“Setiap generasi percaya bahwa mereka akan menjadi orang pertama yang berhasil membaca Voynich Manuscript. Namun hingga hari ini, setiap generasi pula harus mengakui bahwa manuskrip itu masih menyimpan rahasianya.”
Lebih dari enam abad berlalu, sejak lelembaran vellum yang dikenal sebagai Voynich Manuscript pertama kali tergores tinta. Dunia telah berubah berulang kali. Kerajaan-kerajaan penguasa Eropa yang dulu berdiri megah telah runtuh. Berganti dengan negara-negara modern.
Revolusi ilmu pengetahuan mengubah cara manusia memahami alam semesta. Mesin cetak, listrik, komputer, internet, hingga kecerdasan buatan lahir silih berganti. Tonggak kemajuan peradaban terus berubah. Namun di tengah rotasi ilmu pengetahuan itu, satu kenyataan tetap bertahan: Tidak seorang pun mampu membaca isi manuskrip secara meyakinkan.
Itu semua bukan berarti tidak ada kemajuan sama sekali. Bahkan sebaliknya, perjalanan panjang penelitian Voynich Manuscript justru menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan bekerja. Setiap generasi datang membawa metode baru dan menguji teori lama. Kekeliruan pendahulu terus diperbaiki. Kemudian, muncul landasan yang lebih kokoh bagi generasi berikutnya. Voynich Manuscript tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga gambaran evolusi cara manusia mencari kebenaran.
Salah satu pelajaran penting muncul dari penelitian manuskrip ini. Perlu membedakan secara tegas antara fakta, hipotesis dan spekulasi. Ketiganya sering bercampur selama satu abad lebih. Mulai dari berbagai buku, artikel populer hingga tayangan dokumenter. Publik yang tertarik kerap kesulitan membedakan mana yang berada pada ketiganya.
Fakta yang paling kokoh saat ini berasal dari penelitian ilmiah terhadap fisik manuskrip. Penanggalan radiokarbon terhadap vellum menunjukkan bahan dasar naskah diproduksi kisaran tahun 1404 hingga 1438. Temuan tersebut diterima luas oleh komunitas akademik dan menggugurkan anggapan lama. Anggapan bahwa manuskrip itu merupakan pemalsuan dari abad ke-16 atau ke-17.
Termasuk pula dengan kajian paleografi dan kodikologi. Keduanya menunjukkan bahwa manuskrip kemungkinan ditulis lebih dari satu orang. Sebuah karakteristik yang lumrah ditemukan pada naskah-naskah ilmiah abad pertengahan. Riwayat kepemilikannya sejak abad ke-17 juga dapat ditelusuri melalui surat Johannes Marcus Marci kepada Athanasius Kircher. Sementara itu, keberadaan setelah ditemukan Wilfrid Voynich pada tahun 1912 telah terdokumentasi dengan baik.
Wilayah penelitian saat ini mulai memasuki ranah interpretasi. Sebagian besar peneliti modern sepakat, bahwa ilustrasi dalam Voynich Manuscript memperlihatkan keterkaitan dengan dunia botani, astronomi, astrologi dan farmasi. Termasuk kemungkinan praktik pengobatan.
Namun, kesimpulan itu masih bertumpu pada bacaan visual, bukan pada pemahaman terhadap teks di dalamnya. Sistem tulisan masih belum diuraikan. Jadi, hubungan gambar dan uraian tetap berada dalam wilayah hipotesis. Hanya dugaan yang cukup masuk akal, tetapi belum dapat dipastikan.
Di antara berbagai penjelasan, dugaan bahwa Voynich Manuscript merupakan risalah pengobatan atau ensiklopedia herbal masih menjadi hipotesis. Ilustrasi tumbuhan mendominasi hampir separuh isi manuskrip. Sementara bagian lain menampakkan gambar perlengkapan farmasi dan diagram astronomi. Selain itu, halaman-halaman tampak seperti daftar resep. Pola yang memiliki kemiripan dengan tradisi manuskrip medis yang berkembang di Eropa dan kawasan Mediterania pada akhir Abad Pertengahan.
Pendekatan Stephen Bax memberi warna baru dalam memahami kemungkinan tersebut. Alih-alih berusaha menerjemahkan keseluruhan sistem tulisan, dia malah memulai dari sesuatu yang telah dapat dikenali. Sebuah ilustrasi tumbuhan dan rasi bintang. Dengan membandingkan gambar-gambar itu terhadap manuskrip lainnya, Bax mengusulkan pembacaan sementara terhadap beberapa nama tanaman. Antara lain Juniperus, Coriandrum sativum dan Centaurea. Juga, penyebutan rasi bintang Taurus.
