Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kehidupan Bahagia dan Sederhana dengan Menikmati Masakan Ibu lalu Bertukar Cerita

Annisa Rahma M. Attaromi by Annisa Rahma M. Attaromi
05/03/2025
in Cecurhatan
Kehidupan Bahagia dan Sederhana dengan Menikmati Masakan Ibu lalu Bertukar Cerita

Kehidupan ini sederhana memang, cukup dengan makan tumis kacang, toge, layur, dan terong masakan Ibu.

Makanan itu tampak sederhana sekali. Tapi bagiku tampak istimewa sebab ibuku yang memasaknya. Bahkan restouran bintang 5 pun kalah, wqwqwq. Bukan berlebihan, tapi siapa sih yang nggak suka masakan ibu?

Bolehlah kamu mencoba masakan ibuku pas waktu main ke rumahku. Kalau tak nambah porsi, ya sudah dipastikan kamu kenyang, hehehe.

hari ini akan menjadi hari yang sangat menyenangkan bagiku, setelah hidup diperantauan seorang diri, dan berbulan-bulan tidak berjumpa dengan keluarga, dan tentunya masakan ibu, akhirnya hari ini aku bisa kembali merasakannya.

Tangan bak sihir Harry Potter itu, dengan tongkat yang ia ganti dengan sendok bumbu itu. Membuat masakannya sangatlah lezat. Tak mudah memang untuk menjalani kehidupan diperantauan, setiap rasa rindu itu datang.

Mungkin aku hanya bisa recook berbagai masakan ibuku, meskipun aku tau rasanya tak akan sama persis dengan buatan ibuku itu, entahlah padahal semua bumbu dan takarannya sudah kusesuaikan dengan perintah ibu.

jauh-jauh hari, sebelum hari ini, ibuku sudah menerorku dengan berbagai pesan yang masuk dan juga telepon. Memastikan bahwa anak perempuannya ini akan segera pulang, karena ibuku sudah hapal betul momen-momen apa aku akan kembali pulang.

“Nduk, kamu jadi pulang hari apa?”,
“Nduk kalou mau pulang kabari dulu ya”

ibuku memang selalu begitu, tak ingin jika aku tiba-tiba pulang dan di rumah tak ada tumis kacang kesukaanku. Ibu selalu mempersiapkan racikan masakan paling lezat sedunia. Ia tak mau saat aku pulang dari pondok, masakan kesukaanku itu tak ada di depan mata ini.

jadi untuk mengantisipasi akan hal itu, ibuku selalu menerorku dengan pesan setiap hari agar aku tidak tiba-tiba muncul di pintu depan. Hal sederhana, tapi ini membuatku selalu merindukan rumah dan segala peluk hangat yang ada di dalamnya.

Hari ini aku akan kembali pulang, pagi-pagi sekali aku mengirim sebuah chat ke ibuku. Isinya begini “ibuk, hari ini aku pulang, pastikan tumis untukku dan bapak terpisah ya buk”. Yahh, aku memang selalu berpesan seperti itu ketika akan pulang.

Bukan aku tidak mau berbagi dengan bapak. Aku dan bapak memang punya makanan kesukaan yang sama, dan bapak sangat senang ketika melihatku ngomel-ngomel tak jelas, seringkali bapak akan menyembunyikan tumis itu, entah di tempat mana bapak menyembunyikannya.

sampai sekarang pun aku tak tahu. Lalu aku akan ngomel-ngomel tak jelas ketika aku berebut makanan dengannya. Bapak suka sekali akan hal itu. Akhirnya, setelah beberapa kali kejadian itu, aku punya sebuah solusi agar ibuku memisahkan tumis untukku dan untuk bapak, dan tumis untukku itu akan disimpan sendiri oleh ibukku tanpa sepengetahuan bapak, hehehe.

Setelah memastikan ibukku akan memisahkan tumis untukku dan untuk bapak, aku segera bersiap-siap untuk pulang. Setelah kurasa semua aman, segera kusiapkan motor dan mengendarai dengan kecepatan yang tidak begitu cepat. Sebab, aku sendiri ngga suka berkendara dengan kecepatan tinggi.

Hampir 3 jam perjalanan yang ku tempuh, papan nama desaku sudah terlihat, seakan aroma masakan ibuku sudah tercium dari sink, segera kub percepat laju kendaraanku. Sudah tidak sabar lidah ini mencicipi masakan ibuku. 5 Menit, akhirnya sampai juga aku di depan rumahku, segera kumatikan motorku lalu ku panggil bapak ibukku keras-keras, padahal aku belum turun dari motor.

setelah drama teriak-teriak, keluarlah ibuku dan bapakku, dan aku segera menghambur ke pelukan mereka. Ahh rindunya hati ini dengan pelukan mereka. Mungkin cukup itu drama kangen-kangenannya, karena yang pasti aku ingin segera melahap tumis kacang yang dicampur dengan toge, layur dan terong.

Bagiku anak yang merantau untuk menimba ilmu di pondok pesantren dan perguruan tinggi ini. Aku harus siap dengan kehidupanku yang apa-apa sendiri. Keberamaan bersama keluarga cukup sederhana saja.

Kita cukup menikamati masakan bersama keluarga di meja makan sambil mendengarkan cerita satu sama lain. Itu sudah cukup menjadi obat rindu dan lelahku selama diperantauan. tak perlu kita harus pergi ke luar kota atau kemanapun, asalkan momen itu bisa kita nikmati semua akan terasa indah. Yaaaah, kehidupan ini memang sederhana.

Tags: Masakan IbuMomen BahagiaTumis
Previous Post

Tadarus Ramadhan: 40 Tamu dengan 41 Pelita

Next Post

Ramadhan di Caltech: Menikmati Puasa Bersama Penerima Hadiah Nobel Kimia

BERITA MENARIK LAINNYA

Batu Bara dan Piring Kosong
Cecurhatan

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 
Cecurhatan

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026

Anyar Nabs

Batu Bara dan Piring Kosong

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: