Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Sayyid Jamaluddin Akbar dan Genealogi Peradaban Islam Padangan

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
17/04/2023
in Headline, Manuskrip
Sayyid Jamaluddin Akbar dan Genealogi Peradaban Islam Padangan

Sayyid Jamaluddin Akbar terbukti punya peran besar dalam membuka peradaban islam di Tlatah Padangan. 

Padangan bukan sekadar nama kecamatan. Tapi sebuah peradaban islam yang membentang dari sisi barat sungai (Blora) dan sisi timur sungai (Bojonegoro) Bengawan Solo. Termasuk kecamatan Cepu, Kasiman, Gayam, Kalitidu, Ngraho, Tambakrejo, Margomulyo, dan kecamatan lain di tepi Bengawan Solo.

Padangan disebut-sebut sebagai tanah Fiidarinnur. Tanah berselimut cahaya di sisi bantaran Bengawan Solo. Padangan, saat ini menjadi nama sebuah kecamatan di batas barat Kabupaten Bojonegoro. Lokasinya  berdekatan dan berbatasan langsung dengan Cepu, Blora Jawa Tengah.

Ada banyak spektrum/fase Peradaban Islam di Padangan. Semuanya bergerak secara estafet, dari zaman ke zaman. Selain banyak nama ulama, di Tlatah Padangan juga banyak manuskrip sepuh yang keberadaannya masih terjaga.

Ada ratusan manuskrip tulisan tangan yang ada di Padangan. Manuskrip-manuskrip itu ditemukan di sejumlah titik peradaban. Seperti di Klotok, Betet, Petak, dan Kuncen. Secara detail, total sebanyak 94 kitab ilmiah tulisan tangan, dan puluhan naskah catatan peradaban.

Genealogi peradaban islam di Padangan bergerak dari zaman ke zaman. Berikut ini spektrum peradaban islam beserta nama-nama ulama yang berdakwah di Padangan dari zaman ke zaman.

1. Majapahit  (1293-1527 M)

Di era Majapahit, islam sudah ada di Padangan lewat ulama bernama Sayyid Jamaluddin Akbar al Husaini (w. 1394 M). Beliau berdakwah dan bermukim di wilayah Tebon Padangan, sekitar 1350 M. Hal ini dibuktikan secara ilmiah melalui tiga bukti sumber empiris.

Ketiga sumber tersebut adalah sumber literatur, sumber prasasti, hingga sumber arkeologis. Sumber literatur disebut dalam buku The Passing Over, karya KH Abdurrohman Wahid (1998), sumber prasasti disebut dalam Prasasti Canggu (1358 M), dan sumber arkeologis dilihat dari hasil penelitian gabungan arkeolog UGM pada tahun 2011 silam.

Menurut Gus Dur, Sayyid Jamaluddin berdakwah di nusantara antara tahun 1331-1364 M. Keberadaannya bebarengan dengan periode mahapatih Gajah Mada menjabat patih Majapahit. Menurut Gus Dur, sebelum mengislamkan pusat Majapahit (Mojokerto), Sayyid Jamaluddin terlebih dulu berdakwah di Jipang Padangan. Artinya, antara 1340-1350 M, beliau berada di Jipang Padangan.

Hal ini didukung dengan sumber prasasti. Prasasti Canggu yang ditulis Raja Hayam Wuruk pada 1358 M, mengabarkan bahwa Jipang Padangan adalah bagian dari Naditira Pradeca (gerbang sungai Majapahit). Lokasi yang jadi pintu utama (jalur sungai) menuju pusat kota Majapahit.

Untuk diketahui, Mahapatih Gajah Mada menjadi patih Kerajaan Majapahit di era Raja Hayam Wuruk (1350-1389 M). Artinya, ada kesesuaian periodisasi antara tulisan Gus Dur dan Prasasti Canggu yang ditulis oleh Raja Hayam Wuruk, terkait keberadaan Sayyid Jamaluddin di Padangan.

Melalui peta jalur Naditira Pradeca, Sayyid Jamaluddin berada di wilayah Jipang sebelum menuju pusat kota Majapahit (Mojokerto). Dari  Naditira Pradeca itulah, beliau bergerak ke arah timur, menuju Mojokerto. Untuk diketahui, sisi timur sungai Jipang adalah Tebon Padangan. Sesuai tulisan Gus Dur, sangat logis jika Sayyid Jamaluddin membangun pemukiman dan berdakwah di Tebon Padangan, sebelum melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Majapahit.

Tinjauan arkeologis juga memperkuat tulisan Gus Dur. Dari hasil penelitian arkeologis yang dilakukan para peneliti UGM di wilayah Tebon Padangan pada 2011 menyimpulkan, ada dua penemuan karakter candi di Padangan. Semuanya candi di era Majapahit. Karakter pertama candi era Hindu-Budha, karakter kedua candi era Islam. Ini bukti adanya transisi kultural dari Hindu Budha ke Islam.

Adanya perubahan kultural di era Majapahit, tentu karena ada figur yang mengubahnya. Hal ini jadi bukti tak terbantahkan terkait keberadaan Sayyid Jamaluddin Akbar di Padangan. Seperti ucapan Gus Dur, Sayyid Jamaluddin Akbar telah mengislamkan wilayah Tebon Padangan sebelum mengislamkan wilayah pusat administratif Majapahit.

Sumber Silsilah: Pustaka Dwipantara (1675 M), Pustaka Rajya-rajya Bhumi Nusantara (1676 M), Purwaka Caruban Nagari (1720 M), yang dirangkum KH Agus Sunyoto dalam buku Sunan Ampel Raja Surabaya (2004).

Sayyid Jamaluddin Akbar merupakan leluhur Para Wali penyebar islam di Nusantara. Sayyid Jamaluddin adalah ayah dari Ibrahim Asmoroqondy (ayah Sunan Ampel) dan Maulana Ishaq (ayah Sunan Giri). Adik dari Sayyid Jamaluddin yang bernama Syekh Datuk Isa, kelak memiliki anak bernama Syekh Datuk Sholeh (ayah dari Syekh Siti Jenar).

Dalam kitab Al-Mausuu’ah Li Ansaab Itrati Al-Imam Al-Husaini dijelaskan secara detail, Sayyid Jamaluddin memiliki 19 anak. Anak terakhir Sayyid Jamaluddin Akbar bernama Syarif Muhammad Kabungsuwan (Pangeran Undayaningrat). Anak terakhir bernama Syarif Muhammad Kabungsuwan (Pangeran Undayaningrat) inilah, sosok yang kelak menurunkan para penyebar agama islam dari Bani Kesultanan Pajang.

Sumber Silsilah: Kitab Al-Mausuu’ah Li Ansaab Itrati Al-Imam Al-Husaini, Manuskrip Padangan, Manuskrip Kedungpring Lamongan, dan Manuskrip Bungah Gresik.

Sayyid Jamaluddin Akbar memang tak meninggalkan makam di Tebon. Sebab, secara ilmiah, beliau wafat di Tosora Bugis, Sulawesi Selatan. Tapi meninggalkan petilasan berupa bekas pemukiman dan masjid (masigit) di persawahan pinggir sungai Tebon Padangan. Sayyid Jamaluddin Akbar meninggalkan energi yang selalu hidup di tiap generasi.

 

2. Kesultanan Demak (1481-1554 M) dan Giri Kedaton (1481-1680 M)

Di era ini ada Raden Utsman Haji atau Sunan Udung yang berada di Jipang. Dakwah Sunan Udung berpengaruh pada keislaman masyarakat di sisi barat sungai (Jipang Barat/Panolan) dan sisi timur sungai (Jipang Timur/Padangan). Hal ini tertulis secara empiris dalam kitab Tarikh Aulia karya KH Bisri Mustofa.

