Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Sregep: Resep Menulis ala Emha

Muhammad Aufal Fresky by Muhammad Aufal Fresky
15/02/2026
in Cecurhatan
Sregep: Resep Menulis ala Emha

Ilustrasi: Emha Menulis

Rintik-rintik hujan membasahi bumi Malang. Alam pikiran saya, lagi dan lagi, seakan tidak bisa diam. Ada saja yang terbesit dan sekaligus mengusik. Ide-ide berkeliaran dalam benak. Ada yang samar-samar; ada yang begitu jelas. Naluri sebagai penulis tak bisa ditepis. Bahwa ada semacam dorongan untuk segera mengeksekusi menjadi sebuah karya. Entah itu fiksi atau nonfiksi.

Apalagi, jika ide-ide itu dibiarkan begitu saja, tidak dipedulikan, bisa jadi saya kehilangan momentum. Atau bisa saja saya sukar untuk menemukan dan memanggilnya lagi. Apalagi, ide itu, acapkali bergerak cepat, dan bahkan dalam sepersekian menit atau bahkan detik, lenyap tak berbekas.

Ilustrasi: Emha Menulis

Saya pun tak ingin kehilangan kesempatan. Apalagi dengan hanya beralasan menunggu waktu luang untuk segera menuliskannya. Sebab, waktu luang, itu sejatinya diciptakan, bukan ditunggu. Jika berleha-leha, menunda, dan lebih memilih tunduk pada rasa malas, produktivitas haya sekadar angan-angan. Sungguh, saya tidak ingin menjadi seperti itu.

Sebab, waktu gesitnya bukan main. Kerap kali saya terbuai di dalamnya. Terus terang saja saya mengakui bahwa melawan rasa malas dan kebiasaan menunda ini semacam ikhtiar yang tiada habisnya. Sebab, sewaktu-waktu kebiasaan ini datang menghampiri siapa pun. Termasuk saya pribadi. Apalagi kita, selaku manusia, kerap kali terbuai dalam kelalaian demi kelalaian. Oleh karena itu, hemat saya, menjadi insan yang produktif, kreatif, dan inovatif salah satu caranya yaitu dengan berani keluar dari zona nyaman.

Bagaimana mungkin saya bisa menjadi penulis prolifik, menjadi pengarang yang menelurkan karya-karya bermutu dan bestseller, jika saya memilih berkompromi dengan kenyamanan dalam diri. Rasa-rasanya di dunia ini, setiap penulis ulung, itu lahir dari proses yang luar biasa. Proses yang berdarah-darah. Tidak ada karya yang tiba-tiba meledak di pasaran tanpa kerja keras, komitmen, dan semangat pantang menyerah dari penulisnya

Sebab, dalam menulis, itu ada pikiran yang diperas, tenaga yang dikuras, dan bahkan ada waktu dan biaya yang dihabiskan. Artinya, modal yang dikeluarkan cukup besar. Dan hal itu, pastinya membutuhkan kesungguhan dan kesabaran penulisnya.

Beberapa penulis kawakan, atau bisa saja disebut maestro di dunia kepenulisan/kepengarangan yang mungkin bisa jadi rujukan atau bahkan role model bagi penulis-penulis muda, khususnya bagi yang pemula, di antaranya yaitu Emha Ainun Nadjib, Mahbub Djunaidi, Abdurrahman Wahid, Goenawan Mohamad, dan Dahlan Iskan. Tentu selain mereka yang saya sebutkan, masih banyak lagi. Itu hanya sebagian saja sebagai contoh. Untuk lebih mengenal, mengerti, dan memahami sepak terjang dan kiprah mereka di dunia kepenulisan, silakan jelajahi mesin pencari ‘Google’.

Kemudian, kalau boleh jujur, saya mencatat artikel ringan ini, sebenarnya untuk melepaskan diri belenggu kemalasan dan sekaligus untuk menjadi produktif. Sebab, meminjam pandangan Cak Nun, bahwa setiap penulis itu memang harus ‘sregep’ (rajin). Maksudnya mesti bisa meluangkan waktunya untuk menulis di mana pun, kapan pun, dan dalam keadaan apa pun. Sregep juga bisa diartikan tekun dalam belajar dan mengasah kemampuan diri, terutama dalam hal ini di bidang tulis menulis.

Sebab, dengan sregep, kita bisa mengasah pikiran dan hati untuk lebih peka membaca fenomena ataupun realitas sosial. Karena, dengan begitu, kita bisa melatih sensitivitas kita menangkap fenomena alam. Dengan begitu pula, setiap penulis, bisa terus menerus mengasah intuisi dan imajinasinya.

Pada akhirnya, melalui tulisan ini pula, saya berharap Anda semua bisa mendapatkan ‘insight’ baru. Terutama diri saya selaku penulis agar lebih ‘sregep’ berkarya dalam segala situasi dan kondisi. Saya percaya dan yakin betul, resep ‘Sregep’ dari Emha ini cukup ampuh untuk menjadi lebih produktif dalam menulis. Karena saya pribadi pun beranggapan bahwa kuantitas dan kualitas tulisan itu sangat dipengaruhi oleh keseriusan dan ketekunan. Sisanya barangkali faktor bakat.

Selasa, 10 Februari 2026
08.43 WIB

Ditulis ketika perjalanan *Malang-Surabaya.

Tags: Menulis ala EmhaResep Menulis
Previous Post

Kedigdayaan SEAblings dalam Catatan Seribu Tahun Silam

Next Post

Puasa Ramadhan bersama Rasulullah Saw

BERITA MENARIK LAINNYA

Tanah, Ingatan, dan Pekerjaan Rumah yang Tak Kunjung Selesai
Cecurhatan

Tanah, Ingatan, dan Pekerjaan Rumah yang Tak Kunjung Selesai

15/08/2026
Majnun Mengajari Kita Satu Hal: Cinta Bisa Membajak Akal Sehat dan Membuat Seseorang Gila
Cecurhatan

Majnun Mengajari Kita Satu Hal: Cinta Bisa Membajak Akal Sehat dan Membuat Seseorang Gila

12/08/2026
Gus Mus dan Pemikiran Islam Indonesia, Quo Vadis?
Cecurhatan

Gus Mus dan Pemikiran Islam Indonesia, Quo Vadis?

11/08/2026

Anyar Nabs

Bukan Sekadar Bagi Ayam, Gayatri Tahap 2 Bangun Ekosistem Peternakan Demi Meningkatnya Ekonomi Masyarakat Desa

Bukan Sekadar Bagi Ayam, Gayatri Tahap 2 Bangun Ekosistem Peternakan Demi Meningkatnya Ekonomi Masyarakat Desa

16/08/2026
Tanah, Ingatan, dan Pekerjaan Rumah yang Tak Kunjung Selesai

Tanah, Ingatan, dan Pekerjaan Rumah yang Tak Kunjung Selesai

15/08/2026
Penutupan KKN Unigoro: Ketika Batik Lantung Menjadi Jejak yang Ditinggalkan di Drenges

Penutupan KKN Unigoro: Ketika Batik Lantung Menjadi Jejak yang Ditinggalkan di Drenges

15/08/2026
Gelar Paripurna Istimewa, DPRD Bojonegoro Ikuti Pidato Kenegaraan Presiden RI

Gelar Paripurna Istimewa, DPRD Bojonegoro Ikuti Pidato Kenegaraan Presiden RI

14/08/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: