Sebagai lanjutan dari Ekspedisi Jantung Naga, Komunitas Bumi Budaya adakan giat bertajuk Ekspedisi Gunung Pugawat Jawa, sebuah ekspedisi konservasi ekologi berbasis literatur sejarah.
Komunitas peneliti dan pemerhati sejarah di Blora dan Bojonegoro itu, helat agenda bertajuk Telusur Prasasti Pelem, sebagai bagian pembuka dari “Ekspedisi Gunung Pugawat”. Dalam agenda itu, kami berkunjung ke lokasi Prasasti Pelem di Desa Pelem, Kecamatan Purwosari, Bojonegoro (29/9/2024).
Ada banyak informasi menarik dari kunjungan ke Prasasti Pelem. Di sana, ternyata masih terdapat beberapa huruf kawi yang masih tersisa. Selebihnya, sudah aus dan memerlukan kajian lebih lanjut perihal keausan tersebut.
Kebetulan kami menjumpai warga setempat yang menjadi saksi atas pemindahan pertama Prasasti Pelem tersebut, yang awalnya ditemukan di tepi anak Sungai Bengawan bernama “Kali Gandong”, yang berhulu di Gunung Pandan.
Sungai Bengawan memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat Bojonegoro, terutama di sepanjang Bengawan yang menjadi pusat sentral kebudayaan dan sejarah yang pernah tumbuh dan berkembang.

Dari hasil diskusi pasca kegiatan, ada dugaan kuat, Prasasti Pelem dibuat di antara abad 10 – 11 M. Yaitu zaman Mpu Sindok (929 – 947 M). Ini terlihat dari bahan batu prasasti yang menggunakan batu pasir endapan Sungai Bengawan. Termasuk bentuk prasasti, dan sisa huruf kawi yang memang masih tampak jelas.
Totok Supriyanto, peneliti dari Komunitas Bumi Budaya mengatakan, Prasasti Pelem bahkan pernah dibuat replikanya pada era Majapahit. Replika ini dinamai Prasasti Kamban. Faktanya, lokasi Prasasti Pelem Bojonegoro sangat dekat Ngambon, yang secara toponimi mirip Kamban.
Prasasti Kamban berangka tahun 863 Saka yang dikeluarkan oleh Paduka Sri Maharaja Rake Hino Sri lsanawikrama Dyah Mattunggadewa. Prasasti berupa Tiga lempengan tembaga, berukuran 34 x 9,5 cm. Bertulisan di kedua sisinya, kecuali lempeng pertama, dengan 5 baris tulisan. Lempeng nomor 1, 4 dan 5 merupakan prasasti salinan (replika) dari jaman Majapahit yang menggunakan bahasa Jawa Kuna.
Pada intinya Isi Prasasti Kamban (replika dari Prasasti Pelem) bertutur tentang pengesahan desa Kamban menjadi daerah perdikan oleh Rake Hino Sri Maharaja Sri Isanawikrama Dyah Matanggadewa pada tanggal 19 Maret 941 M.
Telusur Prasasti Pelem adalah gerbang pembuka untuk mengawali Ekspedisi Gunung Pugawat Jawa. Sebuah program berseri dalam bingkai ekspedisi konservasi ekologi, berbasis kajian literatur sejarah. Gunung Pugawat adalah nama kuno dari Gunung Pandan, yang tercatat dalam Prasasti Pucangan Sanskerta (1041 M).







