Konflik kolom komentar antara Netizen Korea Selatan dan Netizen Asia Tenggara baru-baru ini, telah memunculkan SEAblings sebagai sebuah resonansi: getaran sejarah seribu tahun lalu dalam konteks hari ini.
Seribu tahun lalu, para pelaut Arab sudah melihat kawasan ini sebagai satu ruang hidup yang saling terkait. Hari ini, generasi digital menyebutnya dengan istilah baru: SEAblings, saudara serumpun Asia Tenggara. Fenomena ini bukan kejadian biasa. Namun pengingat bahwa persaudaraan regional bukan sekadar proyek modern, tapi gema dari sejarah maritim yang telah lama membentuk identitas bersama.
Netizen Korea Selatan (K-Netz) dan Netizen Asia Tenggara (SEAblings) yang berperang dalam komentar receh, melebar menjadi pertempuran budaya, dan melahirkan solidaritas Southeast Asia siblings (SEAblings). Fenomena solidaritas ini, mengingatkan kita pada catatan Syekh Buzurg bin Syahriar yang dia tulis seribu tahun lalu, mengenai hebatnya Asia Tenggara.
Pada 953 M, atau seribu tahun lalu, Syekh Buzurg bin Syahriar telah menulis sejumlah tempat seperti Fansur, Zabaj, Waq-Waq, Lamuri, dan Kedah sebagai tempat yang “dikeramatkan” para penjelajah Arab. Nama-nama di atas, tak lain dan tak bukan adalah kawasan yang kini dikenal dengan Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya (Myanmar, Thailand, dan Malaysia) yang lebih dikenal dengan Asia Tenggara.
Mula-mula Perkara
Pada awal 2026 ini, SEAblings sebagai fenomena budaya, muncul setelah konser band K-pop Day6 di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia. Beberapa fansite Korea Selatan ketahuan membawa kamera DSLR dengan lensa besar, padahal itu dilarang promotor karena bisa mengganggu penonton lain. Fans lokal Malaysia lalu memprotes dan memviralkan kejadian itu di X.
Awalnya ini hanya soal aturan konser. Tapi kemudian beberapa netizen Korea Selatan yang dikenal sebagai KNetz (Korean Netizens) ikut membela fansite tersebut. Diskusi berkembang menjadi saling serang komentar, termasuk beberapa yang dianggap merendahkan fisik, kebudayaan, bahasa dan ekonomi masyarakat Asia Tenggara.

Istilah SEAblings sendiri merupakan gabungan dari “SEA” (Southeast Asia/Asia Tenggara) dan “siblings” (saudara), dipakai netizen Asia Tenggara untuk menyebut diri mereka sebagai satu keluarga yang bersatu di kolom komentar. Istilah ini dipakai sebagai simbol solidaritas antar netizen dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan negara ASEAN lainnya untuk menghadapi komentar yang mereka anggap merendahkan.
Konflik bahkan sempat memunculkan pembahasan soal bahasa, di mana SEAblings mendorong penggunaan bahasa Inggris agar audiens lebih luas bisa melihat isu ini. Namun respons balasan dari KNetz malah menyinggung kebanggaan pada bahasa Korea sendiri. Diskusi ini membuat istilah SEAblings menjadi salah satu topik paling banyak dibicarakan di X — bahkan masuk trending topic. Banyak netizen ASEAN lain ikut ambil bagian, yang membuat isu ini terasa seperti solidaritas regional, bukan sekadar adu komentar biasa.
Dibahas Sejak Seribu Tahun Silam
South East Asia (SEA) siblings atau SEAblings atau jaringan persaudaraan Asia Tenggara, yang sedang ramai ngeroyok netizen Korea beberapa hari ini, adalah ikatan kosmologis yang sudah ada sejak ribuan tahun silam. Keberanian dan rasa percaya diri masyarakat SEAblings, bahkan sudah memantik kekaguman para penjelajah Arab sejak seribu tahun silam.

Kitab Ajaib al-Hind (953 M), kumpulan laporan para Penjelajah Arab dengan rute Samudera Hindia, yang ditulis oleh penjelajah Arab bernama Syekh Buzurg bin Syahriar pada 953 M, merupakan catatan tertulis yang memotret aktivitas dan kondisi Samudera Hindia, terkhusus Zabag, Lamuri, Fansur, Kedah, dan Waq-waq yang kini masyhur sebagai wilayah Southeast Asia (Asia Tenggara).
Baca Juga: Zabag dan Waq-waq dalam Pandangan Masyarakat Dunia
Dalam kitab itu, Syahriar memberi highlight khusus pada sejumlah wilayah bernama Fansur, Zabaj, Waq-waq, Lamuri, dan Kedah — yang dalam penuturannya, disebut sebagai “Negeri Emas” dengan banyak Sumber Daya Alam (SDA) dan disokong digdayanya Sumber Daya Manusia (SDA). Tempat-tempat ini, selalu menjadi “horor” bagi para nakhoda.
Supremasi dan kebesaran Negeri Emas ini, memitos-melegenda di telinga para nakhoda kapal yang melintasi Samudera Hindia. Nama tempat-tempat itu, bahkan selalu “dirapal” sebagai mantra dan diceritakan pada siapapun yang mereka jumpai, sebagai wujud kekaguman sekaligus ketakutan saat melintasi wilayah Samudera Hindia.
Catatan Buzurg bin Syahriar mengenai Samudera Hindia dalam kitab Ajaib Al Hindi ini teramat penting. Sebab, kelak dilanjutkan para penjelajah Arab di masa setelahnya seperti At-Tajir, As-Sirafi, Ibnu Khurdadhbih, Al-Mas’udi, Al-Idrisi, Ibnu Batutah hingga Al Mahri.
Para penjelajah Arab seolah ingin berkata: Garis Pantai Utara Jawa, jangan macam-macam dengan kawasan itu. Sekali lagi, Garis Pantai Utara Jawa, teras-jalur-sutera berselimut Emas yang dipenuhi para raja dan monster penjaga. Fansur, Lamuri, Kedah, Zabag, Waq-Waq, adalah Negeri para Raja yang tanahnya berselimut emas.
Fakta penting yang harus diingat, jauh sebelum Majapahit lahir kedunia, kawasan bernama “Garis Pantai Utara Jawa” telah membentuk kekuatan maritim yang dikagumi para penjelajah Arab, dipuji para penjelajah Cina, dan ditakuti para pelancong Eropa. Kisah ini harus terus diulang dan dijaga — baik di dunia digital maupun di dunia nyata.
Diceritakan dalam Ajaib al Hind, Negeri Emas terdiri dari beragam lapisan masyarakat kepulauan. Masyarakat Fansur adalah pemakan manusia, laut Zabag bisa memunculkan tanduk raksasa yang tak terukur besarnya; Lamuri, Kedah, dan Waq-Waq dipenuhi emas serta sayap burung sebesar jerapah ataupun unta. Seribu tahun lalu, begitulah kebesaran Asia Tenggara di mata para penjelajah Arab.
Di antara adat raja-raja Negeri Emas dan Zabaj bahwa tidak dibenarkan seseorang pun baik dia itu orang muslim, orang asing, atau rakyat setempat, duduk dihadapan mereka melainkan harus dengan cara melipatkan kaki, yaitulah yang dinamakan oleh mereka sebagai “bersila”…… (Ajaib Al Hind, 953 M).
Fansur, Zabaj, Waq-Waq, Lamuri, dan Kedah dalam catatan Buzurg bin Syahriar seribu tahun lalu itu, tak lain tidak bukan adalah Kepulauan Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya (Myanmar, Thailand, dan Malaysia) yang akrab dikenal sebagai Nusantara. Yang hari ini kita kenal sebagai Southeast Asia. Yang belum lama ini viral sebagai ikat persaudaraan SEAblings.
SEAblings yang Sesungguhnya
Fansur, Zabaj, Waq-Waq, Lamuri, dan Kedah dalam catatan Buzurg bin Syahriar seribu tahun lalu bukanlah sekadar nama-nama eksotis dari dunia Timur yang jauh. Ia adalah penanda awal bahwa kawasan yang hari ini kita sebut Southeast Asia sudah lama hadir dalam imajinasi global sebagai ruang perjumpaan, perdagangan, dan persaudaraan maritim.

Fansur menunjuk pada Barus di pantai barat Sumatera, pusat kapur barus yang harum dan mahal, komoditas yang membuat dunia Arab mengenal Nusantara bukan lewat peta, melainkan lewat aroma. Zabaj merujuk pada Jawa, pulau yang dalam banyak sumber Abad Pertengahan, dipahami sebagai pusat kekuatan laut dan punjer Emas Hitam yang muncul dari dalam tanah.
Lamuri adalah Aceh, pintu masuk strategis di ujung utara Sumatera yang menjadi simpul pelayaran Samudra Hindia. Kedah berada di Semenanjung Malaya, kawasan transit penting yang menghubungkan dunia India, Cina, dan kepulauan Nusantara. Sementara Waq-Waq, meski lebih kabur dan horor, mencerminkan bagaimana kepulauan timur dipandang sebagai horizon dunia yang kaya dan menakjubkan.
Dengan kata lain, apa yang disebut Buzurg bin Syahriar bukan sekadar daftar tempat, melainkan peta kultural awal tentang Asia Tenggara sebagai satu kesatuan maritim: gugusan negeri-negeri pelabuhan yang terhubung oleh laut, angin musim, bahasa dagang, dan jejaring perantauan.
Di titik inilah resonansi terbangun. Dan fenomena viral “SEAblings” menjadi begitu bermakna. Istilah itu mungkin lahir dari media sosial, tetapi akarnya justru sangat tua: kesadaran bahwa bangsa-bangsa Asia Tenggara memiliki sejarah keterhubungan yang panjang, bukan sekadar kedekatan geografis, melainkan kedekatan nasib sebagai penghuni jalur laut yang sama.
Seribu tahun lalu, para pelaut Arab sudah melihat Zabag, Fansur, Lamuri, Kedah, dan Waq-waq sebagai satu ruang hidup yang saling terkait. Hari ini, generasi digital menyebutnya dengan istilah baru: SEAblings — saudara serumpun Asia Tenggara. Sebuah pengingat bahwa persaudaraan regional bukan sekadar proyek modern, melainkan gema dan resonansi dari sejarah maritim yang sejak lama membentuk identitas bersama.








