Simbol Perlawanan ala The Hunger Games

29/10/2026
Gen Z, Kopi, dan Panggung Bernama Menghidupi Instastory

Gen Z, Kopi, dan Panggung Bernama Menghidupi Instastory

28/10/2026
Membaca Supremasi Masyarakat Sipil dalam Naskah Kuno Bojonegoro

Membaca Supremasi Masyarakat Sipil dalam Naskah Kuno Bojonegoro

27/10/2026
Kiat Melatih Fokus Lewat Membaca Buku di Tengah Gempuran Distraksi Digital

Kiat Melatih Fokus Lewat Membaca Buku di Tengah Gempuran Distraksi Digital

26/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: