Kepulauan Jawa (Nusantara) sudah sangat masyhur dan dikagumi dunia sejak abad 3 M. Warga Dunia menyebut dan mengagumi Jawa dengan istilah Zabag, Waqwaq, hingga Chavaka.
Sejarah Eropa membagi periode waktu menjadi 3 bagian: Abad Kuno (abad 8 SM – 5 M), Abad Pertengahan (abad 6 M – 15 M), Abad Modern (abad 16 M – saat ini). Dan melalui standar pembagian waktu itu pula, sejak periode Abad Kuno, Jawa atau Zabag sudah dikenal sebagai wilayah besar yang sangat digdaya.
Jauh sebelum imperialisme lahir ke dunia, Jawa Nusantara sudah dikenal sebagai negeri digdaya, surga para pengembara. Supremasi Jawa (termasuk Sumatra), menjadi tema yang sering diceritakan para penjelajah saat berada di lautan.
Zabag atau Waqwaq merupakan istilah untuk deret kepulauan yang merangkum Jawa dan Sumatera. Supremasi dan kebesaran Zabag memitos-melegenda di telinga para penjelajah Arab, Cina, dan Eropa. Nama Zabag “dirapal” para pelaut sebagai wujud kekaguman sekaligus harap-harap kecemasan.
Zabag Nusantara
Pada tahun 240-252 M, fragmen Fu-nan t’u su čuan karya K’ang T’ai mencatat referensi menuju negeri Ču-po atau Ču-bak atau Sho-bak atau Zabag atau Jāvaka. Nama Zabag sudah dikenal dunia karena pada zaman itu, diceritakan Zabag (Jawa dan Sumatera) sedang menjajah Madagaskar.
Pada tahun 410 M, Sinode Isaac, sudah menceritakan seorang metropolitan yang berasal dari Dabag, Čin, dan Macin (J. B. Chabot, Synodicon orientale, Paris 1902, hlm. 620). Dabag dalam keterangan itu, diduga kuat adalah Zabag atau Javaka.
Sekitar 414 M, penjelajah Fa-Hien yang kembali dari India melalui Ceylon, telah tiba di sebuah negara yang dia sebut sebagai Ye-p’o-t’i = Jawadvipa. Nama ini juga menggambarkan Sumatra (Jawa). Seperti disebut dalam catatan Kao Seng Luan yang disusun pada tahun 519 M.
Prasasti Melayu (683 M) menceritakan seorang penguasa Sriwijaya (Sumatra) melakukan ekspedisi ke Negara Suzerain. Dan pada (606-683 M), seorang raja bernama Srijayanasa memerintahkan membuat taman yang disebut Śrīkşetra (ladang yang penuh berkah).
Orang-orang Tamil Manimegalai mencatat, di Çävaka-nādu (tanah Zabag) terdapat dua Maharaja. Bhūmičandra dan Punyarāja. Keduanya mengaku sebagai keturunan Dewa Indra. Bhūmičandra diduga adalah penguasa Syailendra Medang. Sementara Punyarāja adalah penguasa Sriwijaya.
Pada tahun 671-692 M, seorang biksu Tiongkok bernama Yi-tsing melakukan perjalanan dari Tiongkok ke India. Ia mampir ke She-li Fo-she (Sriwijaya/Zabag). Di sana ia mencatat: “Ada lebih seribu pendeta Buddha, yang pikirannya dicurahkan untuk belajar dan berbuat baik”.

Selain data-data di atas, nama Zabag juga banyak ditulis para penjelajah Arab pada periode abad 9 M sampai 15 M. Di antaranya terkumpul pada manuskrip Ajaib Al-Hind, Rihlah As-Sirafi, Al-Masalik wa Al-Mamalik, Muruj Adz-Dzahab, dan Minhaj Al-Fakhir. Semuanya menyanjung kebesaran Zabag (Nusantara).
Para penjelajah Arab, yang hidup pada abad 9 M hingga 15 M, sangat kagum pada Zabag (Nusantara). Di antara nereka adalah Buzurg Syahriyar Al Ramhurmuzi, Sulaiman At-Tajir, Abu Zaid As-Sirafi, Ibnu Khurdadhbih, Al-Mas’udi, hingga Al Mahri. Mereka mencatat kebesaran Zabag (Nusantara) dalam karyanya.
Waqwaq Nusantara
Serupa Zabag, nama Waqwaq juga menggambarkan kedigdayaan Jawa. Waqwaq disebut dalam catatan para geografer Islam seperti Buzurg (953), Al-Idrisi (1165 M), Ibnul Wardi (1348 M), dan Himyari (1495 M). Nama Waqwaq juga muncul pada teks dan peta kuno terbitan Iberia dan Mediterania.
Waqwaq dikenal sebagai bangsa besar, ajaib, dan tak terkalahkan. Nama Waqwaq bahkan menyerupai mitos nan melegenda. Sampai saat ini, nama Waqwaq masih tersimpan sebagai kisah mitologi dalam cerita kesenian tradisional yang berada di wilayah Eropa maupun Asia.

