Ingatan akan Erlangga, atau Airlangga, demikian nama yang biasa dieja dalam naskah-naskah Jawa Kuno, sudah lama terhapus dari ingatan orang-orang Jawa yang jahil. Sama sekali tidak disebut namanya ataupun disinggung di seluruh literatur Babad Jawa. Sebaliknya, di kalangan masyarakat Bali, masih ada tradisi bahwa raja tersebut memerintah di Kediri, dan jelas bahwa masa kejayaan sastra Kawi berada bawah pemerintahannya.
Baca Juga: Prasasti Pelem, Ekspedisi Gunung Pugawat Jawa
Sebagaimana diketahui bahwa beberapa prosa Jawa Kuno yang paling terkenal, seperti Adiparwa, Arjuna-Wiwaha, Smaradahana, Sumanasantaka, digubah semenjak masa Erlangga. Juga termasuk Mahabarata yang mulai digubah pada waktu yang sama, di abad di mana Erlangga hidup.
Baik prasasti maupun piagam yang ditemukan dan diterjemahkan di banyak tempat, memang tidak menginformasikan secara akurat sejauh mana kekuasaan Erlangga, namun dari Calcutta Stone, kita mengetahui bahwa ia sangat dihormati oleh seluruh raja Jawa Timur, dan bahwa di tahun-tahun berikutnya, setelah masa-masa penuh dinamika itu (pralaya), ia berdiri sebagai seorang penakluk, menghukum atas kesombongan musuh-musuhnya di Timur, Selatan dan Barat, dan menjadi penguasa tertinggi di Jawa-dwipa dan bertahta pada tahun 957 Saka (1035 M).
Terjemahan bait ke 30 – 31 syair Sanskerta dari Calcutta Stone adalah:
“Sang Maharaja berhasil mengalahkan seluruh musuhnya, dengan semangat luar biasa, tindakan kepahlawanan, serta dengan kebesaran jiwa kenegaraan, Sri Maharaja Erlangga, dan setelah menjadi seorang Raja yang berkuasa, membangun sebuah pertapaan suci di lereng gunung Pugawat yang megah, untuk menunjukkan kekuatannya, sekaligus kesetiaannya yang teguh pada sumpah untuk menenangkan dunia dan juga memuliakan para dewa.”
“Mendengar pertapaan kerajaan yang indah tiada tara ini, yang tak kalah dengan taman surgawi Indra, tak henti-hentinya masyarakat berlomba-lomba menuju ke sana dan menatap semuanya dengan rasa takjub; mereka membawa karangan bunga, dupa, dsb.. sebagai tanda bukti kesenangan dan karunia kepada mereka, ucapan mereka penuh doa-doa pujian kepada Raja yang luar biasa ini, yang mereka anggap sebagai Matahari di antara (penguasa) yang sombong, dan paling terhormat karena keluhurannya sebagai seorang Manu.”
Salah satu konsekuensi langsung dari pengangkatannya sebagai Raja adalah pendirian sebuah pertapaan, yang menjadi begitu terkenal karena konstruksi dan lokasinya yang indah bak nirwana, sehingga masyarakat berbondong-bondong datang dari berbagai penjuru Jawa untuk mengaguminya.
Dalam Prasasti, lokasi pertapaan disebutkan terletak di lereng Gunung Pugawat, gunung yang sekarang tidak diketahui lagi keberadaannya di Jawa. Satu-satu indikasi adalah bahwa Pugawat merupakan sebuah gunung yang dalam bahasa Sanskerta berarti “kaya akan pohon pinang”. Letak awal Calcutta Stone mungkin dekat dengan gunung ini, sehingga sangat disayangkan tugu prasasti ini dicabut dari tempatnya dan dikuburkan di Museum Calcutta, India, di mana tidak ada seorang pun yang peduli dengan doa-doa kuno Jawa.
Dari apa yang disebutkan dalam prasasti Calcutta Stone (sisi Sanskerta) tentang silsilah Erlangga, nampaknya ia adalah keturunan dari Sri Isana Wijaya (Mpu Sindok) dari jalur ibu, dan ia dilahirkan sekitar tahun 901 Saka. Bait-bait deskriptif dalam karya Calcutta Stone (sisi Sanskerta) ini cukup banyak, namun uraian tersebut hanya menyangkut persoalan-persoalan kecil, sedangkan hal-hal pokok hanya sedikit saja disinggung. Mungkin sang Rakawi sengaja merahasiakan beberapa peristiwa krusial, dan sangat berhati-hati dalam menyebutkan nama-nama.
Ada kesan bahwa rakawi sebisa mungkin menghindari penggunaan kata-kata Jawa Kuno dalam syairnya. Namun Rakawi tidak ingin untuk menyembunyikan nama Erlangga, sehingga ia hanya me-Sansekerta-kan suku kata pertama nama Er-langga tersebut; Er, Air. Sehingga penguasa termasyhur itu disebut olehnya menjadi Jalalangga dan Niralangga. Dalam masa kemakmurannya, ia memutuskan untuk membangun pertapaan yang indah di lereng Gunung Pugawat, yang keindahannya menyaingi taman surgawi Indra. Puisi tersebut diakhiri dengan harapan agar raja dapat berumur panjang demi kebaikan rakyatnya.