Penelitian Bax dihargai bukan karena laim dia yang telah memecahkan misteri Voynich Manuscript. Tetapi, karena dia menyajikan sebuah metodologi yang terbuka untuk diuji, dikritik dan dikembangkan. Sikap ilmiah inilah yang membedakan penelitian akademik dari sekadar spekulasi.
Namun, pertanyaan paling mendasar tetap belum terjawab. Mengapa manuskrip ini begitu sulit dibaca? Jawabannya terletak pada nihilnya titik awal keberhasilan dalam sejarah filologi yang pernah ada. Hieroglif Mesir berhasil diuraikan berkat Batu Rosetta. Aksara Persia Kuno dapat dipahami melalui Prasasti Behistun. Linear B berhasil dibaca karena para peneliti menemukan pola nama-nama tempat yang telah dikenal sebelumnya.
Voynich Manuscript tidak memiliki satu pun keunggulan. Tidak ada teks dwibahasa, tidak ada nama tokoh, tidak ada nama kota, tidak ada dokumen pembanding dengan tulisan serupa. Para peneliti seolah menyusun kamus dari bahasa yang hanya memiliki satu buku.
Perjalanan manuskrip ini sendiri memperlihatkan bagaimana misteri dapat bertahan di tengah perubahan zaman. Vellum yang digunakan berasal dari awal abad ke 15. Setelah itu, manuskrip menghilang selama lebih dari dua abad pada abad 17. Kemudian ditemukan kembali oleh Wilfrid Voynich pada tahun 1912.
Sejak saat itu, temuan Wilfrid Voynich menjadi objek penelitian para filolog, sejarawan dan para ahli lain. Seperti ahli botani, kriptografer, matematikawan, ilmuwan komputer hingga pakar kecerdasan buatan. Meski semakin canggih, belum ada satu pun menghasilkan pembacaan yang diterima secara luas oleh komunitas ilmiah.
Ironisnya, kegagalan demi kegagalan itulah yang menjadikan Voynich Manuscript memiliki arti penting. Khususnya dalam konteks sejarah ilmu pengetahuan. Ia telah mendorong berkembangnya metode analisis statistik bahasa. Ia juga memperkaya penelitian paleografi dan kodikologi. Bahkan, melahirkan pendekatan baru dalam kriptografi dan menjadi salah satu objek paling menarik di bidang digital humanities.
Akhir-akhir ini, manuskrip ini bahkan menjadi laboratorium bagi penelitian linguistik komputasional dan kecerdasan buatan. Maksudnya, meskipun isi manuskrip belum berhasil dipahami, keberadaannya memberikan sumbangan nyata kepada berbagai perkembangan disiplin ilmu.
Pada akhirnya, pertanyaan yang paling tepat bukan “Apa isi Voynich Manuscript?” melainkan “Mengapa manuskrip ini sangat penting meskipun belum berhasil dibaca?”. Jawabannya terletak pada kemampuan yang mengingatkan manusia, bahwa pengetahuan selalu memiliki batas.
Voynich Manuscript sebagai pengingat bahwa masih ada ruang-ruang dalam sejarah yang belum mampu diterangi sepenuhnya oleh ilmu pengetahuan. Terlebih di tengah zaman yang begitu cepat berotasi dan terbiasa mengakses informasi dalam hitungan detik.
Kini, Voynich Manuscript itu tetap terbaring tenang di balik kaca pelindung. Tepatnya, di ruang penyimpanan Beinecke Rare Book & Manuscript Library di Universitas Yale. Setiap tahun para peneliti datang dengan sebuah harapan baru. Datang membawa algoritma yang cerdas, metode linguistik yang lebih tajam atau penemuan arsip yang dapat membuka jalan pemahaman yang masih tertutup rapat.
Barangkali, suatu hari nanti, akan ditemukan lagi manuskrip lain. Manuskrip yang ditulis dengan sistem aksara serupa. Sebuah kunci pembacaan yang selama ini dicari. Mungkin juga kemajuan Artificial Intelligence akan mampu mengenali pola yang masih tersembunyi.
Namun, hingga saat itu tiba, Voynich Manuscript akan tetap menjadi warisan paling mempesona dalam sejarah. Bukan karena ia belum berhasil diterjemahkan, melainkan karena selama enam abad ia terus mengajarkan satu hal: Bahwa setiap jawaban yang ditemukan selalu diawali oleh keberanian untuk mengakui bahwa masih ada begitu banyak hal yang belum kita ketahui.
Sumber:
Bax, S. (2014). “A proposed partial decoding of the Voynich script”. University of Bedfordshire.