Di zaman yang sama, terdapat ulama bernama Syekh Nursalim yang berdakwah di Tebon Padangan. Sumber lokal menyebut, Syekh Nursalim adalah santri dan utusan Giri Kedaton yang hidup di era Sunan Prapen (cucu Sunan Giri). Syekh Nursalim diutus dakwah di wilayah Tebon Padangan circa 1554 M. Syekh Nursalim juga dikenal dengan Mbah Jimat Tebon.

Pada 1554 M, Sunan Prapen, cucu Sunan Giri yang bergeler Kanjeng Sunan Giri IV,  membaiat Sultan Hadiwijaya menjadi Sultan Pajang pertama. Di era kepemimpinan Sunan Prapen, Kedatuan Giri mengalami perkembangan pesat. Di era inilah, utusan Giri Kedaton banyak disebar di berbagai daerah. Di era ini pula, Syekh Nursalim Jimat berada di Tebon  Padangan.

Makam Syekh Nursalim Jimat terletak di Dusun Giri, Tebon Padangan. Lokasi makam Syekh Nursalim Jimat mirip makbarah Kedatuan Giri yang berada di Gresik. Yakni, berlokasi di atas bukit.

3. Kesultanan Pajang (1554-1589 M)

Era keruntuhan Kesultanan Pajang (akhir 1500 M dan awal 1600 M), banyak penyebar islam berada di Jipang Padangan. Diantaranya Syekh Sabil Menak Anggrung (c.1578-1650 M). Keberadaan Mbah Sabil di Padangan, teriwayatkan pada periode (1600-1650 M). Pengaruhnya di Padangan, ditandai keberadaan Pesantren Menak Anggrung.

Di era Syekh Sabil inilah, Padangan jadi punjer peradaban yang terkoneksi secara ilmiah dengan Lasem Rembang dan Singgahan Tuban. Padangan jadi titik temu antara Mbah Sambu Lasem dan Mbah Jabbar Singgahan. Hal ini tercatat secara empiris dan autentik dalam Manuskrip Padangan.

Mbah Sambu Lasem adalah menantu Syekh Sabil. Mbah Jabbar Singgahan juga menantu Syekh Sabil. Bahkan, selain menantu, Mbah Jabbar Singgahan adalah keponakan Syekh Sabil Padangan. Dari hubungan kekeluargaan inilah, menurunkan banyak sekali nama ulama.

Sumber Silsilah: Manuskrip Padangan, Manuskrip Kedungpring Lamongan, Manuskrip Bungah Gresik. 

Ulama-ulama yang berdakwah di wilayah  Jawa Timur dan Jawa Tengah, mayoritas dzuriyah (keturunan) dari Syekh Sabil Padangan, Syekh Sambu Lasem, dan Syekh Jabbar Nglirip Singgahan. Hal ini menjadikan Padangan sebagai bagian penting dari peradaban Islam Nusantara.

4. Periode 1650 – 1700 M

Pasca peradaban Pesantren Menak Anggrung, lahir banyak ulama yang merupakan santri dari Syekh Sabil Padangan. Diantara santri-santri Ponpes Menak Anggrung adalah Mbah Kamaluddin Oro-oro Bogo, Mbah Abdurrohman Saban, Mbah Moyomuddin, Mbah Mamuddin, hingga Mbah Imamuddin. Ulama-ulama tersebut berdakwah di Padangan pada periode 1600 akhir, hingga awal 1700 M.

5. Periode 1700 M

Pasca era 1700 M, di Padangan muncul nama-nama ulama penerus era sebelumnya. Di antara yang terkenal adalah Syekh Abdurrohman Goco yang berada di Stren Purworejo dan Syekh Syahiddin Oro-oro Bogo yang berada di Kuncen. Di zaman ini, juga hadir tokoh bernama Kiai Tjarangsoko atau Mbah Malang Negoro I, Bupati Padangan (1746-1752 M) yang membuka wilayah Ngasinan Padangan.

6. Periode Fiidarinnur (1800 M)

Era Fiidarinnur (1800-1820 M) tercatat sebagai peradaban islam paling masif di Padangan. Fiidarinnur merupakan periode sebelum era Perang Jawa (1825-1830 M).  Istilah Fiidarinnur sering muncul dalam karya Syekh Abdurrohman Klotok, sebagai nisbat penulisan kitab. Ia semacam kode intelektual Tlatah Padangan.

Era Fiidarinnur mirip zaman Renaisance /Aufklarung di Eropa. Zaman cahaya dan ilmu pengetahuan islam. Di zaman ini, Padangan dipenuhi banyak penulis kitab dan karya ilmiah. Di antara ulama yang hidup di periode ini adalah dua bersaudara Syekh Abdurrohman Klotok dan Syekh Syihabuddin Padangan. Ini ditandai keberadaan Pesantren Klotok dan Pesantren Betet sebagai punjer peradaban islam sebelum Perang Jawa, di Padangan.

Syekh Abdurrohman Klotok dan Syekh Syihabuddin Padangan punya pengaruh besar sebagai penyebar sanad ideologi dan nasab genealogi. Mbah Abdurrohman Klotok melahirkan banyak santri yang kelak jadi ulama. Sementara Mbah Syihabuddin Padangan melahirkan banyak keturunan yang kelak jadi ulama.

7. Periode Perang Jawa (1825-1830 M)

Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830 M) menjadikan Padangan sebagai jujugan sekaligus lokasi yang dihuni banyak tokoh dan ulama. Di era Perang Jawa, Padangan jadi wilayah strategis sebagai tempat menyemai perlawanan terhadap penjajah. Sebab, berada di batas kota besar dan dekat sungai Bengawan Solo.

Banyak tokoh-tokoh era Perang Jawa yang kelak menjadi penyebar agama islam di Padangan. Di antaranya; Mbah Matsuni Tinggang, Mbah Tanggono Pura Ngasinan, Sayyid Abu Bakar Alaydrus Ngasinan, Mbah Abdullah Syihabuddin, Mbah Murtadlo Syihabuddin, Mbah Tohir Syihabuddin, Mbah Syahid Syihabuddin, Mbah Abdul Qodir Bringan, Syekh Abdurrohman Stren, Mbah Totokromo Blimbing, hingga Mbah Munada Rowobayan.

8. Periode Pasca Perang Jawa

Pasca Perang Jawa, kembali muncul banyak nama ulama yang berdakwah di Padangan. Banyak kombatan (pejuang) Perang Jawa yang menghabiskan usia di Padangan. Mayoritas para kombatan, berkeluarga di Padangan. Mereka menurunkan keturunan yang kelak berkiprah dalam jalur dakwah dan persebaran agama islam.

Diantara nama-nama ulama pasca Perang Jawa di Padangan adalah; Mbah Ahmad Rowobayan, Mbah Hasyim Jalakan, Mbah Asnawi Kuncen, Mbah Abu Syukur Tinggang, Mbah Muntoho Padangan, Mbah Ahmad Basyir Petak, dan banyak nama lainnya. Di era berikutnya, ada periode Sarekat Islam dan Nahdlatul Ulama, banyak sekali nama-nama ulama yang kembali bermunculan.

Warisan Ilmiah Peradaban Padangan

Dengan banyaknya nama ulama di Padangan, banyak pula peninggalan kitab berupa manuskrip. Sampai saat ini, telah ditemukan ratusan manuskrip di Padangan. Baik berupa kitab ilmiah, atau catatan kronik peradaban. Berikut kitab ulama Padangan yang sudah ditemukan:

Syekh Ahmad Basyir

Di antara kitab karya Syekh Ahmad Basyir adalah Kitab Khotbah, Kitab Ilmu Tauhid, Bahjatu al-Ulum (Syarah as-Samaraqandi), Al-Miftah (Syarh Ma’rifatu al-Islam Wa al-Iman), Kitab Al Muqoyyad (tauhid).