Ada banyak literatur yang mencatat kebesaran Waqwaq. Di antaranya; Kitab Ajaib Al Hindi (ditulis abad 10 M), Kitab Ajaib Al Makhluqot (ditulis abad 13 M), hingga Kitab Al Bulhan (ditulis abad 14 M). Ini belum termasuk catatan penelitian para geografer muslim dari abad 9 M hingga abad 12 M.
Kitab Ajaib Al Hindi (abad 10 M), memberi laporan terkait invasi militer bangsa Waqwaq ke Afrika pada 945–946 M. Bangsa Wakwak yag dimaksud, adalah orang Jawa (Medang) atau orang Sumatra (Sriwijaya). Menurut catatan ini, Bangsa Waqwaq tiba di pantai Mozambik dengan membawa 1000 kapal.
Data itu sesuai Prasasti Waharu IV (931 M) dan Prasasti Garaman (1053 M), menyebut bahwa Kerajaan Medang Pu Sindok (929 – 949) dan Kerajaan Medang Kahuripan Airlangga (1000–1049 M) telah mengalami kemakmuran panjang. Sehingga butuh tenaga kerja untuk membawa hasil panen, mengemas, dan mengirimkannya ke pelabuhan.
Dua prasasti itu menyebut bahwa tenaga kerja berupa orang kulit hitam telah diimpor orang-orang Jawa dari Jenggi (Zanzibar), Pujut (Australia), dan Bondan (Papua). Menurut Naerssen, para buruh tiba di Jawa dengan jalan perdagangan (dibeli) atau ditawan saat perang dan kemudian dijadikan budak.
Geografer Muslim abad 9 M, Ibnu Khordadbeh (820 – 912 M) menulis:
“Di Timur Cina adalah tanah Waqwaq, yang kaya akan emas sehingga penduduknya membuat rantai untuk anjing mereka dan kalung untuk monyet mereka dari logam emas. Mereka memproduksi tunik yang ditenun dengan emas. Kayu eboni yang sangat bagus juga ditemukan di sana. Dan lagi: Emas dan kayu hitam diekspor dari Waqwaq”.
Catatan Ibnu Khordadbeh di atas, tentu sesuai dengan laporan dari Penjelajah Portugis bernama Tome Pires (1465 – 1540 M). Dalam karya monumental berjudul Suma Oriental, Tome Pires menyebut bahwa “orang Jawa memiliki banyak anjing bagus berkalung dan cincin dari emas dan perak”. Keterangan ini tentu memiliki kesamaan gambaran Ibn Khordadbeh tentang Waqwaq.
Tetkait Waqwaq, data dari Kitab Ajaib Al Makhluqot cukup unik. Kitab ditulis Zakaria Al Qazwani (1203 -1283 M) itu menyebut, Waqwaq diperintah seorang ratu, dan populasinya hanya perempuan. Dalam kitab itu, ilustrasi Waqwaq menunjukan seorang ratu yang dikelilingi oleh pelayan perempuannya.

Sementara dalam kitab Al Bulhan, informasi terkait Waqwaq jauh lebih unik lagi. Kitab ditulis Hasan Al Isfahani (1382–1410 M) itu menyebut, semua penduduk Waqwaq adalah perempuan. Mereka bisa berkembang biak dan melanggengkan diri. Bahkan, tedapat Pohon Waqwaq, di mana perempuan bisa lahir dari pohon. Ini sebuah informasi tentang betapa suburnya Waqwaq.
Al Idrisi (1100 – 1160 M), geografer muslim abad 12 M yang membuatkan peta untuk Raja Roger II dari Sisilia, menulis dan menempatkan koordinat Waqwaq pada lokasi antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatra saat ini. Data ini tentu sangat penting sebagai fakta keberadaan “Negeri Ajaib” Waqwaq.
Pemaparan di atas membuktikan bahwa Kepulauan Jawa (Nusantara) sudah sangat masyhur dan dikagumi dunia sejak abad 3 M. Fakta mengatakan, warga Dunia mengagumi Jawa dengan istilah Zabag, Waqwaq, hingga Chavaka.