Beliau juga men-syarh dan menulis ulang kitab ulama terdahulu. Diantaranya; At-Ta’liq bi Sittina Mas’alah (Imam Ahmad Zahid), Kitab Hikam (Ibnu Athaillah), Ummul Barahin (Syekh Muhammad Sanusi) dan lain sebagainya

Syekh Hasyim Jalakan

Diantara kitab karya Syekh Hasyim Jalakan yang sudah ditemukan diantaranya: Tashrifan Padangan, Terjemah Imrithi, terjemah Alfiyah Ibnu Malik, hingga terjemah Nadham al Maqsud.

Syekh Abdurrohman Klotok

Diantara kitab karangan beliau, adalah; At-Tafriq (fiqih), Kitab Tajwid Quran, Amtsilah Tashrif (kamus), Kitab Sanad Thariqah, Fi Kalimati as-Syahadah (akidah), Fadhilatus Shiyam wa Syahri Rajab (fiqih), Hadist Arba’ain (hadis), Fathul Mubin Syarah Ummul Bahrain (Akidah), Risalah Nikahul Khoir Wasyaril Syahri (hadis), Manuskrip Padangan (jejaring ulama abad 17 di Padangan), Catatan Perjalanan Haji, Kitab Mujarobat, Risalah Khodam Khuruf, dan lain sebagainya.

Beliau juga men-syarh sejumlah kitab seperti Fathul Mannan (Syekh Ibnu Qosim), Fathul Mubin (syarh Ummul Bahrain), Muharror (Imam Rifai), Fathul Muin (Zainuddin Al Malibary), Maulid Barzanji (Syekh Jafar Al Barzanji), Safinah an-Najah (Syaikh Salim Bin Sumair al-Hadlramy), Thulbatu thullab fi thoriqi al-ilm liman thalab (Muhammad Al Kasyafari).

Selain itu, juga kitab Fathurrahman bi Syarhi Wali Ruslan (Imam Zakaria al Anshari), Hadist nishfu syaban (Syaikh Hafidz Muhaddis M. Najmuddin Al-Gaithi), Asasul Muttaqin (Syaikh Abd. Shamad Ibn Faqih al-Hasan Ibn Faqih Muhammad), Nurul Mushalli (Syaikh Abi Bakar), Ummul Barahin At-Tilmisani (Syekh Muhammad bin Umar Bin Ibrahim At-Tilmisani). Selain kitab-kitab ilmiah di atas, Syekh Abdurrohman Klotok juga menulis banyak catatan perjalanan dan kronik peradaban islam.

Sayyid Jamaluddin memang tak meninggalkan makam, hanya meninggalkan petilasan masigit (bekas pemukiman dan masjid) di Padangan. Tapi beliau meninggalkan energi perjuangan yang selalu hidup di tiap zaman, di Tlatah Padangan.

 

Tags: Makin Tahu IndonesiaPeradaban Islam NusantaraPeradaban Islam Padangan
Previous Post

SKK Migas Gandeng Tokopedia demi Maksimalkan Pemasaran UMKM

Next Post

Sektor Hulu Migas Catat Lifting dan Investasi Lebih Tinggi dari Tahun Sebelumnya

BERITA MENARIK LAINNYA

Azimat Rantai Bumi Kasepuhan
Manuskrip

Azimat Rantai Bumi Kasepuhan

21/10/2025
Al-Masalik Wal Mamalik, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (3)
Manuskrip

Al-Masalik Wal Mamalik, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (3)

24/10/2024
Rihlah Al-Sirafi, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (2)
Manuskrip

Rihlah Al-Sirafi, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (2)

17/10/2024

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara

Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara

12/04/2026
Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan

Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan

12/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: